My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
KEHANCURAN PAMAN.



Dengan langkah gontai seorang lelaki berjalan di lorong sebuah kantor. Lelaki itu masuk pada satu ruangan dengan pintu yang bertuliskan ruangan direktur. Raut wajahnya tampak panik, terlihat dari sorot matanya yang melukiskan dirinya begitu khawatir.


"Papa, aku perlu bicara." Dia adalah Sam, lelaki itu tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi dengan perusahaan papanya. Tanpa permisi atau basa basi, ia langsung masuk setelah berhasil membuka pintu.


Jacob mendongakkan pandangan, melihat anak kesayangannya datang, tatapan matanya terlihat gusar. Penampilan lelaki paruh baya itu begitu berantakan.


"Sam?" Jacob hendak berdiri tapi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya membuatnya jadi duduk kembali.


"Papa gak apa-apa?" Sam langsung berhambur mendekati tubuh papanya. Tangannya memegang lengan sang papa tatapannya penuh dengan rasa iba.


"Papa baik-baik saja nak. Kamu gak perlu khawatir!" Jacob mengelak, dari suara nya yang terdengar serak pun menandakan jika lelaki itu tidak sedang baik-baik saja.


"Wajah papa terlihat pucat, sepertinya papa sakit. Sam antar berobat ya?" Sam membantu papanya untuk berdiri, tetapi lelaki paruh baya itu malah menepis tangan anaknya dengan lembut. Ia menolak untuk ikut.


"Papa masih banyak kerjaan, perusahaan sedang tidak baik. Kamu pulang lah sana! Jangan menganggu papa!" Jacob begitu emosi, ia tak bisa menahan diri jika mengingat masalah yang sedang ia hadapi.


Sam mencoba membujuk papanya, ia kembali memegang lengan lelaki itu. "Papa gak boleh kayak ini! Ini namanya memaksakan diri. Nanti Sam coba bantu mencari solusi. Papa pulang ya!" Pinta Sam lagi.


"Kamu tidak akan paham Sam. Masalah ini bukan main-main. Perusahaan mu juga kena imbasnya, dan customer lain terus mendesak untuk pengembalian dana. Papa harus bagaimana? Semua aset kita akan di sita jika dalam waktu sebulan kita tidak bisa mengembalikan uang mereka." Seru Jacob dengan nada tinggi, dirinya begitu frustasi.


"Sam akan mencoba meminta bantuan pada kak Jo, mungkin saja dia bisa membantu masalah papa." Ucap Sam memberi saran.


Jacob menggelengkan kepalanya, usaha itu pernah ia coba. Dan kantor pusat menolak memberikan pinjaman untuk perusahaannya. Dan lagi saran dari Jo malah membuatnya semakin dilema, keponakannya itu menyuruhnya untuk menjual sahamnya di perusahaan milik keluarganya. Karena memang walaupun semua asetnya disita semua tetap tidak akan mampu untuk menutupi hutang-hutangnya.


Jacob sebenarnya tidak rela jika saham itu di kuasai oleh orang lain, itu adalah peninggalan satu-satunya dari sang ayah. Dan juga keterkaitannya dengan usaha kakaknya. Dalam hati kecil lelaki itu, masih terdapat setitik kasih sayang untuk keluarganya tersebut. Walaupun ia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun.


"Papa sudah bicara dengan Jo, dan dia menyarankan untuk menjual saham yang papa punya, karena hanya itulah satu-satunya cara." Jacob menunduk sedih, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hasil kerja kerasnya selama ini telah hancur karena keserakahan nya.


Sam hanya terdiam, menatap tubuh papanya yang terlihat bergetar. Lelaki itu menangis, untuk kali pertamanya Sam melihat papanya begitu terpuruk seperti itu.


"Kau pulang lah dulu Sam! Papa ingin mengunjungi satu tempat dulu sebelum pulang. Papa ingin sendiri." Perintah Jacob pada anaknya. Setelah meredam emosinya sedikit mereda.


Sam ingin menolak, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Ingin sekali dia menolong keuangan perusahaan papanya, tapi bagaimanapun perusahaannya masih merintis. Apalagi hasil produksi yang gagal itu juga membuat perusahaannya harus merugi. Karena kemasan produk makanan yang ia produksi berasal dari perusahaan papanya juga.


****


Di sisi lain, seorang Jonathan Kingsley selalu menunjukkan wajah cerianya pada setiap orang yang ia temui. Ia terlihat begitu senang hari ini. Sore itu ia pulang lebih awal dari kantornya. Sekilas memang bisa di katakan jahat, betapa tidak Jo senang melihat kehancuran pamannya sendiri.


Tapi, jika di ingat-ingat dengan apa yang di lakukan oleh pamannya terhadap keluarga Jo, sampai Jo harus kehilangan daddy nya. Mungkin kehancuran ini belum seberapa.


"Hai sayang." Jo memeluk tubuh istrinya dari belakang saat wanita itu tengah asyik membuat minuman teh hijau kesukaannya. Setelah setengah jam yang lalu ia juga baru kembali dari salon tempatnya bekerja. Walaupun ada pelayan di sana Ara lebih suka melakukannya sendiri.


Ara memiringkan kepalanya untuk menjangkau wajah suaminya, lalu ia berbalik menghadap ke arah suaminya. Kedua alisnya terangkat ke atas saat melihat ekspresi wajah sang suami yang terlihat sumringah.


"Kamu terlihat senang, ada apa?" Tanya Ara penasaran.


"Apa teh itu untukku?" Tanya Jo balik.


Ara memutar kepalanya ke belakang lalu berbalik dan mengangkat cangkir teh itu dengan tangannya. "Ini untukku, tapi kalau kau mau, ambillah!" Seru Ara sambil menyodorkan cangkir itu pada suaminya.


Jo menerimanya lalu menghadiahi kecupan sekilas di pipi Ara. "Makasih sayang." Ucapnya senang.


Jo membawa minumannya ke meja makan dan menarik salah satu kursi kosong disana untuk dia duduki. Tak lama di susul oleh Ara sambil membawa cangkir teh hijau yang ia buat lagi. Lalu duduk di kursi kosong sebelah suaminya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa begitu senang?" Tanya Ara setelah mendaratkan cangkir teh yang telah ia teguk airnya di atas meja.


Jo menoleh, lalu memiringkan tubuhnya untuk menghadap istrinya. "Mau tahu?"


"Hmmm.... " Ara mengangguk penuh antusias. "Apa?" Tanyanya makin penasaran.


"Aku mencintaimu." Ucap Jo sambil tersenyum lebar membuat Ara melongo takjub mendengar jawaban suaminya yang bahkan setiap hari ia dengar. Ara tak percaya karena bukan itu jawaban yang ia pinta.


Jo mengernyitkan kening, ia menyangka jika istrinya merasa terkesima. Lalu mencondongkan kepalanya hendak mencium bibir Ara. Tapi saat beberapa senti lagi jarak antara bibir mereka Ara menutup bibir Jo dengan telapak tangannya.


"Hanya itu?" Tanya Ara masih tak percaya.


Jo berdecak, dia sangat kesal jika istrinya mulai kumat, selalu merusak suasana jika Jo ingin bermesraan dengannya.


"Memangnya apa lagi? Kau tidak senang aku mengucapkan itu?" Jawab Jo sambil menepis tangan dari bibirnya dan menggenggamnya dengan erat. Ia tak akan membiarkan tangan itu menghalangi niatnya untuk mencumbu istrinya saat ini.


Sejurus kemudian Ara pun akhirnya tersadar jika ini hanya lah modus suaminya saja agar bisa mendapatkan jatahnya. Hah, tidak ada capeknya dia, padahal baru pulang bekerja.


"Kau bau sekali. Mandi sana!" Ara menarik mundur kepalanya saat Jo kembali meneruskan aksinya. Jo mengernyit, dan untuk kali ini menarik mundur tubuhnya lalu duduk dengan tegak di kursinya.


Jo mencium aroma tubuhnya sendiri, mengendus ketiak dan juga baju yang ia pakai. Ia rasa dirinya tidak bau walaupun dirinya belum mandi.


"Aku tidak bau." Seru Jo tak terima dengan tuduhan istrinya.


Ara mencebikkan bibir, lalu menutup hidungnya dengan telapak tangan. "Tapi hidungku mencium bau, dan itu dari tubuhmu." Seru Ara, yang padahal hanya berpura-pura. Ia hanya malas jika harus melayani suaminya sekarang. Jo memang tak tahu waktu jika keinginannya sudah datang. Setidaknya Ara bisa istirahat dulu sebelum memenuhi tugasnya di atas ranjang.


Jo mendesah pelan, akhirnya dia mengalah dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Itu artinya Ara bisa istirahat dan bersantai. Walau pada akhirnya Jo akan membuatnya lelah kembali.


***


Yeay... Akhirnya Jo bisa membalaskan kejahatan pamannya ya anak-anak. Apa amih tamatin aja gitu ya? Sepertinya peminat bacanya juga mulai berkurang. Amih kan sedih jadinya.


Ayolah bikin semangat lagi, kasih like , komentar dan votenya ya... Makasih. 🥰🥰