
Tuan Wijaya tertawa mendengar perdebatan kecil dua bersaudara itu. Kedua bola matanya tetap tertuju menatap wajah Jojo dengan begitu lekat. Sepertinya ia penasaran dengan wajah yang ia rasa begitu familiar.
"O... Begitu ya? Ternyata tuan Jo ini sudah menikah. Hah, aku terlambat rupanya. Padahal sosoknya ini sangat aku kagumi. Di usia muda kau sudah sangat berprestasi. Beruntung sekali wanita yang sudah menjadi istrimu itu." Ucap tuan Wijaya merasa bangga. Jo begitu tersanjung mendengarnya, ia menepiskan sebuah senyuman di bibir sexy nya itu.
"Kau terlalu memuji tuan. Aku tidak sehebat yang kau pikirkan. Lagipula bukan istriku yang beruntung karena menikahiku tapi aku yang beruntung bisa menikahi dirinya." Jo berkata dengan tulus, matanya tampak menerawang jauh ke depan. Sepertinya Jojo sedang membayangkan wajah istrinya yang tersayang.
"Maaf sebelumnya tuan Jo." Teguran dari tuan Wijaya seketika membuyarkan lamunan Jo.
"Tolong jangan panggil aku 'tuan'. Aku jadi merasa kalau kita ini seumuran." Kelakar Jo yang membuat tuan Wijaya tersenyum lebar.
"Ya, aku memang sudah tua." Seloroh tuan Wijaya membuat ketiga lelaki itu pun jadi tertawa.
"Aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentang pernikahan dari grup J&J, lalu tiba-tiba mendengar langsung seperti ini jika pimpinannya ternyata sudah menikah. Apa aku memang tidak di undang sebelumnya?" Tuan Wijaya masih bingung dengan kenyataan jika pimpinan perusahaan retail yang menjadi rekan bisnisnya itu ternyata sudah menikah. Karena memang tidak pernah ada gosip ataupun berita pernikahan yang tersebar di antara rekan bisnis yang lainnya. Tidak mungkin kan seorang presdir yang ternama tidak merayakan pesta untuk hari pernikahannya.
"Ehem.... " Jo berdehem, rasanya ia seperti mendapat sindiran yang halus akan status pernikahannya tersebut.
"Maaf tuan, kami bukannya tidak mengundang tuan Wijaya. Tapi memang belum ada pesta pernikahan yang di selenggarakan oleh keluarga kami." Kali ini Sam pun ikut bicara. Ia mengerti dengan situasi kakak sepupunya yang merasa canggung saat di tanya masalah pernikahan. Tidak mungkin kan Jo mengatakan jika pernikahan mereka di dasari karena keterpaksaan.
Tuan Wijaya menoleh pada Sam sekilas lalu beralih lagi pada Jo. "Kenapa?" Tanyanya penasaran. "Ah, maaf aku jadi tidak sopan ingin tahu urusan pribadi kalian." Imbuhnya saat melihat raut wajah Jo yang berubah tegang.
"Tidak apa-apa tuan, aku pasti akan mengadakan pesta pernikahan. Dan aku pasti mengundangmu juga." Seru Jo dengan ramah, walau hatinya terasa begitu resah.
Tuan Wijaya menganggukkan kepalanya, tapi tatapannya menaruh rasa curiga dengan sikap Jo yang seakan menutupi sesuatu. Kenapa pernikahan seorang pengusaha besar harus di rahasiakan? Ada apa dengan pernikahan mereka? Kalau memang pernikahan tersebut terpaksa tapi kenapa Jo terlihat begitu mencintai istrinya.
***
Jo kembali ke rumahnya setelah seharian melakukan rutinitas kerjanya yang melelahkan. Rasanya ia ingin sekali berdiam diri di rumah saja seperti dulu saat otaknya masih bermasalah. Berdua dengan Ara, menghabiskan waktu bersama dengan istrinya. Begitu menyenangkan saat ia mengingat fase keduanya dulu. Saat mereka benar-benar saling mengutarakan perasaan dan untuk pertama kalinya mereka melakukan penyatuan.
Ah, sepertinya Jo merindukan kehangatan dari istrinya yang sudah lama tidak ia dapatkan.
"Kau sudah pulang?" Ara terkesiap saat dirinya di kejutkan dengan terbukanya pintu kamar secara kasar. Jo sepertinya sudah tidak sabar. Ia menutup kembali pintunya dan langsung menguncinya dengan rapat. Kemudian berjalan ke arah istrinya dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Ara mengernyit heran. Menyimpan ponsel yang sedang ia mainkan di atas meja samping tempat tidurnya. Lalu bergerak turun dari tempat tidur dan menyambut suaminya datang.
"Tumben sekali masih sore udah pulang." Seru Ara sambil meraih tas kerja milik suaminya. Ia hendak menyimpannya di tempat yang semestinya. Lalu meraih tangan suaminya untuk ia kecup punggung tangannya. Ara hendak berbalik membawa tas kerja milik suaminya ke tempat asalnya. Tapi pelukan sang suami yang mendekap tubuhnya begitu erat, membuat dirinya terkurung di tempatnya.
"Kamu kenapa?" Ara mencoba melepas pelukan suaminya, tapi Jo malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku merindukanmu." Suara Jo yang terdengar parau membuat hati Ara seketika berdesir dan entah kenapa dirinya jadi terharu. Butiran cairan bening menggenangi bola matanya yang bersembunyi di balik dada bidang suaminya. Ia pun segera mengerjapkan matanya berkali-kali agar cairan itu tidak serta merta tumpah membasahi kemeja suaminya. Ara membalas pelukan Jo tak kalah eratnya. Hingga pelukan itu terpisah saat Jo mengakhirinya.
"Masih ada. Aku tidak tahu kapan akan pulangnya." Jawab Ara sambil mengedikkan bahu.
Terlihat raut wajah Jo menjadi sangat muram, guratan kecewa tercetak jelas di sudut bibirnya yang terlihat datar. Bersamaan dengan ******* kasar dari tarikan nafasnya yang terdengar berat. Jo berjalan melewati tubuh Ara, merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk, meredam hasratnya karena tak ingin merepotkan istrinya seperti dulu.
Ara mendekati tubuh suaminya dan duduk di sampingnya. "Kamu kenapa?" Tanya Ara dengan raut wajah bingung. "Lelah ya?" Ara meraih lengan suaminya dan memberikan pijatan kecil disana.
Dan hal itu membuat hasrat Jo semakin bergelora saja. Tanpa sadar Jo menarik tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Serunya terdengar penuh penekanan.
Ara tersentak, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Kenapa suaminya malah membentak? Padahal baru saja Ara mendengar jika lelaki itu tengah merindukannya. Merindukan apa? Bahkan di sentuh pun ia malah marah-marah.
Nyali Ara menciut, dan akhirnya tubuhnya pun beringsut. Jo yang baru tersadar jika dirinya telah melakukan kesalahan langsung beranjak duduk dan menarik tangan istrinya yang hendak pergi menjauh.
"Sayang, maaf aku tidak sengaja membentak mu." Seru Jo penuh ketakutan. Ara diam saja. Ia masih bergeming di posisinya. Walaupun sudah biasa bagi Ara dengan perlakuan kasar suaminya. Tapi entah kenapa kali ini ia begitu terluka.
"Tidak apa-apa. Maaf aku sudah mengganggu istirahatmu." Balas Ara dengan nada dingin. Ia sadar diri mungkin suaminya sedang tidak ingin.
Mendengar itu perasaan bersalah Jo semakin besar saja. Ia merengkuh tubuh istrinya untuk masuk kedalam pelukannya. "Maaf sayang, aku cuma tidak mau membuat mu kelelahan seperti dulu. Saat kau membantuku dengan cara lain. Karena jujur sekarang ini aku juga ingin." Perkataan Jojo terdengar begitu pilu, dan tak di sangka malah membuat Ara ingin tertawa. Ia jadi mengerti apa maksud dari suaminya.
"Jadi yang kamu maksud adalah 'tamu' yang itu?" Tanya Ara sambil mengulum senyumnya. Dahi Jo mengerut, merasa tak suka melihat istrinya yang malah menertawakannya.
"Kenapa kau tertawa? Memangnya 'tamu' apa lagi?" Seru Jo dengan nada kesal.
Ara tergelak tawa, ia tak bisa lagi menahannya. Dan hal itu membuat Jo semakin gemas saja. "Jangan mentertawakan ku! Atau aku akan membuatmu membantuku lagi seperti dulu." Suara Jo terdengar mengancam. Tapi tak membuat Ara jadi ketakutan.
"Aku sudah selesai. Entah kenapa siklus tamunya jadi lebih cepat. Jadi.... " Sebelum Ara melanjutkan ucapannya, Jo sudah terlebih dulu membungkam bibir Ara dengan bibirnya. Jojo begitu senang saat mendengar jika tamu bulanan Ara ternyata sudah selesai.
Tak ingin berbasa-basi Jo langsung menuntaskan hasratnya yang sempat tertunda tadi. Ia tak memberikan kesempatan Ara untuk menolaknya, karena memang itu sudah menjadi kewajibannya. Akhirnya sore itu Jo menumpahkan semua kerinduannya pada tubuh istrinya. Tubuh itu seakan menjadi candu baru untuk Jo sehingga membuat tubuh Jo akan terasa melemah saat tak mendapatkan jatah.
Keduanya pun bercinta dengan hasrat yang menggelora, mereguk indahnya surga dunia. Jo berharap ada benih yang singgah si rahim istrinya, seperti apa yang dikatakan oleh asistennya.
****
Eh.. Tolong ya siang-siang aku nulis ginian. Bikin gerah aja. ðŸ¤ðŸ¤
Like, comment, dan votenya jangan di lupain ya nak - anak! Happy Reading 🥰🥰🥰