
"Eh.... Kenapa jadi begini?" Ara dibuat tercengang saat kembali ke mejanya setelah sejenak berbincang dengan Danil tadi.
"Jojo...." Panggil Ara, ia masih berdiri di depan meja makan yang sudah di dekorasi dengan indah itu. Matanya di buat menyipit merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Jo mendongakkan pandangan dari botol anggur yang sedang ia pegang ke arah istrinya.
"Eh.... Ara, Hai.... " Ucapnya sambil cengengesan dan mengangkat sebelah tangannya ke udara.
Ara mengernyitkan kening, ada apa dengan lelaki ini? Baru beberapa menit yang lalu ia tinggalkan ke toilet keadaannya masih baik -baik saja. Tapi sekarang, penampilan laki-laki itu terlihat sangat berantakan. Dengan dua kancing atas kemejanya yang sudah terbuka dan rambut yang tadinya klimis sekarang menjadi acak-acakan.
Mata Ara lalu tertuju pada botol anggur yang sedang Jo pegang. Botol itu terlihat kosong. "Apa dia menghabiskan semua anggurnya?" Batin Ara.
"Kamu mabuk?" Tanya Ara merasa curiga karena melihat wajah Jo sedikit memerah dan penampilannya yang begitu berantakan.
Jo mengerutkan dahi, lalu menatap botol kosong yang sedang ia pegang. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Tidak." Jawab Jo sambil menggeleng cepat. Karena memang Jo tidak mabuk, minuman anggur itu hanya mempunyai kadar alkohol yang rendah, walaupun ia minum satu botol besar tak membuat laki-laki itu kehilangan sepenuh kesadarannya. Wajah Jo yang memerah itu karena ia sedang penuhi oleh amarah.
"Kamu bohong, kamu menghabiskan anggurnya. Dan lihat! Ish... Penampilanmu sangat menyebalkan." Decak Ara dengan penuh cibiran.
Jo malah tertawa, dan hal itu membuat Ara semakin yakin jika suaminya benar-benar dalam pengaruh alkohol.
"Ayo pulang!" Ajak Ara kemudian. Ia berjalan menghampiri suaminya, meraih tangan Jo dan menyampirkannya pada leher Ara.
Entah kenapa Jo malah senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ara. Jo tatap wajah Ara lekat-lekat. Karena kini jarak mereka begitu dekat. Jo jadi berpikir biarkan seperti ini saja, Jo akan pura-pura mabuk saja. Agar ia tahu seberapa besar perhatian Ara pada dirinya.
Tapi belum sempat Ara meninggalkan restoran. Di pintu ruangan VIP itu mereka di hadang oleh sosok Danil si pemilik restoran. Karena tadi Ara sempat cerita jika Jo mengajaknya makan malam di ruang private di restoran tersebut.
"Dia kenapa?" Tanya Danil begitu heran, karena melihat Jo di papah oleh Ara.
"Dia mabuk." Jawab Ara dengan nada kesal.
Danil mengernyitkan dahi. "Bagaimana mungkin bisa mabuk, disini tidak menyediakan minuman beralkohol kadar tinggi?" Seru Danil merasa tak percaya, karena reputasi restorannya bisa saja di pertaruhkan.
"Dia meminum sebotol besar anggur itu, mungkin kemampuan minumnya begitu payah, jadi ia bisa mabuk walau kadar alkoholnya tidak begitu tinggi." Tutur Ara sambil sedikit mendorong kepala Jo yang malah menghadap ke telinga Ara. Hingga membuat wanita itu merasa geli.
Danil tak percaya, ia menatap Jo dengan tatapan penuh selidik. Mana mungkin seorang presdir perusahaan ternama mempunyai kemampuan minum yang sangat lemah.
"Maaf kak Danil, sepertinya aku akan membawa Jojo pulang sekarang. Bisa bantu aku buat papah dia ke mobil? Tubuhnya berat sekali." Seru Ara meminta bantuan pada Danil.
Jo merasa tidak suka jika Ara menyuruh laki-laki yang sangat menyebalkan baginya itu untuk memapah dirinya. Jo dengan sengaja merangkulkan sebelah tangannya lagi pada leher Ara. Sebagai bentuk penolakan jika dirinya tak ingin di sentuh oleh Danil.
"Jojo, lepaskan tanganmu! Kak Danil akan membantumu berjalan ke mobil. Tubuhmu berat sekali. Aku tidak kuat." Decak Ara sambil berusaha melepaskan sebelah tangan Jo.
Jo mendengus, untuk kali ini ia benar-benar di buat kesal oleh Ara. Begitu enggan kah dirinya di peluk oleh suaminya sendiri. Selintas bayangan senyum Ara saat di peluk oleh Danil menyentak ingatannya. Membuatnya sedikit mendorong tubuh Ara hingga membuat sedikit jarak antara mereka berdua.
Jo berjalan sedikit terhuyung ke depan. "Aku bisa sendiri." Seru Jo sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Ara merasa khawatir, lalu mengejar suaminya dan memperhatikan jalannya agar tidak terjatuh. Sedangkan Danil masih mematung di tempatnya menatap Ara dengan tatapan sendu, merasa kecewa dengan raut wajah Ara yang terlihat begitu khawatir dengan keadaan suaminya. Tapi Danil sangat yakin jika Jo hanyalah pura-pura mabuk saja. Dia sendiri tidak paham mengapa Jo melakukan hal itu. Apakah Jo sengaja membuat Danil cemburu? Tapi kenapa Jo terlihat sangat marah saat Ara meminta Danil untuk menolongnya.
Jo masih dalam mode pura-pura nya, ia terus saja berjalan layaknya seseorang yang sedang terpengaruh alkohol. Dengan susah payah Ara menggiring tubuh Jo untuk masuk ke dalam mobil. Mendudukkan tubuh Jo di kursi samping kemudi. Dan Ara yang mengendalikan kemudi nya kali ini.
"Kau merusak suasana saja." Decak Ara sambil menatap Jo dengan tatapan kesal. Lalu menyalakan mesin mobil hingga terdengar suara deru mobil mereka yang mendominasi atmosfer disana. Jo tak henti - hentinya menahan tawa, walaupun ia masih kesal jika mengingat kejadian Ara berpelukan dengan Danil. Tapi melihat ekspresi kesal yang perlihatkan Ara, Jo merasa lucu juga.
Setelah dua puluh menit mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah besar Jo. Ara lebih dulu membuka pintu mobil dan berjalan mengitari mobilnya untuk membantu suaminya keluar. Jo yang masih berpura-pura hanya diam saja di dalam mobil menunggu istrinya tersebut. Saat pintu mobil terbuka, Ara sedikit membungkuk untuk membantu suaminya keluar, Jo langsung merengkuh leher Ara dan menariknya hingga membuat Ara tersungkur ke tubuh Jo.
Tangan Ara refleks menopang tubuhnya di dada bidang Jo, tapi wajahnya kini berjarak sangat dekat dengan wajah suaminya, sejenak mereka saling tatap hingga nafas mereka terasa saling memburu satu sama lain. Ara begitu gugup, apalagi saat merasakan hembusan nafas Jo yang menyentuh wajahnya tersebut membuat tubuh Ara meremang seketika.
Jo tersenyum menyeringai melihat Ara begitu gugup di hadapannya. Ia angkat sedikit kepalanya dan memberikan kecupan manis di bibir Ara. Awalnya hanya kecupan biasa, tapi lama-lama Jo jadi terlena juga, ia semakin menarik tengkuk leher Ara dan memperdalam ciuman mereka. Ara hampir kehabisan nafas hingga teriakan seseorang memanggil nama Ara di luar mobil membuat keduanya saling melepas satu sama lain. Orang itu adalah mommy Ayura, yang terlihat melangkah mendekati mobil Jo.
"Aww...." Pekik Ara saat kepalanya kepentok pintu mobil. "Sial." Umpat nya kesal. Jo terkekeh pelan, walau sebenarnya ia juga merasa kasihan pada istrinya tersebut. Lantas ia pura-pura tertidur saja.
"Mommy." Ara berbalik badan berdiri menghadap ke arah mommy Ayura tapi masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Ara sangat malu sepertinya mommy Ayura melihat kejadian tadi. Karena posisinya kini tepat berada di belakang Ara. Terlihat sekali dari reaksi mertuanya yang sengaja menutup bibirnya dengan sebelah tangan berusaha menutupi tawanya yang tertahan.
"Jojo mabuk mom, Ara cuma membantunya keluar saja." Ucap Ara seolah memberi penjelasan dengan apa yang mertuanya tadi saksikan.
Mommy Ayura sedikit memiringkan tubuhnya ingin melihat tubuh Jo yang sedikit terhalang oleh tubuh Ara. Ia melihat Jo masih bersandar di jok mobil dan wajahnya yang mengarah keluar saat mata mereka bertemu, satu kedipan dari mata Jo berhasil membuat mommy Ayura kembali mengulas senyum lucu. Ara mengernyitkan dahi melihat mertuanya mengulas senyuman mencurigakan tersebut, ia seketika menoleh pada Jo, tapi dengan cepat Jo kembali menutup matanya dan pura-pura tertidur lagi.
Huhu, jail juga si Jojo ya, Jojo sekarang udah baik jadi gak bakalan ninggalin Ara gitu aja kayak dulu. ☺☺☺
Makasih ya buat yang udah kasih vote selama ini, amih author seneng banget lihatnya. Makin tambah semangat buat ngehalu nih..... Like, komentar sama vote nya masih amih author harapkan ya... Makasih 🥰🥰🥰