My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
ADAPTASI



" Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan Jo? " Tanya Ara begitu penasaran dengan perubahan sikap Jo yang tiba-tiba. Kini dia berada di kediaman dokter Ichida, selepas pulang bekerja Ara menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah dokter ahli saraf itu.


" Minumlah dulu! Kau terlihat lelah baru pulang bekerja. Sepenting itukah kesehatan Jo bagimu. Hem? " Dokter Ichida menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan di meja yang berada di ruang tamu tersebut. Seperti biasanya dokter berkacamata itu selalu saja membuat Ara tak tahan untuk memutar kedua bola matanya, merasa jengah dengan kelakar dokter Ichida yang tidak pernah melihat waktu dan situasi itu. Apa perlu Ara menjawab pertanyaan konyol tersebut.


" Aku sedang tidak mau bercanda dokter tampan ku. " Seru Ara sambil mencebikkan bibirnya.


" Wah, sepertinya aku merasa tersanjung mendengarnya Ara. Terimakasih. " Sahut dokter Ichida sambil mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal di hadapan Ara.


Ara mendengkus pelan, menghadapi dokter ini sama saja seperti menghadapi Jo yang sama gilanya.


" Ayolah dokter, aku serius. " Ara menunjukkan wajah memelas nya.


" Memangnya aku tidak serius, Jo suami mu kan? Salah yah kalau aku bertanya seberapa penting dia untuk mu? "


" Jelas saja salah, kau sudah tahu jawabannya, untuk apa di tanyakan lagi. Menyebalkan! " Decak Ara sambil mendengus sebal. Ara melipat tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengerucutkan bibirnya.


Melihat itu dokter Ichida malah tergelak tawa, menggoda wanita muda itu adalah hiburan tersendiri baginya. Tapi dalam hati terdalamnya dokter paruh baya itu sangat menyayangi Ara, dia sudah menggangap Ara seperti anaknya sendiri.


" Baiklah, baiklah.... Aku sudah tahu jika kau sangat peduli dengan suamimu. " Ada jeda sebentar saat dokter itu mengambil sebuah map berwarna coklat yang berada di meja yang sempat dia bawa bersamaan dengan minuman yang di suguhkan di meja itu.


" Ini hasil pemeriksaan menyeluruh dari tubuh dan otak suamimu. " Dokter Ichida memberikan map itu pada Ara. Ara menyahut nya dengan antusias, lalu membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi diagnosa kesehatan. Tapi wajahnya kembali merengut kesal saat Ara membaca isi laporan nya dan ternyata dia tak mengerti apa isinya.


" Aku tidak mengerti isinya. " Keluh Ara sambil memasukkan kembali kertas itu ke dalam map coklat itu. Lalu menyimpan kembali ke atas meja. Wajahnya terlihat di tekuk karena kecewa.


Dokter Ichida kembali tertawa, melihat wajah lucu Ara. " Aku tidak menyuruhmu membacanya. " Kelakarnya di sela tawanya.


Ara mengernyit, " Lalu kenapa kau berikan padaku? "


" Aku cuma mau menunjukkan nya saja. " Seru dokter Ichida tanpa rasa bersalah.


Huh, Ara hampir saja akan menjambak rambut lelaki tua itu, tapi hal itu ter urungkan dan mengelus dadanya pelan menjadi pilihan terbaiknya untuk membuatnya lebih tenang.


" Jelaskan padaku dokter! " Ucap lebih memelas.


" Panggil aku paman, aku tidak suka jika kau terus menyebutku dengan sebutan dokter! "


Lah, memang dia dokter bukan? Berbicara dengan dokter ini benar-benar menguras kesabaran Ara. Terlalu bertele-tele, tapi anehnya Ara tidak bisa membencinya bahkan kadang suka tersenyum sendiri melihat tawa renyah dokter itu yang terlihat bahagia saat membuat dirinya kesal. Ara berpikir mungkin itu caranya untuk mengalihkan rasa kesepiannya selama ini.


" Baik paman, tolong jelaskan padaku hasil laporan ini. " Ucapan Ara lebih lembut tapi terdengar penuh dengan penekanan, sambil telunjuk tangannya menempel di map yang tergeletak di atas meja.


Dokter Ichida tersenyum tipis, hiburannya saat ini mungkin cukup untuk membuat nya tidak terlalu terpuruk dalam kejenuhan nya. Dalam senyum itu seakan dokter Ichida ingin mengucapkan terimakasih untuk kehadiran Ara yang sudah membuatnya merasa punya keluarga.


" Suamimu baik-baik saja, tidak ada catatan berbahaya dalam laporan itu. Hanya saja kondisi mentalnya yang kini sedang dalam tahap adaptasi. "


" Adaptasi? " Ara mengulanginya tanda tak mengerti.


" Ya, kau tahu kan suamimu hilang ingatan selama 3 tahun, lalu tiba-tiba dia tersadar dalam kondisi dia sudah menikah denganmu, dan sebagian ingatannya juga telah dirubah oleh terapi itu. Apa kau pikir itu mudah di cerna begitu saja oleh suamimu? Dia juga perlu menyesuaikan dirinya dengan itu. " Tutur dokter Ichida panjang lebar.


" Itu tergantung dari mood suamimu sendiri. Sepertinya akal sehat dan perasaannya sedang berperang dalam tubuhnya, sehingga kadang sikapnya bisa berubah begitu saja. Setelah semua teknik pengobatan yang di lakukan pada suamimu, walaupun ada sedikit kendala tapi hasilnya juga tidak terlalu bahaya untuk kesehatan Jo, ada terapi lain untuk membuat sikapnya menjadi lebih stabil. "


" Apa itu? " Sela Ara cepat.


" Terapi okupasi dan rekreasi. Dimana kedua terapi itu akan membantu Jo untuk menyesuaikan diri dalam menjalankan kehidupan barunya, dan melatih Jo untuk menikmati waktu senggangnya dan mengembangkan kemampuan hubungan sosial melalui kegiatan - kegiatan yang lebih menyenangkan. " Tutur dokter Ichida lagi, Ara tampak mengerti dengan menganggukkan- anggukkan kepala nya pelan.


***


Setelah mendapat penjelasan dari dokter Ichida, Ara kembali ke rumah Jo dengan perasaan lebih lega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kesehatan Jo saat ini, hanya saja dia perlu menyesuaikan diri lagi, dan tentu saja Ara yang bertugas menjadi pahlawannya. Karena kedua terapi itu hanya bisa dilakukan oleh keluarga terdekat saja.


" Darimana kamu? " Tiba-tiba terdengar suara Jo yang membuat Ara berjengit kaget. Pasalnya dia sekarang sedang duduk di tepi tempat tidur yang berada di kamar yang di tempati istrinya. Sedang apa laki-laki itu di dalam kamar Ara.


" Jojo, sedang apa kamu disini? " Ara malah balik bertanya.


" Jangan mengalihkan pertanyaan, jawab dulu pertanyaanku! Kau dari mana? " Jo mengulangi pertanyaannya sambil berjalan menghampiri Ara yang masih mematung di dekat pintu.


" Aku ada lembur dadakan tadi di kantor. " Jawab Ara bohong. Lalu mengernyitkan dahinya saat melihat Jo berjalan melewati nya menuju pintu, Jo menutup pintunya dan menguncinya dengan rapat lalu menyimpan kuncinya di saku celana.


" Kenapa di kunci? " Tanya Ara heran. Tiba-tiba saja perasaannya berubah tak karuan, apa lagi yang akan dilakukan suaminya sekarang.


Tapi Jo tak menggubris pertanyaan Ara. Dia berbalik dan berjalan mendekati Ara.


" Kau bohong, aku tadi pergi ke kantor mu dan mereka bilang kau sudah pulang dari tadi sore. " Ucap Jo sambil sedikit mencondongkan kepalanya mendekati wajah Ara.


Ara menelan ludahnya dengan susah payah, sepertinya mood suaminya kini sedang tidak bagus, Jo pasti akan bersikap kasar lagi pada Ara.


" Ehm.... Aku.... " Ara jadi gugup, mau bicara jujur pasti akan panjang urusannya, ujung-ujungnya Jo tetap akan marah juga.


" Kau mau merencanakan untuk kabur dariku lagi kan? "


" Eh.... " Ara terkesiap, kenapa lagi-lagi membahas hal itu. Tungu dulu, kenapa Jo berpikiran seperti itu terus? Apa Jo sangat ketakutan jika di tinggalkan oleh Ara, sehingga dia selalu marah jika Ara berniat pergi meninggalkannya. Dan Jo selalu bersikap kasar jika Ara membahas masalah perceraian. Ara jadi ingat dengan semua ucapan dokter Ichida. Mungkin dia akan memulainya sekarang.


" Kenapa kamu berpikiran seperti itu? " Tanya Ara sambil memasang wajah imutnya, kedua matanya menatap lekat netra pekat yang kini menatapnya dengan tajam. Hingga netra itu perlahan meredup merubah raut wajah yang tadinya seram menjadi sedikit datar.


" Mulai lagi dia. " Gumam Jo dalam hati. Tanpa berkata-kata apapun lagi, Jo langsung pergi meninggalkan Ara. Dengan tergesa-gesa membuka kunci pintunya dan keluar dengan raut wajah berbeda.


" Kenapa lagi dia? " Gumam Ara pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Keromantisan Ara dan Jo akan segera di mulai ya teman-teman, terimakasih yang sudah setia menunggu cerita ini berjalan.


Dukungan dan semangat dari kalian tetap author rindukan ya,, klik like, komentar dan juga vote nya jangan di lupakan. 🥰🥰🥰