My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
BERITA BAIK



"Ngomong apaan sih?" Seru Ara atas permintaan suaminya agar tidak meninggalkannya walaupun ia dalam keadaan yang tidak baik sekalipun.


"Ya aku kan gak tahu ada apa dengan tubuhku. Kalau semisalnya nanti aku beneran sakit gimana? Kamu pasti mau ninggalin aku. Iya kan?"


Ara semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap suaminya ini. Akhir-akhir ini bicaranya manja sekali. Tidak seperti Jo sebelumnya, apa mungkin otaknya bermasalah lagi?


"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh! Cepat mandi! Aku akan hubungi dokter Aldo agar dia datang kesini." Perintah Ara sambil menangkup pipi suaminya itu dengan gemas.


Jo tersenyum lebar, sikap manjanya itu sukses membuat Ara sejenak melupakan kekesalannya pada suaminya.


***


Jo memberikan kabar pada David jika dirinya sedang sakit. Sehingga ia tidak akan pergi ke kantor hari ini. Dan itu artinya pekerjaan David akan bertambah lagi. Dan lelaki itu sudah terbiasa dengan hal ini.


Tepat pukul delapan pagi, dokter Aldo datang ke kediaman keluarga Sebastian. Ara dengan setia menemani sang suami melakukan pemeriksaannya.


Dokter Aldo melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Jo dan menanyakan gejala apa saja yang dialami oleh pasien khususnya itu.


Jo mengerutkan dahi, saat ia melihat reaksi dokter Aldo yang malah tersenyum senang ketika mendengarkan penjelasan Jo tenang apa yang dirasakannya beberapa hari ke belakang.


"Kenapa kau senyum-senyum? Kau senang mendengar aku sakit hah?" Sepertinya sikap ramah Jo hanya berlaku untuk Ara saja. Buktinya ia tetap kasar dengan orang luar seperti sekarang.


Dokter Aldo langsung memasang wajah datar, ia tahu betul seperti apa sikap majikannya tersebut.


"Maaf tuan, saya hanya merasa ada yang berbeda dengan gejala yang tuan alami. menurut saya sebaiknya nona Ara melakukan pemeriksaan ke rumah sakit."


Tentu saja penuturan dokter Aldo tersebut menuai kemarahan Jo yang seketika jadi meledak-ledak. Yang benar saja? Yang sakit dirinya tapi yang di suruh melakukan pemeriksaan malah justru istrinya.


"Kamu mau berhenti jadi dokter? Seenaknya saja kalau bicara, yang sakit itu aku kenapa jadi bawa-bawa Ara?" Tangannya meraih kerah kemeja yang dipakai oleh dokter Aldo. Posisinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang jadi menarik kepala dokter Aldo hingga mendekat ke arahnya.


Ara jadi kelabakan, emosi suaminya itu memang terkadang suka kumat-kumatan.


"Jojo, apa-apaan sih? Lepasin!" Ara memegang lengan Jo dengan memukulnya pelan. Melihat ketakutan membingkai wajah istrinya akhirnya Jo melepaskan cengkraman nya. Dan dokter Aldo segera mundur untuk menghindar.


"Lagi sakit juga masih marah-marah terus." Omel Ara selanjutnya.


Jo mendengus, tatapannya tajam mengarah pada dokter pribadinya itu. Dan Ara malah mengusap wajah suaminya dengan kasar merasa tak suka dengan tatapannya yang terlihat menakutkan. Jo berdecak dengan kelakuan istrinya tersebut.


"Maaf dokter, memangnya kenapa dengan saya? Sampai harus melakukan pemeriksaan segala?" Kali ini Ara yang berbicara. Ia merasa tidak enak dengan dokter Aldo yang selalu saja mendapatkan semprotan dari suaminya.


Tapi sebenarnya dokter Aldo tidak bermasalah karena sebagai dokter pribadi keluarga keluarga itu. Ia sangat hapal dengan karakter setiap orang yang menjadi bagiannya.


"Maaf nona, saya curiga jika nona Ara sedang hamil. Dan tuan Jo yang mengalami gejalanya. Kasus ini memang jarang terjadi. Tapi apa salahnya jika nona melakukan pemeriksaan dulu." Dokter Aldo berkata dengan senyum yang selalu terpancar di bibirnya.


Ara sedikit tercengang, begitu pun dengan Jo. Laki-laki itu terlihat termangu sambil mengerjap bingung. Tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dan langsung turun dari ranjang.


Ara begitu terkesiap saat tubuhnya tiba-tiba saja melayang. Jo mengangkat tubuh Ara dengan tangan kekarnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Serunya tak sabar.


Ara tak punya hak untuk menolak, karena suaminya tak memberinya waktu untuk menjawab. Lelaki itu langsung pergi meninggalkan dokter pribadinya yang masih berdiri di tempatnya. Hah, benar-benar tidak sopan laki-laki itu!


***


Jo membawa Ara ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit ternama. Perasaannya begitu berantakan, antara senang, takut, grogi dan juga penasaran bercampur aduk menjadi satu. Sedangkan Ara malah bersikap biasa saja.


"Tenang Jojo! Itu kan baru dugaan. Kalau hasilnya aku tidak hamil bagaimana?" Ara menepuk pundak suaminya yang terlihat gugup. Mereka sedang menunggu giliran pemeriksaan setelah beberapa menit yang lalu telah mendaftar.


Perkataan itu sontak membuat Ara menundukkan kepala. Menyesal sekali ia sudah menenangkan suaminya. Jika tahu Jo akan berkata seperti itu lebih baik Ara diam saja karena dia sangat malu.


Bagaimana Ara tidak malu, mereka duduk berbaur dengan pasien lain yang juga mengantri giliran. Dan Jo berkata tidak memakai saringan apalagi nadanya juga tidak pelan, hingga bisa terdengar sampai ke setiap sudut ruangan.


Ara tak mau berkomentar dan berani menatap sekitar. Pasalnya dari bisik-bisik yang ia dengar wanita itu yakin jika semua orang sedang menertawakannya sekarang.


Hingga nama Ara di panggil oleh seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan, bersamaan dengan keluarnya pasien lain yang sudah selesai. Ara dengan cepat menarik tangan suaminya untuk masuk kedalam.


Ara begitu gugup saat dokter kandungan yang bernama Dokter Lily itu menggulirkan probe di atas perutnya yang telah di olesi oleh gel pelumas sebelumnya. Jantung Ara berdegup begitu kencang, ia juga merasa penasaran sekaligus ketakutan.


Ini memang bukan kali pertamanya ia bertemu dengan dokter Lily dan melakukan pemeriksaan kehamilan. Saat itu Ara begitu kecewa dan ia takut kali ini hasilnya juga sama.


Sebuah senyuman terukir di bibir dokter cantik itu. Tatkala layar monitor yang terhubung dengan probe yang dia pegang menunjukkan sebuah gambar kantung kecil yang berisi titik kecil didalamnya.


Ara dan Jo masih ternganga, mereka tidak mengerti apa maksudnya.


"Selamat tuan, istri anda benar-benar hamil." Mendengar berita baik itu membuat Jo tersenyum lebar. Ia langsung menghadiahi banyak kecupan di puncak kepala istrinya.


Ara juga tak kalah senang. Ia pun tertawa kecil di iringi air mata yang mengalir begitu saja.


"Hei.... Kenapa nangis? Kau tidak senang mengandung anakku?" Protes Jo saat melihat air mata Ara menetes di pipinya.


"Aku senang, bahkan terlalu senang hingga air mata ini ikut keluar." Seru Ara sambil menyeka air matanya.


Jo memeluk tubuh istrinya, lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di setiap sisi wajah istrinya. Ia tak peduli dengan kehadiran dokter Lily disana. Dokter paruh baya yang masih terlihat cantik itu hanya bisa menggelengkan kepala. Reaksi pasangan muda yang baru menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka memang kadang membuat dirinya merasa rindu dengan suaminya.


***


"Aku bisa jalan sendiri Jojo. Turunkan aku!" Mendengar dirinya akan segera menjadi seorang ayah. Jo semakin posesif terhadap istrinya. Ia tak membiarkan Ara menaiki anak tangga saat dirinya sudah pulang ke rumahnya lagi. Dan memutuskan untuk pindah ke kamar di lantai bawah agar istrinya lebih aman jika beraktivitas di dalam rumah itu.


Jo tidak menggubris perintah istrinya, ia tetap saja membawa Ara dalam gendongannya. "Aku tidak suka kamu panggil aku Jojo... Jojo terus!" Protesnya sambil mendengus.


Ara mengernyitkan kening. "Kenapa? Biasanya juga seperti itu." Seru Ara merasa tidak ada yang salah.


"Buka pintunya!" Karena tangan Jo sedang menggendong Ara, makanya dia menyuruh istrinya untuk membuka pintu saat mereka sudah berada tepat di depan pintu kamar mereka. Ara pun melakukannya, Jo masuk membawa Ara dan menutup pintu itu dengan kakinya.


"Aku udah mau jadi ayah, masa kamu panggil aku Jojo terus? Gak sopan tahu!" Seru Jo sambil merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Tapi kan usia kandungannya baru satu bulan. Nanti kalau dia sudah lahir aku baru memanggilmu dengan sebutan lain." Ara berkata sambil mengulum senyum. Melihat ekpresi wajah suaminya yang begitu lucu dengan pipi yang menggembung.


"Ck, pokoknya kamu tidak boleh panggil aku Jojo lagi! Aku gak mau anakku mendapat pelajaran yang gak baik dari maminya. Masa panggil suami dengan sebutan nama?" Perintah Jo yang terdengar memaksa. Dan mau tidak mau Ara harus menerima.


"Maunya di panggil apa?" Ia tatap wajah istrinya dalam-dalam, sebelum ia memberikan satu kecupan.


"Sayang, hubby, papi ganteng, papi keren. Atau apa kek. Yang penting enak di dengar." Seru Jo memberikan saran.


Ara mencebikkan bibirnya. Sejenak berpikir untuk menentukan panggilan apa yang kira-kira cocok untuk suaminya.


****


Ada yang bisa kasih rekomendasi buat kasih nama panggilan? Kira-kira Jojo cocoknya di panggil apa ya sama Ara 🤔


Terimakasih yang udah vote ya, makanya amih up lebih awal nih. 😁😁