
Detik waktu yang terus berjalan tak terasa hari sudah menjelang siang, setelah melakukan pertemuan penting dan mengerjakan beberapa pekerjaannya Sam berencana untuk mengajak Ara makan siang di luar kantor saat jam makan siang telah tiba.
Tapi hal tersebut sepertinya hanya sebatas angan-angan Sam saja, lihatlah laki-laki yang Sam kenal sebagai kakak sepupunya itu kini sedang duduk dengan tenang di sofa tamu di ruangan kerja Sam. Jarak antara kantor pusat dengan kantor cabang Sam memang tidak terlalu jauh. Jadi Jo bisa leluasa berkunjung kesana kapanpun dia mau.
Jo sedang menunggu istrinya, saat setengah jam yang lalu dia datang dan memilih untuk menunggu Ara di ruang kerja Sam, karena wanita itu sedang menemani atasannya bertemu dengan tamu di ruang meeting. Walaupun tak ada tuan rumah, Jo bisa masuk begitu saja ke ruangan itu tentu saja karena jabatannya sebagai presiden direktur kantor pusat membuat tak ada orang yang berani melarang lelaki itu untuk masuk ke setiap ruangan di kantor itu.
Hal itu membuat Ara kembali mengernyit heran, apa sebenarnya yang terjadi dengan suaminya itu, laki-laki itu benar-benar datang, setelah tadi pagi berjanji akan mengajaknya makan siang bersama. Ara beranggapan hal itu adalah sebuah lelucon yang tak perlu Ara dengarkan. Tapi tak di sangka Jo serius dengan ucapannya.
Harusnya Ara senang, jika Jo berubah baik padanya. Tapi hal ini terjadi begitu cepat. Rasanya Ara tak bisa percaya begitu saja. Mungkin ini hanya sandiwara Jo. Untuk kemudian membuatnya kembali terluka.
" Mau apa ke sini ? " Tanya Ara tanpa basa basi. Bahkan Ara tak mau duduk dulu untuk sekedar merilekskan tubuhnya setelah menyelesaikan pekerjaan nya yang sedikit melelahkan.
" Begini ya caramu menyambut suami ? Kau lupa tadi pagi aku bilang apa? " Jo beranjak berdiri lalu berjalan menghampiri istrinya yang mematung tak jauh dari sofa. Sementara Sam, daripada mendengarkan perdebatan suami istri yang hanya akan membuat dadanya sesak, Sam memilih untuk keluar dari ruangannya saja. Saat seorang staff karyawannya memberitahu jika ada presdir group J&J sedang menunggunya di dalam. Sam sebenarnya enggan untuk masuk, karena dia tahu yang dicarinya pasti bukan dia, melainkan Ara asistennya.
Ara melengos dan menoleh pada Sam yang hendak keluar dari ruangannya sendiri.
" Sam, mau kemana? " Ara mengabaikan Jo, dan bertanya pada atasannya itu. Dan Sam pun menghentikan langkahnya seketika.
" Aku akan makan siang bersama papa. " Jawab Sam tanpa menoleh ke arah Ara.
Ara terdiam, sebenarnya dia ingin makan siang bersama Sam untuk menghindari ajakan Jo, tapi mendengar Sam akan makan siang bersama papanya, Ara mengurungkan niatnya itu. Malas sekali jika harus makan bareng dengan orang bermuka dua macam Jacob. Walaupun Ara tahu Sam adalah anak kandung Jacob tapi Ara sangat yakin jika Sam berbeda dengan ayahnya.
" Ada apa ? " Sam membalikkan badannya menatap Ara yang masih mematung di tempat nya.
" Tadinya aku mau mengajakmu makan siang bersama. "
" Hei, kau lupa masih ada suamimu di sini? " Tukas Jo terdengar begitu emosi. Berani sekali Ara mengabaikannya dan mengajak pria lain makan siang di hadapan suaminya sendiri.
Ara tersenyum sinis, lalu menoleh pada Jo. " Apa kau lupa ini bukan di rumah, jika aku pergi berdua denganmu semua karyawan akan curiga dengan hubungan kita. Kalau kita mengajak Sam juga, tentu semua akan beranggapan lebih baik bukan? "
Mendengar itu entah kenapa Jo malah semakin kesal. " Sebegitunya dia tak ingin di ketahui oleh orang lain sebagai istriku. " Gumam Jo dalam hati sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
" Memangnya kenapa? Kamu malu jadi istriku hah? Aku bahkan masih ingat dengan seorang wanita yang bersih keras tak ingin aku ceraikan walaupun sudah aku tawari uang. Dasar munafik. " Dan Jo mulai lagi, kata - kata kasar kembali lolos begitu saja, mulut pedasnya itu sepertinya tak tahan jika tidak di pakai untuk mengumpat orang, dan juga minta di sumpal pake lakban. Menyesal sekali Ara sempat berpikir jika Jo telah berubah menjadi lebih lembut beberapa jam yang lalu.
" Bukannya kamu yang memintanya sendiri tuan Kingsley? Kamu tak mau berita pernikahan kita tersebar di luar. Karena semua ini hanyalah sebuah kesepakatan. Aku selalu mengingat hal itu. " Cibir Ara telak, dia menarik salah satu sudut bibirnya, berucap dengan sinis pada sang suami yang sudah termakan omongannya sendiri.
Ara mendesah pelan, dia akan melewatkan makan siangnya jika terus saja berdebat dengan lelaki itu. Ara beralih pada Sam yang masih berdiri di tempatnya merasa takjub dengan sikap Ara yang berani membantah ucapan kakak sepupunya yang terkenal galak itu.
" Apa kamu sudah janjian dengan papamu Sam? " Tanya Ara yang membuat Sam tersadar dari kekagumannya.
" Ah, apa Ara? " Sam tak begitu jelas mendengar ucapan Ara.
Sam menggeleng, " Belum sih. " Jawabnya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
" Kamu makan denganku saja boleh? Aku sedang tidak berselera jika makan dengan orang yang suka bicara kasar. " Cibir Ara lagi sambil matanya melirik ke arah Jo yang semakin geram saja.
" Ehm.... " Sam mendadak canggung, sebenarnya dia senang jika Ara memilih makan bersamanya, tapi tatapan mata Jo seakan ingin menelannya hidup-hidup.
" Kita makan bareng saja bagaimana? "
Hening seketika, karena ajakan itu berasal dari mulut orang yang baru saja mengumpat Ara dengan kasar. Menoleh bersamaan Sam dan Ara di buat melongo heran.
" Kenapa? Bukannya tadi kamu yang mengusulkan begitu? " Terdengar ucapan Jo dengan nada yang lebih pelan, dan hal itu cukup membuat Ara yakin jika ada yang tidak beres dengan otak suaminya lagi. Sepertinya dia harus bertemu dengan dokter Ichida untuk menanyakan hal ini.
***
Hiruk pikuk keramaian kota dan penuhnya orang-orang yang memenuhi ruangan restoran dengan kebutuhan yang sama di siang itu dengan gelak tawa dan obrolan yang terdengar ricuh tak membuat suasana meja yang terletak di pojok restoran itu menjadi ricuh juga, tak ada obrolan disana, hanya hening dan kecanggungan yang ada.
Ya, disini lah tujuan mereka akhirnya, walau tak memaksa tapi keputusan Jo tak bisa di tolak lagi, pergi ke sebuah restoran siap saji yang berada tak jauh dari kantor Sam adalah keputusan yang tak bisa di bantahkan.
Makanan sudah di pesan tinggal menunggu pelayan mengantarkan makanan. Ara terlihat tidak nyaman dengan mata Jo yang terus saja menatapnya dengan tatapan aneh. Saat dirinya ingin bertanya, kedatangan pelayan yang membawa makanan pesanan mereka menggagalkan niatnya itu. Ara kembali terdiam, menatap pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja. Setelah Ara berucap terimakasih, pelayan itu pun pamit dan mempersilahkan mereka menikmati hidangan.
Tanpa basa basi ketiganya langsung menyantap makanan yang tersedia, namun di sela aktifitas mereka itu tiba-tiba saja Ara di kejutkan dengan adegan romantis yang belum pernah Ara dapatkan sebelumnya.
" Buka mulutmu! " Pinta Jo dengan tangan terulur sambil memegang sendok yang berisi makanan tepat di hadapan mulut Ara.
Ara terperangah hingga mulutnya sedikit terbuka menatap sendok yang kini berada tepat di hadapannya lalu beralih pada wajah Jo yang menyunggingkan senyum manisnya.
" Ahem.... " Sam berdehem, membuat Ara tersadar dan merapatkan bibirnya. Menyahut gelas yang berisi air dan meminum isinya dengan gugup.
Kamu kenapa sih Jojo?
***
Hayo loh Ara, Jojo nya kenapa lagi tuh? Seneng dong kalau Jojo nya udah romantis, tapi kok malah jadi grogi gitu ya Ara nya 😍😍😍
Eh iya.... Author mohon maaf ya, karena kemarin gak jadi up double nya. Waktunya gak memungkinkan buat bisa ngarang lebih dari satu chap. Maafkan ya, authornya juga punya kesibukan lain di luar halusinasinya 😁😁😁. Makasih ya buat yang udah bikin rate aku naik lagi. Jempolnya mantab sekali...
Dukungan kalian selalu buat author senang, dan buat semangat nulis lagi.... Like, kasih komentar, share dan votenya selalu ya.... Makasih 🥰🥰🥰