My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
AKU SAYANG MOMMY



Setelah kepulangan Sam dari rumah Jo, suasana rumah besar itu tampak sepi kembali. Mommy Ayura baru mengabari, jika dirinya dan Angelina akan berada di Jepang sampai akhir pekan. Karena Angelina belum puas berjalan-jalan di tempat kelahirannya, yang terkenal dengan bunga sakuranya yang banyak tumbuh di sana.


Ara mulai bosan, setelah acara favoritnya selesai ia pun menekan tombol off pada remote TV. Membuat layar kotak datar itu menampilkan layar gelap seketika.


"Aku harus ngerjain apa lagi, ya?" gumam Ara pelan, sambil melemaskan tubuhnya bersandar di sandaran sofa. "Coba kalau ada Amel, aku gak akan pernah merasa bosan, jika bersama gadis cempreng itu. Ah ... kenapa tiba-tiba aku jadi kangen dia," gumam Ara lagi, lalu sejenak memejamkan matanya.


"Kamu lagi memikirkan siapa?" Suara yang terdengar dingin membuat mata Ara seketika terbuka. Dan ia sedikit terlonjak saat mendapati suaminya sudah duduk di samping dirinya.


"Jojo, sejak kapan kamu di sini?" tanya Ara begitu heran, bahkan ia tak mendengar sama sekali suara langkah kaki yang mendekatinya saat matanya terpejam.


"Saat kamu bilang kangen seseorang," jawab Jojo menatap Ara dengan tatapan tak curiga.


"Ehm ...." Ara mengerjap gugup, tak disangka ada orang yang mendengar gumamannya tadi, dan lebih sialnya orang itu adalah suaminya.


Menit berikutnya, wajah Jojo semakin ditekuk kesal, pasalnya Ara malah bersikap seolah tak punya salah.


"Aku ngantuk, boleh minta tolong bawa aku ke kamar?" pinta Ara dengan raut wajah datar.


Jo mendengus kesal, ia ingin tahu siapa yang sedang istrinya rindukan. "Jawab dulu pertanyaanku!" seru Jo sedikit memaksa.


"Apa, sih?" Ara mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan sikap sang suami, yang tiba-tiba jadi orang yang kepo dengan urusan dirinya.


"Kamu lagi kangen siapa?" Jo mengulangi pertanyaannya dengan penuh penekanan.


"Bukan urusanmu," jawab Ara sambil mencebikkan bibir tipisnya.


Jo merasa tidak terima, Ara adalah istrinya, bisa bisanya ia mengatakan jika hal itu bukan menjadi urusan Jo. Bagaimana mungkin seorang suami membiarkan istrinya kangen dengan laki-laki lain. Begitulah yang ada dalam pikiran Jo saat ini. Ia berpikir jika Ara sedang memikirkan laki-laki lain.


"Jelas itu urusanku, kamu ini istriku. Mana mungkin aku membiarkanmu merindukan laki-laki lain," sungut Jo dengan sedikit nada tinggi. Ia tak sadar jika nada suaranya itu membuat Ara sedikit ketakutan. Si bunglon ini tidak pernah bisa ditebak, jika ia sedang kumat.


Menyadari istrinya yang terlihat gemetar, ada bias cairan bening yang membuat bola mata Ara terlihat berkaca-kaca. Jo merutuki kebodohannya, ia sudah janji tidak akan membuat Ara menangis lagi.


Dengan cepat Jo merengkuh tubuh Ara, hingga masuk ke dalam dekapannya. "Apa aku menakutimu? Maaf ya!" ucap Jo dengan begitu lembut sambil mengusap lembut rambut legam milik Ara.


Ara terhenyak, jantungnya seperti berhenti berdetak. Aliran napasnya tertahan sejenak dalam pelukan hangat suaminya itu. Hingga akhirnya terdengar desahan napas pasrah, bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk mata Ara. Walaupun ia coba menahannya tetap saja air mata itu keluar dengan sendirinya.


Sampai kapan aku harus menjalani kepura-puraan ini? Sikapnya selalu membuatku melayang tinggi dan kemudian jatuh kembali, gumam Ara dalam hati.


Jo sedikit menjauhkan tubuh istrinya, saat ia merasakan dadanya basah terkena air mata Ara. "Kamu jangan nangis! Aku, kan sudah minta maaf," ucap Jo sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Ara.


Ara diam saja, ia sedikit memundurkan tubuhnya memberikan jarak dengan suaminya. "Aku gak apa-apa. Aku nangis bukan karena takut sama kamu," sanggah Ara sedikit menundukkan kepala.


"Lalu kenapa?" tanya Jo sambil mengangkat tangannya hendak meraih dagu runcing Ara, ia ingin menatap wajah istrinya.


"Sudahlah, aku tidak mau bahas itu, aku mau ke kamar." Ara menepis tangan Jo dengan lembut, lalu berusaha berdiri dengan tenaganya sendiri. Jika memang Jo tak mau membantunya, Ara akan melakukannya sendirian. Ya, hitung-hitung latihan berjalan.


Jo masih duduk di tempatnya, sebenarnya ia sedikit kecewa. Karena istrinya sudah mulai menutup diri darinya. Apakah Jo harus mengatakan saja, jika ia telah mengingat rasa cintanya pada Ara? Namun, hal itu hanya terlintas di pikirannya saja.


Bahkan ia sudah melarang Sam untuk bercerita pada siapapun tentang kesembuhan Jo termasuk pada papa kandung lelaki itu. Namun, Jo tidak bercerita tentang alasan kematian daddy-nya karena ulah sang paman, dan rencana Jo hendak membalas perbuatan papanya Sam. Bagaimanapun juga Sam adalah anak dari pamannya, mana mungkin lelaki itu akan diam saja, jika ia tahu ada seseorang yang hendak melukai papanya sendiri.


Jo beralasan ingin membuat kejutan besar saja untuk orang-orang tersayangnya. Begitupun dengan pamannya, kejutan itu akan membuat lelaki paruh baya itu menyesal dengan perbuatannya.


Ara dengan perlahan melangkahkan kakinya yang masih terasa ngilu, dengan tertatih-tatih sambil berpegangan pada benda apapun yang bisa ia gapai, untuk menopang tubuhnya agar bisa seimbang.


***


Hari demi hari silih berganti, Jo merawat Ara dengan begitu teliti. Tidak membiarkan wanita itu melakukan pekerjaan apapun di rumah itu. Bahkan Jo menggantikan perban Ara setiap hari dengan tangannya sendiri. Pernah terbesit dalam pikiran Ara, jika laki-laki itu sudah mulai mencintainya lagi. Tapi Ara terpaksa menepis pikiran itu,bsaat tiba-tiba sikap Jo berubah dingin kembali. Hah, dasar bunglon tak punya hati, bisa-bisanya ia mempermainkan hati Ara seperti ini.


Ara sudah bisa berjalan kembali, walaupun masih harus berhati-hati. Sedangkan penyangga lengan di tangannya masih setia menopang tulang bahunya yang belum sembuh benar. Karena untuk menyembuhkan patah tulang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Suara bel pintu yang berbunyi membuat seorang pelayan berjalan tergopoh-gopoh untuk mendekati daun pintu. Dengan cepat ia membukakan pintunya ingin tahu siapa yang datang bertamu.


"Nyonya ...." Senyum pelayan itu mengembang seketika, saat melihat kedatangan tamu yang ternyata adalah majikannya sendiri yang baru kembali dari negara asalnya. Pelayan itu menyambut koper yang berada di samping majikannya. Membawanya masuk saat sang majikan terlebih dahulu masuk ke dalam.


"Mommy? Mommy sudah pulang? Katanya besok?" Ara yang sedang duduk di ruang keluarga tiba-tiba saja dikagetkan dengan kedatangan mertuanya. Ia langsung melontarkan banyak pertanyaan.


Mommy Ayura hendak memeluk Ara, tapi tiba-tiba terurungkan, dengan kedua alisnya yang menaut tajam. Saat melihat tangan yang dibalut dengan perban.


"Kenapa dengan tanganmu, Nak?" tanya mommy Ayura begitu terkejut. Lalu berjalan menghampiri Ara dan duduk di sebelahnya. Matanya tetap tertuju pada lengan Ara.


Ara melirik sejenak pada tangannya, lalu kembali menatap mommy Ayura, sebuah senyuman melengkung di bibirnya.


"Cuma terkilir saja mommy, ini udah mendingan," jawab Ara bohong, lalu ia sejenak diam. "Angelina mana, Mom? Dia gak ikut pulang?" tanya Ara saat sadar ternyata mommy mertuanya cuma pulang sendirian.


Mommy Ayura merasa lega, ia percaya jika menantunya cuma terkilir biasa. Lalu mendesah pelan saat mengingat anak bungsunya.


"Huh, anak itu benar-benar keterlaluan, ia malah meminta Mommy untuk menemaninya menghabiskan masa liburannya di sana. Jika Mommy tidak punya kerjaan, Mommy, sih mau saja. Dan dia malah memilih untuk menetap dulu di sana, menghabiskan masa liburnya yang masih tersisa," gerutu sang mommy sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Ara tersenyum mendengar keluhan mommy Ayura tentang Angelina, gadis remaja itu memang selalu bersikap sesuka hatinya, tapi tentu saja masih dalam batas kewajaran.


"Mommy pasti lelah, istirahat dulu saja!" usul Ara sambil memegang bahu mommy Ayura.


"Jo belum pulang kerja?" Bukannya menanggapi usulan Ara, mommy Ayura malah bertanya dengan sedikit mengangkat tubuhnya. Dan Ara menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.


Mommy Ayura melemaskan kembali tubuhnya berbaring di atas sofa. "Mommy istirahat di sini dulu aja, ya!" ucapnya sambil memejamkan mata.


Ara mengangguk walaupun tidak dilihat oleh mertuanya. Senyumnya terbit seketika saat melihat mommy Ayura malah tertidur di sana.


Ara merasakan tenggorokannya begitu kering, hingga ia meninggalkan mommy Ayura yang masih terlelap untuk mengambil minuman di dapur.


Tapi saat ia kembali ke ruang tengah sambil membawa gelas berisi minuman di tangannya. Ia di buat terkesiap saat melihat Jo sudah duduk di samping mommy-nya yang masih memejamkan mata.


Ara mendekati mereka dengan berjalan perlahan, dan dirinya sempat mendengar ucapan Jo yang terdengar begitu lirih dan penuh ketulusan. Sambil menggenggam tangan lembut wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


"Aku sayang Mommy," ucap Jo lirih, diakhiri oleh sebuah kecupan lembut di kening wanita paruh baya itu.


Ara begitu tercengang dengan aksi suaminya tersebut. Ada apa dengan sikapnya kali ini, tumben sekali ia bersikap selembut itu pada mommy-nya sendiri.


***


Kira -kira Jo bakalan cerita gak ya sama mommy ya.. Ayo dong kasih sarannya buat author. Biar sedikit ada gambaran buat ngehalu lagi 😁😁


Like sama votenya jangan di lupain kawan. Itu juga penting dong 😍😍😍