My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
SALING MEMBALAS



Jo membuka pintu ruangan kerja Sam dengan begitu kasar, hingga suara benturan yang tercipta membuat orang yang di dalam ruangan tersebut terperanjat dan menoleh dengan cepat.


"Kak Jo?" Sam yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung beranjak berdiri melihat kedatangan kakak sepupunya itu. Kakinya melangkah hendak menyambut Jo yang masih berdiri di ambang pintu.


Jo terlihat begitu menyeramkan, tatapannya yang tajam dengan nafasnya yang menderu seperti menahan luapan emosi yang begitu menggebu. Sorot mata tajamnya mengarah pada seseorang yang duduk santai di sofa tamu di pojok ruangan itu. Dialah Jacob paman sekaligus musuh saat ini.


Jo mengabaikan Sam yang datang menghampirinya. Langkah kakinya berjalan menuju tempat Jacob sekarang.


"Dimana istriku?" Tanpa basa basi Jo langsung menarik kerah baju yang sedang di pakai oleh pamannya itu. Dalam keadaan emosi Jo mengabaikan sopan santun yang selama ini ia tunjukan pada pamannya tersebut.


"Ada apa ini kak Jo? Lepaskan papa!" Sam mencoba melepaskan cengkraman tangan Jo di baju papanya. Ia memang tidak tahu apa-apa, tapi Sam tidak mungkin diam saja jika ada orang yang akan melukai papanya, bahkan itu saudaranya sekalipun.


Jo menepis tangan Sam dengan kasar, hingga membuat lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang. Sejenak menatap Sam lalu beralih lagi pada pamannya. Tatapannya kian tajam seperti ingin membunuh seseorang.


"Cepat katakan! Atau ku bunuh kau sekarang!" Gertak semakin berani mengancam.


"Kak Jo, jaga bicara mu! Dia pamanmu adik dari paman James." Suara Sam terdengar meninggi, ia tak akan membiarkan papanya di sakiti. Jacob hanya diam, ia membiarkan keponakannya tersebut bertindak sesuka hati.


Mendengar nama daddy nya di sebut, emosi Jo malah semakin menyulut. Adik macam apa yang tega mencelakai kakak kandungnya sendiri. Bahkan sampai kehilangan nyawa.


Jo semakin mengeratkan cengkraman nya. "Apakah dia pantas untuk di sebut paman oleh anak kakaknya yang sudah ia bunuh?" Suara Jo terdengar menggelegar di telinga Sam dan juga Jacob.


"Kau ingat hal itu juga?" Jacob akhirnya bersuara, ia begitu terkejut ternyata ingatan Jo yang kembali termasuk masa lalunya sebelum kecelakaan. Bukankah masa lalunya sudah di ubah oleh alat terapi aneh itu. Bagaimana bisa Jo mengingat hal itu juga. Jacob berpikir jika Jo hanya mengingat kenangan manis saat bersama Ara. Dan karena ulah wanita itu lah Jo jadi berubah menentang dirinya.


Jo menghempaskan tubuh Jacob hingga terbentur ke sandaran sofa. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. "Kenapa? Kau takut kejahatanmu terbongkar hah?" Seru Jo dengan penuh amarah. Ia hendak melayangkan satu pukulan di wajah pamannya yang pucat pasi mendengar kenyataan jika keponakannya telah mengingat kembali perbuatannya yang begitu keji.


Tapi pukulan itu tertahan oleh tangan Sam yang mendorong tubuh Jo dengan cepat. Hingga tubuh itu sedikit limbung dan tersungkur di sofa tunggal yang berada di samping tempatnya berdiri.


"Kak Jo tolong, jangan pukul papa! Dia sudah tua. Kita bicarakan baik-baik oke! Sebenarnya apa terjadi?" Tubuh Sam menghalangi tubuh papanya dari jangkauan Jo.


Jo berdecak, tangannya yang mengepal kuat meninju sisi sofa yang ia duduki. Bersamaan dengan keluarnya hembusan nafas kasar agar emosinya sedikit meredam. "Kau mau tahu? Papa mu yang kau banggakan ini telah membun..... "


"Aku tidak berniat membunuhnya. Itu semua di luar dugaanku. Aku hanya ingin memberinya pelajaran dan aku menyesal saat itu." Seru Jacob menyela ucapan Jo selanjutnya.


Bukannya percaya Jo malah tertawa. Begitu lucu mendengar penyesalan yang terucap dari mulut pamannya itu. Jika dia menyesal kenapa kejahatannya tidak berakhir sampai daddy nya meninggal. Tapi justru ia malah semakin kejam membiarkan Jo larut dalam kebodohannya di masa lalu. Membuat ia membenci ibu kandungnya sendiri. Dan bahkan Jacob juga menghambat kesembuhan Jo saat ia masih idiot dengan cara mengancamnya setiap waktu, membuat Jo semakin terpuruk dengan otaknya yang kian memburuk. Apa itu yang namakan menyesal?


"Itu karena aku benci dengan kecurangan ayahmu. Dia merayu Ayura hingga wanita itu tak mau memilihku. Dan juga dia merayu kakekmu untuk memberikan hotel itu atas namamu. Padahal dia masih punya cucu yang lain. Ayahmu itu licik." Jacob tanpa sadar meluapkan emosinya yang lama terpendam.


"Hah, lucu sekali. Kau pikir kau siapa? Hotel itu adalah milik daddy, hasil kerja keras dia selama ini. Ia sengaja menyembunyikannya darimu karena tidak mau kau merasa rendah diri atas keberhasilan yang dia raih. Dan setelah daddy meninggal tentu saja kakek memberikannya atas namaku karena memang aku pemilik hak waris satu-satunya. Lalu mami, dia adalah wanita pandai yang tidak akan salah memilih suami. Mereka saling mencintai, dan kau hanya seorang pecundang yang mengejar istri orang."


Jacob terdiam mendengar perkataan keponakannya tersebut, kata-kata itu seakan menusuk dalam relung hatinya yang paling dalam. Jika memang demikian tentu saja ia salah besar.


Melihat Jacob diam saja, Jo bangkit dari duduknya. Niatnya menemui pamannya adalah untuk menanyakan keberadaan istrinya, bukan untuk mengenang masa lalu yang semakin menyulut emosinya.


Jo menerobos tubuh Sam yang menghalangi tubuh Jacob, lelaki itu tampak kecewa dengan perkataan papanya. Dari kata-kata papanya itu Sam bisa menyimpulkan jika papanya mengakui kejahatan yang di tuduhkan oleh kakak sepupunya tersebut. Sam terdiam membisu menatap Jo yang kembali mencengkram kerah baju papanya.


"Katakan dimana istriku! Aku tidak sesabar itu." Jo benar-benar hilang akal, ia tidak mau kehilangan orang-orang yang di cintai nya lagi gara-gara ulah lelaki tua ini.


"Aku tidak tahu, aku meninggalkannya sendirian setelah mengatakan sesuatu." Sahut Jacob sambil menatap wajah Jo yang terlihat sangar, gertakan Jo tak membuat lelaki itu gentar.


"Kau katakan apa padanya?" Jo mengerutkan kening, hatinya jadi mendadak khawatir.


"Hanya memintanya untuk meninggalkanmu, karena dia tidak pantas untuk mu."


Bukk.....


Akhirnya satu pukulan Jo mendarat di pipi pamannya. Hingga darah segar mengalir di sudut bibirnya yang sudah terlihat keriput di sisi-sisinya.


Sam membiarkan hal itu. Rasanya papanya memang pantas untuk mendapatkannya.


"Sampai kapan kau akan merusak hidupku hah? Brengsek!" Jo ingin memukul lagi tapi rasanya percuma saja melakukan itu. Jo berbalik badan dan melemparkan vas bunga yang berada di atas meja. Sebenarnya ia tidak tega memukul pamannya. Wasiat mendiang daddy nya selalu saja terngiang di telinganya.


"Kau memulainya lebih dulu, kau pikir aku tidak tahu kau sudah menghancurkan perusahaanku. Dan juga membuat sahamku berpindah ke tanganmu." Jacob berbicara lagi. Ia begitu geram saat mengetahui berita dari anak buahnya jika kehancurannya sudah di atur oleh keponakannya sendiri. Jacob tidak sadar jika Jo juga membalaskan kejahatan dirinya di masa lalu. Mereka kini malah saling membalas satu sama lain. Sungguh ironis memang, kejahatan yang di balas kejahatan tidak akan pernah berkesudahan.


***


Jangan lupa like , komentar dan vote nya ya anak-anak. Amih mau istirahat dulu. Besok lanjut lagi. Bye...!