My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
INGIN KABUR



Ara begitu terkesiap saat tubuh Jo mulai merangkak naik ke atas tubuhnya, dengan hanya memakai handuk yang di lilit kan di pinggang, membuat tubuh Jo terlihat sexy dengan dada telanjang.


" Bukannya kamu mau terus bersama ku? " Pertanyaan Jo terdengar sedikit aneh, apalagi terbesit senyum seringai dari bibirnya membuat Ara tak mengenali jika laki-laki ini adalah suaminya. Tidak seperti Jo yang biasanya.


" Apa.... Kamu mau apa ? " Ara beringsut mundur, menarik sedikit tubuhnya menjauhi tubuh Jo yang hendak mengungkung tubuh Ara.


Jo tersenyum kecut, bukankah ini yang wanita itu inginkan, selama ini Ara selalu mencoba menggoda Jo hingga dia bisa terperangkap oleh rayuan wanita itu. Itulah yang selalu Jo pikirkan tentang Ara.


" Selama ini kamu menginginkan ini bukan? Aku akan berikan sekarang, hingga mimpimu untuk selalu bersamaku akan segera terwujud, dan kau tidak pernah bisa lepas dari kehidupanku." Ucap Jo terdengar seperti menggoda. Lihatlah, sekarang mungkin Jo sudah pantas mendapatkan julukan lelaki penggoda juga, seperti yang selalu dia tuduhkan untuk istrinya. Pintar sekali dia bersilat lidah.


Kini Jo benar-benar telah berhasil mengurung tubuh Ara tepat di bawahnya. Membuat Ara semakin gugup sambil menelan ludahnya dengan begitu berat.


" Aku tidak mengerti apa maksudmu Jojo. Cepat lepaskan aku! " Ara mencoba menahan dada Jo yang semakin mendekati tubuhnya, mendorongnya dengan kuat tapi sayang tak membuat tubuh itu bergerak sedikitpun.


Berada sedekat itu dengan Ara, membuat tubuh Jo malah menjadi panas, jantungnya berdebar begitu kencang, dia hanya berniat menggertak Ara saja, agar wanita itu lebih menurut dengan perintahnya. Tapi sekarang apa, dirinya malah terbawa suasana, Jo sudah tak bisa lagi menahan hasratnya.


" Diam! " Bentak Jo yang membuat Ara seketika membungkam, " Kau wanita paling munafik yang pernah aku temui, bukankah katamu kita pernah melakukan ini, lalu kenapa sekarang kau berpura-pura lugu? Apa semua itu bohong? Dan itu cuma alasanmu saja agar bisa tetap bersamaku waktu itu.... hemm?" Imbuh Jo dengan suara yang lebih pelan, dia hendak mendaratkan bibirnya di bibir Ara.


" Plaaaaak .... "


Satu tamparan keras mendarat di pipi Jo, entah dari mana keberanian Ara itu muncul, yang pasti dia sangat tidak terima dengan tuduhan Jo yang keji itu.


Jo terpaku, menatap wajah Ara dengan tatapan aneh, sambil sebelah tangannya memegang pipinya yang terasa perih bekas tamparan Ara. Tapi itu tak berlangsung lama, hal itu justru membuat amarah Jo semakin meningkat saja. Dia langsung membungkam mulut Ara dengan bibirnya secara kasar, membuat Ara meronta dan melakukan penolakan.


Jo semakin menggila rasa panas di dadanya semakin menyiksa, dia tak peduli dengan tangan Ara yang terus-menerus memukul - mukul punggungnya dengan keras. Ara hampir kehabisan nafas.


Jo sejenak melepas pagutannya, hanya sekedar mengumpulkan kan pasokan oksigen yang hampir habis di paru-parunya. Dan hal itu juga di lakukan oleh Ara. Dengan nafas yang saling menggebu keduanya saling beradu pandang.


Ara mengalihkan wajahnya ke samping saat Jo hendak menciumnya kembali.


" Aku benci kamu Jojo. " Ucap Ara lirih. Air matanya pun keluar tanpa dia sadari, Ara memang menginginkan hal itu, Ara memang merindukan suaminya, tapi bukan begini caranya. Ara tak mau di sama kan dengan wanita penggoda. Ara itu istrinya Jo, dia berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya tersebut.


Seakan tak peduli Jo membalikkan wajah Ara hingga menghadap kembali ke arahnya. Jo menautkan alisnya tajam saat melihat air mata yang tergenang di pelupuk mata istrinya, Ara benar-benar menolaknya, dan entah kenapa Jo merasa dadanya sesak saat melihat air mata di mata indah itu.


Jo sedikit mundur, menegakkan tubuhnya tapi dengan kaki yang masih bertumpu dengan lututnya yang mengapit tubuh Ara.


" Ayolah .... Kau jangan berpura-pura takut lagi! Jarang sekali seorang Jonathan Kingsley menyerahkan dirinya pada seorang wanita sepertimu. Kamu termasuk beruntung tentunya. " Jo menarik salah satu sudut bibirnya dengan begitu angkuh.


Ara menggeleng pelan, laki-laki ini benar - benar bukan Jojo nya yang dulu. Cairan bening itu kembali mengalir melukiskan hatinya begitu sakit mendengar Jo terus saja menghinanya. Begitu rendah kah Ara di mata Jo sekarang, sampai dirinya kini sudah tak punya harga diri sedikit pun.


Dengan amarah yang sudah mencokol di ubun - ubun Ara tiba-tiba berontak dan berhasil mendorong tubuh Jo hingga terjungkal ke belakang dengan posisi duduk dan hampir terjengkang jika tidak bertumpu pada keduanya telapak tangannya yang menahan di belakang. Masih untung tidak sampai jatuh ke lantai.


" Dengar ya Jonathan Kingsley Sebastian! Aku bukan wanita murahan. " Bentak Ara dengan keras. Kini posisi Ara duduk bersila sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah Jo.


Jo begitu terkesiap dengan tindakan Ara, besar juga tenaganya. Pikir Jo


Ara berdecih, " Bukankah kamu membenci wanita, suamiku itu Jojo bukan Jonathan Kingsley. Kamu salah orang. " Ucap Ara semakin menantang.


Mendadak kesal, Jo bergegas turun dari tempat tidur dan berdiri menghadap ke arah Ara yang sedang duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Kamu.... Keluar! " Perintah Jo sambil menunjukkan tangannya ke arah pintu kamar.


Ara menoleh ke arah Jo, lalu menyunggingkan senyum peliknya.


" Dengan senang hati tuan Kingsley." Ucapnya dengan penuh penekanan. Lalu beranjak turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, setidaknya Ara bisa bernafas lega, akhirnya Jo mau melepaskannya.


Jo mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur dengan lemas, sambil mengerang frustasi Jo meremas rambutnya sendiri. Jo tak pernah menyangka dirinya akan melakukan hal gila dengan seorang wanita. Oke, sepertinya Ara sudah membuat Jo sedikit gila malam ini.


Ara keluar dari kamar Jo dengan perasaan lega, tapi saat dirinya sudah berada di luar kamar, Ara sempat kebingungan sendiri saat mengingat kini dirinya tak punya tempat untuk beristirahat. Sejenak berdiam diri untuk berpikir akhirnya Ara memutuskan untuk numpang tidur di kamar adik iparnya Angelina.


" Tidur di kamar Angelina saja. " Gumam Ara dalam hati. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar adik iparnya itu.


***


Pagi harinya, Ara terbangun pagi - pagi sekali. Niatnya untuk kabur dari rumah itu tidak dapat di pikirkan kembali, Ara sudah yakin akan pergi meninggalkan Jo. Tapi sebelumnya tentu saja dia akan menandatangani surat cerai yang pernah Jo berikan padanya waktu itu, Ara menyimpannya di dalam laci lemari di kamar Jo.


Ara membuka pintu kamar Jo dengan hati-hati, berharap kamar itu tidak di kunci. Dan ternyata benar, pintunya tidak terkunci dan Ara perlahan masuk ke dalamnya seperti seorang pencuri, Ara hanya ingin mengambil kopernya yang tertinggal semalam disana, sekaligus mengambil surat cerai dan juga membubuhkan tanda tangannya di sana.


Keadaan kamar masih terlihat gelap, hanya ada satu lampu tidur yang menyala membuat suasana kamar menjadi terlihat temaram. Hanya dengan lampu itu saja Ara masih bisa melihat ke sekitar ruangan dan isinya walaupun tidak sejelas saat lampunya benar-benar terang.


" Dia masih tidur. " Gumam Ara pelan saat melihat Jo masih tidur meringkuk di bawah selimut.


Ara melangkahkan kakinya menuju koper miliknya yang masih tergeletak di tempat yang sama seperti semalam. Tapi saat dirinya hendak meraih koper itu dan membawanya keluar, tiba-tiba hatinya ingin sekali melihat Jojo untuk terakhir kali.


Ara memutar tubuhnya lalu berjalan ke arah Jo, menatap lekat wajah lelaki yang pernah singgah di dalam hatinya tersebut, bahkan mungkin sampai saat ini, lelaki ini masih merajai hatinya yang begitu rapuh. Tapi semuanya sudah berubah, Ara sudah tak berarti apa - apa di rumah itu, jadi untuk apa lagi dirinya tinggal, hanya akan menambah besar luka yang sudah Jo torehkan dalam hatinya saja.


Ara mengernyit heran, saat dirinya melihat keanehan dari tubuh suaminya itu, tubuh itu terlihat gemetar, dengan tangan Jo yang memegang erat ujung selimut yang menutup seluruh tubuhnya dan hanya menampakkan kepalanya saja. Jo terlihat kedinginan.


Tanpa di suruh tangan Ara sudah terulur dengan sendirinya, memegang kening suaminya dengan perasaan cemas.


" Panas sekali, tapi kenapa dia begitu kedinginan. " Seru Ara mulai panik. Astaga, lemah sekali wanita ini baru saja melihat suaminya tidak enak badan dirinya langsung berubah tegang, terlihat sekali jika dirinya begitu khawatir.


" Aku harus memberi tahu mommy, sepertinya Jojo sakit. Dia harus segera di bawa ke dokter. " Ara bergegas keluar dari kamar Jo berniat memberi tahu mertuanya jika Jo sedang sakit dan butuh bantuan dokter. Seketika saja membuat Ara lupa dengan niat awalnya yang ingin segera kabur dari rumah itu tanpa sepengetahuan Jo dan keluarganya.


****


Begitulah Ara, dia masih sangat peduli dengan suaminya, apakah Ara akan bertahan sementara waktu karena Jojo sakit, atau dia hanya ingin membantu Jo mendapatkan perawatan dokter lalu dia pergi setelah itu. Di tunggu terus kelanjutannya ya teman-teman.... ! Oke. 🥰🥰🥰


Yuk dukung author lagi dengan klik like, dan kasih komentar walau sekedar kata next doang, dan rate juga vote nya jangan sungkan - sungkan. Kasih yang banyakan ya..., 😍😍😍 maaciw...