My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
APA KAU MASIH MENCINTAIKU??



Hari ini Jo memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, ia terus saja membujuk istrinya yang masih bersikap dingin terhadapnya.


"Ayolah sayang! Sampai kapan kau mendiamkan ku seperti ini sih?" Bujuk Jo untuk yang kesekian kali.


Kini mereka sedang berada di taman belakang tempat bunga-bunga kesayangan Ara tumbuh dengan indahnya.


Ara melengos, ia mengabaikan suaminya yang selalu saja mengikutinya dari tadi. "Awas ih, itu nanti bunganya rusak!" Seru wanita itu saat suaminya tak sengaja menyenggol pot yang berisikan bunga mawar di atasnya. Pot itu jadi terjungkal tapi tak membuat bunganya jadi berantakan.


"Maaf." Ucap Jo sambil membenarkan posisi pot tersebut ke posisi semula. Kemudian kembali mendekati istrinya.


Ara tak mau menghiraukan, ia tetap fokus dengan bunga mawar yang sedang ia pangkas daun keringnya. Dan saat wanita itu mengaduh karena tangannya tertusuk duri dari tangkai bunga tersebut. Jo langsung menarik tangan Ara dan menghisap buku jari wanita itu yang terlihat mengeluarkan darah segar.


"Hati-hati dong sayang!" Ucap Jo setelah selesai menghisap darah yang keluar sedikit itu. Dan hal itu berhasil membuat wajah Ara merah merona.


"Wajah mu merah." Imbuh Jo menarik sudut bibirnya sebelah. Ketahuan malu Ara sontak menarik tangannya dengan kasar lalu melengos ke sembarang arah.


"Aku gak apa-apa, cuma luka kecil. Gak usah lebay deh!" Ucapnya kesal.


Jo terkekeh, semakin gemas saja ia melihat tingkah istrinya. Jadi ingin menariknya langsung ke kamar. Eh???


"Udahan dong marahnya! Aku ada sesuatu buat kamu." Bujuk Jo lagi sedikit merayu.


Ara mengernyitkan dahi, walaupun masih kesal tapi jika di iming-imingi hadiah tentu wanita itu juga tergoda. "Apa?" Tanyanya penasaran. Sedikit mendongakkan kepala saat Jo mengambil sesuatu dari saku celananya.


"Buat kamu." Jo menunjukkan sebuah kotak kecil berwarna merah, yang kemarin malam dia bawa ke restoran sebagai kejutan untuk acara lamaran. "Maaf sebenarnya momentnya gak tepat tapi mungkin dengan ini kamu bisa maafin aku." Imbuh Jo sambil membuka kotak tersebut, dan terlihat lah sebuah cincin bermata berlian kecil tersemat di dalamnya.


Ara begitu terpesona melihat cincin indah tersebut, mulutnya sedikit menganga dan matanya melebar seakan ingin keluar dari tempatnya. Yang namanya perempuan jika di tunjukan perhiasan yang begitu cantik dan mahal tentu reaksinya seperti ingin menerkam.


"Cantik." Tanpa sadar Ara berkata demikian.


"Kamu suka?" Jo langsung menyematkan nya di jari manis Ara. Dan sebuah anggukkan kepala Ara menjadi jawabannya, dengan mata yang masih terpana dengan cincin yang kini sudah melingkar di jarinya.


"Tadinya aku mau kasih cincin itu di restoran, tapi gak jadi karena keburu kesal saat lihat kamu berpelukan sama mantan bos kamu itu." Ujar Jo sedikit bercerita sekalian ingin mendengar penjelasan dari Ara.


Mendengar itu Ara jadi mendongak, mengalihkan pandangannya dari cincin pada wajah Jo yang berubah dingin. "Jadi kamu lihat saat kami berpelukan?" Tanya Ara dengan raut wajah biasa saja. Tanpa kaget ataupun merasa bersalah.


Ck, reaksi macam apa itu? Jo hanya butuh penjelasan? Tidak perlu di tanya lagi, toh tadi Jo sudah lebih dulu mengatakannya. Kenapa Ara malah bertanya seolah-olah dirinya mengakui dan tidak terkejut saat ketahuan selingkuh oleh suaminya.


Jo mengerutkan dahinya dengan tatapannya yang terlihat menyeramkan. Ara sedikit takut tapi rasanya sudah tidak mempan lagi sekarang. Mau marah ya marah saja, Ara juga masih marah sama suaminya. Jadi impas kan? Begitu pikir Ara.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Ara dengan berani. Jo sedikit tersentak, tak di sangka istrinya seperti tidak merasa bersalah.


Jo mendengus pelan. "Ya, Aku melihatmu berpelukan dengan mantan bosmu itu di restoran. Apa kau mau menjelaskan sesuatu tentang itu?" Seru Jo sedikit tenang, ia berusaha untuk tidak marah dan menakuti Ara lagi.


"Menjelaskan apa? Tidak ada yang perlu aku jelaskan." Tanya Ara pura-pura tidak peka.


Haish, rasanya Jo ingin marah sekali. Tapi itu tidak mungkin, ia takut Ara nya akan kabur lagi. Setelah melewati malam yang benar-benar menggairahkan, Jo tidak akan melepaskan istrinya. Karena hanya Ara lah yang bisa membuatnya terbang ke awang-awang, merasakan nikmatnya surga dunia yang begitu memabukan. Tidak ada wanita lain yang membuat tubuhnya bereaksi seperti itu. Sentuhan Ara merupakan candu yang tidak mungkin Jo tinggalkan.


"Ya sudah, tidak apa-apa." Ucap Jo sedikit kecewa.


Ara mencebik, "Tumben gak marah?" Batinnya.


"Makasih ya cincin nya." Ucap Ara sambil menunjukkan punggung tangannya yang tersemat kan cincin itu.


Ara menatap wajah Jo dengan lekat, ia melihat sorot keseriusan di mata suaminya. Hingga guratan di keningnya menunjukkan kalau dirinya sedang menunggu jawaban. Ara menghela nafas pelan. "Baiklah, tapi hanya sedikit saja." Jawabnya pura-pura.


"Benarkah? Tak apa sedikit juga lumayan." Seru Jo dengan senang, senyumnya melebar dengan sempurna. Ingin sekali Jo memeluk istrinya sekarang. Tapi ia takut Ara akan marah lagi. Keduanya terlihat canggung dan sama-sama diam.


Ada sedikit keraguan di dalam hati Jo, rasa penasarannya terhadap hubungan Ara dan Danil membuat hatinya masih tidak tenang. Tapi Jo tak mau membahasnya sekarang, hal itu mungkin akan membuat mereka berdebat lagi.


Masih merasa canggung, Ara kembali mengalihkan pandangannya pada pohon bunga mawar yang sempat menusuk jarinya tadi. Lalu mengambil semprotan air yang ada di dekat bunga itu dan menyemprotkan air di dalamnya pada bunga tersebut.


"Ara." Panggil Jo.


"Apa?" Sahut Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga mawar.


"Apa kau masih mencintaiku?" Pertanyaan itu membuat Ara menghentikan aktifitasnya. Sejenak terdiam sebelum ia menyimpan botol semprotan yang ia pegang ke tempatnya semula. Lalu berbalik menghadap suaminya.


"Menurutmu bagaimana?" Tanya Ara semakin membuat Jo sedikit ketakutan dengan jawaban istrinya.


"Aku.... Aku tidak tahu, tapi aku sangat berharap perasaanmu masih tetap sama seperti dulu. Saat aku masih idiot, kau mengurus ku dengan penuh cinta dan kasih sayang." Ucap Jo dengan tatapan penuh harap.


Ara tersenyum pelik. "Kau berpikir seperti itu? Apa tidak terlalu melebih-lebihkan?"


"Apa maksudmu?" Jo tidak mengerti. Matanya menyipit dengan kening mengkerut tajam.


"Kurasa kau salah paham. Aku melakukan itu hanya karena tanggungjawab ku terhadap kesepakatan yang aku buat dengan mommy. Tidak lebih." Sumpah demi apapun hati Jo rasanya begitu hancur mendengar perkataan Ara tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak, dan tulangnya seakan lemas tak bertenaga, tubuhnya sedikit limbung, lalu ia mendudukkan tubuhnya pada kursi panjang yang kebetulan berada di dekatnya saat ini. Pikirannya tiba-tiba sangat kacau.


Ara melangkah mendekati suaminya lalu duduk di samping Jo. "Sebenarnya kemarin malam kak Danil meminta ku untuk ikut bersamanya dan pergi meninggalkanmu." Imbuh Ara sambil menundukkan kepala. Ia tatap jari manisnya dan memutar-mutar cincin pemberian Jo tadi.


Jo sontak menoleh, menatap Ara dengan tatapan sendu. "Kamu menolaknya kan? Buktinya kau tidak pergi." Tanyanya masih berharap jika Ara berubah pikiran.


"Aku belum memberi keputusan, ku bilang ingin menunggu kau sembuh dulu, dan sekarang mungkin sudah saatnya aku menjawab. Karena dirimu sudah sembuh bukan?" Sahut Ara sambil menatap wajah Jo dengan senyum mengembang.


Jo menggelengkan kepala, ia tak bisa menerimanya begitu saja. "Kau bohong. Katakan kau hanya bercanda Ara! " Jo memegang kedua bahu Ara dan mengguncang nya berkali-kali.


"Untuk apa aku berbohong." Seru Ara begitu serius.


Bukannya menyerah Jo malah merengkuh tubuh Ara kedalam pelukannya. "Kumohon jangan tinggalkan aku! Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Asalkan kau tetap berada di sisiku Ara. Ku mohon!" Jo berkata dengan penuh permohonan, matanya terpejam merasakan kehangatan yang di alirkan dari tubuh istrinya.


Tapi Ara hanya diam, tak sepatah katapun yang ia lontarkan dalam pelukan suaminya. Hingga Jo merelakan pelukannya terlepas karena takut Ara merasa tidak nyaman.


"Aku juga berjanji tidak akan bersikap kasar lagi. Dan tidak akan berbohong lagi padamu." Tambah Jo sambil menunduk sedih. Dia genggam telapak Ara dengan erat.


"Maaf Jojo." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Ara saat ini hingga membuat hati Jo mencelos sedih.



***


Maaf baru up, semalam ketiduran lagi. Nulisnya belum selesai. Jangan kecewa dulu ya sama kisahnya, ini masih berlanjut. Amih lagi ngetik lagi. Kalau sudah selesai insyaa Allah langsung up hari ini juga.


Kasih dukungan dan sarannya ya, maaf kalau masih banyak typo yang mengganggu, maklum author masih amatiran. Vote Poinnya jangan sungkan - sungkan ya.. Makasihh.