
Di pagi hari yang cerah, burung - burung berkicau saling bersahutan menyambut sang mentari memancarkan sinarnya. Terlihat dua orang insan manusia yang sedang melakukan aktifitas olahraga pagi dengan penuh semangat dan ceria, mereka adalah pasangan Ara dan Jojo. Kini Ara sudah membiasakan diri untuk ikut berolahraga pagi bersama suami imutnya itu. Sambil sesekali Ara menggoda Jojo yang terlihat serius menggerak - gerak tubuhnya agar bisa berkeringat dengan sehat.
" Ara, kamu bisa serius tidak ? dari tadi kamu selalu mengganguku ! " Seru Jojo dengan nada tak suka.
Ara tersenyum cengengesan, " Maaf Jojo, aku hanya capek. Udahan yuk ! " Ajak Ara sambil mengatur nafasnya yang tampak terengah -engah.
" Ck, begitu saja sudah capek, dasar cewek ! " celetuk Jojo, dia pun menghentikan gerakannya dan kembali mengatur nafasnya dengan menarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkan nya dengan perlahan melalui mulutnya, dan itu di lakukannya berulang - ulang. Ara memperhatikan apa yang di lakukan Jojo dan dia pun melakukannya juga.
Lima belas menit berlalu, kini mereka sudah berada di kamar hendak membersihkan diri.
" Aku mau mandi dulu ya, nanti kamu setelah aku ." Ucap Ara hendak mengambil handuk yang mengantung di tempatnya.
" Tidak mau ! Aku duluan yang mandi ." Sahut Jojo sambil menyimpan kedua tangannya di atas pinggang.
Ara mengernyit, terselip senyuman usil di bibir mungilnya. " Bagaimana kalau mandi berdua saja ? bisa lebih cepat kan ? dan kita tidak perlu berdebat siapa yang duluan. " Goda Ara sambil merapatkan bibirnya, menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Jojo yang berubah menjadi garang tapi anehnya semburat warna merah merona terlihat jelas di pipi putihnya, jelas sekali Jojo menahan malu.
" Kamu gila ! aku tidak mau ." Seru Jojo sambil mengalihkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.
Ara pun jadi tertawa, dia sangat senang menggoda suaminya, di fasenya saat ini Jojo sangat menghindari hal - hal yang berbau tabu baginya, terutama kontak fisik terhadap lawan jenisnya, termasuk juga dengan Ara istrinya sendiri. Jojo selalu memperlihatkan wajah malunya jika bersinggungan dengan hal demikian. Dan hal itu di jadikan Ara sebagai bahan hiburan buat dirinya, menggoda Jojo menjadi kesenangan Ara saat ini.
" Ayo lah Jojo, dulu kami sering meminta mandi bareng bersamaku. Kenapa sekarang tidak mau ?" Ara tak henti - hentinya menggoda Jojo, walaupun sebenarnya dirinya juga takut jika Jojo mau menerima ajakannya tersebut.
" Kamu ini tidak tahu diri sekali, aku bilang tidak mau ya tidak mau !" Seru Jojo dengan kesal, " Sudah sana mandi ! biar aku mandi di dapur. " Imbuhnya sambil melangkah dan menyaut sebuah handuk dan di kalungkan di lehernya dan berjalan hendak keluar kamar.
" Kamu yakin ? di sana kan tidak ada bath up dan juga shower. " Ucapan Ara membuat langkah Jojo terhenti. Ara menutupi mulutnya dengan tangannya, menyembunyikan tawa kecilnya disana.
Jojo berbalik, lalu memutuskan untuk duduk di tepi ranjang. " Aku menunggumu saja, cepat sana jangan lama - lama ! " Ucapnya sambil melipatkan tangannya di depan dada.
Ara mencebikkan bibirnya lalu berjalan menuju kamar mandi, tapi saat dia hendak menutup pintu kamar mandinya. Ara kembali menyembulkan kepala nya keluar pintu kamar mandi tersebut.
" Kamu yakin tidak mau mandi bareng ? ini ajakan terakhir loh ! " Seketika saja Ara kembali menutup pintu tersebut dengan cepat menghindari sebuah lemparan handuk yang tertahan oleh pintu yang tertutup.
" Ara, kamu sangat menyebalkan. " Teriak Jojo di dalam kamar. Dan akhirnya Ara tertawa terpingkal - pingkal di dalam kamar mandi, setelah puas tertawa diapun melanjutkan ritual mandinya. Beberapa menit berlalu Ara telah selesai mandi, dia pun melilitkan handuk di tubuhnya, wajah Ara merengut saat ada sesuatu yang hilang. Ups... Ara lupa lagi membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ara memutuskan untuk keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit menutupi bagian dada sampai paha. Ara tidak peduli jika Jojo melihatnya, toh dia tidak akan bernafsu juga.
Jojo yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh ke arah pintu kamar mandi saat mendengar suara pintu itu terbuka, betapa terkejutnya dia melihat Ara yang hanya menggunakan handuk seperti itu. Gadis ini benar - benar gila . Pikir Jojo.
Jojo beranjak berdiri dan melangkah melewati Ara tanpa menatapnya, seakan dia tak melihat Ara di depannya dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat kencang, hingga dentuman suara pintu itu membuat Ara terlonjak di tempatnya. Ara seakan mendapat hiburan tersendiri dia kembali tertawa geli.
***
Kini Ara berada di dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami dan tak lupa membuatkan susu kesukaan suaminya. Lalu membawanya ke dalam kamar, karena sekarang ini Jojo lebih suka memakan sarapannya di dalam kamar, tepatnya di balkon kamar sambil menghirup udara pagi yang masih segar dan menyambut cahaya mentari pagi yang menyehatkan badan.
Jojo sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan baju favoritnya kaos oblong dan celana pendek selutut. Lalu menghampiri Ara yang sudah duduk manis menunggu suaminya untuk sarapan bersama.
" Oh iya Jojo, hari ini dokter Ichida akan berkunjung untuk melakukan pemeriksaan lagi padamu. " Ucap Ara di sela aktifitasnya mengunyah sarapannya.
Jojo mengedik merasa hal itu bukanlah hal yang penting baginya.
" Kenapa reaksimu seperti itu ? jangan bilang kamu tidak mau ! " Ucap Ara sambil melototkan matanya. Merasa kesal dengan sikap suaminya yang biasa saja.
" Siapa yang bilang tidak mau ? aku mau. " Ucap Jojo tak kalah sengitnya. Tapi tiba - tiba wajahnya merengut lalu menundukkan wajahnya " Aku hanya merasa aneh saja. " Imbuhnya dengan suara pelan.
" Aneh gimana ? " Tanya Ara dengan penasaran.
" Aku merasa aneh saja, setiap kali dokter Ichida memeriksaku tak ada reaksi apapun dari tubuhku, bahkan tak ada perubahan sedikit pun, aku merasa sehat - sehat saja. Tapi kalian selalu saja memperlakukan aku seperti orang sakit. " Keluh Jojo sambil memainkan sarapan miliknya dengan sendok.
Ara tersenyum pelik mendengar keluhan Jojo, dia memang belum mengerti apa - apa. Pemeriksaan itu hanyalah tahap awalnya saja, karena yang menentukan perubahan sikap Jojo hanya dengan terapi itu.
" Kamu memang tidak sakit Jojo, kami hanya membantumu untuk mengembalikan ingatanmu yang telah hilang. Dan membuatmu menjadi seorang Jonathan yang sebenarnya. Jonathan yang hebat yang bisa melakukan apapun dengan kekuatannya. " Ujar Ara dengan serius.
Jojo mendongak, menatap wajah Ara yang terlihat tenang, " Benarkah ?" Tanya nya tak percaya.
" Kamu tidak percaya padaku ? " Ara menunjukkan wajah nya lebih serius. Tapi Jojo malah tertawa melihatnya.
" Wajahmu sangat menyebalkan jika seperti itu, tapi aku percaya padamu. " Ucap Jojo di sela tawanya, lalu melanjutkan kembali menyantap sarapannya.
Ara merengut tapi akhirnya tersenyum juga.
" Ara ? " panggil Jojo
" Apa ? "
" Memangnya aku dulu punya kekuatan apa ? apa aku seorang super hero ? " pertanyaan Jojo sontak membuat Ara tersedak saat mengunyah makanannya. Ara tak menyangka Jojo akan berpikir seperti itu. Mungkin Ara salah menggunakan kata - katanya dia lupa Jojo hanyalah seorang bocah lugu.
Ara menyahut segelas air di hadapannya, meminum air tersebut hingga tandas tak bersisa. Masih sedikit berbatuk - batuk dia menatap suaminya yang masih menunjukkan wajah datar, seakan ucapannya tadi bukanlah sebuah lelucon yang dia lontarkan.
" Kamu ini bicara apa ? mana ada super hero di dunia nyata " Ucap Ara kemudian.
" Kamu sendiri yang bilang kalau aku ini punya kekuatan, kalau bukan super hero lalu apa ? manusia biasa tidak mungkin mempunyai kekuatan hebat. " Jojo berkata seolah dirinya berada dalam suatu film super hero yang sering dia tonton.
Ara mendengus, percuma saja menjelaskan panjang lebar, Jojo juga tidak akan paham akhirnya dia memutuskan untuk diam.
" Kenapa diam ? ayo jawab ! " Pertanyaan Jojo membuat Ara semakin terdesak, dia bingung harus menjawab apa lagi, Ara takut kembali salah menjawab. Ara menghela nafas pasrah.
" Dengar ya Jojo, sebenarnya aku tidak tahu masa lalumu seperti apa tapi jika mendengar cerita mommy kamu adalah orang hebat. Itu saja ! " Seru Ara dengan tegas.
Jojo menautkan kedua alisnya tajam. "Katanya kamu istriku, mana mungkin kamu tidak tahu masa laluku ? " Skak matt, ucapan Jojo membuat Ara seketika membungkam, benar saja Ara kembali salah menjawab.
Ara jadi kelabakan, tapi dia mencoba menunjukkan wajah setenang mungkin di hadapan Jojo yang memang lebih kritis di usianya yang sekarang.
" Aku hanya bercanda, kenapa kamu begitu serius ? " Seru Ara dengan senyum lebarnya, berharap Jojo percaya kalau itu hanyalah sebuah candaan.
" Tidak lucu. " Ketus Jojo, lalu menenggak susunya sampai habis.
Ara bisa bernafas lega, sepertinya Jojo percaya begitu saja.
***
Happy reading 😉😉😉
Like , comment, favorite , rate & Vote nya jangan lupa ya... makasih