My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Bersedia Menikah



"Maaf nyonya apa kau tidak takut kalau Jojo akan membenci mu kembali saat dia sembuh nanti. Dan apakah dia juga akan melupakan ku saat dia sudah sembuh?" Ara mulai khawatir, rasanya sia-sia jika pertolongannya hanya akan membuat Jojo kembali menjadi orang yang angkuh dan dingin seperti yang di ceritakan oleh Ayura.


Ayura menatap Ara, kemudian membelai rambut Ara yang halus. "Kamu tidak perlu khawatir Ara, dokter yang menangani Jo adalah sahabatku, dia sangat tahu sikap Jo terhadapku, dan dia akan mengambil kesempatan ini dengan berusaha untuk mengubah kesan masa lalu Jo menjadi lebih baik. Sehingga dia akan tumbuh menjadi orang yang tidak dingin dan yang lebih penting dia tak membenci ku lagi saat Jo sadar kembali di kehidupannya yang sebenarnya. Itu semua tergantung usaha mu dalam merawatnya nanti Ara."


Ara terdiam, mencoba mencerna tiap ucapan Ayura. Ara bingung ketakutannya akan Jojo yang bisa melupakannya saat dia sadar kembali terus menerus menghantui pikirannya. Jika dia tidak berhasil membuat Jojo nyaman dalam masa kecilnya kemungkinan besar hal itu akan terjadi.


"Apa kau berubah pikiran, saat kau sudah tahu masa lalunya Jo, Ara?" Imbuh Ayura memperhatikan raut wajah Ara yang tiba-tiba berubah muram.


Ara memejamkan matanya sejenak, menghela nafasnya dalam-dalam, mencoba mengisi oksigen ke dalam paru-parunya yang terasa sesak. Sehingga membuat pikirannya kembali sedikit tenang. "Aku tidak akan berubah pikiran nyonya, aku akan tetap membantu Jojo, di luar akan atau tidaknya dia melupakanku nanti." Ucapnya dengan yakin setelah membuka matanya kembali.


"Terima kasih Ara." Ucap haru Ayura sambil memeluk tubuh Ara yang mungil.


"Nyonya, apa sekarang aku boleh pulang? Aku tidak mau membuat Bibi Iren khawatir jika aku pulang terlambat." pamit Ara, setelah lepas dari pelukan Ayura.


"Tentu saja, supir akan mengantarkanmu pulang. besok aku akan menjemputmu lagi, untuk bertemu dengan dokter Ichida, sahabatku itu." Ucap Ayura sambil merapikan rambut Ara yang terjuntai kedepan dan menyelipkannya di telinga Ara.


Ara mengangguk, kemudian beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah itu, dengan di dampingi oleh Ayura. Sampai Ara masuk ke dalam mobil dan dibawa keluar meninggalkan pekarangan rumah mewah tersebut.


***


Jojo mengerjapkan matanya berkali- kali, saat dirinya kembali tersadar dari alam mimpi. Kemudian mencari sosok wanita yang di harapkannya selalu ada saat dia bangun, dia mengerak-gerakkan kedua bola matanya ke kiri dan ke kanan, tapi yang di lihatnya hanya lah benda mati yang selalu mengisi ruangannya tersebut. Sampai terdengar suara pintu yang terbuka membuat Jojo menoleh ke arahnya.


Ceklek


Pintu kamar Jojo terbuka diiringi oleh tubuh Ayura yang menyembul memasuki kamar tersebut. Jojo mengerjap - ngerjapkan matanya sambil menatap polos sang mommy yang menghampirinya. "Kau sudah bangun nak?" Ayura mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur di samping Jojo, dia membelai lembut puncak kepala Jojo.


"Ara mana mom?" tanya Jojo.


"Dia pulang sayang."


"Kenapa pulang? Bukankah kata Mommy Ara akan tinggal di sini?"


"Apa kau ingin Ara tinggal di sini?"


"Tentu saja."


Ayura tersenyum, kemudian mengelus halus pipi anak lelakinya itu. "Kalau Jo ingin Ara tinggal di sini, Jo harus menikah dengan Ara. Apa Jo bersedia?" Ayura bertanya sambil memiringkan kepalanya.


"Menikah?" Seru Jo sedikit bingung.


"Hmm..." Ayura menggangguk mengiyakan


"Anak gadis tidak boleh tinggal bersama lelaki dewasa kalau mereka tidak menikah." Imbuh Ayura memberi pengertian.


"Tapi dulu, Jo bisa tinggal di rumah Ara tanpa menikah." Seru Jojo sambil menatap wajah mommynya dengan serius.


"Itu beda sayang, kamu kan mau mengajak anak gadis orang untuk tinggal di rumahmu, kalau kamu menikah, Ara bisa menemanimu sepanjang waktu. Bahkan kalian bisa tidur di kamar ini sama-sama." Ayura menangkup wajah anaknya yang menggemaskan itu dengan kedua tangannya.


Jojo mengerjap bingung. "Apa aku boleh menikah?" Tanya nya polos.


"Tentu saja sayang, umurmu sudah dewasa kamu sudah bisa menikah." Sahut Ayura.


"Tapi kata orang otak ku itu bodoh, jadi...."


"Mommy sudah bilang berkali- kali Jo, otak mu hanya butuh terapi sedikit saja, kamu pasti akan kembali seperti dulu, jangan pernah berkata kalau otak mu itu bodoh!" Tukas Ayura memotong ucapan Jojo. "Siapa yang berani bilang seperti itu Jo?" Imbuh Ayura dengan sedikit emosi.


Jojo menunduk, dia meremas jari- jari nya dengan gugup, tidak mungkin dia mengatakan kalau orang itu adalah pamannya sendiri, dia sangat takut karena pamannya selalu mengancam akan melukai mommy nya kalau dia mengadu. "Tidak ada mommy, itu cuma pikiran Jo saja." Jojo berbohong.


"Dia bersedia." Jawab Ayura dengan senang.


"Benarkah?" wajah Jojo terlihat bersemangat, dia juga senang.


"Hmm..." Ayura juga mengangguk dengan senyum cerianya.


"Yeeaaayyyy.... Jo mau menikah Jo mau mommy. Ituu artinya Jo bisa bermain dengan Ara setiap hari." Jo berteriak kegirangan.


Ayura tersenyum lebar, melihat tingkah anaknya yang masih sangat polos itu, walaupun dia tidak tahu arti dari menikah yang sebenarnya, tapi Jojo sangat bahagia. Yang Jojo tahu Ara akan menemaninya setiap hari di rumah itu jika mereka menikah nanti.


***


Di Rumah Iren


Ara sudah berada dalam kamar nya sejak 30 menit yang lalu. Semenjak dia keluar dari rumah mewah Jojo, pikirannya tidak bisa tenang. Walapun dirinya sudah yakin akan membantu menyembuhkan Jojo, tapi ada satu hal masih mengganjal di dalam hatinya, yakni dia tidak bisa meninggalkan Iren sendirian, jika nanti dia sudah menikah dengan Jojo.


Ara sedang merangkai kata, agar Iren bersedia ikut dengannya tinggal di rumah Jojo.


"Ara...." Teriakan Iren dari luar kamar Ara membuat Ara terlonjak kaget. "Makan dulu!" Imbuh Iren tanpa menunggu jawaban dari teriakannya sebelumnya.


"Iya Bi...." Sahut Ara, sambil melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan keluar dari kamar tersebut.


Ara melangkahkan kakinya menuju meja makan, dia menarik kursi kosong di depan meja makan dan mendudukkan tubuhnya disana, Iren meraih piring kosong yang ada di depan Ara hendak mengambilkan makanan di piring itu.


"Tidak usah Bi, biar Ara saja!" Tukas Ara menyaut piring kosong yang sedang di pegang Iren.


Iren tersenyum dan membiarkan Ara dengan keinginannya sendiri, kemudian dia duduk di kursi dan mengisi piringnya sendiri dengan makanan di hadapannya. Ara pun melakukan hal yang sama, Lalu keduanya makan malam bersama.


"Bi, ada yang mau Ara katakan." Seru Ara di sela aktifitas makannya.


"Katakan lah Ara!" Sahut Iren, sambil mengunyah makanan dan menelannya dengan cepat.


"Aku mau menikah." Ara menyimpan sendok nya di atas piring dan berkata dengan wajah serius.


Iren seketika tersedak, makanan yang hendak masuk ke dalam perutnya seakan tertahan di tenggorokan, Ara langsung menyaut segelas air dan memberikannya pada Iren. "Hati- hati Bi! minum lah! " Seru Ara menyodorkan segelas air.


Iren meneguk air dengan cepat, dengan sedikit terbatuk masih merasakan sakit di tenggorokannya. "Dengan siapa? Kenapa mendadak sekali? Apa terjadi sesuatu denganmu?" Beberapa pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Iren.


Ara menggeleng. "Dengan Jojo Bibi " jawabnya singkat.


Iren mengernyit heran, bukannya kemarin dengan tegas Ara sudah menolak lamaran nyonya Ayura, kenapa sekarang dia berubah pikiran? Apa Ara tergoda dengan kekayaan yang di tawarkan nyonya Ayura? Dan dia ingin menjadi kaya seperti dulu. Iren sedikit kecewa, tapi Ara juga berhak hidup bahagia, Iren tidak bisa tetap menahan Ara untuk hidup susah bersamanya.


Iren mencoba tidak menunjukkan raut wajah kecewanya, dia pun tersenyum tulus.


"Bagus lah, akhirnya kamu menerimanya." Ucap Iren lalu meminum kembali air dalam gelas yang dari tadi masih dia pegang.


"Bibi, ikutlah bersamaku jika nanti aku menikah dan tinggal di rumah Jojo, aku mohon!" Ara berkata dengan serius sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada


Iren mendongak, dia mengerjap bingung, dengan susah payah dia menelan air yang baru saja masuk kedalam mulutnya.


***


Jangan lupa vote dan dukungannya lainnya ya readers...makasih


amy