
"Ayolah!" bujuk Jojo dengan penuh harap. "Bagaimanapun kamu tidak boleh menolak permintaan suamimu!" imbuh Jo lagi, dan kali ini nadanya sedikit memaksa.
Ara berdecak sebal. "Suami macam apa? Memangnya dia pernah menganggapku sebagai istri," gerutunya dalam hati.
"Aku tidak mau. Kau mabuk!" Ara semakin kesal dengan tingkah suaminya itu, dan ia berjanji tidak akan membiarkan suaminya untuk minum minuman haram itu lagi, walaupun dengan kadar alkohol tidak tinggi.
"Kalau aku tidak mabuk, berarti kamu mau, 'kan?" tanya Jojo dengan seringai mesumnya.
Astaga ... Ara merasa suaminya itu benar-benar sudah gila, ia tidak menyangka sikap Jojo akan berubah mengerikan saat dirinya sedang mabuk.
"Kamu gila!" seru Ara sambil menepis tangan Jojo dengan kasar hingga terlepas dari genggamannya. Ara beranjak berdiri hendak melangkah pergi meninggalkan kamar.
"Aku berani bersumpah atas nama mami, kalau aku tidak mabuk."
Perkataan itu membuat langkah berhenti seketika, lalu menoleh kepada suaminya. Netra pekatnya menatap wajah Jojo dengan penuh keseriusan. Mana mungkin Jojo berani bersumpah atas nama ibunya, hanya karena ia ingin meminta haknya kepada Ara.
"Aku minta maaf, tadi aku membohongimu," sesal Jojo, tubuhnya perlahan turun dari ranjang sebelum ia berkata, "Alkohol itu tidak membuatku benar-benar mabuk, aku hanya pusing sedikit saja." Jojo menghampiri Ara yang masih mematung di tempatnya.
Ara masih tidak mengerti, apa maksud dari Jojo melakukan semua kekonyolan ini. Apa dia senang mempermainkan perasaan Ara? Ataukah ia sedang menguji lagi tingkat kesabaran wanita itu? Jojo benar-benar seperti bunglon yang selalu berubah warna. Sikapnya berubah mengikuti suasana hatinya.
Ara yang sempat bengong tidak menyadari jika Jojo kini sudah berdiri di samping dirinya.
"Aku mencintaimu," bisik Jojo di telinga Ara dengan lembut. Membuat Ara seketika terlonjak karena kaget.
Ara refleks mendorong tubuh Jojo yang berjarak begitu dekat dengannya, tetapi hanya membuat laki-laki itu mundur satu langkah dari tempatnya. "Nggak lucu, tahu!" seru Ara sambil mendengus kesal. Walaupun begitu, wajahnya tetap tersipu.
Jojo mengangkat kedua alisnya bersamaan, "Aku sedang tidak bercanda, Sayang," ucap Jojo kemudian, sembari sedikit mencondongkan kepalanya mendekati wajah Ara. Tentu saja Ara reflek menghindar, kedua matanya mendelik tajam ke arah Jojo yang terus melancarkan rayuannya.
Mendengar kata 'sayang' dari mulut Jojo, membuat hati Ara sedikit berdenyut ngilu, dan bulu kuduknya pun ikut meremang. Ia mengira jika Jojo sudah kerasukan.
Ara mengambil langkah mundur, ia benar-benar ketakutan dengan sosok Jojo yang tiba-tiba bersikap liar. Mengerikan sekali jika Jojo sedang mabuk, sampai ia tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri. Bahkan mengucapkan sumpah keramat pun ia berani, ditambah rayuan gombal yang membuat Ara merasa geli. Benar-benar bukan seperti Jonathan Alfarezy.
Ara langsung berbalik dan berlari menuju ke arah pintu. Ia memilih kabur daripada harus melayani suaminya yang tengah mabuk. Bukan tanpa alasan Ara ingin menghindar, Ara hanya tidak ingin menjadi korban saat nantinya Jojo menyesal setelah lelaki itu sadar. Ara masih kekeh dengan pendiriannya. Dia memang salah paham tentang keinginan suaminya, tentu saja karena Jojo selalu menyembunyikan kesembuhannya.
Jojo yang melihat istrinya berlari segera menyusul, lalu menghadang pintu kamar dengan tubuhnya. Astaga ... mau minta jatah saja mesti kejar-kejaran segala, seperti di film-film Bollywood yang biasa Ara tonton saja!
"Mau kemana?" tanya Jojo sambil mengangkat kedua alisnya dan merentangkan kedua tangannya.
Ara menelan ludahnya dengan susah payah, sorot matanya tersirat ketakutan begitu mendalam. "Kumohon Jojo, izinkan aku keluar! Kamu tidak boleh melakukan itu. Bukannya tidak lama lagi kita akan bercerai." Ara mengatupkan kedua tangannya dengan penuh harap.
Namun, bukannya mengiba, Jojo malah memberikan tatapan yang sulit terbaca. Jujur, ia sangat kesal saat mendengar Ara mengeluarkan kata 'cerai'. Kata itu sangat menusuk telinga Jojo membuat hatinya langsung panas seketika.
"Apa kamu ingin sekali bercerai denganku?"
Tanpa sadar Ara menganggukkan kepalanya karena takut. Ada raut kecewa tergambar di wajah Jojo saat itu juga. Ia tidak menyangka Ara sudah tidak mencintai dirinya lagi. Kedua mata Jojo mulai berkabut. Ia seakan dibutakan oleh nafsu, hingga ia ingin egois saja malam ini, tidak mau mengindahkan permintaan Ara, karena ia juga tidak mau bercerai dengan istrinya. Mungkin dengan cara ini Ara akan berubah pikiran, lalu tidak meminta cerai.
Ara pikir saat ia berkata perceraian, akan membuat laki-laki itu sadar dan segera menghentikan aksinya itu, tetapi Jojo malah semakin gila. Bibir tipis Ara yang sedikit gemetar menjadi sasaran pertama kegilaannya tersebut.
Ara tidak bisa berkata-kata lagi, kini ia hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya tersebut, hingga air mata yang sempat ia tahan akhirnya meleleh begitu saja dari sudut matanya yang terpejam.
Seolah tidak peduli Jojo terus saja memberikan rangsangan terhadap tubuh Ara. Ia menjelajahi seluruh bagian wajah Ara dengan menggunakan bibirnya, dengan tangannya yang mulai kelayapan kemana-mana. Jojo melakukannya dengan begitu lembut, hingga perlahan membuat tubuh Ara ikut terhanyut.
Mendapatkan serangan bertubi-tubi seperti itu membuat pertahanan Ara akhirnya lemah juga, tidak bisa dipungkiri jika Ara juga merindukan sentuhan seperti itu dari suaminya. Tanpa sadar lenguhan halus pun mulai terdengar dari mulutnya.
Jojo menarik bibirnya segaris, ia senang saat melihat istrinya juga mulai menikmati perlakuannya.
Jojo mulai mempercepat gerakannya. Hasratnya yang kian menggebu ingin segera ia tuntaskan sepenuhnya. Hingga akhirnya keduanya hanyut dalam kenikmatan surga dunia. Sampai tubuh Jo ambruk di atas tubuh Ara, keduanya sama-sama mencapai puncaknya dengan nafas yang saling beradu, seakan berebut oksigen yang tersedia di ruangan itu.
Jojo menghujani banyak kecupan di wajah Ara yang terlihat lemas. Ara sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, ia sudah pasrah dengan takdir yang akan di jalaninya nanti. Jika Jojo sadar dan menyesal, mereka akan tetap bercerai. Ara tidak peduli jika ia akan hamil atau tidak nantinya. Ia akan tetap meninggalkan lelaki itu. Anggap saja malam ini sebagai hadiah perpisahan dari Ara. Kedua matanya terpejam dengan air mata yang terus keluar.
Jojo merebahkan tubuhnya di samping Ara, merengkuh tubuh Ara agar masuk ke dalam pelukannya. Sesaat Ara merasakan kehangatan yang begitu tenang, membuat tubuhnya yang begitu kelelahan terasa mendapatkan kenyamanan, hingga akhirnya perempuan itu pun terlelap. Jojo pun demikian, hasratnya yang sudah tersalurkan membuat tubuhnya terasa ringan. Ia pun ikut memejamkan matanya dan terlelap sembari memeluk istrinya.
***
Malam pun berlalu, sinar mentari pagi yang menyusup di sela tirai jendela kamar membuat mata Ara mengerjap beberapa kali. Ara begitu terkejut saat mendapati dirinya tertidur sambil memeluk tubuh Jo yang tanpa busana. Ara sejenak memejamkan matanya mencoba mengumpulkan semua ingatannya tentang kejadian semalam. Seketika kedua matanya terbelalak, saat ia ingat jika semalam dirinya telah diperkosa suaminya. Ya, mungkin bahasanya terdengar begitu kasar dan menjijikkan, tetapi hal itulah yang Ara rasakan sekarang.
Dengan perlahan Ara menjauhkan tubuhnya dari Jojo, ia berniat kabur sebelum Jojo terbangun lalu mengusirnya dengan kasar. Ara sudah cukup sakit hati, ia tidak sanggup lagi jika harus mendapat bonus caci maki.
Saat Ara sudah menurunkan kakinya di lantai, ia meraih baju piyamanya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada, lalu memakainya dengan cepat. Namun, saat baju itu sudah melekat dengan sempurna di tubuhnya, Ara dibuat terkesiap saat ada tangan kokoh yang melingkar di perutnya. Perlahan Ara menurunkan pandangannya menuju ke bagian perut.
Keningnya seketika berkerut saat ia yakin jika itu adalah tangan suaminya. Apa ada yang salah dengan suaminya lagi? Mungkinkah Jojo masih mabuk? Bagaimana mungkin setelah tertidur begitu pulas masih belum juga sadar? Harusnya reaksi Jojo tidak seperti ini setelah ia bangun. Lelaki kasar itu pasti akan langsung memaki-maki Ara lalu mengusirnya dengan kasar. Beberapa pertanyaan memenuhi pikiran Ara yang masih kebingungan.
"Mau kemana, hem?" tanya Jojo dengan suara serak manjanya sambil menopangkan dagunya di pundak Ara.
****
Huh,, keinginan kalian tercapai tuh, aku nyampe tahan napas buat bikin part ini. 😅😅. Pasti gak percaya? 😁😁. Gak papa deh yang penting kalian suka. Dan ngasih votenya gak pelit juga. 😍😍
Tetap kasih jempol sama komentarnya ya... Lup yu all. 🥰🥰🥰