My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
BEGITU KECEWA



***


Nona Ara yang terhormat.


Nama saya Erika, saya minta maaf sebelumnya jika kiriman saya membuat hati anda menjadi panas dan mungkin cemburu. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan saya memberikan foto-foto tersebut.


Saya hanya ingin memberitahu nona, jika saya adalah wanitanya Jo dimasa lalu. Mungkin selama ini nona telah di bohongi tentang alasan kenapa Jo selama ini membenci wanita. Sejujurnya alasannya itu adalah karena saya. Waktu itu ada kesalahpahaman diantara kami. Sehingga membuat Jo marah dan pergi dalam keadaan emosi. Dan terjadilah kecelakaan itu. Saya sungguh menyesal. Jo sakit karena ulah saya.


Saya pernah mengajukan diri untuk menjadi media penyembuhan penyakit Jo waktu itu, tapi maminya Jo yang memang tidak pernah merestui hubungan kami menolak saya dengan tegas. Dan saya hanya bisa ikhlas.


Sekarang, saat Jo sudah mengingat masa lalunya. Jo menyadari kesalahannya dan ia ingin kembali kepada saya karena Jo tak bisa melupakan cinta pertamanya. Tapi Jo tidak tega dengan nona. Dia meminta waktu untuk bisa menceraikan nona, tapi saya tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Jujur saya cemburu nona Ara.


Saya tahu nona pasti kecewa. Tapi saya harap nona bisa mengerti. Cinta kami benar-benar sejati. Jadi saya mohon nona Ara untuk bisa melepaskan Jo saat ini.


Terimakasih


Erika


***


Begitulah isi dari surat yang tersemat di antara beberapa foto mesra Jo dengan wanita yang menyebut namanya sebagai pengirim surat tersebut.


"Bagaimana wanita ini bisa tahu jika ingatan Jo sudah kembali? Apa Jo yang mengatakannya? Bukannya dia bilang hal ini masih di rahasiakan? Apakah benar wanita ini.... " Ara bergumam di dalam hatinya. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya yang menjurus pada kenyataan yang menyakitkan. Kening yang berkerut dalam menandakan wanita ini sulit untuk mencerna isi surat tersebut.


Bagaimana hati Ara tidak sakit, jika memang seperti itu kenyataannya. Berarti selama ini Jo sudah berhasil membohongi dan membodohi dirinya. Juga termasuk mami mertuanya. Wanita paruh baya itu adalah sosok sutradara hebat yang mengatur kisah ini dari semula.


Ara sejenak memejamkan mata, ia mengatur nafasnya yang tak beraturan karena menahan emosi yang ingin ia luapkan saat ini. Tapi sesaat kemudian ia sadar, karena Jo belum menjelaskan mungkin saja kan ini hanya sebuah jebakan?


Ara mendesah pelan, ia masih bisa menahan gejolak amarah yang membelenggu di dalam pikirannya. Dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih percaya dengan suaminya. Maka Ara memutuskan untuk melanjutkan niatnya menemui sang suami dan mengantarkan pesanan makanan yang sudah ia buat sendiri.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang membawa Ara sudah sampai di parkiran gedung perusahaan tempat Jo bekerja. Supir yang mengantarkan Ara pamit undur diri untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang lain. Setelah satu tugasnya untuk menjemput istri dari sang majikan sudah ia selesaikan.


Ara pun mengizinkan, lalu kakinya yang jenjang ia langkahkan menuju lobi kantor utama perusahaan grup J&J tersebut.


"Permisi nona? Saya mau bertemu dengan tuan Jonathan. Apa dia ada?" Ara memang bukan pertama kalinya datang ke perusahaan tersebut, karena sebelumnya dia pernah bekerja dengan Sam di sana sebelum kantor cabang Sam rampung di bangun. Tapi kedatangannya sekarang sebagai orang asing di perusahaan itu, terlebih karyawan disana tidak ada yang mengenalinya sebagai istri dari pemilik perusahaan tersebut.


"Eh.... Ada nona Ara." Salah satu karyawan yang bertugas sebagai resepsionis ternyata masih mengenali sosok Ara yang terkenal supel dalam bergaul. Ara menyunggingkan senyum ramah. Walau dalam hatinya ia ingin marah-marah.


"Apa kau sudah membuat janji nona?" Resepsionis wanita itu pun kembali bertanya, karena memang hal itu sudah menjadi prosedurnya.


Belum sempat Ara menjawab, satu tepukan di pundak wanita itu membuatnya sedikit terlontak dan langsung menoleh ke arah belakangnya.


"Tuan Jacob?" Seru Ara begitu terkesiap karena ternyata orang tersebut adalah orang yang paling enggan ia temui.


"Boleh aku bicara denganmu?" Jacob bertanya dengan santai namun penuh penekanan. Auranya begitu kuat hingga Ara tak bisa menolak.


"Apa yang ingin tuan katakan?" Ara bertanya dengan begitu tegas, ia tak mau berlama-lama berurusan dengan lelaki licik macam Jacob ini. Hening sejenak bersamaan dengan datangnya pelayan yang menyajikan minuman ringan yang sebelumnya sudah di pesan sebagai pelengkap perbincangan mereka.


Jacob menopang kan kedua tangannya melipat di atas meja. "Kau sudah dapat suratnya?" Tanya Jacob sambil tersenyum sinis.


Ara mengernyitkan kening, ternyata benar dugaannya, jika ini hanya sebuah jebakan baginya.


"Anda mau merenggangkan hubungan kami tuan?" Pertanyaan Ara yang terdengar berani malah di sambut oleh gelak tawa dari lelaki paruh baya itu.


"Hubungan apa? Kau pikir selama ini Jo mengakui hubungan kalian gadis kecil?" Seru Jacob sambil tersenyum pelik.


"Kau hanya umpan, lebih tepatnya sebagai sarana penyembuhan." Tambah Jacob terdengar menyakitkan.


"Aku tak percaya padamu. Jojo sangat mencintaiku." Dan Jacob kembali tertawa mendengar itu.


"Kau ini bodoh sekali, jelas-jelas Jo dan maminya hanya memanfaatkan dirimu. Lihatlah dirimu baik-baik! Apa kau pantas bersanding dengan orang sehebat Jonathan Kingsley? Kau hanya gadis yatim piatu yang tak punya apa-apa. Apa aku salah?" Jacob mencibir Ara tanpa rasa sungkan. Lelaki itu sangat pandai mematahkan hati orang.


Ara termenung sejenak, untuk kali ini ia membenarkan perkataan Jacob. Tapi semuanya sudah terjadi. Dan ia juga berhak untuk bermimpi. Apakah mimpi indahnya kali ini harus dia akhiri? Dan lagi Ara sangat yakin jika dirinya dan Jo sama-sama saling mencintai.


"Maaf tuan Jacob, jika niatmu hanya untuk memprovokasi ku. Sepertinya itu tidak mempan. Aku yakin semua ini adalah hasil rekayasa mu saja. Iya kan?" Ara yang begitu percaya dengan suaminya sangat yakin jika pamannya itu adalah orang yang kejam. Dan sanggup melakukan apapun agar keinginannya tercapai.


Jacob tersenyum kecut. Ternyata pendirian wanita di hadapannya ini kuat juga, dan jujur Jacob begitu salut. "Kau tentu sudah sangat mengenali suami mu bukan? Dengarkanlah ini! Aku tidak yakin kau akan menyangkal jika orang berbicara dalam rekaman ini adalah benar suamimu yang tercinta itu." Jacob mengeluarkan ponsel miliknya. Dia membuka file yang berisi rekaman suara. Dan Ara mendengarkan dengan seksama saat Jacob menekan tombol memutar pada layar ponselnya.


"Kapan kau bercerai dengan istrimu Jo? Bukannya tugas wanita itu sudah selesai? Paman lihat kalian malah semakin dekat? Malah sampai mengajaknya liburan seperti sekarang. Jangan bilang kalau kau sudah jatuh cinta dengan dia! Apa kau lupa jika dia hanyalah seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya?" Terdengar suara yang sama dengan suara orang sedang berhadapan dengan Ara saat ini yang membuka isi rekaman suara tersebut. Ara menajamkan pendengarannya karena orang yang di ajak berbicara dalam rekaman itu mungkin adalah suaminya. Karena Jacob memanggil nama Jo dalam perbincangannya.


"Kau tenang saja paman! Aku mengajaknya liburan hanya untuk memberikannya imbalan. Dan kau benar, aku tidak mungkin jatuh cinta pada Ara karena memang dia tidak sepadan."


Betapa hancurnya hati Ara saat suara yang ia yakini adalah milik dari suaminya menjawab demikian. Cairan bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya ia tumpahkan.


Sambil terisak Ara menggelengkan kepalanya lemah. "Aku ingin bertemu suamiku! Aku butuh penjelasannya." Ara beranjak berdiri hendak pergi menemui suaminya untuk meminta penjelasan.


Tapi bukan Jacob namanya jika tak berhasil membuat Ara terkunci saat tangan Jacob menahan pergelangan tangan wanita itu.


"Apa kau mau menggangu kebersamaan Jo dengan cinta pertamanya? Kau lihatlah disana!" Posisi Ara yang duduk di dekat kaca memungkinkan dirinya bisa melihat jelas gedung tinggi yang menjadi perusahaan Jo saat ini. Kedua manik-manik matanya mengikuti arah telunjuk Jacob yang menunjuk persis di ruangan kerja Jo yang berada di lantai tiga.


Ruangan itu berdinding kaca. Hingga kegiatan orang di dalamnya akan terlihat jelas apalagi yang di sengaja.


Kedua mata Ara membulat sempurna dengan mulut yang sedikit ternganga. Karena ia tak pernah menyangka jika suaminya tega membohongi dirinya. Dan apa yang Ara lihat? Jo sedang berpelukan dengan seorang wanita di dalam ruangan nya yang berlapis kaca. Dan Ara begitu kecewa melihatnya.


***


Makasih yang sudah setia. Jangan lupa dukungannya ya. Like dan komentar serta sumbangan votenya tetap amih butuhkan. Happy Reading 🥰🥰