
"Jojo bangun!" Ara mengguncangkan bahu Jo dengan perlahan. Tapi Jo masih juga terpejam. Ara sedikit kesal, lalu terbesit senyum usil di bibir mungilnya itu. Ara mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah tampan suaminya berniat ingin meneriakinya seperti yang sering dia lakukan dulu. Tapi saat jarak wajah mereka begitu dekat tiba-tiba saja tangan Jo terangkat dengan cepat menarik tengkuk leher Ara hingga kini bibir Ara tepat berada di atas bibir suaminya. Ara begitu terkesiap melebarkan kedua matanya apalagi saat Jo mulai memperdalam ciuman mereka.
Jo melepaskan pagutannya, lalu Ara segera mengangkat kepalanya sedikit menjauh dari suaminya. Jika tidak, mungkin Ara akan mati kehabisan udara. Sambil tersenyum menyeringai Jo menatap istrinya dengan nafas yang tersengal.
"Ck, kamu mengerjaiku ya?" Decak Ara sambil menepuk pelan bahu suaminya itu.
Sambil terkekeh lucu, Jo memiringkan tubuhnya lalu mengangkat sedikit kepalanya dan di topangkan di telapak tangannya yang dilipat dengan sikunya sebagai tumpuan.
"Aku sudah bangun dari tadi, saat mommy datang aku juga tahu." Ujar Jo dengan santai.
Ara mencebikkan bibir. "Kenapa tadi pura-pura tidur?"
"Malas ah, mommy pasti akan menyuruhku segera bersiap. Tapi aku masih ingin 'bermain' denganmu. Aku gak mau terapi!" Rengek Jo yang kini malah melingkarkan tangannya di pinggang Ara. Bahkan kepalanya dia benamkan di perut Ara.
Deg.
Ara terpaku, sebenarnya dia juga tak ingin Jo terapi secepat ini, mereka baru saja menikmati masa-masa indah pernikahan mereka. Ara tidak tahu apakah kemesraan mereka yang baru saja di mulai akan berakhir secepat ini. Ara membelai rambut suaminya dengan lembut tak terasa cairan bening dari sudut matanya menetes pada punggung lengannya sendiri. Tak ingin di lihat oleh Jo, Ara segera menyeka cairan bening tersebut.
"Kamu harus terapi! Jika tidak maka usaha kita selama ini akan sia-sia saja Jojo." Ujar Ara dengan lirih. Matanya kembali mengerjap berusaha menghentikan air matanya yang hendak keluar lagi.
Jo menjauhkan kepalanya dari perut Ara, lalu mendongak menatap wajah cantik istrinya itu. "Tapi kamu harus janji, apapun hasilnya nanti kamu tidak boleh meninggalkan aku!" Ucap Jo dengan wajah sendunya.
"Iya, aku janji! Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi kecuali jika kamu yang mengusirku nanti." Kelakar Ara sambil mencubit gemas hidung Jo yang mancung.
Jo mendengus, menangkap tangan Ara lalu menciumnya dengan lembut. "Jika aku mengusirmu, berarti itu bukan aku. Kamu harus berusaha membuatku kembali pada diriku yang sebenarnya. Aku yakin kamu pasti bisa!" Ucap Jo dengan yakin.
Ara hanya mengulas senyum, tak ingin terlalu banyak berjanji dengan apa yang akan terjadi di depan nanti.
"Mandi dulu sana!" Perintah Ara sambil menjauhkan kepala Jo. Ara hendak berdiri dan pergi meninggalkan suaminya berniat untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya . Tapi lagi - lagi Jo menarik tangan Ara hingga kembali terduduk di tepi tempat tidur.
"Mandiin!" pinta Jo dengan manja.
"Enggak ya! Kamu udah bukan Jojo yang enam tahun." Tolak Ara sambil menepis tangan Jo dengan lembut. Ara terkekeh, lalu beranjak berdiri dan melangkah untuk melanjutkan niatnya menyiapkan baju ganti Jo.
Sambil mendengus kesal, Jo akhirnya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang terlihat malas. Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jo yang masih terlihat kekanakan. Jika waktu bisa terhenti, boleh tidak sih jika Ara ingin berhenti di waktu ini saja. Ara merasa kebahagiaannya baru saja di mulai, dia baru saja merasa di cintai dan mencintai.
Ara mungkin bisa egois untuk tidak mengizinkan Jo melakukan terapinya yang terakhir, tapi bukan itu niat awalnya menikahi Jo, Ara sudah berjanji akan membuat Jo sembuh kembali. Walau kini hatinya tidak bisa di ajak kompromi selalu saja berpikir negatif dengan hasil terapi Jo kali ini.
***
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Dokter Ichida telah selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tubuh dan mental Jo saat ini. Jo benar - benar telah siap untuk melakukan terapinya sekarang.
Semua persiapan telah di lakukan, Jo hanya tinggal berbaring saja di tempat tidur yang telah di sediakan. Semua orang tampak berkumpul di ruangan khusus itu untuk menemani Jo. Mommy Ayura, Angelina, Ara dan tentu saja dokter Ichida.
"Kamu sudah siap Jo?" Tanya dokter Ichida saat ingin memasangkan alat terapinya di kepala Jo. Posisi Jo kini sudah berbaring di tempat tidur dan Ara berada tepat di samping kiri Jo, dan dokter Ichida berada di kanannya.
Jo menoleh pada Ara, dia mengeratkan genggaman tangan Ara di telapak tangan miliknya. Sambil tersenyum tulus dia berkata. "Tunggu aku bangun, aku ingin melihatmu saat pertama kali aku membuka mata!"
"Ehem ... sepertinya kalian melupakan orang lain yang ada di sini?" Deheman dokter Ichida membuyarkan pandangan mereka. Keduanya pun jadi salah tingkah.
Jo beralih kepada dokter Ichida. "Aku sudah siap Om, ayo kita mulai!" Ucap Jo dengan yakin.
Dokter Ichida melebarkan senyumnya, tumben sekali dokter itu tak membahas hal yang berbau tabu, walaupun dia melihat sendiri kemesraan pasangan suami istri itu di hadapannya. Mungkin saat ini otak dokter paruh baya itu sedang berada di jalur yang lurus. Atau dirinya juga merasa tegang dengan hasil terapi Jo yang akan datang, karena itu selera humornya mendadak hilang.
Semua alat sudah terpasang, layar datar yang berada di samping tempat tidur Jo sudah mulai menunjukkan program itu sedang berjalan. Jo merasakan tubuhnya melemas matanya terkatup-katup minta di pejamkan. Setelah beberapa menit Jo benar - benar hilang kesadaran.
"Kita tunggu dia bangun, mungkin kali ini Jo akan tertidur lebih lama dari pada terapinya yang sebelumnya. Lebih baik kita keluar saja, akan bosan jika menunggunya di sini. Biar sesekali saja aku yang mengawasi keadaan Jo." Ujar dokter Ichida.
"Biar aku di sini saja dokter, aku sudah janji akan menunggunya di sini, sesuai permintaannya tadi." Sahut Ara yang tak ingin pergi meninggalkan suaminya.
"Terserah kau saja, kalau ada apa-apa segera beritahu aku!" Seru dokter Ichida, dari tadi ucapannya selalu datar - datar saja. Sebenarnya Ara heran dengan sikap kalem yang di tunjukkan oleh dokter pribadi suaminya itu. Tapi Ara tak ingin mempedulikan yang lain dulu. Pikiran Ara hanya terfokus pada terapi Jo, dalam hatinya tak henti - hentinya dia melantunkan doa agar terapi kali ini sukses dan Jo segera sembuh dan tidak melupakan dirinya seperti terapi - terapi sebelumnya.
Dokter Ichida segera menggiring Ayura dan Angelina untuk keluar dari dalam kamar dan menunggu di ruang keluarga. Angelina mengambil remot TV dan menyalakan benda persegi itu untuk mengalihkan ketegangan yang ada pada dirinya, dia mencari acara favoritnya. Bukan hanya Angel, mommy Ayura pun merasa demikian. Walaupun dirinya sedang berada di ruangan yang berbeda dengan Jo, tapi hati dan pikirannya tetap tertuju pada anak lelakinya itu. Ayura benar - benar terlihat tegang.
Ayura meminta pelayan menyiapkan minuman ringan dan cemilan, agar suasana terlihat lebih santai kayak di pantai. Menunggu memang kegiatan yang membosankan, tapi itulah yang harus mereka lakukan. Dokter Ichida mulai bertingkah seperti biasa, apalagi kalau bukan melempar candaan receh yang selalu sukses membuat sahabat kecilnya itu tertawa. Tapi tidak dengan Angelina, dia malah memutar bola matanya jengah, candaan itu terasa aneh di telinga Angel, mungkin karena perbedaan masa, hingga dirinya yang terpaut usia jauh lebih muda seakan berada di perkumpulan orang tua. Angel lebih baik fokus menonton televisi saja.
Gelak tawa mereka sejenak terjeda saat Yuri 'pelayan muda' membawakan makanan dan minuman yang Ayura minta. Melihat wajah baru yang terlihat lebih segar dokter Ichida memicingkan matanya. "Hai cantik ... pelayan baru ya?" Tanyanya sambil memasang wajah genit.
Ayura mengerutkan dahi, melempar wajah menyebalkan itu dengan bantal sofa yang berada di sampingnya. "Dasar tua-tua keladi, makin tua gak tahu diri." Gerutu wanita itu sambil mendengus sebal. Dokter Ichida mengaduh kesakitan, lalu mengambil bantal yang menghantam wajahnya itu terpental jatuh ke lantai. Sialan! dirinya mengumpat kesal.
Angelina menoleh sebentar sekedar ingin tahu apa yang terjadi di belakang tubuhnya, lalu mengedikkan bahu dan kembali fokus menatap layar.
Yuri hanya memasang senyum tipisnya, lalu pamit undur diri pada sang majikan. "Kenapa kamu tak bilang kalau punya pelayan bening seperti dia?" kelakar Dokter Ichida sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Ayura mencebikkan bibirnya, ingin sekali dia menggaruk wajah genit itu. "Kau tahu, umurnya hanya satu tahun lebih tua dari Angel. Apa kamu tertarik dengan gadis ingusan hah?" Decak Ayura sambil melipatkan tangannya di depan dada.
Dokter Ichida terperangah, bibirnya terbuka secelah. Bagaimana mungkin gadis itu seumuran dengan Angel. Bentuk tubuhnya terlihat proposional tak sesuai dengan umurnya yang sekarang. Pura-pura kecewa dokter Ichida merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Hembusan nafas kasarnya sampai terdengar di telinga Ayura.
"Makanya segera menikah! Biar hasrat gilamu itu segera tersalurkan." Celetuk mommy Ayura lolos begitu saja, dia bahkan lupa jika anak gadisnya masih berada di sana.
Dokter Ichida menegakkan kembali duduknya, merasa aneh mendengar ucapan Ayura barusan. Perasaan dia tidak membahas hal yang demikian, Kenapa Ayura yang memulai duluan? Merasa terpancing dokter Ichida memasang senyum seringainya, sambil menatap aneh pada Ayura dengan lantang dia berkata.
"Menikah denganmu saja. Bagaimana?"
"Hah?" Reaksi itu keluar dari mulut Angelina, dia seketika menoleh saat dokter berkaca mata itu secara tidak langsung melamar mommynya.
***
Maaf ya, sekedar selingan saja. Dari pada bosan nungguin Jo yang lagi tidur. Lebih baik bahas dokter keren dulu. Hehehe
Jangan lupa dukung Author KLIK LIKE, kasih komentar walau kata lanjut doang, share jika berkenan dan kasih vote jika punya gratisan.
Happy reading. 😆😆😆