
Setelah melakukan aktivitas yang tidak direncanakan sebelumnya, Ara dan Jo tertidur karena kelelahan.
Ya, mereka mengakhiri kesalahpahaman dengan bermain di atas ranjang. Bukan Jo namanya kalau dia tak berhasil meruntuhkan pertahanan istrinya.
Walaupun awalnya ada sedikit penolakan, tapi akhirnya Ara yang pertama mendapatkan pelepasan. Ah, sepertinya Jo sekarang sudah mahir dalam berperang.
Ara mengerjapkan mata, saat ia merasa tubuhnya di peluk begitu erat oleh suaminya. Dan begitu terasa di kulit tubuhnya yang polos hawa panas seakan menempel di tubuhnya. Dan hawa panas itu berasal dari tubuh suaminya.
Ara membuka mata. Menatap aneh wajah suaminya yang terlihat pucat dan penuh dengan butiran keringat. Pelukan di tubuhnya pun terasa hangat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan suhu tubuh suaminya tersebut. Tubuhnya berkeringat tapi menggigil seperti kedinginan.
Ara menempelkan telapak tangannya di kening sang suami. Matanya terbuka lebar saat merasakan hawa panas begitu kentara di tangannya.
"Astaga.... Jojo demam," gumam Ara pelan.
Ara melepaskan pelukan suaminya dengan pelan, ia turun dari tempat tidur dan meraih pakaiannya yang sempat berceceran di atas lantai. Lalu memakainya dan segera menuju dapur untuk mengambil es batu untuk mengompres kening suaminya.
Jo mengernyitkan kening, saat merasakan benda aneh dan basah melekat di bagian keningnya. Matanya langsung terbuka dan tangannya langsung meraih benda basah itu.
"Jangan di lepas!" Ara menahan tangan Jo yang nyaris melepas handuk basah di kening suaminya itu. "Kamu demam Jojo," imbuhnya sambil menyahut handuk itu dan menempelkan lagi di kening sang suami.
Jo mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan hawa panas yang menyengat tubuhnya kini. Dan satu hal yang membuatnya mengerutkan dahi, rasa sakit mulai menyerang pada bagian tubuhnya yang lain.
"Aku lapar," seru Jo terdengar lirih, ia menyentuh bagian perutnya yang datar karena terasa begitu melilit, memberontak ingin di beri makanan.
"Memangnya kamu belum makan?" tanya Ara sambil mengernyit heran. Ara sekilas menengok ke arah jam dinding yang terpampang dan ternyata waktu menunjukkan jam sembilan malam.
Jo menggelengkan kepalanya pelan. Ia ingat jika dirinya belum makan dari tadi siang. Kepanikan nya saat tahu Ara di bawa oleh sang paman, membuatnya lupa untuk sekedar mengisi perutnya yang butuh asupan.
"Kenapa belum makan?" Ara tersentak dengan pertanyaannya sendiri, sebelum Jo menjawab pertanyaan nya itu ia ingat jika tadi siang suaminya minta di buatkan sup tomat untuk makan siang suaminya. Tapi wanita itu malah membuangnya dan pergi tanpa kabar.
Tapi bukan sepenuhnya salah Ara, ini semua karena sebuah kesalahpahaman belaka dan hasutan dari pamannya.
"Jangan bilang kamu belum makan dari tadi siang?" Jo mengangguk sambil mengerjap polos mendengar pertanyaan itu dari istrinya. Ia memasang wajah mengiba agar istrinya merasa bersalah dan semakin memperhatikannya.
Tapi bukannya sebuah perhatian yang Jo dapatkan malah sebuah pukulan kecil yang mendarat manis di lengannya hingga membuat laki-laki itu pun jadi berdesis.
"Kenapa di pukul? Aku kan lagi sakit?" protes Jo dengan manja.
Ara mencebik. "Salah sendiri kenapa gak makan. Memangnya kamu kekurangan uang?" seru Ara sambil melipat tangan di depan dada. Hah sungguh kejam wanita ini, mana ada istri yang tega berbicara seperti itu pada suami sendiri.
"Aku ingin makan masakanmu, apa kamu lupa tadi siang aku minta apa?!" seru Jo sambil mengerucutkan bibirnya.
Ara melemaskan bahunya, sebenarnya dia juga tidak tega. Tapi mau gimana, Ara belum mendapat penjelasan yang jelas perihal foto-foto mesra suaminya yang belum sempat mereka bahas. Jujur saja hal itu masih membuat hati Ara begitu panas.
Jo sebenarnya masih ingin makanan buatan istrinya, tapi cacing di dalam perutnya sudah tidak bisa menunggu lama. Rasa laparnya membuat keringat dinginnya keluar semua. Akhirnya ia hanya bisa menganggukkan kepalanya menuruti apa kata istrinya.
"Pakai bajumu dulu!" Ara mengambilkan baju Jo yang tergeletak di sisi ranjang dan memberikannya pada Jo. Setelah itu ia bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk lelaki itu.
Tak berselang lama Ara kembali sambil membawa makanan dan air minum di tangannya. Melihat Ara sudah datang Jo beranjak duduk lalu bersandar di kepala ranjang.
Ara menyimpan air minum di atas meja dan sepiring makanan di pangkuannya. "Mau di suapin?" tanyanya.
Dan lelaki di hadapannya itu tentu saja menganggukkan kepalanya penuh semangat. Ia senang melihat Ara kembali perhatian pada dirinya.
Suapan demi suapan Ara berikan kepada Jo dengan perlahan. Tak ada perbincangan diantara mereka hingga makanan tersebut habis tak tersisa.
"Minum obat ya! Badan kamu masih panas." seru Ara setelah suaminya telah menghabiskan makanannya.
Jo menggelengkan kepalanya. "Gak usah, aku cuma lapar. Nanti juga baikan." tolaknya sambil menyimpan gelas kosong yang sudah ia minum isinya.
Ara menyuruh Jo untuk kembali beristirahat, karena dia tak mau minum obat. Lalu ia pamit untuk menyimpan piring kotor ke dapur.
Setelah kembali ke kamar, Ara tersenyum tipis saat melihat Jo sudah kembali tidur dengan nyamannya. Ara merangkak naik ke ranjang lalu mencium kening suaminya. Sebelum ia melanjutkan lagi tidurnya yang sempat terjeda.
****
Suara burung kecil saling bersahutan meriuhkan alam. Sinar mentari yang menyusup di celah tirai yang menutupi jendela kamar seakan menggelitik mata yang masih terpejam. Ara menyipitkan kedua matanya saat sinar itu menyilaukan netra pekatnya.
Dan suara samar yang ia dengar membuatnya menoleh pada sisi ranjang lainnya yang terlihat kosong. Ara tak mendapati suaminya lagi. Dan seperti biasa, Ara akan menemukan suaminya berada di dalam kamar mandi. Sedang memuntahkan semua isi perutnya setiap pagi.
Sudah beberapa hari ini Jo selalu mengalami kejadian seperti ini. Kadang Ara merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Jika di ajak ke dokter, lelaki itu selalu tidak mau. Karena memang jika waktu sudah mulai siang tubuhnya jadi kembali segar.
"Kita ke dokter saja hari ini? Kamu gak aneh gitu tiap pagi muntah terus?" seru Ara yang menyusul suaminya. Ia membantu memijat tengkuk leher suaminya agar lebih mudah mengusir rasa mualnya.
"Kamu temani aku ya!" Jo yang sudah agak mendingan keluar dari kamar mandi lalu duduk di tepi ranjang.
Ara menghela nafas lega, akhirnya suaminya menyerah juga. Ia mau di ajak ke dokter untuk memeriksa keadaannya.
"Kalau aku kenapa-kenapa, kamu gak akan ninggalin aku kan?" Jo berkata begitu dramatis tapi terlihat manis, entah kenapa perasaannya kini lebih melankolis.
Ara mengangkat kedua alisnya. Jika suaminya sudah bersikap seperti itu, wajahnya terlihat begitu lucu. Membuat wanita manapun yang melihatnya pasti jatuh hati. Boleh gak sih Ara minta jatahnya lagi? Eh.....
Periksa ke dokternya besok lagi ya, amih mau istirahat dulu.... Dukung terus amih ya, poinnya kenceng, besok upnya lebih awal deh.... 😊😊😊