My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
SUDAH WAKTUNYA



Ara di tarik masuk ke dalam kamar, Jojo begitu kesal dengan sepupunya itu, memang terlalu berlebihan, karena kecurigaan Jojo sangat tidak berdasar sama sekali. Semua itu hanya dugaannya saja. Dan untuk Sam, saat Jo dan Ara sudah masuk kedalam kamar, Sam berpamitan untuk pulang. Setelah mendapat jawaban mommy Ayura dari pertanyaan yang Sam lontarkan padanya tentang siapa Ara yang sebenarnya. Dan jawaban itu sangat menyakitkan hati Sam dan sebenarnya dia juga tak begitu percaya.


Ara adalah seorang yatim piatu yang kebetulan telah menolong Jo saat Jo kesulitan untuk mengingat jalan pulang. Jo sangat berterimakasih pada gadis itu, mereka jadi sering bertemu,lama - lama mereka jadi dekat dan mereka saling jatuh cinta. Akhirnya memutuskan untuk menikah.


Itu lah jawaban dari mommy Ayura, cuma sebagian saja yang sesuai dengan kenyataan kalau Ara telah menolong Jo menemukan jalan pulang, tapi untuk saling jatuh cinta sebelum pernikahan Ayura terpaksa mengatakan itu. Dia hanya tidak ingin rencananya jadi berantakan jika ada orang luar yang tahu, bagaimanapun Sam adalah anak dari iparnya yang selama ini selalu berusaha untuk merebut harta warisan dari putra sulungnya.


***


" Kamu kenapa si Jojo ? " Tanya Ara yang sejak tadi keheranan dengan sikap suaminya itu.


" Kamu suka banget kayaknya di datengin si Sam itu ? Kalian udah janjian ya ? " Tanya Jojo dengan nada menuduh.


Ara mengernyit kening, Eh...maksudnya gimana ? Janjian ? bahkan wajahnya saja Ara lupa siapa itu Sam, bagaimana bisa dia janjian dengan laki - laki itu. Jo... Jo... cemburu mu keterlaluan !


" Aku bahkan tidak mengenalnya. " Sanggah Ara


Jojo berdecih tak percaya. " Kalian sudah berkenalan waktu itu. " Ucapnya mengingatkan sambil melipat tangannya di atas dada.


" Aku lupa lagi, waktu itu aku tak begitu memperhatikan dia. " Ucap Ara sambil menajamkan kedua matanya. Jojo menatap kedua mata itu. Sepertinya tidak ada kebohongan disana.


Jojo terdiam, dia menurunkan kedua tangannya dengan pandangan yang terlihat sayu. Mungkin dia menyesal.


" Pokoknya aku tidak suka jika Sam kemari, dan kamu menemani dia seperti tadi ! " Seru Jo kembali dengan wajah merengut kesal.


" Kamu cemburu ? " Tanya Ara tepat sasaran. Membuat Jo melengos, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Tidak ! " Sanggah Jo sedikit malu.


Ara menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyum miring disana. " Bener nih gak cemburu ? Lalu kenapa marah - marah gak jelas kayak gini ? "


" Siapa yang marah ? " Tukas Jojo mengelak.


Ara mengulum senyum, merasa senang jika suaminya cemburu padanya, berarti Jo benar - benar tak ingin kehilangan Ara.


" Jadi begini ya rasanya di cemburuin suami sendiri. " Seru Ara sedikit mengoda. Jo mendengus kesal, tapi saat melihat wajah Ara yang terlihat menggemaskan membuatnya sedikit luluh.


" Kamu ya, pinter banget sih bikin orang baper. " Ucap Jo sambil menyentil hidung mancung Ara.


" Jadi bener kamu cemburu ? " Tanya Ara menyakinkan sambil mengangkat kedua alisnya yang tebal.


Di tanya seperti itu, Jo malah menarik pinggang Ara hingga tubuh mereka berdekatan tanpa jarak. Jo menatap bola mata Ara yang juga menatapnya sambil mengerjap gugup. Ara begitu terkesiap dengan perlakuan suaminya itu. Beberapa hari ini Jo memang lebih romantis dari biasanya. Tapi jika untuk melakukan hubungan suami istri, sepertinya Jo juga belum siap.


" Aku tuh cemburu jika kamu di tatap sama lelaki lain, apalagi jika kamu merespon laki - laki itu, walaupun kamu gak punya niat membalas dia tapi jika kamu tidak jaga jarak dia akan berpikir kamu tidak keberatan. " Aku Jo akhirnya berkata dengan jujur.


Ara sangatlah malu mendengar pengakuan Jo itu, wajahnya terlihat merah membuat Jo semakin gemas melihatnya.


" Dengar Ara, sampai saat ini aku masih menahan hasratku padamu karena aku ingin melewati hari - hari bermesraan denganmu dulu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah terapiku yang terakhir. Makanya aku hanya ingin menguatkan memoriku bersamamu lebih lama. " Jo berucap dengan begitu lembut, Ara begitu terperangah mendengarnya, jantungnya tak bisa berdetak dengan normal. Apakah itu benar keluar dari hati Jo. Ara begitu tersentuh dengan kata - kata itu.


Hati Ara seakan melayang di udara, tapi sesaat kemudian Ara terlihat begitu sedih, butiran - butiran kristal terlihat keluar dari pelupuk matanya. Ara menangis dia menitikkan air mata kebahagiaan dan juga kesedihan. Dia bahagia karena ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan dan dia sedih karena Jo mengakui itu saat dirinya belum sembuh benar. Ada kemungkinan jika itu hanyalah angan - angan Ara saja. Jika Jo melupakannya itu hanya sebuah mimpi indah saja buat Ara.


" Maaf Ara, jika kata - kataku menyakitimu..."


" Tidak Jojo, kau tidak menyakitiku, malah aku sangat senang mendengar kata - katamu itu. " Tukas Ara sambil menyimpulkan senyum tulus di bibirnya.


" Kamu yakin ? Lalu kenapa nangis ? " Tanya Jo lagi.


" Aku hanya terharu Jo. " Jawab Ara.


Jo pun tersenyum bahagia mendengarnya, lalu memeluk Ara dengan penuh kehangatan. Sambil mengecup puncak kepala Ara berkali -kali.


***


" Kenapa belum melakukannya juga ? " Pertanyaan itu terlontar dari dokter Ichida, terlihat sekali raut kecewa dan gemas dengan apa yang di katakan oleh Ayura, saat sahabat dari kecilnya itu berkunjung ke tempatnya.


" Aku tidak tahu, tanyakan sendiri pada Jo ! aku sudah bertanya pada Ara semalam, katanya mereka memang belum melakukannya. Dan pas aku bertanya alasannya, Ara bilang Jo nya tidak mau. " Sahut Ayura dengan ketus.


Dokter Ichida menautkan tajam kedua alisnya. " Kalau begitu anakmu benar - benar tidak normal... Aww.. " Pekik Dokter Ichida yang mendapat lemparan pulpen tepat di keningnya. Pulpen itu tergeletak di atas meja kerja dokter Ichida hingga mommy Ayura dengan mudah bisa meraihnya. Karena mereka sedang duduk berhadapan tapi terhalang meja itu.


" Senang sekali kau bicara seperti itu ! " Seru Mommy Ayura dengan geram.


" Kau sendiri yang bilang, jika Ara berkata kalau Jo yang tidak mau. Berarti memang anakmu yang bermasalah. " Sahut dokter Ichida sambil mengelus keningnya yang masih terasa perih.


" Mungkin Jo belum siap. "


Dokter Ichida menghela nafas kasar, lalu duduk bersandar di sandaran kursi kebesarannya itu.


" Mau sampai kapan dia belum siap, ini sudah waktunya. Sudah hampir sebulan setelah melakukan terapi kedua. Jika ini terlewat sampai lama aku khawatir terapi yang kemarin akan sia - sia saja. Jo akan berada terus di ingatannya sekarang. Selamanya ! "


Mendengar itu mata Ayura jadi membulat sempurna, dengan kening mengkerut tajam. "Apa maksudmu ? " tanya nya dengan raut wajah yang tegang.


Dokter Ichida menegakkan tubuhnya dan menatap Ayura dengan wajah serius. " Iya, Jo akan tetap di ingatannya sekarang, dia tidak akan bisa berpikir dewasa sampai kapanpun atau bisa di bilang pikirannya hanya sampai di usia remaja saja. " Ucap dokter Ichida dengan yakin.


Ayura terdiam, dia tak ingin hal itu terjadi. Semua yang dia lakukan akan sia - sia saja, pengorbanan Ara selama ini juga sia - sia. Apa yang harus Ayura lakukan ? Selama ini Ara tidak mau melakukan saran dokter Ichida untuk menggunakan obat perangsang. Masa iya dia juga harus campur tangan.


" Jadi, sekarang bagaimana ? bagaimana aku bisa membuat Jo berinisiatif sendiri ? " Suara mommy Ayura terdengar begitu lirih, tampak sekali kebingungan di raut wajahnya itu.


Ayura duduk bersandar sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dia ingin sekali anaknya itu sembuh total. Jika ingatan Jo hanya tertahan di usia remajanya saja. Itu sama artinya dengan membiarkan Jo seperti dulu saat dirinya pertama kali sadar dari kecelakaan. Ayura sudah menggantungkan harapan yang sangat besar pada Ara. Dia yakin Ara bisa menyembuhkan Jo, makanya dia sampai rela memohon pada gadis itu untuk mau menikahi putra sulungnya. Suasana jadi hening seketika, keduanya tampak berpikir dengan imajinasinya masing - masing.


Lalu dokter Ichida tiba - tiba terhenyak, terbesit sebuah ide cantik dalam otak jeniusnya itu. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya ke atas meja yang menghalangi mereka berdua. Dengan senyum menyeringai dokter berkaca mata itupun berkata. " Kau jebak saja mereka ! "


***


Seperti apa jebakan mommy Ayura untuk Jojo dan Ara. kita tunggu kelanjutannya ya... !


Minal Aidin walfaidzin ya.. Di hari raya idul fitri ini author mohon maaf jika ada salah - salah kata dari author yang tidak berkenan di hati readers sekalian. Semalam sudah bagi - bagi THR poin walaupun tak banyak tapi semoga berkah, nanti malem insyaa Allah akan ada THR lagi. Mampir di GC amy ya...!


Jangan lupa terus dukung author ya, dengan Klik like, tinggalkan komentar walau cuma next dong 😆😆, share kalau sempat dan berkenan. Dan vote pake poin yang banyak ya...terima kasih. 😊😊😊