
" Itu tidak mungkin. " Tukas Ara dengan cepat, jika dirinya menjadi asisten pribadi Jo. bagaimana mungkin dirinya bisa membuat Jo cemburu dengan Sam.
" Kenapa? Kamu tidak mau menjadi asisten pribadiku hah? " Seru Jo sambil memicingkan matanya tajam. Dia tidak suka jika Ara lebih memilih menjadi asisten Sam daripada menjadi asisten suaminya sendiri.
" Yang benar saja, bagaimana aku bisa membuatnya cemburu jika tiap waktu aku harus bersamanya. " Gumam Ara dalam hati.
" Bukan begitu, perjanjian kontrak kerjanya kan sudah jelas jika aku akan menjadi asistennya Sam. Mana mungkin bisa berubah semudah itu. " Ujar Ara mencoba menolak.
" Aku pimpinan di sini, jadi aku berhak melakukan apapun di sini. " Jo berkata dengan angkuhnya. Sambil menatap Sam dengan tatapan meremehkan.
Sam merotasi kan matanya jengah, kakak sepupunya itu selalu saja seenaknya sendiri.
" Tapi semua ada prosedurnya Kak Jo. Apa kau lupa, jika perusahaan yang aku pimpin nanti adalah cabang dari perusahaan warisan papa, jadi sebagai pewarisnya aku berkuasa penuh atas manajemen perusahaan itu. " Ujar Sam telak, membuat Jo seketika tak bersuara. Hanya desahan nafasnya yang terdengar lebih berat seperti menahan kesal.
" Baik, aku mengalah! Tapi kamu harus ingat jika Ara adalah kakak ipar mu jadi kau harus tahu batasannya. "
Sam menarik salah satu sudut bibirnya. " Apa kau sedang cemburu Kak Jo? "
Sialan.... Tuduhan Sam tepat sasaran, tapi bukan Jo namanya jika dirinya akan mengakui hal itu. Dia melirik ke arah Ara yang terlihat penasaran ingin mendengar jawaban suaminya itu.
" Wanita ini, kenapa dia menatapku seperti itu? " Gerutu Jo dalam hati.
Lalu dia mengalihkan kembali pandangannya ke arah Sam, " Buat apa aku cemburu pada wanita ini! " Jo menunjukan jari telunjuknya ke arah Ara " Aku hanya tidak mau jika benih yang ada dalam rahimnya itu tercampur dengan benih orang lain. " Imbuh Jo dengan kejamnya.
" Apa maksudmu ? " Geram Ara sambil menggerakkan tangannya ke atas meja.
Jo tersentak begitupun dengan Sam, keduanya menoleh bersamaan ke arah wanita itu.
" Ara tenang! " Bisik Sam sambil mengelus bahu Ara dengan lembut dan hal itu malah terlihat menjadi adegan romantis di mata Jo.
" Singkirkan tanganmu itu! " Bentak Jo sambil sedikit mencondongkan tubuhnya menggapai tangan Sam yang terhalang oleh meja kerjanya. Lalu menepis nya dengan kasar.
Sam mengerutkan dahi menatap Jo dengan tatapan aneh. " Kenapa kau jadi marah ? Aku hanya ingin menenangkan hati Ara yang sakit karena ucapan mu barusan. "
Jo berdecak, lalu menegakkan kembali duduknya. " Sakit hati kenapa? memangnya ada yang salah dengan ucapan ku tadi ? " Seru Jo sambil mengangkat kedua bahunya.
Ck, lelaki ini senang sekali membuat hati Ara jadi panas.
" Biarkan saja Sam, biar dia puas. " Sahut Ara sambil menahan kesal.
" Kamu tenang saja Jojo! Aku tidak akan macam - macam selama aku belum di vonis hamil atau tidak oleh dokter. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika memang benar ada janin di dalam rahim ku ini. " tambah Ara lagi. Ara mulai meradang makin lama suaminya itu tambah menyebalkan.
Jo hanya diam menatap Ara yang terlihat marah padanya, ada setitik penyesalan dalam hatinya dan tentu saja Jo tak mau mengatakannya.
" Kalau tak ada lagi yang perlu di bicarakan, kami permisi dulu Kak Jo. " Pamit Sam hendak beranjak berdiri, begitupun dengan Ara, rasanya dia sudah muak dengan kesombongan suaminya itu.
Tanpa menunggu jawaban Jo, Ara terlebih dahulu meninggalkan ruangan itu. Tapi tidak dengan Sam, laki-laki itu masih menghormati Jo sebagai atasannya. Peduli amat bagi Ara, kali ini ucapan Jo benar-benar keterlaluan. Ara sudah tidak memikirkan janjinya lagi. Kini dia benar-benar sudah sakit hati.
***
Sam celingukan kesana kemari dan akhirnya berpikir jika Ara sudah kembali ke ruangan mereka. Untuk sementara mereka memang bekerja dalam satu ruangan yang sama. Sam melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ruangannya tersebut.
Tak lama dia pun sampai di depan pintu. Tapi saat dia membuka pintu itu wajahnya terlihat kecewa saat tak melihat siapapun di dalam ruangan tersebut. " Kemana dia? Tidak mungkin dia pulang kan? " Pikir Sam.
Sesaat Sam terpaku, dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan tubuhnya di kursi di balik meja kerjanya. Sam menghela nafas kasar, dia berpikir Ara sudah berubah pikiran. Mengingat tadi perkataan Jo yang sangat menyakitkan.
Tapi lamunan Sam buyar seketika saat suara derit pintu yang terbuka terdengar tiba-tiba. Pandangan Sam tersita oleh seseorang yang masuk ke ruangan itu.
" Ara.... Dari mana kamu? " Sam menghampiri tubuh Ara yang terlihat lesu.
" Dari toilet. " Jawab Ara singkat.
Sam mengernyitkan dahinya, seperti ada yang berbeda dengan wajah wanita ini, " Apa kau habis menangis ? " Terlihat sekali dari kelopak mata Ara yang terlihat sembab dan pipinya yang memerah.
" Tidak. " Jawab Ara bohong.
Sam memegang kedua bahu Ara, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahnya. Kini posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.
" Kamu jangan bohong! Matamu terlihat seperti habis menangis. " Seru Sam memandang lekat wajah wanita itu.
Ara memejamkan matanya, dirinya sudah tak sanggup untuk menahan cairan bening yang sudah terbendung di sudut kelopak matanya itu. Ara terisak lalu tanpa sadar dia memeluk tubuh Sam dengan erat. Demi apapun itu, Ara tak pernah terlihat selemah ini. Dia sering sekali mendengar Jo berkata kasar, tapi yang ini benar-benar menusuk ke relung hatinya yang paling dalam. Memang mulutnya Jo itu tidak memiliki saringan jika berbicara. Sialan!
Sam terhenyak, dirinya seakan melayang di udara. Apakah dia sedang bermimpi di peluk oleh Ara ? Tapi saat dia merasakan cairan yang membasahi dadanya yang dia yakini adalah air mata Ara, Sam sadar ini nyata.
" Sudahlah Ara, Kak Jo mulutnya memang pedas sekali. Bukankah kau sudah terbiasa mendengar kata - katanya yang kasar? " Sam membalas pelukan Ara dan mengusap punggungnya dengan lembut. Ara semakin terisak, tapi tak lama Ara melepaskan pelukannya pada tubuh Sam.
" Maaf. " Sesal Ara sambil menyeka air matanya yang masih tersisa di pelupuk mata.
" Gak apa - apa, aku suka kok. "
" Eh ? "
" Ma.... maksudku aku tidak masalah, yang penting kamu sudah melampiaskan kesedihanmu barusan. " Kilah Sam salah tingkah.
" Oh..... " Ara mengangguk mengerti, lalu terdiam sejenak menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong.
" Sam.... "
" Apa? "
" Sepertinya .... aku menyerah. " Ara berkata dengan lirih dengan pandangan mata yang kabur entah kemana. Ara sudah tak kuat dengan perlakuan Jo terhadap dirinya. Harga dirinya benar-benar sudah di injak - injak oleh lelaki itu. Biarlah cintanya terkubur bersama kenangan. Sudah waktunya Ara menerima kenyataan.
****
Duh.... Ara, kasihan banget sih kamu. Maafin author ya yang bersikap kejam terhadapmu. Tapi tenang aja nanti ada waktunya kamu membalas perlakuan Jojo mu itu. 😎😎😎
Jangan lupa like, kasih komentar, rate dan vote nya teman - teman. Semoga amal kalian menjadi berkah. aamiin 😇😇