
"Jojo, kamu kenapa?" Ara bertanya dengan begitu panik, saat dirinya melihat suaminya masuk ke dalam kamar dengan nafas yang tersengal-sengal. Wajahnya terlihat memerah sambil menarik-narik kerah bajunya seperti orang kegerahan.
"Panas banget Ara, AC-nya gak nyala, ya?" tanya Jojo dengan raut wajah gusar. Dia seperti ikan yang kehabisan napas karena terlalu lama keluar dari air.
"Ruangan ini sudah dingin Jojo, AC-nya berfungsi dengan baik, apa kamu sakit?" Ara juga menjadi panik. Wajah Jo terlihat seperti menahan sakit. Dia menyentuh kening suaminya lalu mengernyit heran karena dirasa suhu tubuh Jo terasa normal.
"Tidak panas," imbuh Ara dengan heran.
Mendapat sentuhan lembut dari Ara, entah kenapa membuat Jo merasa nyaman. Tangan dingin Ara terasa sejuk menempel di kening Jo. Saat Ara hendak menarik tangannya kembali Jo malah menahan tangan itu dan menggenggamnya dengan erat, lalu disimpannya tangan Ara dalam ceruk leher lelaki itu.
"Tetap seperti ini Ara, tanganmu sejuk sekali," ujar Jo sambil merasakan kelembutan tangan Ara.
Sambil mengerjap gugup Ara mencoba menarik tangannya kembali, tetapi genggaman tangan Jo terlalu kuat menahannya, hingga tangan itu tetap berada di sana cukup lama. "Kamu sebenarnya kenapa? Jangan bikin aku bingung!" tanya Ara lagi.
Tapi Jo tak menganggapi pertanyaan Ara, dirinya lebih memilih untuk mengusapkan tangan Ara ke bagian tubuhnya yang lain, bahkan tak elak dia mencium punggung tangan Ara dengan sangat mesra.
Ara merasa gugup, tak biasanya Jo bersikap se agresif itu. Apalagi saat ciuman Jo merangkak naik ke pergelangan tangan Ara hingga kini sudah mencapai bahunya.
"Jojo, kamu ... kamu ma—"
Ucapan Ara tertahan saat bibirnya tiba-tiba dihadang oleh bibir Jo yang mengecupnya dengan lembut. Ara begitu terkesiap hingga matanya terbuka lebar. Jo melakukannya cukup lama, hingga terlepas karena hampir kehabisan napas.
"Aku mau kamu sekarang, boleh, ya?" Pertanyaan membuat Ara mengernyitkan kening, ia tidak mengerti dengan maksud suaminya.
"Maksud kamu apa?" tanya Ara.
Namun, Jo tidak menjawab apa-apa. Hanya tatapannya saja yang terlihat berbeda. Ara menatap lekat mata itu, tiba-tiba saja pipi Ara memerah, dan jantungnya berdetak lebih cepat. Manakala ia tersadar dengan apa yang diinginkan oleh suaminya sekarang.
Apakah ini sudah waktunya? Kemarin Jo berkata ingin berlama-lama bermesraan dengan Ara, dan sekarang apakah Jo sudah tidak sabar? Begitulah isi pikiran Ara saat ini. Dia pun sedikit ragu untuk percaya.
"Jojo, kamu sedang tidak mabuk, kan?" Pertanyaan itu yang keluar untuk meyakinkan keraguannya. Tubuh Jo tidak panas, dia tidak sakit, tetapi tiba-tiba bersikap aneh. Sehingga membuat Ara yakin Jo kehilangan akal sehatnya karena mabuk.
Jo menggeleng samar, ia sudah tidak sanggup lagi menahan hawa panas yang ada pada tubuhnya. Tidak ada waktu lagi untuk berdebat dengan istrinya. Dia pun dengan terpaksa menjerat istrinya hingga terpedaya.
Jerit kenikmatan yang terdengar samar, menyatu dengan hembusan nafas yang kian kasar. Membuat mereka benar-benar hanyut dalam setiap sentuhan. Kini, keduanya telah menyatukan hati dan tubuh mereka dalam ikatan bahtera rumah tangga yang sebenarnya. Akhirnya hasrat yang selalu ditahan, kini terlampiaskan juga. Itu artinya, Jo sudah bisa melakukan terapinya yang ketiga. Sehingga kesempatan untuk Jo sembuh semakin dekat saja.
***
Denting suara jam mendominasi ruangan kamar yang sepi. Sudah hampir tengah malam, tapi mata Jo enggan sekali untuk terpejam. Setelah melakukan aktifitas malam yang melelahkan, pikiran Jo menerawang kemana-mana. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang kosong. Sesekali dia melirik ke arah sampingnya, dimana Ara sedang tertidur pulas satu selimut dengan dirinya. Dengan posisi miring dan menghadap ke arahnya.
Jo membayangkan apa yang dilakukannya bersama Ara tadi, bukan berarti dirinya menyesal telah melakukan hubungan suami istri dengan Ara, tetapi lebih kepada kenapa dia bisa mendapatkan keberanian dan gairah yang sangat besar untuk melakukan itu.
"Aku heran, setelah aku minum teh dari mommy badanku terasa sangat panas, tapi saat berdekatan dengan Ara rasa panasnya hilang dan aku tidak bisa mengontrol tubuhku yang menginginkan dia." Jo berusaha mengingat kejadian sebelum dia merasa tubuhnya sangat panas sebelum memasuki kamar. Namun, tak terpikirkan olehnya, jika Mommy-nya menaruh sesuatu dalam teh yang dia minum tersebut.
Ya, mommy Ayura memang menggunakan trik dari dokter Ichida, karena Ara tidak mau memberikan obat itu. Akhirnya dialah yang bergerak cepat, agar anaknya cepat kembali sehat. Mungkin mommy Ayura terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya tersebut, tapi semuanya memang sudah diatur oleh dia, dan semuanya harus sesuai dengan rencana. Pernikahan ini di atur untuk kesembuhan Jo, jika tidak berhasil maka percuma saja semuanya.
Ara mengerjapkan matanya saat dia merasakan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya. Sambil meringis pelan Ara membuka matanya perlahan. Wajahnya kembali tersipu saat dirinya melihat Jo berbaring di hadapannya, dia jadi mengingat apa yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
Dan saat Ara hendak beranjak duduk. Ara sedikit tersentak saat mendapati tubuhnya tidak memakai baju, hanya berbalut selimut dan itupun berdua dengan suaminya. Dia pun mengurungkan niatnya dan hanya merubah posisinya menjadi telentang saja. Sambil menarik selimut sampai menutupi ke bagian lehernya. Kini hanya wajahnya saja yang terlihat.
Merasakan gerakan dari kasurnya Jo jadi menoleh ke arah Ara. "Kenapa bangun?" tanyanya sambil tersenyum lebar, Jo memiringkan tubuhnya lalu menopangkan kepalanya di telapak tangan yang bertumpu pada sikunya.
Ara mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya itu. Sambil tersenyum kaku dia menoleh ke arah Jo. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ara terlalu malu, lalu memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku, ya!" ucap Jo dengan wajah sendu. Ara mengernyitkan kening, maaf untuk apa? Apakah Jo merasa menyesal telah membuat dirinya sudah tidak perawan? Membuat pandangan Ara kembali tertuju pada suaminya.
"Maaf untuk apa?" tanya Ara kemudian.
"Karena aku telah ingkar janji padamu, aku pernah bilang jika aku ingin melalui masa-masa menyenangkan dengan dirimu lebih lama tapi sekarang aku malah tidak sabar dan mendapatkanmu lebih cepat dari yang aku bayangkan," ujar Jo dengan tatapan mata yang terlihat sayu.
Ara menghembuskan napas lega, ternyata yang ada dalam pikirannya tidak benar. Jo bukannya menyesal, tapi dia hanya merasa bersalah saja karena ingkar dengan ucapannya dulu. Padahal dia tak melakukan kesalahan apa-apa, sangat wajar mereka melakukan itu karena mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Tidak apa-apa Jo, cepat atau lambat hal ini pasti terjadi. Itu berarti kesembuhan kamu sudah semakin dekat saja," ujar Ara sedikit malu.
Jo tersenyum tipis, hatinya sangat lega karena ternyata istrinya tidak marah. Namun, sesaat kemudian ide nakal mulai terbesit dipikirannya.
"Kamu ingin sekali aku sembuh, kan?" tanyanya sambil tersenyum menyeringai.
"Tentu saja," jawab Ara cepat.
"Ya sudah kalau begitu, kita ulangi yang tadi biar kesembuhanku lebih cepat lagi!" Ide gila Jo membuat Ara tercengang.
"Apa hubungannya?" tanya Ara sambil merapatkan kembali selimutnya itu. Kepalanya sedikit menjauh, dengan mode waspada.
Dokter Ichida memang tidak mengatakan berapa kali harus melakukannya, tapi dia hanya menyuruh Jo melepas masa perjakanya saja, agar bisa melakukan terapi selanjutnya. Dan jika itu di lakukan berkali-kali, itu berarti Jo yang ketagihan melakukannya. Dasar si Jojo ini, membuat Ara malu saja.
"Pokoknya ada, dokter Ichida pernah mengatakannya," Jo berbohong dan Ara tidak curiga sama sekali. "Bagaimana?" tanyanya lagi, Jo semakin mendekatkan tubuhnya pada Ara.
Ara diam saja, rasanya terlalu malu untuk menjawab pertanyaan suaminya tersebut. Melihat istrinya hanya berdiam diri, lelaki itu pun menyimpulkan jika istrinya bersedia, seulas senyuman pun mengembang di bibirnya. Lelaki itu tidak sungkan lagi untuk menjamah istrinya. Sehingga malam itu pun mereka habiskan untuk melampiaskan hasrat yang selama ini tertahan, sekaligus melakukan malam pertama yang tertunda selama berbulan-bulan.
***
Hah...akhirnya sukses juga mommy Ayura menjebak anak dan menantunya. Udah nikah ko perlu di jebak segala. hehehe
Doain setelah ini terapi Jo berjalan dengan baik. Supaya Jo tidak melupakan Ara ya...
Tetap dukung author ya Kli like, kasih komentar walau kata lanjut doang, share jika berkenan, dan vote pake poin jika punya gratisan....terima kasih semuanya.