My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
PROGRAM DEDEK BAYI



Ara tertidur pulas dalam pelukan suaminya, setelah pergulatan panjang di waktu petang membuat tubuh wanita itu begitu kelelahan.


Tapi tidak bagi Jo, lelaki itu tampak lebih segar dari sebelumnya. Matanya berbinar cerah, sambil mengelus lembut puncak kepala istrinya dan sesekali memberikan kecupan hangat disana.


"Aku mencintaimu." Ucap Jo lirih. Ia memeluk istrinya begitu ketat. Hingga membuat wanita yang berada di pelukannya itu menggeliat. Rasanya tubuhnya seperti di kunci rapat-rapat.


"Hmm.... Jojo aku tidak bisa nafas." Suara Ara tertahan di balik dada bidang suaminya. Membuat Jo meregangkan kedua tangannya lalu memundurkan sedikit kepalanya agar bisa menatap wajah istrinya tersebut.


"Maaf sayang, sudah membuatmu bangun." Seru Jo sambil mengelus pipi istrinya.


Ara tersenyum tipis, sambil mengucek matanya yang terasa perih. "Jam berapa sekarang?" Tanya Ara dengan suara sumbang.


Jo mendongak melihat ke arah jam dinding yang terpampang di tembok kamarnya. "Jam enam." Jawabnya.


"Astaga, sudah mau malam. Kenapa gak bangunin aku dari tadi sih?" Ara menggusur tubuhnya sedikit menjauh dari Jo, hingga pelukan lelaki itu hampir terlepas dari tubuhnya tapi hanya dengan satu tarikan saja tubuh itu berhasil masuk kembali ke dalam pelukan suaminya.


"Lepasin Jojo! Aku mau mandi." Ara meronta minta dilepaskan. Hal itu membuat gesekan hangat dari tubuh mereka yang masih polos tanpa busana.


"Jangan gerak-gerak terus! Nanti bangun lagi." Jo mendesis menahan hasratnya yang kembali bangkit.


Ara pun terdiam, ia merasakan tubuhnya sangat lelah dan tak mungkin untuk melayani suaminya jika kembali berulah. "Aku mau ke kamar mandi Jojo. Aku mau pipis." Ara memasang wajah memelas, dengan sorot mata seperti kucing yang ingin buang air kecil.


Jo mendesah pelan, padahal dirinya masih menginginkan. Jo selalu merasa bugar, tubuhnya tak merasa lemas walaupun sudah di ajak berperang. "Baiklah.... Beri aku ciuman!" Dengan senang hati Ara pun mengabulkan.


Cup... Cup... Cup....


Tak tanggung-tanggung, tiga kecupan sekaligus Ara berikan di tempat yang berbeda. Kening, pipi dan juga bibir Jo yang sexy. Membuat sang suami tersenyum lebar dan membalas mencium bibir Ara walau hanya sekilas.


Ara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Jo duduk bersandar di kepala ranjang, lalu mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja lampu tidurnya. Ia mengecek laporan pekerjaan yang sempat ia berikan pada David sebelum dirinya pulang bekerja.


Jo menarik kedua sudut bibirnya ke atas, melengkungkan sebuah senyuman yang begitu sumringah.


"Sepertinya hari ini memang hari keberuntunganku, akhirnya si tua itu masuk perangkap juga. Maaf paman, ini belum apa-apa di bandingkan dengan kejahatan yang kau lakukan pada keluargaku." Ucap Jo dengan sarkas nya.


***


Tiga hari berlalu, tiba saatnya untuk Angelina pergi bersama dengan ibu kandungnya. Masa-masa indah bersama mommy Ayura kini berakhir sudah. Angelina harus tinggal bersama ibu kandungnya selama tiga tahun lamanya.


"Mommy harus janji sama aku kalau nanti akan sering berkunjung ke tempatku!" Angelina berkata dengan begitu manja sambil merangkul tangan mommy Ayura dan menyimpan kepalanya di bahu wanita yang sudah merawatnya sejak lama. Kini mereka sudah berada di bandara, sedang menunggu boarding pesawat di area gate keberangkatannya.


"Iya sayang, mommy janji." Ayura mengelus puncak kepala Angel dengan sayang, rasanya begitu berat jika harus melepaskan anak gadis yang sudah ia rawat dari bayi. "Tapi kamu juga harus janji, setelah tiga tahun kamu harus kembali!" Giliran Ayura memberikan syarat.


Angelina menganggukkan kepalanya dengan begitu semangat. "Tentu saja." Serunya sambil menghambur memeluk tubuh ibu tirinya.


Jika ada yang mengatakan jika ibu tiri itu sangat kejam, pepatah itu tidak berlaku untuk mommy Ayura. Kasih sayang ibu tiri rasa ibu kandung benar-benar nyata adanya. Bahkan Angelina juga tidak yakin dengan kasih sayang yang akan di berikan oleh ibu kandungnya nanti. Apakah akan sama dengan yang di berikan oleh sang ibu tiri?


"Ayo sayang! Sebentar lagi pesawatnya akan take off." Ajakan itu berasal dari ibu kandungnya. Wanita yang bernama Norita itu sudah bersiap mendorong kopernya menuju pintu keberangkatan bersama dengan suaminya.


Angelina melemaskan bahunya, merasa malas dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Tapi ini semua sudah takdirnya dan dia bisa apa selain bisa menerima.


***


Ara yang duduk di samping mertuanya tampak tak tega, ia menepuk pundak wanita itu dan berkata. "Mommy jangan sedih, Ara yakin Angel akan baik-baik saja bersama ibu kandungnya."


Ayura mengalihkan pandangannya pada menantu kesayangannya itu. Sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya, wanita itu terlihat merana. "Mommy akan kesepian jika tidak ada Angel."


"Kan ada Ara." Tukas Ara dengan cepat. "Harusnya Ara yang berkata seperti itu, selama ini hanya Angel yang menemani Ara jika kalian pergi bekerja. Ara akan kesepian jika Angel tidak ada." Tambahnya yang malah membuat Ayura jadi mengasihani nya.


"Hei.... Kenapa menantu mommy yang jadi sedih?" Ayura merengkuh tubuh Ara kedalam pelukannya. "Maafkan mommy sayang, mommy terlalu berlebihan. Mommy lupa, bukan hanya mommy yang terluka dengan kepergian Angelina, tapi kau juga." Imbuh mommy Ayura sambil mengusap lembut punggung Ara. Lalu melepaskan pelukannya.


"Bagaimana kalau Ara ikut mommy ke salon? Siapa tahu dengan adanya kegiatan Ara jadi tidak kesepian." Seru Ara dengan bersemangat.


"Kau jangan macam-macam! Memangnya aku akan mengizinkan?" Jo yang sedang duduk di samping kemudi jadi ikut menanggapi. Kali ini Jo memang sengaja memakai supir karena sedang malas menyetir.


"Memangnya tidak boleh?" Ara begitu tak percaya dengan sikap Jo yang terlalu posesif padanya. Bahkan untuk bekerja di salon kecantikan yang di dirikan oleh mommy nya pun ia tak mengizinkannya.


"Tidak boleh." Tolak Jo dengan begitu tegas.


Ara mengerucutkan bibirnya, dengan nafasnya yang keluar tak beraturan. Menandakan wanita itu sedang menahan amarahnya. Dan lebih menyebalkan lagi ternyata mertuanya malah ikut menertawakan.


"Biarkan Ara ikut dengan mommy Jo! Mommy bisa jamin Ara tidak akan tergoda oleh laki-laki lain." Pembelaan dari mommy Ayura serasa bagaikan angin segar yang berhembus menenangkan emosi Ara. Ia seperti mendapatkan bala bantuan yang membuatnya terbebas dari kurungan.


"Tapi mom?" Jo memutar tubuhnya mengarah ke belakang, ia hendak menyela ucapan mommy nya tapi pelototan mata Ara membuatnya jadi mengurungkan niatnya.


"Sayang ku mohon, biarkan aku ikut bekerja dengan mommy. Oke!" Permohonan itu sontak membuat hati Jo seketika luluh, jarang sekali istrinya itu memanggilnya dengan panggilan sayang. Dan entah kenapa membuat hati Jo langsung jatuh kepayang.


Jo menghela nafasnya kasar, jika Ara sudah bersikap semanis itu mana mungkin ia bisa menolak permintaannya. "Baiklah, tapi kau harus ingat jangan sampai terlalu kelelahan. Aku tidak mau program kita jadi berantakan." Seru Jo sembari mengingatkan.


Kening Ara berkerut dalam, wanita tak mengerti dengan maksud dari program yang Jo katakan. "Program apa?" Tanyanya penasaran.


"Program membuat dedek bayi, apa kamu lupa? Kita sudah membahasnya semalam." Jo berseru dengan suara lantang.


Ara termangu di buatnya, bicara apa lelaki ini? Semalam mereka tidak membahas apa-apa. Selain pergulatan panjang yang berakhir dengan kelelahan selepasnya tidak ada perbincangan. Pantas saja Jo begitu semangat menggempur istrinya setiap malam. Ternyata inilah yang ia rencanakan.



Babang tampan yang lagi pengen punya bayi 😅😅



si cantik Ara.... 🥰


***


Kasih kayak kemarin dong nak-anak! Biar rame amih jadi tambah semangat. Like dan vote jangan sampai khilaf ya. Makasih.