
Menangis dalam diam, itulah yang di lakukan Ara sekarang. Entah apa yang dia tangisi yang pasti hatinya sekarang merasa kesal. Seharusnya Ara senang Jojo tadi bersikap layaknya seorang suami yang membela istrinya. Tapi rasanya ada yang aneh, ucapan Daniel sedikit mengusik perasaannya. Hatinya seakan ingin membenarkan dugaan Daniel, jika Jojo telah membohonginya.
"Apakah mereka semua bersekongkol untuk membodohi aku? Tapi apa untungnya Jojo menikahi gadis yatim piatu seperti aku ini jika bukan karena maksud tertentu, kalau dia tidak bodoh dulu mana mungkin dia akan memilihku menjadi istrinya." gumam Ara masih dalam posisi telungkup menopangkan dagunya di atas bantal.
Lamunannya seketika membuyar saat terdengar suara pintu terbuka, Ara dengan cepat mengusap air mata yang masih tersisa di sudut mata dan pipinya. Dan dia pura-pura memejamkan mata.
Jojo masuk kedalam kamar, menatap tubuh Ara yang menelungkup di atas ranjang. Jojo berjalan mendekati Ara dan duduk di tepi ranjang. Melihat mata Ara terpejam Jojo jadi mendengus pelan. Dia tahu istrinya sedang berpura-pura tidur.
"Jangan berpura-pura! Aku tahu kau belum tidur." seru Jojo sambil melipatkan kedua tangannya di atas dada.
Ara menyipitkan sebelah matanya, sedikit mengintip suaminya yang sedang memasang wajah kesal tapi terlihat masih sangat tampan. "Astaga, sedang kesal saja wajahnya sangat menggemaskan. Bagaimana bisa aku bisa marah pada wajah itu?" gumam Ara sambil menelan ludahnya dengan berat.
Eh ... tunggu! Sebenarnya disini siapa yang harus marah, dirinya ataukah suaminya? Ara jadi bingung sendiri, sehingga dia memutuskan untuk membuka matanya dengan lebar, menghadapi pertanyaan yang akan Jojo lontarkan.
"Ada apa?" tanya Ara yang kini sudah dalam posisi duduk bersila menghadap ke arah suaminya.
Jojo menautkan kedua alisnya, "Kamu gak mau menjelaskan sesuatu?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Menjelaskan apa?" Ara nampak bingung.
"Ucapan temanmu tadi, kalau kau menikahiku hanya untuk sementara saja, sampai aku mengingat masa laluku kembali," ujar Jojo dengan sedikit kesal, sebenarnya dulu Jojo mengetahui alasan dirinya hendak menikah dengan Ara. Tapi itu dulu, saat Jojo masih berusia enam tahun di dalam otaknya. Mungkin karena pengaruh terapi itu dia jadi melupakannya.
Ara menghela nafas panjang, sebenarnya tak ingin dia menjelaskan hal itu. Ingin sekali dia berkata, "Tanyakan saja pada mommy-mu!" Tapi sayangnya, pertanyaan itu hanya terucap dalam hatinya saja.
"Kenapa diam saja? Ayo katakan!" seru Jojo semakin penasaran.
"Kalau aku bicara itu tidak benar, apa kau akan percaya?" Ara malah balik bertanya, dia ingin tahu Jojo masih percaya padanya atau tidak.
Tapi Jojo hanya membisu, sebenarnya dia ragu, tetapi perkataan Daniel tak bisa dilupakan begitu saja, Daniel begitu yakin saat berucap demikian dan Ara tidak membantahnya juga, malah menyuruh Daniel untuk diam, dan mencoba menutupi semuanya.
"Kalau aku bilang tidak percaya, bagaimana? Kau kan tahu ingatanku tentangmu sangatlah sedikit. Mungkin saja kan kamu mau menikah denganku hanya karena uang?" seru Jojo dengan asal, tanpa sadar ucapannya itu membuat Ara merasa kesal.
Ara menajamkan kedua matanya, menatap Jojo dengan tatapan penuh amarah, tega sekali dia berkata seperti itu, dengan semua pengorbanan yang Ara lakukan selama ini. Jojo sangatlah tidak tahu terima kasih.
"Apa kamu bilang? Aku tidak butuh uangmu, kau ingin tahu kenapa aku mau menikah denganmu, hah?" Ara memberi jeda sekedar mengatur nafasnya yang menggebu karena rasa marah. "Karena aku kasihan padamu," imbuhnya sambil terus menatap bola mata Jojo yang juga menatapnya.
Kasihan? Seburuk itukah kondisi Jojo hingga perlu dikasihani, dan kenapa Ara harus kasihan padanya? Apa dengan cara menikah seseorang mengasihani orang lain?
"Aku ingin melihatmu sembuh, makanya aku mau menikah denganmu!" tambah Ara dengan nada sedikit melemah, cairan bening di matanya tak kuasa keluar begitu saja.
Wanita ini, kenapa dia menangis? Jojo berkata dalam hatinya, dia jadi merasa bersalah.
Tapi dia berusaha tidak goyah masih ada ganjalan dalam hatinya. Apa hubungannya pernikahan dengan kesembuhannya, bukannya selama ini pengobatannya hanya melakukan terapi saja.
"Tapi tidak perlu menikah juga, jika memang dirimu terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menikahi seorang wanita karena paksaan," sahut Jojo dengan wajah masih bingung.
"Kau tanyakan saja pada dokter Ichida atau mommy Ayura!" Ucapan yang tadi sempat tertahan akhirnya terlontar juga, karena Ara benar-benar buntu untuk mencari jawaban lain.
Ck, kenapa harus melibatkan orang lain. Menurut Jojo pertanyaan itu hanya antara dia dan istrinya, karena itu menyangkut perasaan jadi tidak ada hubungannya dengan orang lain.
"Aku tidak ada urusan dengan mereka, ini mengenai pernikahan kita berdua."
"Tapi pernikahan ini ada urusannya dengan pengobatanmu," tukas Ara.
Jojo semakin tak mengerti, dia menggaruk kepalanya dan bingung sendiri. "Maksudnya bagaimana?" tanyanya kemudian.
"Aku sudah bilang, tanyakan pada mereka! Kamu akan tahu jawabannya. Dan jangan pernah berpikir lagi, jika aku menikahimu karena uang!" Ujar Ara dengan penuh penekanan.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Ara memilih turun dari atas ranjang dan hendak berjalan meninggalkan Jojo yang masih kebingungan. Tapi saat kakinya telah berpijak di lantai, tangannya tiba - tiba dicekal oleh sang suami. "Mau kemana?"
"Mau mandi," jawab Ara datar. "Tunggulah di ruang tengah, sebentar lagi mommy-mu pulang. Tanyalah padanya!" perintah Ara sambil menepis tangan Jojo yang melingkar di lengannya.
Jojo melepas tangan Ara dengan malas, tanpa Jojo duga sikap Ara kembali datar seperti biasanya. Haish, terbuat dari apa hati wanita ini mudah sekali dia merubah perasaannya. Tadi marah, lalu menangis, dan sekarang datar seperti tak ada masalah apa-apa.
Ara memutar tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi, tapi saat hampir sampai di pintu kamar mandi, tubuhnya berputar kembali dan menghadap ke arah Jojo yang masih duduk di tempatnya tadi.
"Mau mandi bareng, gak?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Ara begitu saja. Membuat Jojo terkesiap mendengarnya. Astaga ... apa Ara akan berulah lagi? Mencoba menjahili Jojo dengan menggodanya? Apa dia lupa, jika Jojo kini bukan Jojo kecil lagi, yang akan langsung menolaknya karena merasa takut dengan perempuan? Lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar bercanda dan melempar godaan seperti itu. Entah apa yang ada dipikiran Ara sekarang? Sempat-sempatnya dia melontarkan sebuah candaan.
Jojo melongo mendengar ajakan itu, tak ayal wajahnya pun tersipu. Pipinya terasa panas dan dia yakin wajahnya sudah terlihat merah. Tapi hatinya merasakan hal lain, bukannya ingin menolak seperti yang biasa dia lakukan dulu, tapi rasa penasaran lebih dominan memenuhi pikirannya, dengan yang namanya ritual mandi bersama. Otaknya mulai berpikir macam-macam, sambil matanya menjelajah tubuh Ara dari atas sampai ke bawah dengan tatapan berbeda.
Ara tersenyum miring, melihat Jojo seperti bernafsu melihat tubuhnya itu. Itu baru diajak mandi bareng, apalagi diajak bermain kuda-kudaan seperti yang selalu dia minta waktu itu. Mungkin air liur Jojo sudah menetes lebih dulu.
"Kamu mikir apa?" Pertanyaan itu menghancurkan imajinasi Jojo dalam khayalannya. "Kamu mungkin lupa, saat otakmu masih seperti anak-anak, kamu sering mengajakku mandi bersama. Dan aku merasa canggung saat itu, tetapi karena statusku adalah istrimu, aku pun mau melakukan itu. Walaupun dulu matamu tidak dipenuhi dengan nafsu, tetapi agamaku tetap tidak mengijinkan aku untuk melihat sisi tertentu dalam tubuhmu, jika aku tidak menikah denganmu. Dan sekarang kau masih mau bertanya kenapa harus ada pernikahan dalam pengobatanmu itu?"
Penuturan Ara begitu telak, membuat Jojo membungkam seketika. Jojo terenyuh, hatinya begitu sesak mendengar Ara berbicara seperti itu.
Keadaannya dulu mungkin membuat Ara selalu ketakutan saat menghadapinya, karena kenyataannya, mengurus seorang tuna grahita tak semudah mengurus anak kecil biasa. Menyesal? Ya, itulah yang Jojo alami saat ini. Dia tak percaya kepada istrinya, dia ragu akan ketulusan sang istri padanya.
"Maaf!" Hanya itu kata yang terucap dari mulut Jojo yang terdengar pilu.
Jojo beranjak berdiri, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ara. Dia menatap wajah Ara yang terlihat sangat tegar. Memandang bola matanya yang terdapat ketulusan yang menenangkan. Tak terasa sebelah tangannya terangkat dan menyentuh pipi Ara dengan lembut. Ara diam saja, merasakan sentuhan hangat di pipinya. Kedua netra pekat itu saling beradu pandang. Makin lama kian terasa, kehangatan itu seakan menjalar ke seluruh tubuh Ara. Ara memejamkan mata, hatinya seperti melambung ke angkasa.
****
bersambung dulu...lanjut besok ya mesra - mesraannya. 😆😆
Jangan like , comment dan Vote nya kawan. makasih...
Happy reading. 😉😉