My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MENGINGAT KEMBALI



"Kita akan bermalam di sini dulu, mommy tadi telepon katanya harus pergi ke Jepang malam ini, ada urusan keluarga di sana dan Angelina juga ikut." Ara yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil berselonjoran kaki langsung menoleh saat tiba-tiba suaminya masuk ke dalam kamar dan berkata seperti itu.


"Kenapa kamu gak ikut? Itu, kan acara keluarga mommy-mu?" tanya Ara sambil memperhatikan gerakan Jo yang kini duduk di tepi ranjang di samping dirinya.


"Aku banyak kerjaan, lagian kamu juga masih kayak gini. Kamu gak bisa pergi jauh-jauh dulu," jawab Jo sambil menatap perban yang membalut tangan istrinya. Ada perasaan bersalah dalam sorot matanya yang terlihat sendu.


Ara mengernyitkan dahinya heran, bukan karena tatapan Jo yang mendadak terlihat sedih, tapi dengan kata-kata Jo yang sepertinya ingin mengajak Ara pergi bersama mommy Ayura, jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Hah ... yang benar saja! Jo tidak mungkin sebaik itu. Ara segera menepis pikirannya tersebut.


Ara tak mau ambil pusing lagi, terserah lah apa yang sedang direncanakan oleh suaminya. Yang penting sekarang dirinya harus sembuh dulu, menyelesaikan tugasnya menyembuhkan penyakit Jo yang sering kumat-kumatan itu.


Dan sekarang apa keadaan mental Jo sudah mulai membaik, pasalnya saat Ara menghilang Jo tidak menunjukkan sikap seperti orang tertekan. Walaupun dia panik, tetapi akal sehatnya masih tetap berjalan. Dia tidak bersikap ketakutan seperti dulu, sampai dirinya jatuh sakit pada saat Ara ingin kabur dari rumah Jo waktu itu.


Ara tidak curiga sama sekali dengan sikap lembut Jo saat ini, dia hanya mengira jika sikap lembut Jo tersebut hanya karena perasaan bersalahnya, karena telah meninggalkan Ara. Sampai dirinya harus mengalami insiden terserempet mobil.


Ara mengedikkan bahu, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Kemudian menghidupkan daya ponselnya tersebut, sudah tiga hari Ara memang sengaja menonaktifkan ponsel miliknya, karena paksaan dari sahabatnya.


Setelah ponselnya menyala, tentu saja begitu banyak notifikasi panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya tersebut. Dan yang paling banyak notifikasi itu berasal dari nomor ponsel milik suaminya.


Ara tersenyum kikuk sambil melirik Jo yang masih setia menatapnya di tepi ranjang. "Tidak perlu kamu buka pesannya. Aku sudah menemukanmu sekarang. Semua pesan yang kukirim sudah tidak penting lagi," seru Jo sedikit menyindir.


Ara mengerjap gugup, lalu menggaruk keningnya yang tak gatal. "Maaf," sesalnya sambil cengengesan.


"Tidak apa - apa, yang penting sekarang kamu sudah ada bersamaku lagi," ucap Jo sambil mengelus puncak kepala Ara dengan lembut.


Deg!


Ara merasakan sensasi yang berbeda, jantungnya seakan melesat ke ujung kepala. Apakah ini benar suaminya, entah kenapa Ara tiba-tiba merasa Jojo-nya yang dulu telah kembali, kelembutan ini, sentuhan ini, sama seperti yang dia dapatkan bersama Jojo nya yang masih lugu.


"Kamu sudah meminum obatmu?" tanya Jo, dan Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau begitu tidur, lah! Kau harus banyak istirahat agar lukamu cepat pulih. Besok kita akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksa keadaan lukamu itu," imbuh Jo seraya beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi. Tapi baru selangkah Jo meninggalkan tempatnya tiba-tiba saja dia berhenti lalu berbalik menghadap ke arah Ara dan berjalan mendekati istrinya lalu ....


Cup!


Sebuah kecupan manis mendarat di puncak kepala Ara. Membuat wanita itu begitu terkesiap dan mengerjapkan matanya berkali-kali, lagi-lagi ia mendapatkan perlakuan manis dari suaminya tersebut. Ara tak bisa berkata- kata, dia hanya diam saja dengan hati yang tidak bisa dilukiskan, betapa bahagianya wanita itu sekarang.


"Aaaakh ... lama-lama aku bisa gila. Dasar bunglon cap kadal," umpat Ara sambil menggeram kesal, meraup wajahnya yang ia yakini sudah bersemu merah dengan sebelah tangannya. Tentu saja umpatannya itu Ara lontarkan saat Jo sudah keluar dari kamarnya.


***


Bibi Iren dan Sarla sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam, walaupun Sarla sudah melarang bi Iren untuk melakukan pekerjaan rumah tetap saja wanita yang sudah Sarla anggap seperti ibunya itu ingin membantunya. Dan Sarla mau tidak mau harus membiarkannya, asalkan jangan terlalu lelah saja.


Di sisi lain, Jo keluar menuju teras rumah. Ia duduk di kursi tunggal yang ada di sana, suasana sore itu terasa begitu tenang. Dengan warna langit yang terlihat kemerahan, menunjukkan jika sang surya sudah kembali ke peraduannya.


Jo tampak mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Lalu menekan icon kontak telepon mencari nomor seseorang yang hendak dia hubungi, setelah menemukan nomor yang dia cari, Jo lalu menekan tombol panggilan dan menempelkan benda pipih yang di tangannya itu pada telinganya. Sambungan panggilan pun terhubung.


"Hallo ...." Terdengar suara sapaan dari orang yang Jo hubungi. "Ada apa? Apa Ara sudah ketemu?" tanya orang itu lagi.


"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya. Maaf, aku harus pergi sekarang. Kututup dulu ya! Bye ...." Panggilan telepon mereka berakhir saat orang yang Jo hubungi mengakhiri panggilan telepon mereka.


Jo tersenyum senang, lalu menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Jo menarik nafas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan, pandangannya tampak menerawang jauh ke depan. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalunya bersama Ara. Ya, Jo telah mengingat kembali semuanya.


"Jojo, ngapain ngelamun di sini?" Suara bi Iren yang baru keluar dari dalam rumah membuat Jo sedikit terlonjak dan langsung menoleh ke arahnya. "Ini udah mau gelap, gak baik ngelamun jam segini di luar. Nanti ada setan lewat gimana?" kelakar bi Iren yang membuat Jo tersenyum seketika. Lalu beranjak berdiri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Iya, Bi," serunya sambil terkekeh pelan.


"Ara dimana?" tanya bisa Iren lagi.


"Di kamar, lagi tidur."


"Bangunin, gih! Gak baik tidur sore-sore. Udah mau Magrib juga, kan?" perintah bi Iren yang mendapat anggukan kepala sebagai tanggapan dari Jo.


Jo melangkahkan kakinya menuju kamar yang sedang di tempati Ara sekarang. Setelah berada di kamar, Jo melihat Ara masih terlelap dalam tidurnya, mungkin karena pengaruh obat yang dia minum tadi. Pikir Jo.


Kemudian Jo duduk di tepi ranjang menatap lekat perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Kedua sudut bibirnya tampak tertarik ke atas, menampilkan senyumannya yang menawan. Jo mengangkat sebelah tangannya, lalu dia usapkan jemarinya di pipi mulus istrinya dengan lembut dan penuh perasaan. Ditelusurinya wajah itu hingga kini jarinya terhenti di area bibir Ara yang berwarna merah muda.


Ingin sekali Jo mengecap bibir itu, sampai-sampai ia harus menelan ludahnya dengan susah payah. Jo membungkukkan sedikit tubuhnya mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara, berniat ingin menyatukan bibir mereka. Tapi niatnya itu tertahan saat dia ingat sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dulu.


Ara tidak boleh tahu jika aku sudah mengingat semuanya. Sebelum aku menyelesaikan masalahku dengan orang itu, gumam Jo dalam hati. Dia pun mengalihkan bibirnya ke telinga Ara.


"Sayang, bangun!" Sayup-sayup terdengar kata itu di telinga Ara. Yang membuat dirinya mengerjapkan mata.


Ara menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang terpendar di kamar itu. Samar-samar matanya menangkap sosok lelaki yang dia kenal, sedang berdiri membelakanginya menghadap pintu lemari yang sudah terbuka, laki-laki itu sedang mencari sesuatu.


Ah, ternyata tadi cuma mimpi, gumam Ara dalam hati. Merasa kecewa dengan apa yang dia dengar sebelum membuka mata, ternyata hanya ilusi saja.


"Kamu sedang cari apa di situ, Jojo?" tanya Ara sambil mengucek matanya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Jo menoleh ke belakang. "Kamu sudah bangun? Aku sedang mencari bajuku di sini, kenapa tidak ada?"


Ara mengernyit. "Itu lemari bajuku, mana mungkin ada bajumu di situ," sahut Ara merasa heran.


Jo mendengus, "Bukannya aku tidak membawa semua bajuku, waktu aku pergi dari sini dulu. Kamu kemanakan bajunya?"


Ara melongo terkejut, menatap Jo dengan tatapan curiga. "Kamu ingat sesuatu, Jojo?"


Jo mengerjap gugup sepertinya dia salah bicara. Haruskah dia mengakuinya?


****


Yes, Jojo nya sudah ingat lagi ya readers. Makanya kasih votenya yang banyak biar authornya tambah semangat buat bikin mereka bersatu lagi. Makasih ya yang udah setia ngasih votenya selalu. Dikasih sun jauh dari author 🥰🥰🥰


Like dan komentar next nya di tunggu juga ya.... 🤗🤗