
Ayura tampak terlihat panik duduk di kursi kecil di depan kaca rias milik Ara, dirinya sedang memperhatikan dokter pribadi keluarga Sebastian yang bernama dokter Aldo yang sedang memeriksakan keadaan Jo sambil duduk di tepi tempat tidur. Dokter itu memeriksa denyut nadi serta suhu tubuh Jo.
Dokter Aldo melepaskan stetoskop yang menempel di telinganya, lalu membenarkan kembali selimut yang tadi sempat dia singkap saat hendak memeriksa denyut jantung serta pernapasan Jo. Saat Jo hendak di bawa ke rumah sakit Jo menolak sambil memberontak, Jo seperti ketakutan tapi tubuhnya tetap menggigil seperti kedinginan. Dengan terpaksa akhirnya dokter Aldo memberikan suntikan obat penenang pada tubuh Jo. Dan juga memasang selang infus di tangannya agar panas tubuhnya sedikit berkurang.
" Bagaimana keadaannya Al? " Tanya mommy Ayura dengan begitu khawatir saat dia tahu jika Aldo sudah selesai dengan pemeriksaannya, karena Aldo sudah melepas alat kesehatan di telinganya itu. Aldo adalah dokter muda seumuran dengan Jo, dari kecil dirinya sudah di rawat dan di sekolahkan oleh tuan James Sebastian ayahnya Jo sampai menjadi seorang dokter. Ayura sudah menganggap laki-laki itu seperti anaknya sendiri.
Aldo tersenyum menatap majikan nya dengan raut wajah tenang. " Nyonya tidak perlu khawatir! Tuan Jo baik - baik saja, dia hanya demam biasa. Cukup minum obat dan beristirahat saja. " Ujar Aldo dengan sopan. Sejak kecil dirinya selalu patuh dengan keluarga itu.
Ayura menghela nafas lega, belum sempat dia memberi tanggapan suara derap langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam kamar yang terdengar begitu berisik di telinga Ayura, membuat ibu dari dua anak ini menoleh ke asal suara. Matanya langsung melengos saat melihat yang datang ternyata orang yang selalu membuat suasana menjadi gaduh, siapa lagi kalau bukan dokter syaraf kesayangannya. Dokter Ichida.
" Kenapa kau baru datang? " Decak kesal Ayura, pasalnya dia sangat susah sekali untuk menghubungi sahabatnya itu, untuk memberi tahu keadaan Jo yang mendadak demam tinggi. Hingga wanita itu akhirnya mengirimkan pesan singkat pada dokter berkaca mata itu, berharap dokter Ichida akan membacanya nanti.
Dokter Ichida berjalan mendekati Jo, menatap wajah yang terlihat pucat dan masih memejamkan matanya. Lalu matanya beralih pada dokter muda yang masih duduk di samping Jo.
" Hai dokter Aldo! Apa kabar? " Sapa dokter Ichida. Walaupun tak begitu dekat tapi mereka sempat beberapa kali bertemu. Jadi mereka sudah kenal satu sama lain.
" Seperti yang anda lihat tuan, saya baik - baik saja. " Layaknya pelayan yang patuh kepada majikannya, Aldo selalu bersikap segan pada setiap orang yang dekat dengan keluarga besar Sebastian, baginya berbakti pada keluarga itu adalah tujuan dari hidupnya sekarang.
Merasa terabaikan Ayura beranjak berdiri, lalu memukul bahu dokter Ichida dengan sedikit keras hingga terdengar suara mengaduh dari pemilik bahu tersebut.
" Kenapa kamu suka sekali memukulku? " Decak dokter Ichida seketika menoleh ke arah Ayura.
Mommy Ayura mendengus, " Kamu tidak melihat aku ada di sini dari tadi? Aku tadi bertanya kenapa kamu baru datang, tapi kamu malah menyapa Aldo duluan. " Gerutunya kesal, entah kenapa jika dengan dokter keren ini, Ayura selalu bersikap seperti anak kecil. Apa karena mereka memang sudah bersahabat dari kecil, sehingga Ayura selalu menganggap laki-laki itu teman kecilnya.
" Aku tidak dengar. " Kilah dokter Ichida sambil mengusap bahunya pelan. Lalu beralih lagi pada dokter Aldo.
" Apa kau sudah memeriksanya ? " Tanya dokter Ichida sambil menoleh ke arah Jo.
" Sudah tuan. "
" Apa hasilnya? "
" Untuk sementara diagnosa saya hanya demam biasa saja, tapi saya sudah mengambil sampel darah tuan untuk di cek di laboratorium takutnya ada sesuatu yang serius dalam tubuhnya tuan muda. " Ujar dokter Aldo panjang lebar, walaupun dokter Ichida juga seorang dokter tapi untuk masalah penyakit dalam tentunya dokter Ichida juga bukan bagiannya.
" Sudah kau periksa? "
" Periksalah dengan teliti, Jo baru sembuh dari trauma otaknya, aku takut terapi itu menimbulkan masalah pada organ tubuh Jo saat ini. Dia masih rentan, tiga tahun hilang ingatan bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menyesuaikan sikap dan tubuhnya saat ini. " Tutur dokter Ichida sambil menatap iba tubuh Jo yang terbaring tak berdaya.
" Baik tuan, Nyonya.... saya permisi. "
Dokter Aldo pun berlalu keluar dari dalam kamar Jo.Di pintu kamar Aldo berpapasan dengan Ara yang tadi pergi ke dapur untuk mengambilkan air es untuk mengompres kening Jo yang masih terasa panas. Karena hal itu juga di anjurkan oleh dokter Aldo.
Ara mengulas senyum saat dokter muda itu juga melempar senyum ramahnya, " Jangan lupa memberikan tuan muda obatnya juga nona! " Ucapnya mengingatkan Ara.
Ara hanya mengangguk mengiyakan, lalu memutar sedikit tubuhnya memperhatikan punggung dokter Aldo yang sudah pamit untuk pulang.
Setelah punggung dokter Aldo hilang dari jangkauan pandangannya, Ara kembali menghadap ke dalam kamar, terlihat senyum merekah dari dokter Ichida yang sedang menatap Ara. Beberapa minggu tak bertemu dengan wanita itu, sungguh membuat dokter jahil itu merasa rindu menjahili gadis kecil nan lugu itu. Tapi senyuman itu tak membuat Ara langsung masuk ke dalam sana. Ara malah melamun, dia memikirkan perkataan dokter Ichida pada dokter Aldo tentang keadaan Jo yang masih rentan. Ya, Ara mendengar semuanya.
Ara masih mematung di ambang pintu, membuat dokter Ichida mengernyitkan kening, lalu menghampiri Ara yang sedang termenung di sana.
" Hai gadis kecilku, kau kenapa melamun saja ? " Tepukan tangan dokter Ichida di depan wajahnya membuat lamunan Ara buyar seketika, raut wajahnya terlihat begitu gugup. Entah sejak kapan dokter paruh baya itu sudah berada di hadapannya. Ara benar-benar tak sadar dengan pergerakan dokter Ichida yang datang menghampirinya.
" Eh, aku tidak melamun. " Sanggah Ara sambil memalingkan wajahnya, dan dokter Ichida paling suka dengan bagian ini, dimana Ara akan memperlihatkan raut wajahnya yang bersemu merah jika wanita itu gugup atau merasa malu.
" Aku paling suka melihat wajah merahmu ini. Sudah lama aku tak melihatnya. " Sahut dokter Ichida genit, dia hendak meraih dagu Ara, tapi Ara dengan cepat menghindarinya.
Memutar bola matanya malas, Ara tak menggubris godaan laki-laki setengah tua itu. Ara memilih berjalan melewati dokter Ichida begitu saja. Sebenarnya Ara tidak marah ataupun membenci dokter itu, tapi hari ini rasanya dia sangat malas untuk melayani candaan dokter Ichida yang menurutnya akan selalu berujung pada hal-hal berbau mesum.
" Astaga, lihatlah Ayura ! menantumu sekarang sudah tidak punya sopan santun, dia bahkan tak menjawab sapaan ku barusan! " Seru dokter Ichida pura-pura merajuk. Dia pun mengikuti langkah Ara yang berjalan menghampiri tempat tidur Jo.
Ayura terkekeh pelan, melihat sahabatnya itu di acuhkan oleh menantunya. " Jangan bawa - bawa aku! Terserah Ara mau sopan pada siapa saja. " Celetuk mommy Ayura sambil mengedikkan bahunya.
" Ck, kalian wanita memang menyebalkan. " Geram dokter Ichida. Ayura kembali terkekeh di buatnya. Tapi tidak dengan Ara, dirinya malah termenung sambil duduk di tepi ranjang menatap wajah suaminya yang sedang tertidur pulas dengan tatapan iba.
" Sebenarnya apa terjadi dengan Jojo dokter? " Tanya Ara dengan lirih, namun masih terdengar jelas oleh dokter Ichida dan juga mommy Ayura yang seketika menoleh ke arah Ara.
***
Jangan lupa kasih like, komentar dan votenya ya...