
Tiga minggu sudah Angelina meninggalkan Ayura, tapi gadis itu tidak pernah luput memberikan kabar setiap harinya bagaimana ia disana. Ayah tirinya begitu baik memperlakukan gadis itu dan dia merasa mendapatkan sosok ayah yang selama ini tidak pernah ia temui. Begitulah cerita yang sering Ayura dengar dari anak tirinya itu. Betapa bahagianya dia, jika memang ternyata Angelina juga hidup bahagia.
Setiap hari kegiatan Ara jadi bertambah, ia sudah terbiasa dengan rutinitas barunya yakni membantu Ayura di salon kecantikan milik mertuanya itu. Ara memang tidak bisa melayani pelanggan untuk merias ataupun menata rambut mereka. Ia hanya membantu di bagian administrasi salon tersebut saja.
Untuk hubungan Ara dan juga Jojo tak perlu di tanya lagi, semakin hari kemesraan mereka semakin menjadi. Bahkan Jo tidak keberatan menjadi supir pribadi yang setiap hari rela mengantar jemput dua wanita kesayangannya tersebut.
Seperti sekarang ini, Jo kembali mengantar istri dan maminya untuk pergi bekerja. "Jangan nakal-nakal." Kalimat itu yang selalu terlontar dari mulut Jo saat mereka sudah sampai di depan salon milik maminya dan Ara bersiap untuk turun.
Benar-benar membuat telinga Ara merasa bosan mendengar kalimat perintah itu. Hingga ia biarkan begitu saja masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Apa susahnya untuk hanya berkata. "Iya.... " Jawaban yang sama di setiap harinya.
"Beri aku ciuman!" Dan permintaan itu adalah satu hal yang tidak boleh tertinggal, Jo menyebutnya sebuah ritual.
"Biarkan mami keluar dulu! Kalian ini kebiasaan." Mami Ayura yang duduk di kursi penumpang selalu di buat kegerahan. Kemesraan sepasang suami-istri ini memang tidak pernah melihat situasi. Atau memang sikap Jo yang tidak tahu diri. Tanpa rasa malu berani mengumbar kemesraan nya di depan sang mami.
Selepas maminya keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung salon. Ara mencubit pinggang Jo hingga membuat lelaki itu meringis menahan perih. Matanya melotot tajam menunjukkan ketidaksukaannya dengan kebiasaan suaminya tersebut. "Bisa gak sih gak usah mesum kalau di depan orang!" Seru Ara sambil mendengus kesal.
"Mesum gimana? Cuma minta cium, memangnya salah?" Seru Jo sambil memegangi bekas cubitan istrinya dengan wajah polos tanpa dosa. "Cepat cium aku!" Perintah Jo lagi merasa tak sabar dan tidak mau berdebat.
Ara berdecak, bukannya ia ingin menolak tapi rasanya malu sekali jika harus mengumbar kemesraan di setiap waktu. Ara mencondongkan tubuhnya bergerak mendekati tubuh Jo, lalu mendaratkan satu ciuman sekilas di pipi suaminya, tapi dengan cepat Jo menahan lengan Ara yang hendak kembali ke tempat duduknya.
"Bukan di pipi, tapi disini!" Jo meletakkan telunjuknya di bibir. "Kenapa lupa terus? Sini aku ingatkan!" Dengan sekali tarikan Jo langsung membenamkan bibirnya di bibir Ara. Dan tidak seperti biasanya yang hanya sekilas saja. Jo malah memperdalam ciuman mereka dengan menekan tengkuk leher Ara hingga wanita itu hampir kehabisan nafasnya.
Ara mendorong tubuh Jo sekuat tenaga hingga ciuman itu terlepas dengan sendirinya. "Kau mau membunuhku?" Seru Ara sambil mengatur nafasnya yang tersengal.
"Aku hanya menghukummu karena sudah mencubit pinggang ku. Bukankah itu adil sayang?" Jo menjawab sambil menyunggingkan senyum seringai nya. Laki-laki itu merasa puas telah mengerjai istrinya tersebut.
Ara menarik nafasnya dalam-dalam, meraup oksigen banyak-banyak untuk mencukupi pasokan udara di paru-paru nya. Ia tidak akan menang melawan suaminya, untuk itu Ara mengalah saja.
"Sudah puas kan? Aku pergi ya!" Ara memutuskan untuk segera keluar dari dalam mobil menyusul mertuanya yang sudah masuk ke salon dari tadi.
Ara mencibir, lalu membuka pintu mobil dan mendaratkan kakinya di atas tanah berlapis aspal dengan senyuman tipis yang terukir di bibir. Walaupun merasa jengkel, tapi nyatanya wanita itu sangat menyukai perlakuan suaminya tersebut, ia merasa di cintai karena itulah yang ia harapkan selama ini.
Ara melambaikan tangannya sambil menatap mobil Jo yang melaju hingga hilang dari pandangan. Lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke tempat salon kecantikan tempatnya bekerja sekarang.
***
"Sial.... Kenapa jadi seperti ini?" Teriakan seseorang menggema di salah satu ruangan sebuah perusahaan.
Seorang pegawai yang sepertinya adalah bawahan orang tersebut tampak menunduk takut. Beberapa lembar kertas yang berisi laporan keuangan perusahaan mereka terlihat berserakan di lantai setelah di lempar mengenai tubuh pegawai itu. Dan orang yang melemparkannya adalah Jacob. Adik kandung dari ayahnya Jojo.
Wajahnya begitu sangar dengan amarah yang menggebu-gebu. Betapa tidak, Jacob telah di tipu, perusahaan pemasok bahan baku untuk barang produksinya telah membuatnya rugi besar. Tapi saat ini dia belum menyadari apa penyebab kerugiannya tersebut. Karena perusahaan pemasok itu bermain dengan sangat pintar. Perusahaan itu tak lain adalah hasil rekayasa Jo selama ini. Dia sengaja membuat perusahaan vendor kecil untuk menjebak pamannya sendiri.
Perusahaan Jacob bergerak di bidang plastik kemasan berskala besar sehingga ia membutuhkan raw material dari vendor lain yang menyediakannya. Jacob begitu tergiur dengan keuntungan yang ia dapatkan dari produksi pertama saat memakai raw material yang di tawarkan oleh vendor baru itu. Saat menggunakan sampel material yang pertama di kirim ia mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualannya. Karena harganya jauh lebih murah dari material biasanya dan kualitas nya pun sama seperti hasil sebelumnya. Karena itu ia berani memutuskan kontrak kerjasama dengan vendor lamanya dan membuat kontrak baru dengan vendor buatan Jo tersebut. Dan dengan bodohnya Jacob menyetok dalam jumlah yang banyak karena sifatnya yang begitu serakah.
Ternyata pancingan Jo berhasil, entah bahan apa yang ia campur dalam raw material selanjutnya. Hingga tidak bisa terdeteksi oleh alat quality control yang dimiliki oleh perusahaan Jacob dan dengan mudah lolos uji material.
Dan hasilnya, semua konsumen yang kebanyakan adalah produksi makanan mengembalikan semua hasil produksi yang selanjutnya tersebut dan menuntut ganti rugi karena kemasan tersebut tidak bisa membuat produk makanan mereka bertahan lama. Di karenakan kemasan yang di buat ternyata tidak sesuai dengan standart kualitas sebelumnya.
"Minta bantuan kantor pusat agar memberikan pinjaman dana untuk membayar kompensasi. Dan periksa semua raw material yang kita punya!" Jacob kembali memberikan perintah yang membuat asistennya tersebut semakin menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan kami sudah memeriksa semua raw material tapi semuanya tidak bermasalah. Dan kantor pusat tidak bisa memberikan pinjaman tanpa ada alasan yang jelas apa penyebab dari kerugian yang kita alami tuan." Tutur asisten Jacob yang mulai ketakutan akan amarah atasannya semakin meradang.
"Argghhh..... Sial!" Jacob mengerang frustasi, ia tak menyangka akan terjadi seperti ini. "Pasti ada seseorang di balik ini semua. Terlalu banyak kebetulan yang menyudutkan kita. Selidiki lebih dalam lagi! Siapapun yang berani mengusik ketenangaanku, aku pastikan dia akan menyesal seumur hidupnya." Tambahnya dengan emosi yang meledak-ledak. Hingga membuat nafasnya yang keluar terasa kian berat.
***
Bersambung ya... Jangan lupa vote nya. Makasih lo buat yang udah setia menunggu karya amih ini. Happy Reading.