
" Bagaimana dokter, apa istri saya hamil ? " Jo bertanya dengan tidak sabar. Setelah mereka berdua berdebat masalah pekerjaan Ara, dan Ara menginginkan kesepakatan mereka di percepat Jo langsung membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan tubuh Ara. Apakah dia benar hamil atau tidak. Sebenarnya Ara tidak mau, dia memilih untuk mengeceknya dengan menggunakan testpack saja. Tapi Jo menolak nya dengan tegas dia hanya ingin mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Ara begitu malu saat dokter Obgyn terus-menerus melemparkan senyum simpul nya saat pertama masuk ke ruangan dokter itu Jo dengan tak tahu malu dia langsung bertanya " Dokter, apa istri saya bisa ketahuan hamil setelah kami melakukan hubungan badan seminggu yang lalu? "
Sumpah demi apapun Ara sangat malu saat mengingat kata - kata itu, ingin sekali rasanya dia berlari ke hutan dan bersembunyi di semak belukar. Ia hanya bisa menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah terlihat merah. Kenapa tidak sekalian Jo ceritakan berapa kali mereka melakukannya malam itu. Huh, mungkin sifat idiot nya itu sudah kambuh kembali.
Dokter spesialis kandungan yang bernama Lily itu kembali mengulas senyum. " Seperti yang sudah saya katakan dari awal tuan. Kehamilan akan di ketahui setelah dua minggu melakukan hubungan badan, bersabarlah ! Istri anda bahkan belum merasakan gejala apapun. Dan beliau juga belum terlambat datang bulan. Untuk lebih akurat lagi datang lagi kesini setelah nyonya benar-benar terlambat kedatangan tamu bulanannya itu. " Penjelasan itu yang dokter Lily katakan dari awal, tapi Jo dengan begitu keras kepala memaksa dokter muda itu untuk melakukan pemeriksaan terhadap rahim istrinya tersebut dengan menggunakan alat Ultrasonografi ( USG) .
" Kapan itu terjadi dokter? " Tanya Jo lagi, dan berhasil membuat dokter itu tertawa kecil.
" Tanyakan pada istri anda tuan, saya tidak tahu siklus menstruasi nyonya. " Dokter Lily berkata sambil melirik ke arah Ara. Jangan lupa dengan tawa kecilnya yang masih melekat di bibir dokter muda itu. Membuat Ara semakin malu di buatnya. Ara hanya bisa membalasnya dengan melemparkan senyum peliknya. Ya ampun Jo, ingin sekali Ara menarik tangan lelaki itu dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Dokter Lily melipatkan tangannya di atas meja lalu duduk tegak seolah ingin berkata serius. " Kalian ini pasangan yang aneh, baru satu minggu menikah tapi mau langsung memiliki anak. Bahkan pasangan-pasangan lain ingin menikmati masa bulan madu mereka dulu, tidak ingin terburu-buru punya anak. Kalian tergolong pasangan muda, apalagi nyonya umurnya jauh lebih muda dari tuan. Jika tidak ada masalah kesehatan pasti akan cepat di kasih momongan. " Ucap dokter Lily menasehati panjang lebar.
Dan apa tadi katanya? umur Ara jauh lebih muda, apa dokter ini secara tidak langsung mengatakan jika Jo itu sudah tua? Jangan ditanya bagaimana wajah Jo saat ini! Dia terlihat menekuk wajahnya merasa tidak suka dengan penuturan dokter Lily.
Ara ingin sekali tertawa melihat raut wajah suaminya yang terlihat merengut kesal. Tapi mendengar penuturan sang dokter yang menyuruh mereka untuk menikmati masa bulan madu pernikahan yang baru seumur jagung itu, tentu saja membuat Ara jadi sedih, ia ingin sekali melakukannya bersama Jo, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan kesedihannya itu di depan suaminya. Demi misinya untuk membuat Jo cemburu Ara harus terlihat ingin sekali bercerai dengan lelaki itu.
" Maaf dokter, mungkin suami saya terlalu bersemangat untuk mempunyai anak, jadi dia tidak sabar untuk mengetahui jika saya sudah hamil atau belum. " Ujar Ara mencoba memberikan alasan.
Jo menoleh ke arah Ara. Menatapnya dengan sinis. Dan entah setan apa yang sedang hinggap di kepala manusia ini. Sambil melipatkan tangannya di depan dada dia malah berkata.
" Makanya jangan sok tahu! Kau bilang kehamilan bisa di ketahui setelah seminggu berhubungan, bikin malu saja kamu ini. "
Astaga suaminya siapa sih ini, siapa juga yang membuat malu di sini? Sepertinya Jo membutuhkan terapi lagi, otaknya kini sudah mulai konslet kembali. Menyebalkan!
****
Setelah melakukan pemeriksaaan yang hasilnya belum di ketahui, akhirnya mereka kembali ke perusahaan. Sam yang dari tadi menunggu kedatangan Ara di lobi depan langsung menghampiri Ara dan Jo yang terlihat memasuki pintu utama kantor tersebut.
" Darimana saja kalian? Kata David kalian keluar kantor, kenapa tidak memberi tahu ku dulu? " Mendengar pertanyaan itu kening Jo mengkerut tajam, apa urusannya lelaki itu harus tahu kemana Jo membawa istrinya sendiri pergi. Merasa malas untuk berdebat, Jo memilih untuk meninggalkan Sam dengan pertanyaannya yang menggantung tak terjawab.
Sambil mencebik kesal, Sam beralih pada Ara yang berjalan di belakang suaminya.
" Ara.... " Panggil Sam sambil mencekal tangan wanita itu.
" Apa? "
" Kalian darimana? " Sam mengulangi pertanyaannya tadi.
" Kami habis dari rumah sakit. " Jawab Ara lirih.
" Untuk apa? Apa kamu sakit? " Tanya Sam terlihat begitu khawatir.
Ara menggeleng " Tidak, Jo membawaku ke dokter kandungan. Dia ingin mengetahui apakah aku hamil atau tidak. "
" Lalu hasilnya ? " Sela Sam dengan cepat.
" Tentu saja belum bisa di pastikan, aku hanya menggertak Jo saja dengan mengatakan ingin mempercepat kesepakatan kami. Aku tidak menyangka jika Jo lebih menginginkan itu. " Ucap Ara dengan nada sedikit pelan, dia tidak mau jika orang - orang di perusahaan itu tahu tentang status pernikahan mereka yang masih tersembunyi.
" Syukurlah.... " Gumam Sam sambil menghela nafas lega. Itu artinya kesempatannya untuk mendapatkan Ara masih terbuka lebar.
Merasa tidak ada yang membuntuti nya dari belakang, Jo yang sudah berjalan menjauh akhirnya berbalik badan mencari keberadaan istrinya tersebut. Melihat istrinya malah asyik mengobrol dengan Sam membuat hatinya bergejolak kesal, entah kenapa dia tidak terima, padahal dia sangat yakin jika dia tak mencintai wanita itu.
" Kalian berdua, ikut ke ruangan ku! " Suara menggelegar Jo menggema di lobi depan kantor tersebut. Kepada siapa lagi perintah itu kalau bukan pada Sam dan Ara karena mata Jo terfokus ke arah mereka berdua.
Suara perintah itu membuat Sam dan Ara jadi ter lonjak kaget, lalu menoleh bersamaan ke arah asal suara dan mendapati Jo sedang berdiri menghadap ke arah mereka sambil melotot tajam. Begitu pula dengan orang-orang di sekitar tempat itu, semuanya bergidik ngeri saat melihat presdir mereka mulai mengeluarkan taringnya kembali.
Sambil menelan ludahnya dengan berat, Ara melangkahkan kakinya mendekati Jo, dan di ikuti oleh Sam di belakangnya. Tanpa mau menunggu Jo kembali membalikkan badan dan melanjutkan kembali langkahnya menuju ke ruang kerja miliknya di lantai atas.
Sesampainya di ruang kerja Jo, Sam dan Ara duduk di depan kursi kerja Jo, tentu saja Jo sudah duluan duduk di kursi kebesarannya.
" Ada apa kak Jo ? " Tanya Sam penasaran.
" Mengenai pekerjaan Ara, aku setuju dia menjadi asisten mu. " Ara dan Sam tersenyum senang mendengar itu.
" Tapi, dia harus menjadi asisten pribadi ku dulu selama tiga minggu ke depan. " Imbuh Jo yang sontak membuat mata kedua orang di hadapannya itu terbuka lebar. Tentu saja Jo hanya ingin memastikan apakah benihnya benar-benar tumbuh di dalam rahim Ara. Dan selama hal itu belum pasti Ara tidak boleh bersama dengan laki-laki lain.
****
Tuh kan Jojo emang gak rela Ara dekat - dekat dengan laki-laki lain, munafik banget sih kamu Jojo. Nanti Ara nya beneran lari loh.....
Jangan lupa like, comment, share dan vote yang banyak ya.... oh iya, kasih rate bintang lima nya dong, masa rate aku jadi turun, jadi sedih 😓😓.
Tapi makasih juga buat yang selalu dukung authornya ini ya.. pokoknya kalian the best lah 🥰🥰