My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Tidak bisa mandi



Ara kembali mendekati Jojo yang sedang duduk ketakutan, lalu duduk di sisi ranjang. "Jojo ... aku akan menemanimu tidur," ucapnya sambil memegang pundak Jojo.


Jojo langsung mendongak. "Benarkah?" tanyanya, terlihat binar keceriaan dalam kelopak matanya.


"Hmmm ...." Ara mengangguk, "tapi untuk malam ini saja!" imbuh Ara sambil mengacungkan telunjuknya ke atas tanda memperingatkan.


Jojo tersenyum senang, kemudian mengangguk dengan cepat.


"Bibi juga temani kamu, tapi tidur di bawah. Bibi ambil kasurnya dulu, ya!" Iren pamit sebentar untuk mengambil kasur lipatnya yang berada di kamar Iren. Tidak lama kemudian, dia kembali ke kamar Ara dengan membawa kasur itu.


Ukuran kasurnya hanya untuk satu orang, tetapi lumayan tebal. Membuat Ara tidak perlu khawatir dengan kesehatan bibinya. Senyum Ara mengembang sembari membantu Iren untuk menggelar kasurnya di dekat ranjang Ara. Dengan begitu, Ara bisa tidur tenang tidur dengan Jojo di kamar itu.


Jojo segera membaringkan tubuhnya lagi, dan Ara duduk bersandar di kepala ranjang di samping tubuh Jojo. Jojo mendekatkan tubuhnya dengan Ara , kedua tangannya memegang sebelah tangan Ara dengan erat. Lagi-lagi membuat jantung Ara berdebar kencang tak beraturan. "Tenang Ara dia cuma anak kecil!" batin Ara menenangkan dirinya sendiri.


Tidak lama Jojo pun tertidur pulas, Ara memperhatikan wajah polos Jojo, terlihat guratan ketakutan di kening lelaki itu, tetapi makin lama guratan itu kian memudar. Wajah itu kini menunjukkan ketenangan dan guratan senyum di sudut bibirnya, bersamaan dengan lelapnya Jojo menuju ke alam mimpinya.


"Dia sangat tampan, kalau sifatnya tidak seperti anak kecil mungkin aku sudah jatuh cinta padanya," gumam Ara pelan, tanpa sadar ucapan itu terlontar begitu saja. Hingga ia tersadar, lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Hah, apa yang aku pikirkan? Orang ini hanya orang asing yang punya kelainan mental, mana mungkin aku bisa berpikir untuk jatuh cinta padanya. Dasar bodoh!" Ara mengumpat dirinya sendiri, ia menengok ke arah Iren untuk memastikan wanita tua itu tidak mendengar perkataan anehnya barusan. Ara menghela napas lega, karena Iren sudah terlelap dalam tidurnya.


Ara mencoba untuk tetap terjaga, karena walaupun ada Iren di kamar itu, Ara harus tetap waspada dengan Jojo. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan Jojo, tetapi genggamannya terlalu erat sehingga Ara tidak bisa melepasnya.


Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menggelayut di kelopak mata Ara. Menyuruhnya untuk segera tertutup. Sehingga membuat Ara tidak bisa lagi mempertahankan kewaspadaannya, matanya seperti digelayuti benda berat yang memaksanya untuk tidur. Ara tidak sanggup melawan itu. Ia benar-benar menutup kelopak matanya dan terlelap masuk ke dalam dunia mimpinya. Tanpa disadarinya, sebelah tangannya dengan mesra memegang puncak kepala Jojo.


****


Suasana pagi yang cerah, tampak sinar mentari pagi menyelinap masuk ke celah jendela kamar Ara, menusuk tepat di kelopak mata Iren yang tiba-tiba mengerjap akibat silaunya pancaran cahaya itu. Iren menyipitkan kedua matanya, kemudian membuka mata dengan perlahan. Iren beranjak duduk, lalu menoleh ke arah ranjang Ara.


Terlihat mereka masih tertidur pulas, dengan tangan Ara yang masih digenggam oleh Jojo, cuma posisi Ara sudah tidak duduk bersandar lagi. Dia tidur berhadapan dengan Jojo, dengan tangan sebelahnya sudah turun memeluk pundak Jojo.


"Mereka lucu sekali, sepertinya masih aman," kekeh Iren, sembari tertawa kecil. Tidak ingin mengganggu tidur mereka, Iren bergegas membereskan kasur lipatnya, lalu disimpan di sisi lemari milik Ara, karena takut suatu saat akan dipakai lagi di sana.


Iren kemudian keluar dari kamar Ara, lalu menutup pintu dengan pelan, tetapi suara pintu yang tidak keras itu ternyata membuat Ara mengerjapkan kedua matanya. Suara pelan itu seolah mengembalikan kesadarannya.


Dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba-raba sesuatu yang aneh di hadapannya, seperti pundak seseorang. "Apakah ini pundak Emon?" batin Ara. Emon adalah boneka robot kucing berkumis yang mempunyai kantung ajaib di perutnya. Boneka milik Ara yang dari kecil selalu menemani tidurnya, waktu dia keluar dari rumahnya dulu dia juga membawa boneka itu.


"Ish ... sejak kapan Emon menjadi kurus kering seperti ini?" Ara masih mengelus-elus pundak asing itu. Rasa kebas yang menyerang tangan kirinya membuat Ara lekas menggerakkannya. Namun, tangan itu tertahan oleh tangan Jojo, hingga Ara semakin merasa heran.


"Eh, sejak kapan pula Emon bisa menggenggam tanganku?" Daripada semakin penasaran, Ara pun menyipitkan kedua matanya mencoba mengintip sekaligus menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang sudah memenuhi ruangan kamar itu.


Betapa terkejutnya dia, ketika seluruh nyawanya telah terkumpul semua, yang terlihat dalam pandangan matanya adalah Jojo yang sedang tidur dengan lelap. Ara sontak membulatkan matanya dengan sempurna, lalu merubah posisinya menjadi duduk tegak. Secara tidak sengaja, dia menarik tangannya yang digenggam Jojo dengan kasar. Sehingga membuat Jojo bergerak sedikit, tetapi kemudian tertidur kembali.


Ara masih terpaku sambil terus menatap Jojo dengan lekat. "Astaga ... kenapa aku bisa lupa kalau semalam aku tidur dengan orang ini?" gumamnya.


Ara teringat sesuatu, lalu menoleh ke arah lantai di mana Iren semalam tidur. "Kemana Bibi Iren? Kenapa dia tidak membangunkan aku? Aku 'kan, harus kerja hari ini." Tanpa berpikir lagi, Ara segera turun dari ranjang dengan perlahan. Ia tidak ingin membuat Jojo terbangun.


Ara mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tidak lupa membawa baju ganti agar bisa mengganti bajunya dalam sana, karena dalam kamar itu masih ada Jojo.


Setelah Ara selesai, dia keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapih. Ara terkejut karena melihat Jojo sudah bangun dengan posisi sedang duduk melamun.


Jojo menoleh ke arah Ara, dengan wajah yang masih layu. "Kau mau kemana, Ara?" tanyanya saat melihat Ara dengan berpakaian rapih.


"Aku harus bekerja, kamu di rumah saja bersama bibi Iren, nanti kalau sempat aku akan mencari rumahmu sepulang kerja? Gak apa-apa, 'kan?" Ara berbicara dengan lembut pada Jojo.Jojo yang masih mengantuk hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Anak baik," ucap Ara sambil menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk senyuman manis di sana.


"Kamu mandi dulu, ya! Aku tidak punya baju laki-laki, nanti aku coba tanyakan pada bibi Iren mungkin masih ada baju peninggalan suaminya yang bisa kamu pake," perintah Ara sambil mengambilkan handuk baru di dalam lemari dan memberikannya pada Jojo.


"Pakai ini! Kamu bisa mandi sendiri, 'kan?" imbuh Ara dengan menyodorkan handuknya.


Jojo mengangguk, dia mengambil handuk itu, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ara pergi menemui Iren di kamarnya, dia ingin meminjam baju peninggalan almarhum suami Iren untuk Jojo. Setelah mendapatkannya Ara kembali masuk ke kamarnya. Ara duduk di tepi ranjang menunggu Jojo keluar dari kamar mandi.


"Sudah dua puluh menit, kenapa dia lama sekali? Lagipula, kenapa dari tadi aku tidak mendengar suara air dari dalam sana," ucap Ara. Karena kamar mandinya tidak memakai bath up, dan tidak ada shower, seharusnya pasti akan terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.


Ara curiga, kemudian dia berjalan mendekati kamar mandi, lalu menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. "Tidak ada suara, apa yang dia lakukan?" gumam Ara lagi.


Ara menggedor pintu kamar mandi dan memangil-manggil nama Jojo, tetapi tidak ada balasan dari dalam. Ara terus menggedor pintu seraya memanggil nama Jojo dengan lebih keras, sampai terlihat gagang pintu itu bergerak lalu pintunya pun terbuka.


Betapa terkejutnya Ara, melihat Jojo yang masih utuh memakai bajunya yang semalam dan masih dalam keadaan kering. "Kamu belum mandi?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya. Jojo menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lalu ngapain aja kamu berlama-lama di dalam?" Ara bertanya lagi dengan kesal.


Jojo merasa bersalah, dia menautkan kedua tangan dan menyatukan kedua telunjuknya di depan dada. "Maaf Ara, aku ketiduran di dalam. Aku bingung dengan kamar mandinya. Baknya terlalu kecil, aku nggak bisa masuk. Karena aku masih ngantuk aku jadi ketiduran di situ," terang Jojo dengan hati-hati, tangannya menunjuk sebuah bangku semata berukuran kecil di dalam kamar mandi.


Ara memang sengaja menyimpan bangku kecil itu, untuk memudahkan dirinya untuk duduk saat mencuci baju, karena dia tidak punya mesin cuci untuk membersihkan bajunya.


Mendengar itu Ara nyaris tertawa, tetapi ia berusaha untuk menahannya. "Kamu tidak bisa mandi?" tanya Ara kemudian.


Jojo melebarkan matanya dan berdiri dengan tegap. "Aku bisa mandi, tapi bak mandi di rumahku tidak sekecil itu, bagaimana bisa aku mandi kalau gitu!" sanggah Jojo dengan polos, seolah dirinya hebat bisa mandi sendiri.


"Hah?" Ara melongo, dan untuk kali ini ia tidak bisa menahan tawanya, akhirnya tawa pecah juga. Kepolosan Jojo sungguh luar biasa.


"Kamu ini ada-ada saja, itu bukan bath up. Kamu tidak boleh masuk ke dalamnya," seru Ara di sela tawanya. Untuk pertama kalinya ia bisa tertawa lepas seperti itu lagi, setelah semua kejadian sedih yang menimpanya selama ini. Sepertinya kehadiran Jojo menjadi hiburan baru dalam kehidupan Ara. Membuat Ara jadi lebih bahagia.


***


bersambung...


semangat ngumpulin poin terus ya...


jangan lupa kasih vote, like dan komennya, aku tunggu loh...


terimakasih.