
Ara dengan rutin mengganti kain yang menempel di dahi Jo saat kain yang telah di beri air dingin tersebut sudah menyerap hawa panas dari tubuh Jo dari setengah jam yang lalu.
Mommy Ayura terpaksa meminta Ara untuk menjaga Jo karena mommy sedang ada urusan penting di luar yang tak bisa di wakilkan. Akhirnya Ara minta izin pada Sam untuk tidak masuk ke kantor karena ingin merawat Jo yang lagi sakit.
Mungkin terdengar sedikit aneh, kenapa Ara tiba-tiba berubah pikiran ? Ada apa lagi dengan hati Ara, kenapa dia malah merawat Jo? Bukankah hatinya sudah mantab untuk pergi meninggalkan Jo?
Setelah beberapa jam yang lalu dokter Ichida menjelaskan jika keadaan Jo memang belum stabil, otaknya memerlukan waktu untuk menyesuaikan memory yang di pautkan di masa kini dengan masa lalunya itu. Mungkin ini juga pengaruh dari ulah Jacob yang mengacaukan terapi Jo saat itu. Jo tidak bisa menelan semuanya sekaligus, dia juga butuh waktu untuk menyambungkan semua memorinya.
Dan untuk demamnya kali ini, bisa di akibatkan karena Jo terlalu lelah berpikir, atau bisa jadi bayangan masa kecilnya yang dulu tidak menyenangkan kembali melintas di otaknya karena kekhawatirannya saat akan di tinggal Ara. Di karenakan keberhasilan terapi itu hanya setengahnya saja, hal ini membuat Jo belum sepenuhnya sembuh dari trauma masa kecilnya dulu.
Walaupun tak pernah mengungkapkannya tapi Jo selalu merasakannya. Di dekat Ara dirinya selalu merasa nyaman. Jika wanita itu tiba-tiba pergi dari hidupnya bisa jadi kehidupan Jo akan kembali pada masa suramnya dulu. Ara harus lebih bersabar lagi, agar Jo bisa kembali menormalkan otaknya untuk menata masa depan yang lebih baik lagi.
Huh, Ara mendesah pelan saat mengingat dirinya begitu naif menerima permintaan mommy Ayura yang memintanya untuk tetap tinggal dan merawat suaminya itu. Ara mengubur ego nya dalam-dalam dan mencoba menanamkan kembali rasa sabar yang selama ini bibi Iren ajarkan.
" Kamu benar-benar menyebalkan Jojo, kamu buat aku tidak bisa berpaling dari kamu, tapi kamu malah bersikap kasar sama aku. Kalau bukan karena mommy aku gak bakal mau tetap di sini. " Gerutu Ara pada Jo yang belum juga bangun. Kalau memang kesal kenapa Ara harus mau. Memang aneh wanita ini.
Obat tidur yang di berikan oleh dokter Aldo membuat lelaki itu benar-benar terlelap , karena semalaman Jo tak bisa memejamkan matanya karena bayangan masa kecilnya dan wajah Ara selalu saja bergantian memenuhi pikirannya. Ketakutan dan kebingungan bercampur jadi satu hingga Jo tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
Sebenarnya Ara bisa meninggalkan Jo begitu saja, tak peduli Jo akan jadi apa kedepannya yang penting dia sudah memenuhi janjinya untuk mengembalikan ingatan Jo. Tapi nyatanya, ucapan Ara tak sejalan dengan tindakannya walaupun mulutnya terus saja bersungut kesal tapi lihat saja bahkan dari tadi pagi dia tak mau meningalkan Jo di dalam kamar.
Karena merasa bosan terus menunggu Jo di kursi kecil yang ia dekat kan di samping tempat tidur, akhirnya rasa kantuk pun mulai menyerang mata Ara. Dengan sekuat tenaga Ara menahan sayup-sayup matanya yang mengajaknya terpejam. Tapi hal itu percuma saja karena dalam sekejap saja kepala Ara sudah tumbang di tepi ranjang dengan bertumpu di sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi memegang tangan Jo dengan erat.
Saat siang menjelang sore, akhirnya Jo terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya mentari yang memenuhi seluruh ruangan kamarnya itu.
Jo menoleh ke samping saat dia merasa tangannya tertahan oleh sesuatu, tiba - tiba saja wajahnya terlihat cerah, garis melengkung ke atas tercetak di bibirnya. Jujur dia bahagia karena wanita yang semalam berdebat dengannya kini masih berada di sampingnya.
Ara menjengit kaget dan kepalanya langsung terangkat ke atas saat sesuatu yang dipegangnya terlepas dengan paksa dari tangannya.
" Kamu sudah bangun ? " Tanya Ara dengan senyum merekah di bibirnya.
Jo melengos pura - pura menunjukkan wajah tak suka saat melihat Ara. Jo masih belum bisa memastikan jika Ara benar-benar tidak akan pergi meninggalkannya setelah dirinya sembuh, mungkin saja kan Ara hanya sekedar kasihan saja melihat Jo yang kesakitan. Walaupun memang kenyataan nya demikian.
" Aku lapar. " Jawab Jo dengan ketus.
" Sebentar ya, aku akan suruh pelayan membawanya kesini! " Ucap Ara dengan lembut, dan hal itu sungguh membuat hati Jo merasa terenyuh, wanita yang semalam dia kasari sekarang malah berubah menjadi baik hati. Ataukah sikap ini pantas di curigai ?
Jo terdiam sesaat, sambil berpikir dengan kening yang mengkerut tajam. " Wanita ini, kenapa dia tiba-tiba berubah jadi baik dan lembut seperti ini? Bukankah semalam aku sudah memaki-maki nya habis-habisan. " Gumam Jo dalam hati. Menatap tubuh Ara yang keluar dari kamarnya hendak meminta pelayan agar menyiapkan makanan untuk suaminya yang baru sadar.
Ara kembali ke dalam kamar dengan selalu mengulas senyum merekah di bibir sexynya itu. Lalu duduk kembali di kursi kecil menghadap ke arah Jo. Satu tangannya terangkat dan memegang kening Jo.
" Panasnya sudah turun. " Ucap Ara senang sambil menurunkan kembali tangannya itu.
Ara menghela nafas kasar, tak bisa menahan untuk tidak merotasi kan matanya karena merasa jengah dengan sikap Jo yang mulai kambuh lagi. Bisa gak sih Jo bersikap manis sebentar saja! Setidaknya saat dia sakit seperti sekarang ini.
" Sudah ku bilang kamu itu tergila-gila padaku, jadi jangan sok jual mahal buat ninggalin aku. " Imbuh Jo dengan percaya diri yang sangat tinggi. Selain kasar ternyata laki-laki ini juga narsis sekali.
Ara berdecih sambil mencebikkan bibirnya sedikit. " Narsis banget. " Ejeknya dengan pelan.
Jo ingin tertawa melihat reaksi wajah Ara yang terlihat lucu saat meledeknya. Tapi dengan sekuat tenaga dia menahannya, dan saat dirinya hendak berucap lagi, suara ketukan pintu dan sahutan pelayan yang membawa makanan dari luar kamar mengalihkan perhatian mereka. Dengan cepat Ara membukakan pintu dan menerima nampan yang sudah berisi makanan dan segelas air minum.
" Terimakasih bi. " Ucap Ara
" Sama - sama non, bibi permisi dulu. " Balas pelayan sambil menganggukan setengah badannya, lalu pergi meninggalkan kamar sang majikannya tersebut.
Ara membawa makanan itu ke arah Jo, kembali duduk di kursi dan menyimpan makanannya di atas meja.
" Mau aku suapin? " Ara menawarkan bantuan. Dan lagi - lagi membuat Jo mengernyit keheranan.
" Kamu kenapa sih, jadi aneh gini? " Tanya Jo penuh selidik.
" Aneh gimana? Aku cuma mau bantuin kamu, tangan kanan kamu kan masih di infus jadi susah kan makannya. " Ucap Ara sambil mengambilkan makanan ke dalam sendok lalu menyodorkan nya pada Jo.
" Ayo buka mulutnya! Aaaa.... " Ara memperagakan membuka mulut seperti sedang menyuapi anak kecil, dan dia ingat hal ini juga pernah dia lakukan pada Jo saat Jo masih idiot dulu.
" Aku bukan anak kecil. " Jo menepis sendok yang berisi makanan itu dengan pelan hingga sedikit menjauh dari mulutnya.
Ara mendengkus pelan, oke sepertinya dia harus kembali jadi baby sister Jojo nya yang lugu.
" Katanya lapar, mau makan gak? "
Jo terdiam menatap Ara dan makanan di sendok itu secara bergantian. Dia memang sangat lapar dari pagi dia belum makan apa - apa. Walaupun tubuhnya sudah mendapatkan nutrisi dari cairan infus yang di pasang di tangannya tapi tetap saja ususnya juga perlu untuk menggiling makanan.
Akhirnya rasa lapar itu mengalahkan ego Jo yang melambung tinggi, tangan kirinya terangkat ke atas dan menarik tangan Ara yang sedang memegang sendok menuju ke arah mulutnya yang kini sudah terbuka lebar. Melahap makanan itu dan menguyahnya sambil menatap Ara dengan tatapan datar.
Ara mengulum senyum, merasa lucu dengan sikap Jo yang terus saja mementingkan gengsinya. " Kalau manis gini kan enak ngeliat nya " Gumam Ara sambil menyiapkan kembali makanan ke dalam mulut Jo.
****
Gimana - gimana seneng gak Jojo nya udah mulai baikan sama Ara? Dikit-dikit aja aja ya ngilangin gengsinya Jojo yang selangit itu.
Eh, ngomong - ngomong maafin author ya kemaren gak bisa Up, sekarang jadi langsung dua part deh.... Jangan lupa like, coment, share dan vote nya ya.... ! Komentar apapun author terima dengan senang hati. Biar author tambah semangat lagi buat ngehalu lagi. Maaciw 🥰🥰🥰