
Ara menunduk takut saat Ayura tengah berada di kamarnya. Ara terpaksa menelepon mommy Ayura karena Jojo terus saja meringis kesakitan tapi tidak mau di bantu untuk di obati. Dokter Ichida juga ada disana, saat di telepon Ayura, dokter pribadi sekaligus sahabat Ayura itu langsung bergegas ke rumah Jojo.
Ayura tersenyum lucu saat melihat raut wajah anaknya yang terlihat memerah karena menahan malu, saat dia selesai menunjukkan bagian tubuhnya yang terkena tendangan bola dari Ara pada dokter Ichida. Pasalnya yang terkena bola itu adalah bagian sensitif dari tubuh Jojo.
Pada usia Jojo yang sekarang, masa ini adalah masa seorang anak yang baru menginjak pra - aqil baligh, dimana dia sudah mempunyai rasa malu terhadap lawan jenis. Jojo juga tidak mau di lihat oleh mommy nya sendiri, makanya mommy Ayura menyuruh dokter Ichida untuk melihatnya.
" Cuma sedikit lebam, di kasih salep juga mendingan. " Ucap dokter Ichida. Mata dokter Ichida beralih kepada Ara yang sedari tadi berdiri agak jauh dari tempat Jojo berada.
" Ara, nanti kamu bantu Jo mengoleskan salep ini jika mau tidur ya. " Imbuh dokter Ichida sambil menunjukkan sebuah salep di tangannya, kemudian di simpan di atas meja samping tempat tidur mereka. Senyum usil tergambar jelas di bibir dokter yang di kenal mesum tersebut.
Ara mendongak, seketika matanya pun membulat.
" Mana mungkin ? " Kata itu keluar bukan hanya dari mulut Ara, tapi secara bersamaan juga di ucapkan oleh Jojo yang sama kagetnya.
Ayura dan dokter Ichida sontak tertawa.
" Widih...kompak sekali kalian ini. " Goda Dokter bermata sipit itu. Hal itu membuat Ara semakin mendengus kesal, dokter itu benar - benar menyebalkan.
" Biar aku sendiri yang mengolesnya om dokter. Dia itu anak perempuan, mana boleh lihat punyaku ! " Seru Jojo sambil meraih salep di atas meja lalu menyembunyikannya. Hati Ara seketika jadi lega, perubahan sikap Jojo ternyata ada baiknya juga. Dia lebih menutup diri pada bagian - bagian tubuhnya yang sensitif.
" Tapi kalian kan sudah menikah, jadi tidak apa - apa jika Ara hanya melihatnya. " Seloroh dokter Ichida mulai berkata ngawur.
" Tetap saja aku malu. Aku tidak mau ! " Jojo menolak dengan polosnya, pipinya kembali terlihat memerah.
" Sudahlah Ichida, kamu selalu saja mengganggu mereka. " Ucap Ayura sambil mencubit pelan pinggang dokter Ichida tapi tak terasa sakit hanya sedikit geli dan kemudian menoleh ke arah Ayura.
" Ayo keluar ! " Ajak Ayura sambil menarik tangan dokter usil itu agar meninggalkan pasangan muda tersebut. Mereka pun pergi meninggalkan Ara dan Jojo yang saling diam.
Cukup lama mereka saling berdiam diri, sesekali tatapan Ara melirik ke arah suaminya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang menerawangkan pandangannya ke arah langit - langit kamar mereka.
Ara memberanikan diri untuk mendekati suaminya tersebut, dalam hatinya dia takut suami nya akan bersikap jutek lagi padanya.
" Maafkan aku ya Jojo ! " Kalimat itu yang pertama di ucapkan Ara saat dirinya sudah duduk di tepi tempat tidur di samping Jojo.
Perkataan Ara membuat Jojo mengalihkan pandangannya ke arah Ara. Dia menatap Ara dengan tatapan tak bisa di artikan. Ara menelan ludahnya dengan berat saat melihat tatapan sengit dari Jojo tersebut. Mungkin Jojo tidak mau bermain dengannya lagi, dan Ara harus memutar otaknya kembali agar Jojo mau menerimanya lagi. Ara akan melakukan apapun agar Jojo tidak marah lagi padanya , bahkan jika dia akan mendapat hukuman sekalipun.
" Aku tidak sengaja. " Ujar Ara lagi, karena tak mendapat tanggapan dari Jojo.
" Hmmmpth. " Jojo mengalihkan wajahnya ke arah lain. Dia merajuk.
" Bukankah kita impas ? Waktu itu kau menendang bola mengenai wajahku, dan sekarang --- ."
Ara menggeleng " Tidak...tidak...maksudku bukan seperti itu, aku benar - benar tidak sengaja. Dulu kamu juga bicara seperti itu padaku lalu aku percaya dan memaafkanmu, tapi kenapa sekarang kamu gak mau maafin aku ? " ujar Ara dengan wajah sendunya.
Jojo mengerjap polos, menatap lekat bola mata Ara yang terlihat ada binar kecemasan disana. Ara memang telah melukainya tapi tidak mungkin dia sengaja melakukannya, sama halnya seperti yang dia lakukan dulu pada Ara. Jojo menarik kedua sudut bibirnya hingga membuat senyum manis disana, emosinya seketika mereda. Melihat Ara yang tampak sedih dirinya sungguh tak tega, mata itu seperti sudah menghipnotisnya yang selalu membuat Jojo merasa tenang jika melihatnya.
" Aku juga sudah memaafkanmu. Kita impas ya. " Ujar Jojo sambil tersenyum senang.
Ara juga tak kalah senangnya, secara spontan dia memeluk tubuh Jojo dengan erat. Tapi seketika matanya terbelalak saat dia sadar dengan apa yang dia lakukan.
" Maaf Jojo, aku terlalu senang. " ucap Ara dengan cangung.
" Tak apa - apa, aku senang mendapat pelukan, mommy juga sering melakukan itu. Tidak masalah. " Ucap Jojo masih memperlihatkan senyum tipis di bibirnya itu.
Keduanya pun sama - sama tersenyum dan saling memaafkan. Ah..sungguh lega rasanya, Ara pun kembali berwajah ceria.
***
Di waktu yang sama di ruangan keluarga.
" Ichida, bagaimana dengan perkembangan Jo sekarang ? sudah lebih dari seminggu semenjak terapi awal kita. " Ayura berkata santai setelah membuatkan kopi untuk dokter Ichida, tanpa menyuruh pelayan untuk melakukannya.
Dokter Ichida meraih cangkir kopi tersebut, menyesapnya sejenak menghirup dalam - dalam aroma kopi yang di buatkan Ayura, kopi buatan Ayura memang sangat istimewa buat dokter Ichida. Lalu meneguknya dengan penuh rasa bahagia.
" Kopi buatanmu memang luar biasa. " Puji dokter narsis yang selalu sukses membuat Ayura tertawa. Tapi jika untuk tersipu Ayura tidak mudah tergoda, terlalu sering mendengar bualan laki - laki itu membuatnya kebal dengan segala jenis rayuan mautnya itu. Baginya apapun yang di katakan sahabatnya itu hanyalah bualan semata.
" Aku sedang membicarakan masalah Jo, bukannya kopi !" Sahut Ayura sambil memutar bola matanya jengah.
" Ish...intermezo dulu lah. "Dokter Ichida mendesis lucu.
" Katakan saja, aku sudah penasaran dengan hasil selanjutnya. " Decak Ayura dengan kesal.
Dokter Ichida tersenyum pelik. " Iya..minggu ini aku belum melakukan observasi pada Jo, tapi seperti yang ku lihat tadi perkembangan Jo sangat fantastis, dia sudah tahu batasan antara laki - laki dan perempuan. Walau ia tahu Ara istrinya, tapi dia tetap merasa malu jika bagian tubuh sensitifnya terlihat oleh seorang wanita bahkan oleh dirimu sekalipun. Jojo sudah mendekati masa baligh nya. Tidak lama lagi terapi kedua akan di lakukan, untuk membawa Jo ke masa dimana dirinya mengenal wanita bukan cuma sekedar teman saja. " Tutur dokter Ichida panjang lebar.
Ayura hanya mengangguk - anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari dokter Ichida. Dirinya sungguh tidak sabar melihat anaknya kembali menjadi sosok pemuda yang dewasa, tentunya dengan masih bersikap baik terhadap mommynya.
****
Maaf Readers, kemarin sedikit terkendala jadi baru up lagi. Jangan lupa dukungannya ya, tinggalkan jejak cinta kalian di novel receh Author ini. Vote..Vote..vote... 😆😆