My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MAU MAAFIN AKU KAN???



Ara masih bergeming di tempatnya, berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi dengan sikap suaminya. Apakah Jo sudah mulai mencintai Ara, ataukah hanya sebatas pelepasan hasratnya saja. Ara jadi ingat kata-kata Jo semalam, tentang pengakuan cintanya pada Ara.


Apa Jo semalam benar-benar tidak mabuk, dan melakukannya dalam keadaan sadar.Tapi tunggu, bukannya selama ini Jo selalu berkata jika dirinya alergi terhadap wanita, termasuk Ara. Jika Jo memang sadar itu artinya Jo benar-benar sudah membuka hatinya untuk istrinya.


Sebuah senyuman manis terlukis di bibir Ara, jika memang kenyataannya demikian tentu saja Ara akan senang. Hingga satu kecupan manis di puncak kepala Ara membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Lagi mikirin apa sih?" Tanya Jo dengan posisi duduk di belakang Ara dan menumpukan dagunya di bahu Ara. Ara merasakan getaran yang membuat tubuhnya meremang seperti semalam. Ck, lelaki ini, kenapa ia bisa selembut ini? Membuat Ara semakin terbuai saja.


Ara mengedikkan bahunya, merasa risih dengan perlakuan suaminya. Dan hal itu di mengerti oleh Jo, Ara masih belum bisa mencerna semuanya, sebelum Jo mengatakan kebenarannya.


Jo mengangkat kepalanya, menjauhkan wajahnya dari bahu Ara. "Ara, kamu marah padaku?" Tanyanya dengan ragu.


Ara menghela nafas kasar, lalu sedikit menggeserkan tubuhnya dan berbalik menghadap ke arah Jo.


"Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba berubah?" Tanya Ara begitu penasaran.


Jo menatap manik-manik mata Ara yang penuh dengan tanda tanya. Ingin sekali ia tertawa melihat kebingungan di raut wajah itu, tapi Jo tidak tega. Ara terlihat menggemaskan dengan wajah penasarannya. Boleh gak sih Jo mencium wajah itu lagi?


"Kenapa diam? Cepat katakan! Jadi semalam kamu benar-benar tidak mabuk?" Ara jadi tidak sabar, ia ingin segera mendengar kabar baik dari suaminya itu. Jika memang pikirannya benar, apakah Ara harus merasa senang atau justru akan kesal karena merasa telah di permainkan.


Jo malah melebarkan senyumnya, memperlihatkan deretan giginya yang putih rapih. "Kan aku sudah bilang semalam, aku tidak mabuk dan aku sadar melakukannya. Aku sudah ingat semuanya sayang."


Deg!


Ara menatap Jo dengan tatapan yang tak bisa di baca, entah kenapa jantungnya seperti di tikam benda tajam, seharusnya Ara senang karena sepertinya Jo sudah mulai membuka hatinya. Tapi sepertinya hati Ara belum siap untuk itu, atau mungkin ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Jo yang kasar selama ini?


Jo mengernyitkan kening, saat melihat reaksi dingin yang di tunjukkan oleh istrinya. Ia pun langsung meraih kedua telapak tangan Ara dan menggenggamnya dengan erat.


"Kamu jangan marah! Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu." Bujuk Jo dengan memelas.


"Sejak kapan?" Tukas Ara masih dengan tatapan sinis nya.


"Apanya?"


"Sejak kapan kamu bohongin aku?" Ara mengulangi pertanyaannya dengan nada lebih tinggi sampai Jo bergidik ngeri.


"Sejak kamu hilang." Jawab Jo sedikit takut.


Tanpa di duga reaksi Ara benar-benar membuat Jo kaget luar biasa. Ara menghempaskan tangan Jo dengan begitu kasar melepaskannya dari genggaman Jo lalu....


Plak....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Jo. Sontak tangan Jo terangkat dan mengelus pipinya yang terasa kebas.


Ara mendorong tubuh Jo hingga sedikit berjengit dari tempatnya. "Kamu jahat banget sih!" Geram Ara begitu kesal. Air matanya pun ikut mengalir tanpa di minta.


Jo ingin meraih tangan Ara kembali tapi dengan cepat Ara menolak dan malah memukul dada suaminya berkali-kali. Tapi tak membuat lelaki itu merasa kesakitan karenanya.


"Aku selama ini ngurusin kamu, berharap kamu cepat sembuh dari trauma kamu, menghadapi sikap dingin kamu, dan selalu berusaha sabar saat sifat bunglon kamu mulai kumat. Dan setelah hampir sebulan kamu ingat aku, kenapa baru mengatakannya sekarang. Kamu pikir aku mempunyai kesabaran tingkat dewa hah?" Gerutunya Ara panjang lebar, sambil terus berurai air mata.


Ara menangis sesegukan, ia harusnya senang, tapi entahlah saat ini rasanya Ara hanya ingin marah saja dan meluapkan semua kekesalannya yang selama ini terpendam.


Jo mengambil kesempatan itu untuk merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya. Ara tak bisa menolak, rasanya tubuhnya sangat lelah. Dan membiarkan wajahnya bersembunyi di dada bidang suaminya.


"Maaf, ya! Aku gak bermaksud jahatin kamu. Ada sesuatu yang harus aku bereskan terlebih dulu sebelum aku menceritakan kesembuhan ku padamu." Ucap Jo begitu lirih sambil mengelus punggung Ara dan mengecupi puncak kepala Ara.


Ara masih bergeming dalam pelukan suaminya, ia masih bingung dengan perasaannya saat ini, haruskah ia senang, tapi kenapa rasanya begitu kesal?


Jo melepaskan pelukannya dan menjauhkan sedikit tubuh Ara darinya agar bisa menatap wajah wanita itu dengan lebih seksama.


"Mau maafin aku kan?" Tanya Jo penuh harap.


Ara mendongak, mengusap sisa cairan bening yang sesekali masih keluar dari matanya. "Enggak." Jawabnya.


Jo merengut. "Kenapa?" Tanyanya penuh kekecewaan.


"Aku mau tahu dulu bagaimana caranya ingatanmu bisa kembali, dan alasan kenapa kamu gak langsung mengatakannya padaku." Seru Ara sambil melipat tangannya di depan dada.


"Hanya itu?" Tanya Jo meremehkan.


"Ya."


Jo tersenyum mendengar syarat yang begitu mudah atas permintaan maafnya. "Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi setelah itu kau mau memaafkan aku bukan?" Seru Jo kembali memastikan.


Ara mengedikkan bahunya. "Tergantung." Jawabnya. "Cepat ceritakan! Aku tidak suka menunggu lama." Tambah Ara lagi sedikit membentak. Jo begitu terkesiap sekarang gantian istrinya yang bersikap seperti dirinya dulu, apakah penyakit mentalnya berpindah pada Ara?


Jo akhirnya menceritakan tentang semua kronologi kejadian saat ia mendapatkan ingatannya kembali. Beserta alasannya kenapa ia tidak langsung memberitahukannya pada Ara. Ara mendengarkan dengan seksama, dirinya tak menyangka jika pamannya Jo bisa sejahat itu pada keluarganya sendiri.


Melihat mimik sedih pada wajah Jo saat menceritakan hal tersebut betapa hatinya begitu sakit saat menerima kenyataan jika paman yang selama ini ia sayangi dan begitu perhatian padanya ternyata ular berkepala dua membuat hati Ara terenyuh dan kasihan pada suaminya.


Tanpa Ara sadari tangannya menyentuh tangan Jo dan mengusapnya dengan lembut, seperti memberikan kekuatan pada lelaki itu. Tapi sepertinya Ara telah melakukan kesalahan.


Jo malah tersenyum menyeringai, menunjukkan sisi jahilnya kembali. Dia raih tangan Ara lalu mencium punggung tangannya.


"Manis banget sih istri aku." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Ih, apa sih. Dasar aneh." Ara menarik tangannya dengan cepat. Lalu beranjak berdiri hendak meninggalkan Jo di tempat tidur.


"Mau kemana?" Mata Jo mengikuti gerak istrinya.


"Mandi." Jawab Ara cepat.


"Aku ikut." Jo begitu bersemangat mengikuti langkah istrinya.


"Apa?" Ara berbalik cepat menatap Jo dengan kening mengkerut tajam.


***


Bersambung dulu... Amih mau istirahat ya.. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komentar dan votenya selalu amih harapkan.. Makasih.


Follow akun IG author ya : amih_amy