
Kalian tunggu di sini! Aku akan bicara dengan Ara." Jo hendak menyusul Ara yang tadi pergi ke arah kamar baru mereka yang berada di lantai bawah.
Tapi baru beberapa langkah dari tempatnya. Jo tercengang melihat istrinya yang datang sambil membawa koper besar di tangannya. "Ka.... Kamu mau kemana?" Tanya Jo terbata-bata.
Ara tak mempedulikan pertanyaan Jo, lebih tepatnya wanita itu mengabaikan suaminya dan tetap berjalan melewatinya menuju tempat paman dan sepupunya.
Tapi dengan cepat Jo menyergap lengan Ara. "Kumohon sayang, aku benar-benar tidak tahu kalau dia itu pamanmu. Aku memang terlalu emosi, aku minta maaf. Jangan pergi ya!" Jo terlihat menyesal, tersirat dari raut wajahnya yang begitu gusar.
Tanpa mau berkata Ara melepaskan genggaman tangan Jo dari lengannya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju sang paman.
Setelah sampai di dekat pamannya, Ara memberikan koper yang telah ia bawa. Lalu mendekati telinga pamannya untuk mengatakan sesuatu sambil berbisik disana.
"Paman pulang dulu saja! Jojo tidak seperti yang kalian kira kok. Nanti kalau ada kesempatan aku akan bertanya padanya tentang masalah tinggal di rumah papa. Besok kami akan berkunjung kesana. Dan koper yang kemarin aku pinjam ini bawa saja sekalian!"
Tuan Wijaya menganggukkan kepalanya, sepertinya dia mengerti dengan maksud keponakannya. "Baiklah, paman akan pergi. Selesaikan masalah kalian secepatnya! Paman harap sebelum paman pulang ke kota S kamu sudah membuat keputusan. Dan kedatanganmu sangat paman nantikan." Seru tuan Wijaya dengan tatapan matanya mengarah pada Jonathan.
Ara tersenyum tipis, pamannya ternyata bisa di ajak kerjasama. Membuat Jo semakin ketakutan saja.
"Ayo Elena kita pulang! Biarkan Ara selesaikan dulu masalahnya. Kita tunggu dia di rumah." Tuan Wijaya mengajak anaknya untuk pulang. Sebenarnya Elena tidak mengerti apa maksud dari semua ini. Bukankah seharusnya ayahnya membawa Ara pergi?
Sikap kasar suami Ara sebenarnya membuat Elena begitu murka, berani-beraninya lelaki itu berbuat semena-mena pada sepupunya. tapi mendengar perintah ayahnya barusan Elana terpaksa mengiyakannya saja. Ia mengikuti jejak langkah ayahnya yang menuju keluar rumah besar itu dengan raut wajah kecewa..
Ara tak mengantarkan pamannya ke depan. Ia memilih untuk kembali ke kamar. Jo yang bingung dengan sikap Ara masih bergeming di tempatnya. Apa maksudnya Ara memberikan koper itu kepada pamannya? Apa Ara tidak jadi pergi? Lalu apa maksud tuan Wijaya yang katanya menunggu keputusan Ara? Keputusan apa? Rentetan pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Jo. Pikirannya jadi menjalar kemana-mana.
Hingga ia di sadarkan oleh suara gebrakan pintu yang terdengar menggelegar dari arah kamarnya. "Kenapa aku sampai lupa? Ara masih marah." Seru Jo seraya menepuk keningnya pelan.
Jo langsung berlari menyusul istrinya. Kata orang wanita hamil begitu sensitif. Dan bodohnya Jo malah menguji rasa sensitif itu.
Jo langsung membuka pintu yang untungnya tidak di kunci oleh Ara. Wanita itu terlihat duduk bersandar di kepala ranjang dengan sebuah buku bacaan di tangan. Entah kenapa semenjak hamil Ara jadi suka membaca buku. Buku apa saja ia suka termasuk buku resep makanan yang saat ini tengah di pegangnya.
Jo menghampiri istrinya dengan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang di samping istrinya. Sejenak terdiam memperhatikan raut wajah cemberut istrinya tersebut. Seulas senyuman Jo sematkan di bibirnya. Tangannya terangkat ke atas hendak menyingkap beberapa sulur anak rambut yang menjuntai menutupi pipi Ara untuk di selipkan nya di belakang telinga. Dan Ara membiarkan Jo melakukan hal itu tapi masih tetap terdiam membisu.
"Kau masih marah?" Tanya Jo yang tak kunjung mendapat jawaban.
Ara tetap fokus dengan buku yang ia baca. Ia masih kesal walaupun sebenarnya Ara sudah memaafkan.
Jo menyipitkan matanya saat perhatiannya tertuju pada buku yang di pegang istrinya. Ada yang salah dengan penglihatannya. Ataukah istrinya yang sengaja membaca buku seperti itu?
"Sayang, memangnya kami tidak merasa pusing membaca buku terbalik seperti itu?"
Semburat merah langsung terpancar di pipi Ara. Ia jadi ketahuan jika hanya pura-pura membaca untuk mengabaikan suaminya. Rasanya ingin sekali Ara bersembunyi di dalam goa untuk mengusir rasa malunya.
Melihat pipi Ara merona Jo jadi tahu jika istrinya hanya pura-pura. Senyum samar ia terbitkan di kedua sudut bibirnya. Ingin sekali Jo tertawa tapi hal itu akan membuat istrinya semakin marah saja.
Ara langsung menutup bukunya dan menyimpannya di atas meja. Setelah itu membaringkan diri membelakangi sang suami. Jo tersenyum geli, kelakuan istrinya membuat dia jadi gemas sendiri.
Dengan tidak sabar Jo memeluk istrinya dari belakang. Dan Ara pura-pura memejamkan mata.
"Jangan marah-marah terus! Kasihan anak kita. Nanti dia sedih lihat kita bertengkar kayak gini." Seru Jo semakin mengeratkan pelukannya.
"Yeay.... Akhirnya istriku mau bicara." Seru Jo dengan senangnya. Tanpa mau melepaskan pelukannya dan malah menyurukan kepalanya di tengkuk leher istrinya.
"Jojo...." Ara memekik pelan, saat tangan usil Jo mulai meraba kemana-mana.
"Aku tidak suka dengan sebutan itu. Panggil aku seperti biasanya. Hubby atau bee!" Perintah Jo terdengar lembut, sambil meniupkan udara ke belakang telinga istrinya. Membuat bulu-bulu roma Ara meremang seketika.
Ara tidak merespon apapun, ia mencoba menahan gejolak yang menjalar di sekujur tubuhnya atas rangsangan yang ia terima.
"Sudah lama aku tidak menengok bayi kita, mungkin dia sudah rindu dengan papinya." Jo terus saja menggoda, memberikan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh Ara.
Ara ingin sekali menolak, karena dia masih marah. Tapi tubuhnya berkata lain, rangsangan yang di berikan oleh Jo sukses membuat tubuh wanita itu bergetar hebat. Ara benar-benar di buat melayang. Pesona Jo memang tidak bisa di lawan.
Ara tak habis pikir, dirinya seperti terjebak dalam permainannya sendiri. Niat awal ingin menghukum sang suami. Malah ujung-ujungnya dia begitu menikmati. Hah, memang lemah hati wanita ini.
Keduanya pun hanyut dalam kenikmatan surgawi. Jo menyerang Ara tiada henti tapi tetap hati-hati. Karena lelaki itu tidak mau perbuatannya malah melukai sang buah hati.
***
Setelah melakukan perang panjang, Ara begitu kelelahan. Ia tertidur sambil memeluk dada bidang suaminya dengan keringat di sekujur badan. Jo tersenyum senang sambil mengusap puncak kepala istrinya. Ia berharap setelah ini istrinya akan memaafkan kesalahannya.
Jo hendak tertidur tapi rasa lapar yang menyerang perutnya jadi mengurungkan niatnya. Entah kenapa semenjak hamilnya Ara. Nafsu makannya malah semakin bertambah saja.
Terkadang mereka sering berebut makanan, moment tersebut menjadi hal yang paling menyenangkan.
Saat Jo ingin beranjak duduk, tubuh Jo malah semakin erat Ara peluk. Jo jadi tidak tega akhirnya ia membiarkan istrinya membenamkan diri di dada bidangnya.
Suara yang bergemuruh di dalam perut sana sangat mengganggu tidur Ara hingga perlahan membuat wanita itu mengerjapkan mata.
Ara yang setengah sadar masih berada di posisi yang sama. Sejenak terdiam karena ingin menyakinkan suara yang terdengar itu berasal dari perut suaminya.
Ara pun mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya lekat-lekat. Lalu ia berkata dengan suara berat. "Kamu lapar bee?"
Jo menghadiahi Ara ciuman bertubi-tubi, karena ia sangat senang mendengar panggilan itu lagi.
***
Gerah uy malem-malem 😁😁. Terimakasih yang masih setia untuk membaca novel ini ya. Jika suka klik dan juga votenya. Mampir juga di karya amih yang lainnya ya.
*Destiny of love ( tamat)
*My STUBBORN Boss ( new)
*Takluknya tuan playboy ( chat story).
Klik profil amih ya...Makasih.