
Cahaya berwarna jingga menghiasi langit di ufuk barat, sejak mentari menutup mata dan sisa-sisa cahaya nya menghiasi cakrawala seorang laki-laki tampan dengan setia duduk termenung di balkon kamarnya menikmati keindahan yang terpancar di langit senja itu.
Dia masih memikirkan pertanyaan dokter Ichida saat berkunjung ke rumahnya.
Apa kau mencintainya ?
Dan untuk pertanyaan itu Jojo tak bisa menjawabnya, dia hanya diam saja. Masih menerka-nerka perasaan apa yang selama ini ia rasakan buat Ara.
"Aku juga belum tahu, dia menikahiku atas dasar apa? Terakhir dia bilang jika dia hanya kasihan. Ck, aku tidak mau di kasihani saja." gumam Jojo berdecak pelan. Dia sangat kesal saat mengingat ucapan Ara yang mengatakan dia mau menikahi Jojo karena kasihan.
"Ini sudah hampir malam, tapi dia belum kembali. Apa yang dia lakukan Ara di rumah bi Iren?" gerutu Jojo lagi sambil menoleh ke arah pintu kamar.
Dan kebetulan gagang pintu itu sedikit berputar tanda seseorang dari luar akan masuk ke dalam, Jojo terkesiap kemudian membenarkan posisinya untuk duduk bersandar dengan santai, dia memejamkan matanya dan pura-pura tertidur di sana.
Tak menunggu lama orang yang memutar gagang pintu pun masuk ke dalam kamar, dia memang Ara. Orang yang di tunggu-tunggu oleh Jojo dari tadi.
Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, mencari keberadaan suaminya di dalam sana. Matanya terhenti saat dirinya menemukan sosok yang duduk bersandar di balkon luar kamarnya itu. Tidak terlalu jelas siapa orang itu, karena Ara hanya bisa melihat pundaknya saja.
"Apa itu Jojo?" tanya Ara pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya ke arah balkon dengan hati-hati.
"Ah iya, kenapa dia tidur di sini?" Ara berujar saat dirinya sudah berada di balkon dan melihat Jojo tertidur pulas di bangku santai.
Ara mengangkat sebelah tangannya berniat ingin membangunkan Jojo, karena ini sudah hampir petang, tak baik jika tidur di jam-jam sekarang. Tapi gerakan tangannya terhenti saat dirinya melihat wajah polos Jojo yang begitu tampan jika sedang tertidur .
"Dia manis sekali jika sedang tidur seperti ini." ucap Ara dengan sangat pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Jojo yang sedang pura-pura tertidur, Ara berjongkok di depan wajah suaminya dan membuat sebuah senyuman manis di sana.
Ara dengan berani mengelus pipi suaminya dengan lembut dan hati-hati dia takut Jojo akan terbangun karena sentuhannya. Di rasa tak ada reaksi Ara melanjutkan aksinya lagi, dia semakin menikmati pemandangan yang lebih indah dari cahaya langit di senja itu.
"Jika dulu kamu tidak bodoh, mana mungkin kamu mau menikah denganku Jojo, awalnya aku hanya kasihan. Tapi lama-lama aku semakin nyaman denganmu. Jika nanti kamu sembuh, aku harap kamu tak melupakan aku, tapi jika itu terjadi ...." Ara sejenak terdiam lalu menundukkan kepalanya, mencoba menenangkan hatinya agar cairan bening dari pelupuk matanya tak serta merta keluar dari sana. Mata Jojo sedikit mengintip pada Ara dengan menyipitkan sebelah matanya karena tiba-tiba saja tak ada suara lagi dari istrinya itu.
Tapi itu hanya terjadi sekejap karena Ara kembali lagi mendongak. "Aku akan pergi dari sini Jojo, karena tugasku sudah selesai saat itu. Walaupun kamu melupakan aku, yang penting kamu sudah sembuh." imbuh Ara dengan lirih.
Jojo tampak emosi, dia tak suka mendengar kalimat Ara yang terakhir, hingga kerutan di dahinya terlihat begitu jelas. Ara akan pergi? Enak saja jika bicara, siapa yang akan mengizinkannya pergi. Jojo seketika membuka matanya dengan sempurna, lalu menoleh ke arah Ara dan menatapnya dengan tatapan dingin. Hal itu membuat Ara begitu terkesiap melihatnya.
Ara membelalakkan mata, dan menarik tangannya yang masih menempel di pipi Jojo dengan perlahan. Tapi dengan cepat Jo menangkap tangan itu dengan tangannya. Lalu menegakkan duduknya hingga kini mereka saling berhadapan.
Merasa terciduk, Ara menelan ludahnya dengan susah payah, apa yang akan di lakukan laki-laki ini padanya. Ara tahu emosi suaminya kini benar-benar tak bisa di prediksi, Jo seperti punya dua kepribadian.
"Ma-maaf Jojo, aku ... aku hanya menepuk nyamuk yang ada di pipimu tadi." ujar Ara berusaha mengelak dengan gugup.
Jojo masih terdiam, matanya terus saja menatap tajam wajah Ara. Jojo membungkukkan sedikit tubuhnya mendekatkan kepalanya dengan wajah Ara. "Ulangi ucapanmu yang tadi!" katanya dengan nada sinis.
Ara mengernyitkan kening, ucapan mana yang Jojo maksud. Hanya permintaan maaf yang dia ucapkan barusan.
"Maaf, aku tidak sengaja menyentuh pipimu tadi." Ara kembali meminta maaf.
"Yang mana?"
"Waktu aku tidur."
"Hah?" Ara membuka mulutnya lebar, ternyata dari tadi Jojo mendengar semua ucapannya, karena dia hanya berpura-pura tidur saja.
Sambil tersenyum kikuk, Ara mencoba melepas tangannya yang di cekal oleh Jojo tapi genggaman tangan tersebut begitu kuat hingga Ara kesulitan untuk melepasnya.
"Lepasin Jojo, ini sakit!" pinta Ara dengan memelas.
Mendengar Ara kesakitan Jojo akhirnya melepaskan, "maaf." ucapnya menyesal.
Ara merengut sambil memegangi tangannya yang akhirnya terlepas dari genggaman Jo. Tapi matanya masih mengarah takut pada Jo.
"Ayo katakan!" perintah Jojo lagi sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Aku tidak bicara apa-apa, tadi kau sedang tidur. Mungkin kau salah dengar." Ara kembali mengelak.
Ara hendak bangkit dan beranjak berdiri, tapi Jojo kembali menarik bahu tangannya hingga kini tubuhnya duduk di pangkuan Jo.
Ara begitu terkesiap, kini jantungnya berdetak tak karuan. Pipinya memerah layaknya buah tomat. Ara meronta agar lepas dari pangkuan Jojo, tapi Jojo tak mau melepaskannya.
"Kalau kamu gak mau mengatakan hal yang tadi kau katakan saat aku tidur. Aku tidak akan melepaskanmu." ancam Jojo semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah lupa Jojo." Ara tak tahu kata-kata mana yang ingin Jojo dengar, mungkin dengan berkata lupa Jojo akan melepaskannya. Tapi Jojo malah semakin mengeratkannya.
Karena merasa tak nyaman, Ara menggerak - gerakkan tubuhnya di pangkuan Jojo, Ara tak sadar gerakannya itu membuat sesuatu di bawah sana bangun dengan sendirinya.
"Ck, Jangan bergerak!" Decak Jojo sedikit membentak. Ara terperanjat, dia pun seketika mematung di tempat.
Setelah di rasa lebih tenang, Jojo malah menempelkan wajahnya pada pundak Ara. Ara tersentak sambil menolehkan kepalanya, melihat kepala Jojo yang menempel di bagian pundaknya itu. Tapi dia tak berusaha berontak, karena melihat Jojo begitu nyaman dengan posisinya seperti itu.
"Dengarkan aku Ara! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, jika nanti aku melupakanmu aku akan berusaha untuk mengingatmu kembali. Aku butuh kamu di sini, aku butuh kamu selalu ada di sisiku. Jadi jangan pernah kamu berpikir untuk meninggalkan aku!" ujar Jojo dengan begitu lirih. Ara terenyuh mendengar itu, Ara sedikit mendongak mencegah cairan bening yang hendak menetes keluar dari bola matanya, ternyata Jojo mendengar semuanya.
Sejenak suasana jadi hening, tak terasa tiba-tiba tangan Ara terangkat lalu mengelus puncak kepala Jojo dengan lembut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Jojo, jika memang itu yang kamu pinta." ucap Ara terdengar begitu tulus. Jojo menoleh menatap Ara dengan tatapan sendu. Lalu melontarkan senyuman termanis yang dia punya. Jarak wajah mereka begitu dekat. Jojo meraih tangan Ara lalu mengecup punggung tangannya, kedua mata mereka pun saling terkunci satu sama lain.
***
Ciyee...udah mulai ada benih - benih cintrong nih Jojo dan Ara, biar kisahnya lebih romantis. Kita ceritanya tipis - tipis aja ya.... Buat yang ingin cepet ngeliat Jojo sembuh, Sabar dulu ya ! mendingan lihat kemesraan mereka dulu.... 😆😆
Jangan lupa LIKE , COMMENT , SHARE DAN VOTE YANG BANYAK YA...