
" Maaf paman masuklah ! " Ajak Ara walau sedikit segan.
Ara membawa paman Jacob ke meja makan menemui Jojo yang sedang sarapan dan juga Angel yang baru turun dari kamarnya.
" Uhuk....uhuk..." Jojo begitu terkejut saat Ara membawa pamannya masuk ke dalam rumah, sampai dia tersedak oleh makanannya yang masuk di mulutnya, dengan cepat Ara berlari dan memberikan air minum pada suaminya itu.
" Hati - hati Jojo ! " Seru Ara sambil menepuk pelan pundak Jojo.
Jojo meminum air itu dan menyimpan kembali gelas kosongnya di atas meja lalu menarik tangan Ara yang berdiri di sampingnya hingga sedikit membungkukkan badannya dan telinganya mendekati bibir Jojo.
" Kenapa kamu izinkan paman masuk ? " Bisik Jojo pada Ara.
Ara sejenak melirik ke arah paman Jacob, lalu kembali ke arah Jojo " Tapi dia kesini ingin bertamu, apa aku harus mengusirnya pergi ?"
" Ada apa kalian berbisik di depan ku ? " Tukas Jacob dengan menunjukkan wajah dinginnya.
Jojo menelan ludahnya, dan berpegangan dengan erat pada tangan Ara. Sedangkan Jacob tersenyum senang karena telah membuat Jojo kembali takut pada dirinya.
" Maaf paman, mommy sedang tidak ada di rumah, dia sedang pergi ke kantor. " Ucap Angel ikut berbicara.
" Aku tahu, boleh aku duduk ? " tanpa di persilahkan Jacob menarik sebuah kursi kosong dan mendudukkan tubuhnya disana.
" Seperti biasa, aku hanya ingin mengajak Jo berkunjung ke rumahku, bibi nya sangat merindukan Jo, dan ingin bertemu dengannya. " Imbuh Jacob seperti biasa dia datang saat Ayura pergi ke kantor dan membawa Jojo pergi ke rumahnya.
Jojo semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Ara, membuat Ara mengernyit heran menatap suaminya, karena sampai saat ini pamannya Jojo tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan tapi kenapa Jojo malah sudah terlihat ketakutan.
" Maaf paman, sepertinya Jojo tidak bisa pergi bersamamu, mommy Ayura melarangnya pergi kemanapun. " Tukas Ara, dengan hati - hati, dirinya mengerti suaminya tak ingin pergi.
Jacob menatap tajam pada Ara " Siapa kamu berani melarang aku membawa Jo, aku pamannya dan aku hanya ingin mempertemukannya dengan istriku. Lagi pula Jo tidak akan menolak, benar kan Jo ? " Jacob melototkan matanya pada Jojo hingga Jojo mengangguk dengan cepat, mengiyakan permintaan pamannya.
Ara tak akan membiarkan itu terjadi, dia sangat ingat Jojo pernah bilang jika dirinya suka di kurung di kamar gelap oleh pamannya, mungkinkah itu di lakukan di rumah pamannya sendiri.
" Ara tidak bermaksud lancang paman, kalau memang Jojo bersedia biar Ara membantu Jojo ganti baju dulu, sambil menunggu paman bisa sarapan dulu, nanti Ara siapkan. " ucap Ara dengan sopan.
" Baiklah, sepertinya kamu tidak terlalu buruk menjadi istrinya Jo, Ayura tidak salah memilihmu. " Seru Jacob sambil tersenyum miring.
Ara dengan lembut melepas genggaman tangan Jojo sambil memberi usapan di lengannya dan berucap " Gak apa - apa, kamu tenang ya." Ara menatap bola mata Jojo kemudian tersenyum manis, memberikan sedikit ketenangan di hati Jojo.
Ara pergi ke dapur dan mengambilkan sarapan untuk paman Jacob, sepiring omelet dan segelas susu, " Makanlah paman, maaf kami hanya memasak ini. " Ujar Ara sambil menyodorkan makanan tersebut di hadapan Jacob.
Jacob menerimanya dengan senang hati, dan mengizinkan Jojo untuk mengganti bajunya terlebih dahulu. Ara pun menggiring tubuh Jojo untuk masuk ke kamarnya lebih dahulu.
" Ara , kenapa kau mengizinkan aku pergi ? kau kan tahu, dia akan mengurungku lagi dalam ruangan gelap. " Seru Jojo saat dirinya dan Ara sudah sampai di dalam kamar Jojo.
" Kalau kau tidak mau, kenapa kamu tidak menolaknya barusan. Aku tidak bisa apa- apa jika kamu tidak berani menolaknya sendiri. " Sahut Ara sambil menyimpan kedua tangannya di atas pinggang.
Jojo menundukkan wajahnya " Aku takut dia akan menyakiti mommy. " Ucapnya dengan lirih.
" Kamu tidak perlu takut, aku yakin dia tidak akan menyakiti mommy mu, dia hanya menakutimu saja. " Ucap Ara, kini dirinya duduk di samping Jojo yang duduk di tepi ranjang. " Mommy mu orang yang hebat, dia tidak akan berani macam - macam dengan mommy." imbuh Ara lagi.
Jojo menoleh ke arah Ara dan menatap manik - manik mata Ara. " Aku harus bagaimana ?" Tanya Jojo terlihat frustasi, selama ini dia selalu mengikuti keinginan pamannya itu, karena selalu mendapat ancaman seperti itu dari pamannya.
" Kamu hanya tinggal menolaknya saja, kalau seperti itu aku baru bisa membantumu berbicara. " Ara mencoba memberikan kekuatan dan keberanian untuk Jojo, sesuai instruksi dari dokter Ichida, bahwa Jojo harus mendapatkan sugesti keberanian yang besar, hingga dirinya akan semangat mengubah dirinya menjadi sosok yang lebih dewasa ke depannya. Dan masa kecilnya akan segera berganti ke level selanjutnya.
" Kamu harus berani ! " Imbuh Ara memberi semangat lagi.
" Ayo turun, aku sudah berani sekarang ." Ajak Jojo dengan penuh semangat. membuat Ara tersenyum puas mendengarnya.
" Begitu dong, kamu juga akan mendapat kejutan nanti, jadi jika nanti paman mu tetap memaksa, kamu tidak boleh mengubah keputusan mu. " Ara mengingatkan Jojo kembali sambil memegang pundak Jojo. Mereka pun segera turun dan kembali menemui Jacob di meja makan.
" Kenapa masih memakai baju yang tadi ?" Tanya Jacob sambil memicingkan matanya, saat melihat Jojo kembali dengan baju yang sama yang di pakai Jojo sebelumnya.
Jojo menelan ludah, tubuhnya sedikit bergetar, saat melihat wajah sangar pamannya, nyalinya sedikit menciut kembali, Ara menggenggam tangan Jojo dengan erat membuat Jojo menoleh ke arah nya dan keduanya saling tatap, Ara tersenyum hangat dan membuat tubuh Jojo kembali semangat. Jojo mengangguk mengerti sambil tangannya tetap mengenggam tangan Ara dengan erat.
" Maaf paman Jojo tidak bisa pergi denganmu, hari ini bahkan hari - hari selanjutnya. " Seru Jojo dengan berani, walau sesekali matanya masih mengerjap beberapa kali, takut - takut pamannya akan menyakiti.
Jacob mengebrak meja makan, hingga membuat getaran yang sangat kencang di meja itu, dan piring kosong yang ada di hadapannya pun ikut bergetar dan sedikit terangkat. "Kamu berani menolakku Jo ? " Ucapnya dengan nada tinggi.
Jojo tersentak kaget, begitu pun dengan Angel dan juga Ara, terlihat beberapa pelayan dan bi Darmi yang sedang mengintip dari arah dapur tak berani ikut campur. Sebenarnya mereka tahu perlakuan kejam paman Jojo selama Ayura pergi. Tapi mereka sangat takut dengan ancaman Jacob jika mereka mengatakan hal tersebut pada Ayura, Jacob tidak akan segan - segan menyakiti seisi rumah itu.
Angel terlihat gemetar, Jojo juga ikut menjadi tegang. Tapi saat suasana menjadi hening karena ketakutan.
" Krucuuuuuk " Terdengar suara aneh yang membuat semua orang disana menatap Jacob sambil menahan senyum. Terlihat Jacob langsung memegang perutnya dengan mimik wajah yang sangat lucu, sepertinya dia hendak ke toilet dan tak tahan ingin membuang hajatnya.
" Dimana kamar mandi nya ?" Teriak Jacob dengan tidak sabar. Jojo dan Angel menunjuk sebuah pintu yang berada di dekat dapur bersamaan karena disana letak kamar mandi yang biasa di pakai oleh para pelayan dan juga tamu yang kadang - kadang suka meminjam kamar mandi jika sedang berkunjung di rumah itu.
Jacob berlari sambil meringis kesakitan, rasanya perutnya seperti di aduk dan di lilit dengan cepat. Tanpa bisa di tahan, suara hembusan udara dari bagian lubang pantatnya keluar tanpa aba - aba. Wajahnya begitu merah menahan malu, dan semua orang di sana tertawa saat Jacob menghilang dalam pintu.
" Ada apa dengan paman ? kenapa dia tiba - tiba sakit perut seperti itu ? " Tanya Angel dengan heran, pasalnya dari tadi dia makan bersama pamannya, dia terlihat baik - baik saja, bahkan melahap habis makanannya dengan cepat.
Ara tersenyum tertahan, dia seperti menyembunyikan sesuatu. " Aku tidak tahu ." Jawab Ara sambil mengangkat kedua bahunya.
Jacob terlihat kelelahan, saat dirinya beberapa kali bolak - balik ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya yang tidak pernah ada puasnya, perutnya selalu saja kembali bergejolak saat dirinya keluar dari kamar mandi dan memaksanya untuk kembali.
" Paman, sepertinya paman sakit, apa tidak sebaiknya periksakan dulu ke rumah sakit ?" Ucap Ara memberi saran, saat melihat tubuh Jacob yang terlihat lunglai dan kelelahan.
" Sepertinya aku salah makan ? " Jacob membulatkan matanya saat ingat sarapan pemberian Ara yang dia makan sebelumnya.
" Apa kau yang berani meracuniku ?" Imbuh Jacob sambil menunjukkan jarinya di depan wajah Ara. Emosi nya terlihat menggebu sampai ubun - ubun. Tapi Ara mencoba tenang, dia tak menunjukkan wajah takut ataupun bersalah.
" Apa makan yakin, sakit mu karena makananku tadi ? kalau memang karena sarapan itu kenapa kami tidak sakit perut juga, bukannya kami juga memakan makanan yang sama dengan paman. " Tutur Ara dengan raut wajah datar.
Jacob semakin meradang " Mungkin saja kau mencampurkan sesuatu ke dalam makananku saja ." seru Jacob dengan sedikit berteriak, tapi emosi nya kembali tertahan saat gejolak di perutnya kembali mengajaknya masuk ke kamar mandi untuk pelepasan.
Ara tak kuasa menahan tawa nya kembali, tapi dengan suara pelan, sambil memegang perutnya yang sedikit keram. Jojo begitu aneh melihat sikap Ara yang bahagia di atas derita pamannya.
Jacob merasa tidak tahan lagi, dan dia memutuskan untuk pergi. Dia berkata akan kembali dan membuat perhitungan dengan gadis yang baru di kenalnya itu, Ara seperti membuat lubang kebencian di hati Jacob, Ara tidak peduli dengan hal tersebut, dia hanya ingin melindungi suaminya.
" Ara, apa kamu benar - benar meracuni paman ? " tanya Jojo saat mereka tengah duduk di ruang keluarga sedang menonton acara televisi kesayangan Jojo pagi itu.
Ara yang sedang menonton TV pun menoleh le arah Jojo, kemudian melebarkan senyumnya hingga menunjukkan deretan gigi putihnya, "Mana mungkin aku berani meracuni pamanmu, jika aku melakukannya mungkin dia sudah mati , aku hanya menambahkan sedikit bubuk peluruh lemak ke dalam susunya, agar lemak dan kotoran dalam perutnya terkuras semua, aku hanya membantu pencernaannya menjadi lebih lancar saja, kamu jangan berpikir berlebihan. " Seru Ara dan kembali beralih pada layar televisi.
Jojo mengernyit " Berarti kau mengerjai paman bukan ?" Ucap Jojo pelan, tapi tiba - tiba wajah Jojo berubah cerah, kemudian dia tertawa terbahak - bahak membuat Ara terpaku melihatnya, Ara tersenyum senang melihat Jojo bisa tertawa lepas seperti itu, walau cara Ara memang salah, tapi sesekali pamannya itu memang pantas di beri pelajaran.
****
Happy Reading 😉😉😉
Jangan lupa like , comment , favorite , rate star 5 , dan juga VOTE sebanyak - banyaknya ya..! makasih.