My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Bermain Ular Tangga



Hari - hari berlalu meninggalkan kenangan yang semu, kini Ara mulai terbiasa menyandang status istri Jojo, dia juga sudah mulai mengenal Jojo luar dan dalam, tapi tentunya belum sampai melakukan adegan ranjang.


Sebulan sudah Ara merawat Jojo, dan setiap minggunya dokter Ichida selalu melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan mentalnya Jojo. Seperti yang di lakukannya siang itu di rumah Jojo, terlihat Ara dan Ayura yang sedang fokus memperhatikan dokter Ichida yang sedang membuka lembaran - lemabaran kertas berisi perkembangan kesehatan Jojo. Mereka berbincang di ruang kerja Ayura yang tadinya adalah ruang kerja Jo, sedangkan Jo sedang bermain bersama Angel di ruang keluarga.


" Bagaimana Ichida, apa ada perkembangan lagi ?" Tanya Ayura dengan tidak sabar.


Dokter Ichida menutup berkas itu, lalu menyimpannya di atas meja. Dokter Ichida melebarkan senyumnya hingga menunjukkan deretan gigi putihnya.


" Perkembangannya sangat baik, tes fisik maupun mentalnya benar - benar mengalami kemajuan yang besar, Jo sudah mulai membuka diri dan bersikap seolah dia adalah bocah yang dewasa sebelum waktunya. Padahal dia memang sudah dewasa, bukan begitu Ara ? " Dokter Ichida tersenyum menggoda, sedangkan Ara menghela nafas nya kasar dan memutar bola matanya dengan jengah, Ara tak habis pikir di saat serius pun dokter Ichida masih saja menggodanya.


" Lalu, apa alat terapis itu bisa di gunakan secepatnya ? " Ayura tersenyum senang mendengar penuturan dokter Ichida yang mengatakan keadaan Jojo sudah mulai ada perkembangan.


" Bisa di lakukan besok ." ucap dokter Ichida dengan yakin.


Ayura dan Ara terlihat senang, mereka saling bertatap muka dan melemparkan senyum bahagia.


" Kamu hebat Ara, dalam sebulan kamu sudah menumbuhkan semangat Jo untuk sembuh, terima kasih. " Ayura sangat terharu, akhirnya ada harapan untuk anaknya sembuh.


" Mommy, Ara cuma melakukan apa yang Ara bisa, Jojo yang mempunyai keinginan untuk sembuh, jadi kalau bukan karena dorongan dari dirinya sendiri Jojo tidak akan punya semangat seperti ini, kita doakan saja semoga terapi nya lancar. " tutur Ara sambil memegang bahu Ayura.


Setelah selesai membicarakan hal tersebut, ketiganya keluar dari ruang kerja Ayura dan menghampiri Jojo dan juga Angel di ruang keluarga, keduanya terlihat sedang bermain ular tangga.


" Hore,,, kak Jo turun lagi. " Teriak girang Angel saat dadu Jojo menunjukkan angka tiga dan bidak Jojo harus turun karena berhenti di kepala ular di gambar permainan tersebut.


" Ah, aku bosan dari tadi turun terus, kamu pasti curang. " Decak Jojo, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Angel menautkan kedua alisnya, tak terima dirinya di sebut curang. " Enak saja, yang ngocok dadu nya kan kak Jo sendiri, Angel curang dimananya ? " Seru Angel tak mau di salahkan, wajahnya tampak merengut.


" Kenapa sih ? ribut sekali kalian ini. " Seru Ayura yang datang bersama Ara dan juga dokter Ichida, Ayura dan dokter Ichida duduk di atas sofa, sedangkan Ara duduk di lantai beralaskan karpet tepat di samping Jojo.


" Kalian sedang main ular tangga ? Apa aku boleh ikutan ? " Seru Ara sambil tangannya hendak mengambil dadu yang tergeletak di antara Jojo dan Angel.


" Jangan ! " Jojo dengan cepat menyaut dadu tersebut, sehingga Ara tak jadi mengambilnya.


" Kenapa ? " Ara mengernyit heran


" Angel curang, dadu ini mungkin sudah di jampi - jampi olehnya, ganti dadu lain ! " Seru Jojo sambil melempar dadu tersebut ke sembarang arah.


Angel berdecih " Memangnya Angel dukun ."


" Mengapa kamu berpikiran seperti itu Jo ?" Tanya Ara sambil terkekeh lucu.


" Bidakku selalu saja di makan ular, saat aku mengocok dadu itu. " Ucapnya sambil menatap Angel dengan kesal.


" Mommy... lihat kak Jo ! masa dia menuduhku seperti dukun yang suka menjampi - jampi sesuatu. " Rengek Angel, yang berdiri dan langsung merangkul tangan mommy nya.


Ayura mengelus puncak kepala Angel sambil tertawa kecil, " Kakakmu hanya bercanda sayang, jangan di dengar ya !" Ucap Ayura dengan lembut.


" Memang dia dukun ! " Tukas Jojo


" Jo...." Sahut Ayura, sambil memicingkan matanya ke arah Jojo.


Ara memegang pundak Jojo. " Sudahlah, ayo main lagi. Pakai dadu ini saja " Ujar Ara sambil menunjukkan sebuah dadu kecil di tangannya.


Jojo menatap lekat dadu di tangan Ara. " Dadu siapa itu ?" Tanya Jojo sambil mengernyit dahi.


" Dadu aku ." Ara berbohong, padahal dadu itu adalah dadu yang di lempar Jojo tadi, diam - diam Ara memperhatikan arah Jojo saat melempar dadu tersebut dan mengambilnya saat Jojo lengah.


Jojo tersenyum senang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Angel.


" Angel ayo main lagi ! "


" Tidak mau ." Tolak Angel, dia masih kesal dan memasang wajah cemberutnya.


" Ayo Angel kita main, sekarang aku yang kocok dadu nya, dan setiap yang bidaknya turun harus di hukum. " Sahut Ara sambil mengedipkan sebelah matanya, memberi kode pada Angel agar dia setuju untuk bermain.


" Hukumannya apa ? " Tanya Angel, sambil menegakkan posisi duduknya sepertinya dia mulai tertarik.


" Kalau berjoged bagaimana ? Yang kalah mesti joged ." Seru Ara, dan Angel berpikir sejenak.


" Biar aku yang memutar musiknya. " Sahut dokter Ichida ikut menimpali. " Sepertinya seru ." Imbuhnya lagi.


Angel mendengus " Hufft... baiklah, awas ya kalau menuduh aku curang lagi ! " Seru Angel sambil melototkan matanya pada Jojo, dan Jojo hanya mencebikkan bibirnya tak mau menanggapi. Angel pun kembali menghampiri Ara dan Jojo yang duduk di atas karpet.


" Ayo mulai ! " Seru Angel sambil duduk bersila bersamaan dengan Ara dan juga Jojo, mereka duduk mengelilingi gambar permainan ular tangga tersebut. Ayura dan dokter Ichida juga ikut memperhatikan permainan mereka di atas sofa, sesekali mereka tertawa saat di antara ketiga nya harus berjoged ria tatkala bidaknya harus turun di lahap kepala ular. Mereka pun bermain sampai sore menjelang malam.


***


" Aku pulang dulu, aku akan datang besok pagi, tolong persiapkan mental Jo, dia harus benar - benar rileks saat menjalani terapi ini. " Pamit dokter Ichida pada Ayura saat Ayura mengantarkan dokter Ichida sampai di ambang pintu.


" Kamu tenang saja, aku dan Ara akan melakukan yang terbaik, semoga semuanya lancar dan tidak ada halangan. " Sahut Ayura


" Ya, semoga saja. " Dokter Ichida menganggukkan kepalanya, dan kedua nya berpisah saat dokter Ichida memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan rumah mewah Ayura.


***


Di kamar Jojo


" Jojo, boleh aku bicara ? " Tanya Ara, Jojo yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil bermain game di ponsel miliknya sejenak menoleh lalu beralih lagi pada ponselnya.


" Biacara saja ." Sahut Jojo, tanpa menatap wajah Ara, matanya fokus pada layar persegi panjang di hadapannya itu. Ara pun duduk di tepi ranjang di seberang Jojo.


" Besok dokter Ichida akan melakukan terapi padamu, apa kamu tidak keberatan ? " Ara berkata dengan hati - hati, Jojo menghentikan aktifitasnya dan menoleh dengan cepat ke arah Ara, menatapnya dengan lekat. Selama ini Jojo selalu menolak untuk di obati, dia selalu merasa ketakutan jika berurusan dengan fisioterapi.


Jojo selalu di bayang - bayangi oleh masa kecilnya yang tidak menyenangkan, apalagi sebelum mengenal Ara Jojo selalu mendapat tekanan dari pamannya.


***


Happy Reading. 😉😉