My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
INGIN MEMBATALKAN



Keesokan paginya, Ara mengerjapkan matanya saat mendengar suara yang tidak asing baginya selama ini. Wanita itu menghela nafas saat tangannya meraba sisi ranjangnya yang lain yang terasa kosong.


Sambil menyipitkan matanya yang masih terasa perih karena pantulan cahaya yang membias dalam ruangan tersebut. Ara beranjak duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya sampai ke bagian dada. Wanita itu mencari bajunya yang berceceran bekas pergulatan nya semalam dengan suaminya.


Ara mengenakan kembali pakaiannya, lalu bergegas menuju kamar mandi. "Mual lagi?" Tanyanya pada sang suami yang ternyata mengalami morning sickness lagi.


Jo mengelap bibirnya yang terasa pahit setelah mengeluarkan cairan kuning yang yang selalu ia keluarkan dari perutnya yang masih kosong di pagi hari.


"Padahal kemarin udah enggak mual. Kirain udahan ngidamnya." Seru Jo sambil keluar dari dalam kamar mandi. Di ikuti oleh Ara sambil mengusap punggung lelaki itu.


Ara yang sengaja membawa minyak kayu putih, menyodorkan benda itu pada suaminya. "Pakai ini!" Seru Ara. Lalu mengeluarkan isinya dan menggosokkan minyak tersebut pada perut sang suami.


"Maaf ya! Gara-gara aku hamil kamu jadi susah kayak gini." Tambah Ara dengan nada menyesal. Kini mereka sudah duduk di tepi ranjang.


Jo tersenyum sambil mengelus pipi istrinya. "Tidak apa-apa, aku malah senang bisa mengurangi beban kamu saat hamil anak aku. Kan bagus kita saling berbagi." Serunya sambil menghirup aroma minyak kayu putih yang di tempelkan di hidungnya.


"Baik banget sih suami aku ini." Seru Ara sambil mencubit pipi suaminya dengan gemas.


"Iya dong. Aku kan suami siaga." Jo berucap dengan begitu bangga lalu mencium kening istrinya.


"Eh.... Sayang kamu belum cerita tentang kedatangan paman dan juga Sam tadi malam. Mau ngapain mereka kemari?" Jo mengingat kejadian semalam yang membuat ia kembali penasaran dengan kedatangan paman dan adik sepupunya itu.


"Mereka mau melamar kak Elena." Kening Jo berkerut dalam saat mendengar jawaban tersebut.


"Melamar sepupumu? Terus kamu setuju?" Jo sedikit tegang, raut wajahnya terlihat tidak terima dengan keputusan istrinya. Dia takut jika pamannya akan merencanakan hal yang jahat untuk keluarga Ara


"Memangnya kenapa? Sam itu orang baik. Lagipula mereka saling cinta. Apa salahnya?"


"Sayang, kamu tahu sendiri kan bagaimana liciknya paman? Apa kamu tidak takut jika dia akan menghancurkan keluarga mu. Apalagi sekarang posisinya sedang dalam keadaan bangkrut."


Jo masih tidak bisa percaya dengan pamannya sendiri. Terlalu banyak kejahatan yang di lakukan oleh lelaki paruh baya itu terhadap kehidupan Jo dan keluarganya.


"Bee, kak Elena itu bukan mau menikah dengan pamanmu tapi dengan Sam. Kamu juga tahu Sam sangat berbeda dengan papanya." Seru Ara bicara apa adanya.


Dalam hal ini Ara menganggap Jo terlalu berlebihan. Seharusnya ia tak membawa-bawa Sam dalam urusannya dengan sang paman. Toh dulu Sam juga pernah membantunya untuk bersatu dengan Ara.


Jo terdiam, ia membenarkan apa yang di katakan istrinya. Sam memang orang baik, tapi ia terlalu khawatir dengan kelicikan pamannya. Ia takut pamannya akan menghancurkan Ara melalui perantara kakak sepupunya.


"Udah deh, pagi-pagi ngajak debat gak baik tahu." Seru Ara sambil mengelus lengan suaminya. "Kamu masih mual gak? Mau mangga muda?" Sambil mengangkat kedua alisnya Ara menawarkan makanan favorit Jo di pagi hari. Untuk meredakan rasa mualnya tersebut.


"Memangnya ada?" Jo terlihat bersemangat, apalagi saat membayangkan rasa mangga muda yang begitu segar saat menempel di lidahnya. Hal itu membuat air liurnya ingin keluar semua. Dan Ara ingin sekali tertawa saat melihat reaksi suaminya.


"Nanti aku suruh bibi carikan dulu." Sahut Ara. Dan sontak Jo melemaskan bahunya karena merasa bayangan mangga muda sudah ada di pelupuk matanya.


***


Bola mata yang sayup dan kantung hitam yang terlihat jelas di bawah kelopak matanya itu menandakan jika lelaki itu tidak bisa tidur dengan baik tadi malam.


"Kamu kenapa nak? Sepertinya kurang tidur?" Mama Merry yang tengah sibuk menyediakan sarapan untuk suami dan anaknya tersebut merasa heran dengan sikap anaknya yang biasanya selalu ceria.


"Bukankah lamaranmu semalam di terima?" Imbuh mama Mery lagi. Dirinya memang tidak bisa ikut karena kesehatannya akhir-akhir ini sedang tidak baik.


Mendengar kata lamaran. Sam langsung mendongakkan pandangannya pada sang mama. Lalu menoleh ke arah papahnya dan menatap lelaki itu dengan tatapan yang berbeda.


"Ada apa?" Tanya mama Merry lagi. Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari mama?" Sikap Sam benar-benar membuat mama Merry merasa curiga. Pasti ada masalah diantara kedua lelaki kesayangannya itu.


Sam mengulas senyum. "Gak apa-apa kok mah, Sam lagi ada masalah kerjaan aja. Tidak ada hubungannya dengan lamaran semalam. Semuanya berjalan dengan baik." Tuturnya.


Wanita yang sudah melahirkan Sam itu pun tersenyum lega. Lalu duduk di kursi sebelah suaminya untuk menyantap sarapannya. Sedangkan Sam dan Jacob saling melemparkan pandangan, sepertinya ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.


Jacob ikut Sam ke kantornya. Karena semenjak perusahaannya bangkrut Jacob sering kali membantu Sam di perusahaannya. Walaupun Sam sering kali melarangnya agar papanya beristirahat saja di rumah. Tapi Jacob selalu menolak.


"Pah, lebih baik kita batalkan saja lamarannya." Ujar Sam saat sudah berada di dalam mobil berdua dengan sang papa.


Jacob tersentak, kepalanya langsung menoleh ke arah Sam yang sedang mengemudi di sampingnya. "Kenapa di batalkan?" Tanya Jacob heran.


Sam memejamkan matanya sekilas, lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Aku merasa malu dengan kak Jo dan juga Ara. Dengan semua yang telah papa lakukan pada mereka. Pasti mereka akan berpikiran jika kita akan memanfaatkan keluarganya Ara untuk keuntungan keluarga kita." Ujar Sam sambil menahan rasa sakit dalam hatinya.


Dia baru saja mau membuka hatinya lagi pada perempuan lain untuk melupakan Ara. Tapi ternyata gadis itu juga masih ada hubungannya dengan wanita yang pernah singgah di dalam hatinya tersebut. Dan yang lebih Sam sesali ternyata sang papa telah menyakiti hati wanita itu berkali-kali.


Jacob hanya terdiam. Walaupun dirinya tidak berniat sama sekali untuk memanfaatkan keluarga dari calon istri anaknya tersebut. Tapi dia memang salah terhadap Ara yang ternyata adalah bagian dari anggota keluarga mereka.


Semenjak kemarahan Jo waktu itu, Jacob lebih sering merenung. Ia tidak bermaksud untuk menghancurkan keluarga kakaknya sendiri. Semua itu berawal dari kesalahpahaman yang berujung kebencian dan berakhir dengan kehancuran.


Jacob tidak pernah tahu jika sang kakak sangat menyayangi dirinya begitu besar. Bahkan kakaknya selalu menanamkan rasa hormat dalam hati Jo sedari kecil untuk dirinya. Dan bodohnya Jacob sendiri yang menghancurkan rasa hormat Jo padanya.


Penyesalan memang tidak pernah datang di awal. Semua orang yang terlambat menyadari kesalahannya pasti akan jatuh dalam rasa malu yang begitu dalam. Hingga orang itu tidak akan berani muncul ke permukaan.


***


Kasih like dan komentar ya next.... 😁😁