
"Selamat datang Ara." Tuan Wijaya menyambut keponakannya dengan beranjak dari tempat duduknya lalu pelukan hangat ia berikan pada wanita itu.
Sam dan papa nya tampak tercengang melihat keakraban kedua orang tersebut. Lalu Sam melirik pada Jo yang terlihat biasa saja.
"Tumben sekali si posesif ini tidak marah saat istrinya di peluk oleh laki-laki lain? Apa sebenarnya hubungan Ara dengan tuan Wijaya?" Gumam Sam dalam hati.
Tuan Wijaya mempersilahkan Ara dan suaminya untuk duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Sam dan papanya. Kecanggungan tercipta di antara mereka.
"Kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian satu keluarga?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut tuan Wijaya. Dirinya merasa heran kenapa mereka tidak saling menyapa padahal masih dalam satu keluarga.
"Kami memang mempunyai hubungan darah. Tapi kami tidak terlalu akrab. Mungkin karena terlalu sibuk jadi kami jarang bertemu." Jo menjawab pertanyaannya paman Ara dengan tatapan matanya mengarah pada Jacob. Terdengar pelan tapi penuh sindiran.
"Oh.... Seperti itu. Hubungan darah seharusnya lebih di pererat lagi dengan adanya silaturahmi. Bagaimanapun juga, darah itu lebih kental daripada air. Kasih sayang yang melekat dalam alirannya akan lebih kuat walaupun jarak yang memisahkan." Tuan Wijaya menjeda ucapannya lalu menoleh ke arah Ara yang duduk di sebelahnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Seperti aku dan Ara. Kami sudah berpisah bertahun-tahun. Tapi Tuhan mempertemukan kami lagi dalam ikatan yang sama dan kasih sayang yang sama pula." Tutur Tuan Wijaya lagi.
Jacob merasa jika perkataan itu merupakan sindiran yang tajam untuknya. Kata-kata itu seakan menusuk kedalam relung hatinya yang telah terluka. Apa yang di katakan tuan Wijaya sangatlah benar. Tapi Jacob sudah menyepelekan yang namanya hubungan darah. Dia bahkan sangat membenci kakak kandungnya.
Jo bisa melihat keputus asaan dan rasa bersalah dalam raut wajah pamannya. Ia juga merasa jika pamannya sangat tertekan saat mendengar perkataan barusan.
Ara tersenyum sambil menyentuh lengan tuan Wijaya. "Ara senang bisa bertemu dengan paman lagi." Ucapnya dengan lembut.
"Paman? Apa sebenarnya hubungan kalian?" Jacob yang dari tadi penasaran dengan hubungan tuan Wijaya dan Ara akhirnya angkat bicara.
Tuan Wijaya mengalihkan pandangannya pada Jacob. "Iya tuan Jacob, Ara adalah keponakan ku yang pernah ku ceritakan. Dia adalah pemilik sebenarnya dari perusahaan Agraria yang aku pimpin selama ini."
Mendengar penuturan tuan Wijaya tentu saja membuat Jacob ternganga. Seorang wanita yang telah ia hina dan di anggap tidak jelas asal usulnya ternyata dia sangat kaya raya. Bahkan sekarang bisa dikatakan melebihi dirinya karena Jacob sudah tidak memiliki apa-apa.
Jacob membungkam, ia seperti kehilangan kata-katanya. Apa yang harus dia lakukan? Mungkin Ara akan menentang niat baiknya sekarang.
"Ah iya Ara, seperti yang paman katakan waktu itu masalah kakak sepupumu yang...."
"Ayah.... Jangan mempermalukan aku!" Elena yang sudah tahu kemana arah pembicaraannya pada Ara memotongnya dengan cepat. Dan tuan Wijaya akhirnya tertawa lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ara dan berbisik disana.
Ara ikut tertawa pelan dengan ekor matanya mengarah pada Elena. Dan yang diperhatikan hanya mencebikkan bibirnya.
"Aku mengerti paman. Aku sih terserah kalian saja. Yang penting kak Elena bahagia." Ucap Ara dengan senyum tulusnya.
Jo mengernyitkan dahi, ia tidak bisa mendengar apa yang di bisikkan oleh pamannya Ara. Lalu menyenggol bahu istrinya ingin tahu masalahnya. "Ada apa?" Tanyanya.
Ara mengangkat kedua alisnya sambil mengedikkan bahu. Lalu sebuah senyuman ia lontarkan sebagai tanggapan. "Nanti saja aku ceritakan." Jawabnya dengan nada pelan.
Jo berdecak, tapi kemudian mengangguk juga. Dan tawaran dari tuan Wijaya untuk menyantap hidangan yang tersedia mengalihkan perhatian mereka. Semua orang disana akhirnya memulai makan malamnya.
Elena yang dari tadi memperhatikan wajah Sam merasa curiga. Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Sesaat setelah papanya Sam mengemukakan perihal kedatangannya untuk melamar Elena. Raut wajah lelaki itu tampak bahagia.
Tapi sekarang, semenjak kedatangan Ara dan suaminya lelaki itu tampak berbeda. Sepertinya ada yang di sembunyikan dari hubungan keluarga mereka. Dan hal itu pasti akan Elena tanyakan nantinya.
***
"Ini rumahmu Ara. Bagaimanapun mendiang papamu ingin kau yang menempatinya. Sebentar lagi paman dan Elena akan pulang ke luar kota. Dan rumah ini hanya akan di tempati oleh pelayan saja." Seru tuan Wijaya saat menyuruh Ara untuk bermalam di rumah itu. Sekalian ia mengingatkan jika ia harus pindah dengan segera.
Ara tersenyum pelik, seperti yang sudah di bicarakan dengan Jo jika mereka akan pindah setelah mami mertuanya menikah. Tapi permintaan pamannya yang terkesan buru-buru membuat ia jadi ragu.
"Maaf paman, kami sudah memutuskan akan tinggal di rumah ini jika mami sudah menikah lagi. Dan sepertinya akan dilangsungkan beberapa bulan lagi. Jadi Ara minta maaf. Biarkan pelayan yang biasa menempati rumah ini yang merawat. Ara usahakan setiap akhir pekan kami akan tidur disini. Iya kan Bee?"
Jo menganggukkan kepala atas pertanyaan istrinya. Karena memang mereka sudah membicarakannya.
Tuan Wijaya mengerti, dan ia tak mempermasalahkan lagi. Rasanya hidupnya kini sudah lengkap. Keluarganya yang telah hilang kini kembali datang.
Malam pun kian larut, Ara dan Jo menempati kamar yang dulu menjadi kamar Ara. Kamar itu masih terlihat sama seperti ketika Ara meninggalkannya.
"Kamarnya cewek banget sih. Serba pink." Seru Jo dengan gaya meledek. Sambil mendudukkan tubuhnya bersila di atas ranjang dengan pandangannya yang masih beredar ke sekeliling ruangan.
Ara mencebikkan bibirnya. Lalu merangkak naik tempat tidurnya. Sebelumnya ia sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur milik Elena. "Iya lah aku kan cewek. Gimana sih?" Serunya sambil merebahkan badan lalu menarik selimut menutupi setengah tubuhnya.
Jo menoleh ke arah sang istri yang hampir memejamkan mata. Lalu menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya hingga wanita itu kembali membuka mata.
"Ada apalagi bee? Ayo tidur! Udah malam loh ini." Seru Ara dengan nada pelan. Ia sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur.
Jo menatap istrinya dengan tatapan penuh arti. Ara yang melihat itu langsung menepuk dahi. Ia sangat hapal maksud dari tatapan suaminya tersebut.
"Kita kan baru tidur disini. Anak kita mungkin ingin di tengok di rumah kakeknya. Ayo kita coba!" Jo memulai rayuan mautnya. Tentu saja itu hanyalah alasannya saja. Karena hampir setiap malam Jo selalu meminta jatahnya.
"Tapi aku ngantuk bee...."
"Sebentar saja. Kamu tidak perlu bergerak banyak. Biar aku yang bertindak!" Jo langsung melahap bibir ranum sang istri sebelum ia berkata lagi.
Jo mencumbu istrinya dengan rakusnya. Dan membisikkan di telinga Ara agar dia terpejam saja kalau memang rasa kantuknya sudah tidak bisa di tunda.
Tapi bagaimana Ara mau terpejam jika sentuhan Jo membuat tubuhnya jadi menggelinjang. Walaupun Ara berusaha untuk memejamkan mata. Tubuhnya tetap merasakan sensasi yang luar biasa dan hal itu membuatnya seakan melayang ke udara. Apalagi saat sentuhan Jo saat mencapai daerah sensitif Ara. Gelayar itu makin menggila saja.
Sesuai dengan yang di katakan nya, Jo benar-benar menguasai tubuh Ara. Wanita itu di buat melayang dalam buaian nya. Hanya Jo yang bertindak dan Ara seakan tak bisa bergerak.
Kini keduanya hanyut dalam permainan yang di dominasi oleh Jo. Lelaki itu ingin memberikan kepuasan untuk istrinya yang katanya kelelahan.
***
Anggap aja bulan madu di rumah mertua ya Jojo. Belum pernah kan? 😅😅😅
Jika suka adegan ini, eh part ini jangan lupa like dan votenya ya... ðŸ¤ðŸ¤