
Ara duduk termenung di sudut kafe itu. Setelah lima belas menit yang lalu Jacob meninggalkannya dan kalimatnya terakhir yang lelaki itu ucapkan, selalu terngiang di telinga Ara. "Jo berhak bahagia bersama dengan cinta pertamanya. Tinggalkan dia!"
Air matanya kembali mengalir, matanya menatap ke arah jalan raya yang membentang di balik tembok kaca kafe itu. Sesekali matanya melirik ke arah gedung yang menampakkan kemesraan suaminya bersama wanita itu beberapa menit yang lalu. Walaupun bayangan kemesraan itu sudah hilang dari tadi. Tapi rasa sesak di dada Ara semakin menghujam jika ia melihat gedung itu lagi. Ingin sekali Ara berlari dan menabrakkan dirinya pada kendaraan yang berlalu lalang memecah kesunyian kota.
Tapi Ara sadar itu adalah hal yang bodoh yang terpikirkan olehnya. Bukan kali ini saja Ara merasakan kecewa, sudah berulang kali setelah kematian orang tuanya dan Ara tidak boleh lemah untuk kali ini. Tapi kenapa rasanya sakit sekali?
Sudah puluhan kali ponsel Ara berbunyi, menandakan ada panggilan masuk di ponsel tersebut. Dan panggilan itu tentu saja berasal dari suaminya dan Ara memilih untuk mengabaikannya. Untuk apa lelaki itu menghubunginya? Bukankah dia sedang bersenang-senang dengan cinta pertamanya? Ara menonaktifkan ponsel miliknya itu. Karena saat ini ia tidak ingin di ganggu.
Ara beranjak berdiri dan hendak pergi, sepertinya ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi bukan berarti wanita itu berniat untuk kabur dalam menghadapi situasi ini.
Saat ia hendak melangkah pergi meninggalkan kafe, seseorang dari arah belakang menghentikan langkahnya yang tertahan karena genggaman tangan orang tersebut mencengkram lengan Ara dengan begitu kuat.
"Akhirnya aku menemukanmu Ara." Seru orang tersebut.
Ara tersentak, tubuhnya langsung berbalik menghadap ke belakang. Dan matanya yang sedikit sembab langsung terbuka lebar, kilatan bening yang menggenang di pelupuk matanya kembali terlihat. Tanpa aba-aba Ara langsung berhambur memeluk orang yang kini berada di hadapannya itu.
"Aku merindukanmu." Seru Ara begitu lirih, tertahan di balik dada laki-laki yang memeluknya kini. Ara menangis di pelukan lelaki itu, seolah ia menumpahkan kesedihan dan kekecewaannya yang terasa membelenggu.
***
"Hah, apa-apaan ini! Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Dan sekarang nomornya tidak aktif. Sedang apa dia?" Jo yang sedari tadi menunggu istrinya merasa cemas karena istrinya tak kunjung tiba. Dan sekarang nomor ponselnya bahkan tidak bisa di hubungi. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi maminya.
"Hallo mam? Apa Ara kembali ke salon?" Jo bertanya pada maminya setelah panggilan telepon suaranya terhubung dengan sang mami.
"Tidak, Ara belum kembali setelah ia minta izin untuk membuatkan makanan untukmu Jo." Sahut Ayura di seberang panggilan teleponnya.
Jo terkesiap, ia juga sempat menghubungi Ara saat wanita itu sudah selesai memasak dan bersiap untuk pergi ke kantornya. Seharusnya sudah dari tadi wanita itu tiba di perusahaan Jo.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan sang Mami. Jo mengambil gagang telepon yang terletak di atas meja kerjanya. Ia menekan tombol yang langsung menghubungkan dirinya dengan asistennya David. Lalu menyuruh lelaki itu untuk mengecek ke tempat resepsionis . Apakah ada istrinya yang datang berkunjung kesana.
Tak memakan waktu lama suara ketukan pintu akan kedatangan David menyita perhatian Jo yang terus-menerus mencoba menghubungi nomor ponsel Ara yang hasilnya tetap sama selalu berada di luar jangkauan.
"Bagaimana David?" Jo menyimpan ponselnya di atas meja. Dan terlihat serius menatap asistennya yang baru saja tiba.
"Tadi kata resepsionis, nona Ara memang datang tuan. Sebelumnya nona juga menanyakan keberadaan tuan. Tapi tuan Jacob tiba-tiba datang lalu mengajak nona Ara pergi." Penuturan David sontak membuat Jo membelalakkan mata. Apa yang akan dilakukan oleh pamannya itu terhadap istrinya? Selama ini Jacob tidak pernah menyukai Ara. Ketakutan pun mulai muncul di pikirannya.
"Sial, apa ini ada hubungannya dengan kedatangan wanita ular itu?" Jo seketika teringat akan kedatangan seorang wanita yang selama ini selalu mengejar dirinya. Siapa lagi kalau bukan Erika. Seorang perempuan yang tidak pernah kapok menggodanya walaupun Jo sudah jelas-jelas menolak dirinya. Wanita itu adalah anak angkat dari Jacob. Entah dari mana dirinya berasal, Jacob tidak pernah bercerita hal itu pada Jo.
**** Flashback on.
Jo sedang menunggu istrinya datang sejenak memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing yang sering menggelayuti kepalanya akhir-akhir ini. Jo duduk bersandar senyaman mungkin di kursi kebesarannya.
Sebuah sentuhan di pipi Jo membuat lelaki itu menyunggingkan senyum dengan mata yang masih terpejam. Ia genggam tangan itu lalu menciumnya sebelum ia benar-benar membuka mata.
Jo tersentak dan langsung melempar tangan yang ia pegang saat ia melihat seorang wanita yang sudah lancang masuk ke ruangannya tanpa izin bahkan menyentuh wajahnya.
"Siapa yang mengizinkan mu masuk Erika?" Seru Jo dengan tatapan penuh kebencian. Ia merasa jijik dengan kehadiran wanita itu.
Tapi bukannya takut wanita itu malah melebarkan senyumnya. Dan tanpa rasa malu dia malah bersandar di meja tepat di hadapan Jo sambil memainkan ujung rambutnya yang tergerai panjang.
"Ternyata benar, ingatan sudah kembali sayang. Kau sudah mengingatku sekarang. Aku ikut senang." Erika hendak memeluk tubuh Jo yang masih duduk tapi dengan sigap Jo menahan tubuh wanita itu dan sedikit mendorongnya agar menjauh. Lelaki itu berjalan ke arah jendela untuk menghindari gerakan menjijikkan dari si penggoda.
"Jaga tingkah lakumu Erika! Aku sudah punya istri." Seru Jo dengan tatapan waspada, wanita ini bisa melakukan apa saja.
Dan ternyata benar, Erika berjalan cepat ke arah Jo dan entah di sengaja ataupun tidak kakinya tiba-tiba hilang keseimbangan dan hampir terjatuh di hadapan Jo. Tentu saja gerakan tangan Jo yang secara refleks langsung menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh. Dan sialnya hal itu malah di jadikan kesempatan untuk wanita itu tak mau lepas dari pelukan Jo bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh lelaki yang selama ini menjadi incarannya sambil tersenyum penuh kemenangan.
*** Flashback off.
"Ah..... Benar-benar sialan. Apa maksudnya paman membawa Ara pergi? Dan kemana mereka?" Jo menggeram kesal saat David melaporkan dirinya tidak bisa menemukan Ara ataupun Jacob di sekitar kantor.
Jo akhirnya menghubungi Sam dan menanyakan perihal keberadaan pamannya. Dan Sam mengatakan jika pamannya sedang berada di perusahaannya sekarang. Lalu kemana Ara? Bukankah tadi kata resepsionis Ara pergi bersama dengan pamannya?
Jo juga menghubungi orang rumah, ternyata Ara juga tidak berada di sana. Jo semakin khawatir. Lelaki itu begitu panik hingga otaknya sulit untuk berpikir. Hingga memutuskan untuk menemui pamannya agar ia tahu apa maksud dari pamannya itu menemui istrinya. Dalam hatinya ia terus berdoa agar istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
***
Satu misteri udah di kebuka ya, itu cuma salah paham ya semuanya, dan yang bilang cerita ini mirip cerita sebelah, makasih loh atas komentarnya. Amih jadi semakin tertantang buat bikin cerita yang berbeda.
Tapi tolong atuh lah, gak usah pake nahan vote gara-gara sebel sama pemerannya. Kan ceritanya masih lanjut akang eteh. Amih malah lebih sedih lihat komen ini loh 😢😢. Makasih juga buat yang masih setia dan nyumbangin votenya.. Met Malam semua. Happy Reading.