My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
TIDAK BERNAFSU



Keesokan harinya, tidak seperti biasanya Jojo terbangun lebih dulu, dan keluar dari kamar meninggalkan Ara yang masih terlelap tidur. Dia hendak melakukan olahraga pagi. Setelah beberapa lama Jojo kembali dan masih melihat Ara masih meringkuk di atas tempat tidur.


Mata Ara mengerjap tatkala Jojo menyingkap gorden jendela kamarnya, dan membiarkan cahaya mentari pagi masuk dengan bebas ke dalam ruangan itu. Ara menyipitkan kedua matanya menyesuaikan cahaya mentari yang tiba - tiba menyilaukan mata.


" Ish... silau sekali . " Decak Ara sambil menyilangkan tangannya di wajahnya, menutupi cahaya mentari yang langsung menusuk ke bola mata Ara.


" Apa kamu masih mau tidur ? ini sudah siang ." Terdengar suara Jojo dengan nada yang sinis, sedang berdiri di dekat jendela.


Ara terkesiap mendengar cara bicara Jojo, Kenapa nada bicaranya seperti itu ? Batin Ara.


" Jojo , kau sudah bangun ? " Tanya Ara, sedikit mencubit tangannya dan ternyata terasa sakit memastikan bahwa ini bukan mimpi.


" Tentu saja, ini sudah jam berapa ? kamu malas sekali jam segini masih tidur. Ayo bangun ! " Seru Jojo sambil berjalan mendekati Ara lalu menarik tangannya dengan pelan.


Ara terhenyak, lalu menoleh ke arah jam dinding yang menempel di tembok kamar mereka.


Baru jam setengah 7 , biasanya dia masih bergelung dengan bantal gulingnya. Gumam Ara dalam hati. Jojo tidak biasanya seperti ini, biasanya dialah yang paling malas jika bangun pagi - pagi.


" Kenapa bengong , Ayo bangun ! " Seru Jojo lagi dengan sedikit memaksa.


" Iya..ini aku sudah bangun. " Ucap Ara sambil menurunkan kakinya di atas lantai. "Menyebalkan sekali . " Decak Ara pelan.


" Apa kamu bilang ? " Seru Jojo sambil menyimpan tangannya di atas pinggang.


" Tidak...aku tidak bilang apa - apa, aku mandi dulu. " Ara langsung berlari kecil dan menyaut handuk yang tergantung di tempatnya lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat.


Di dalam kamar mandi, Ara jadi termenung memikirkan sikap suaminya yang berbeda seperti biasanya setelah terapi itu.


" Apa Jojo sudah kembali pada ingatannya saat dewasa, tapi kata dokter Ichida Jojo masih berada di umur 12 tahun. Sedangkan sikapnya barusan tidak menunjukkan hal demikian. " Ucap Ara pada dirinya sendiri.


" Ah...aku pusing memikirnya, lebih baik nanti aku tanyakan lagi pada dokter Ichida atau mommy Ayura. " Teriak kecil Ara dengan frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri.


Karena Ara terlalu lama memikirkan sikap Jojo, membuat ritual mandinya memakan waktu lama. Setelah selesai mandi Ara hendak memakai baju gantinya di dalam kamar mandi tapi dia lupa membawanya karena tadi buru - buru masuk karena takut dengan reaksi Jojo.


" Astaga , kenapa aku sampai lupa membawa baju ganti ? Bagaimana ini ? Jojo masih di dalam kamar tidak ya ? " Ara sedikit membuka pintu kamar mandi, dan mengintip dari celah yang di buatnya, lalu langsung menutupnya lagi karena dia melihat Jojo masih duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ara memutuskan untuk berdiam diri di kamar mandi menunggu Jojo keluar dari kamar mereka. Jojo yang sedang fokus dengan ponselnya, sesekali menoleh ke arah pintu kamar mandi, dia menunggu Ara karena ingin sarapan bersama.


" Kenapa dia lama sekali ? " Gumam Jojo pelan, dia melirik pintu kamar mandi yang sedari tadi tak juga terbuka. " Apa dia pingsan di dalam sana ? " Imbuhnya lagi sambil menyimpan ponselnya di atas meja. Lalu berjalan menghampiri pintu kamar mandi.


Tok...tok...tok..


" Ara... apa kau baik - baik saja ? " Teriak Jojo dari luar pintu kamar mandi.


Ara jadi kelabakan, dia bingung apa yang mesti dia lakukan, tidak mungkin dia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di bagian tengah tubuhnya saja.


" Aku tidak apa - apa Jojo, tapi.. apa kamu bisa menolongku ? " Seru Ara dengan sedikit gugup.


" Minta tolong apa ?"


"Aku lupa membawa baju ganti, apa kamu bisa mengambilkannya di lemari bajuku ! " Sahut Ara lalu menunggu jawaban dari Jojo.


Hening....


Tak ada jawaban dari Jojo, Ara menghela nafasnya kasar, setelah sekian menit dia menunggu Jojo tak memberi jawaban apapun.


" Mungkin dia tidak mau ." Decak Ara sambil mendengus kesal. " Bahkan tidak ada suara sedikit pun di luar, aku akan keluar saja lah mungkin Jojo juga sudah keluar. " Imbuhnya lagi berbicara sendiri.


Dengan perlahan Ara memutar gagang pintu kamar mandi, tapi saat dia membuka pintunya secara bersamaan Jojo juga memegang gagang pintu yang satunya lagi hingga Jojo jadi tertarik dan tubuhnya hendak terjatuh ke lantai kamar mandi tapi beruntung tertahan oleh tubuh Ara.


Deg


Deg


Deg


" Maaf , aku tidak tahu kamu di luar. " Sahut Ara sambil memegangi handuknya di bagian dada. Jojo menatap lekat tubuh Ara dari bawah sampai ke atas, membuat Ara risih, malu dan salah tingkah.


" Mengapa melihatku seperti itu ? " Tanya Ara sambil melototkan matanya, satu tangannya semakin erat memegang handuknya di bagian dada dan satu lagi memegangi bagian bawahnya. Wajahnya kini terlihat memerah, dia sangat malu berpenampilan seperti itu walau di hadapan suaminya.


" Kamu ini tidak malu hanya memakai handuk saja, cepat pakai bajumu ! " Seru Jojo sambil memberikan baju milik Ara yang refleks di terima oleh tangan Ara.


" Memalukan. " Ucap Jojo sambil berlalu keluar dari kamar mandi.


" Eh... " Ara terpaku sejenak. " Memalukan ? " dia mengulangi perkataan Jojo yang terasa aneh di dengar saat melihatnya hanya menggunakan handuk seperti itu. Setelah terpikir sesuatu kemudian Ara melebarkan senyumnya dan tertawa kecil karena malu sendiri. Dia sekarang sadar Jojo memang belum mengerti dengan keinginan seorang pria dewasa pada umumnya jika melihat wanita berpenampilan seperti dirinya saat ini. Jojo tidak akan bernafsu walaupun melihat wanita tanpa busana sekalipun.


" Aku bodoh sekali, Jojo itu pikirannya masih kecil mana mungkin dia bernafsu melihatku seperti ini. " Ucap Ara pelan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Dia pun segera memakai pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Setelah Ara keluar, Jojo terlihat kembali pada posisi nya semula yaitu berselonjor kaki di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Kemudian matanya tersita ke arah Ara saat Ara duduk di tepi tempat tidur mendekatinya.


" Kamu sudah sarapan ? " Tanya Ara dengan lembut. Jojo menggeleng.


" Ayo turun ! kita sarapan dulu. " Ajak Ara sambil menarik sebelah tangan Jojo, Jojo pun dengan semangat mengikuti ajakan Ara.


***


Setelah sampai di meja makan, Ara menarik sebuah kursi kosong dan menyuruh Jojo untuk duduk di sana, suasana tampak sepi karena Ayura dan Angel telah selesai sarapan terlebih dahulu dan mereka sudah pergi melakukan aktifitasnya masing - masing, Ayura pergi ke kantor dan Angel pergi ke sekolah.


Ara bergegas menuju dapur hendak membuatkan susu dan mengambilkan sarapan untuk suaminya. Disana dia melihat Iren sedang mencuci piring.


" Bibi lagi ngapain ? biar Ara saja, Ara ajak bibi kesini bukan untuk bekerja, kesehatan bibi kurang baik jangan terlalu lelah. " Seru Ara sambil menyaut piring kotor yang sedang di pegang Iren.


" Tapi Ara, bibi akan bosan jika diam saja. Kamu kan tahu bibi gak pernah bisa diam jika di rumah. " Keluh Iren sambil mengerucutkan bibirnya, lalu dia terdiam sejenak.


" Ara ? " panggil Iren dengan hati - hati.


" Apa bi ? " sahut Ara sambil melanjutkan mencuci piring Iren yang tadi.


" Apa boleh bibi kembali ke rumah bibi ?" Tanya Iren dengan hati - hati. Ara terdiam dia menghentikan aktifitasnya mencuci piring. Lalu dia menoleh ke arah Iren dengan wajah datar.


" Kamu bisa main sering -sering ke rumah, bibi juga akan baik -baik saja walau tinggal sendiri, lagipula sepertinya kamu di sini sudah banyak yang menemani dan mereka juga sangat sayang padamu Ara. " Tukas Iren sebelum Ara memberikan komentarnya.


" Tapi bi..."


" Kamu jangan khawatir, bibi sudah terbiasa hidup sendiri. Bibi mohon yah ! " Tukas Iren lagi sambil memasang wajah memelasnya.


" Memangnya bibi tidak betah di sini ? " Tanya Ara sambil memegang pundak Iren.


" Bibi bukannya tidak betah, tapi bibi tidak terbiasa dengan kemewahan di sini, bibi merasa lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. " Keluh Iren sambil menunduk sedih.


Ara menghela nafas kasar, dia juga tak tega melihat bibi angkatnya merasa tertekan jika tinggal bersamanya di rumah besar itu. Dengan berat hati Ara mengizinkan Iren untuk kembali ke rumahnya lagi. Dengan catatan Ara akan sering mengunjunginya nanti.


Di saat perdebatan Ara dengan bibi angkatnya, sepertinya Ara melupakan sesuatu. Hingga teriakan seseorang dari meja makan membuatnya kembali mengingat tujuannya menuju dapur.


" Ara....sarapannya mana ? " Teriak Jojo dari meja makan.


Ara tersentak mendengar teriakan Jojo.


" Astaga... aku lupa membuatkan sarapan untuk Jojo. " Ucap Ara sambil menepuk keningnya pelan. Iren pun jadi tertawa kecil melihat tingkah Ara, akhirnya Iren pun membantu Ara membuatkan susu untuk Jojo dan Ara mengambilkan makanan untuk Jojo sarapan.


***


Happy reading 😉😉


Dukung author terus ya !


Klik LIKE , COMMENT , FAVORITE , DAN VOTE SEBANYAK - BANYAK NYA.