
David begitu tercengang mendengarkan kenyataan di masa lalu bosnya itu. Bagaimana tidak, selama ini Jo begitu dekat dengan pamannya. Bahkan Jo pernah bercerita jika pamannya lah yang telah mengajarkan Jo dan menanamkan ambisinya pada pekerjaan. Sangat banyak ilmu yang ia dapatkan dari pamannya itu. Apalagi setelah daddynya Jo meninggal. Jo seakan mendapat sosok ayah baru dalam diri Jacob. David sudah bisa merasakan hal itu saat ia mulai bekerja menjadi asistennya Jonathan.
" Lalu apakah nyonya Ayura sudah tahu jika tuan sudah mengingat semuanya? " Tanya David dengan raut wajah sedih, hatinya begitu miris mendengar kisah tragis bosnya sendiri.
Jo mendesah pelan, ia masukan kedua tangannya ke dalam saku celana. " Belum. " Jawabnya dengan suara berat.
" Kenapa? " Tanya David begitu heran. Tapi alih-alih menjawab pertanyaan dari asistennya itu Jo malah diam dan kembali menatap keluar jendela.
" Maaf jika saya lancang dan ingin tahu urusan tuan. " Ucap David yang seketika sadar jika dirinya tidak berhak tahu urusan atasannya tersebut.
" Aku belum siap. " Sahut Jo tanpa menoleh ke arah David. " Aku belum siap menceritakan jika paman adalah penyebab kematian daddy. Lagipula sekarang mommy sedang berada di Jepang bersama Angelina. " Imbuh Jo dengan perasaan penuh kekecewaan.
" Bagaimanapun juga paman telah mengajariku banyak hal, hingga aku bisa menjadi seorang pembisnis handal seperti sekarang ini. " Jo sepertinya merasa dilema. Jo jadi berpikir jika memang Jacob ingin menguasai harta dari daddynya kenapa ia harus susah payah mengajarkan dirinya menjadi sosok yang tak terkalahkan. Semangat yang di berikan oleh pamannya itu mampu membuat Jo berjuang sangat keras untuk terus belajar dan mewujudkan mimpi sang daddy meneruskan jerih payahnya selama ini.
David mengerutkan dahinya, begitu tak percaya dengan kelapangan hati bosnya itu, selama ia bekerja dengan Jo ia tak pernah melihat sisi lembut dari lelaki itu, kemana bosnya yang ia kenal kasar dulu, yang keras kepala dan tak mau mendengar orang lain melakukan kesalahan sedikit pun dalam pekerjaannya.
Apakah kedatangan Ara dalam kehidupan Jo jadi merubah pola pikir lelaki angkuh itu? Ataukah kasih sayang nya pada sang paman yang begitu besar hingga sebesar apapun kesalahan lelaki tua itu masih bisa dia maafkan ?
David tak mengerti dengan jalan pikiran Jo saat ini, ia hanya bisa menundukkan kepalanya tanda patuh pada segala perintah bosnya selanjutnya.
" Menurutmu aku harus bagaimana David ? " Tanya Jo yang kini berbalik menghadap asistennya.
David mendongak, pertanyaan bosnya itu membuatnya sedikit kelabakan. Ia sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi bagaimanapun juga bosnya selama ini sudah banyak membantu kesulitannya. Kali ini mungkin saatnya ia menunjukkan kesetiannya.
" Maaf sebelumnya tuan, kalau saya boleh ikut berpendapat. Saya pikir tuan Jacob harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya itu. Dia harus di hukum sesuai hukum yang berlaku di negara ini. Bagaimanapun ini sudah menyangkut nyawa orang lain. Terlebih korbannya adalah ayah tuan sendiri. " Ujar David memberi pendapat yang di benarkah oleh hati nurani Jo saat ini.
" Kau benar, tapi aku pikir penjara hanya akan membuatnya semakin jahat saja. Ia tidak akan menyesal jika aku hanya menjebloskan nya ke dalam sana. Aku akan buat ia menyesal dan menyerah dengan kebenciannya terhadap daddy. " Ucap Jo dengan seringai tipisnya. Tatapannya terlihat tajam, ucapannya terdengar penuh penekanan, dia akan menyerang pamannya secara perlahan.
David tersenyum, sepertinya ia telah menemukan bosnya kembali. Bos yang tegas dan penuh dengan ambisi. Jo akan bersikap tenang tapi dalam diamnya itu sangat menghanyutkan. Ketika pamannya terbuai dalam kemenangan di situlah Jo akan mengalahkannya secara diam-diam.
" Kau cukup kerjakan apa yang aku suruh, kita mulai perang ini, jangan sampai ada yang tahu masalah ini termasuk mommy dan juga istriku, aku tidak ingin mereka terlibat ! " Perintah Jo dengan penuh ancaman. David mengangguk mengerti, ia yakin bosnya tidak main-main kali ini.
***
Di sisi lain di rumah Jo. Ara begitu bosan terus berdiam diri di dalam kamar. Ia ingin keluar tapi Jo melarangnya untuk kemana-mana, walaupun luka di kakinya sudah mulai sembuh tapi tetap saja masih sedikit ngilu jika Ara memaksakan untuk berjalan terlalu lama. Ara hanya bisa mendengus pasrah. Hingga sebuah ketukan di pintu kamarnya mengalihkan perhatiannya. Terlihat bi Darmi masuk sambil membawa nampan berisi makan siang untuk istri tuan mudanya itu.
" Permisi non, saya bawakan makan siangnya. " Ucap bi Darmi sambil melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menyimpan nampan berisi makanan itu di atas meja di samping ranjang.
" Makasih bi, " Ucap Ara dengan ramah. Bi Darmi mengangguk lalu pamit undur diri dari kamar tuannya itu. Tapi tiba-tiba saja Ara memanggil namanya kembali hingga wanita yang seumuran dengan bibi angkatnya itu seketika menghentikan langkahnya.
" Ada apa non? " Tanya bisa Darmi sambil membungkukkan sedikit badan.
" Tapi non, tuan muda melarang anda kemana-mana dulu, kaki anda masih belum pulih. " Ucap bi Darmi menolak permintaan Ara, ia lebih takut dengan kemarahan tuan mudanya.
" Bibi bisa membantuku turun ke bawah, papah aku! " Pintar Ara penuh harap tapi sedikit memaksa.
" Maaf non, bibi tidak berani. Lagipula bibi takut tidak kuat menopang tubuh non Ara saat turun tangga nanti. " Kelakar bi Darmi sambil tersenyum cengegesan. Yang membuat wajah Ara memberenggut seketika . Ck, Ara sedikit tidak terima, memangnya dia seberat itu hingga bi Darmi berpikiran tidak akan kuat menopang tubuh Ara.
" Biarkan aku membantumu! " Suara bariton dari arah pintu kamar membuat kedua wanita beda usia itu menoleh bersamaan.
Terlihat Sam sedang menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang terbuka lebar, entah sejak kapan laki-laki itu berada disana. Hingga ia bisa mendengarkan percakapan Ara dan bi Darmi barusan.
" Sam, sedang apa kau di sini? " Tanya Ara begitu heran. Sam melangkahkan kakinya untuk masuk mendekati ranjang Ara.
" Apa tidak boleh aku menjenguk asisten ku sendiri. " Sam tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang terlihat putih dan rapih. " Oh, maaf maksudku mantan asisten. " Tambahnya dengan nada penuh sindiran dan mimik wajah yang di buat kecewa.
Ara memang sudah mengundurkan diri sebagai asistennya Sam, semenjak dirinya di temukan oleh Jo setelah insiden kecelakaan itu. Lebih tepatnya di paksa mengundurkan diri. Karena Jo yang membuat surat pengunduran diri Ara, dan mau tidak mau Ara di paksa membubuhkan tanda tangannya sebagai pihak yang mengajukan.
" Maaf Sam, aku tidak bisa menolak permintaan Jo, lagipula sepertinya butuh waktu lama untuk memulihkan kembali patah tulang di bahuku ini. Dan itu akan menghambat pekerjaanmu. Kau bisa cari asisten lain. " Tutur Ara dengan penuh penyesalan.
Sam mengulas senyum dia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. " Tidak apa-apa, santai saja! Aku masih punya beberapa kandidat lain, lagipula kak Jo tidak akan membiarkan istri tercintanya bekerja keras hanya untuk mendapatkan uang. "
Ara mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan maksud kalimat Sam yang terakhir. Ini sebuah pujian apa sekedar ledekan semata. Sejujurnya Ara tidak terima Sam menyindir nya sampai sebegitunya hanya karena Jo memaksanya untuk berhenti menjadi asisten pribadi dari sepupu suaminya itu.
" Ayo....! " Ara di buat begitu terkesiap saat tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara, Sam baru saja mengangkat tubuh Ara tanpa permisi lebih dulu. Ara sangat heran sejak kapan laki-laki yang ia anggap pendiam ini berubah menjadi kurang ajar.
" Sam, jangan kayak gini! Turunkan aku! " Ara mencoba meronta dalam gendongan tangan Sam. Hal itu membuat tubuh Sam sedikit oleng.
" Jangan bergerak terus nanti kamu jatuh! " Seru Sam malah mengeratkan pelukannya.
" Makanya turunin! " Rengek Ara lagi. Tapi bukannya mendengar ucapan Ara, Sam malah melangkahkan kakinya hendak pergi membawa Ara ke ruangan bawah. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat mereka berpapasan dengan sosok laki-laki yang ia kenal sangat cemburuan. Dialah Jo yang sudah memperlihatkan wajah yang begitu garang.
" Turunkan dia ? " Suara Jo terdengar begitu mengegelegar.
***
Dan Ara minta dukungan dari para readers tercinta buat ngasih vote pake poin atau koinnya.. like dan komentar buat pasangan ini juga di sangat di harapkan ya readers.... 🙏🙏
makasih... Happy Reading 🤗🤗