
Waktu berjalan begitu cepat melewati hari, kenangan pahit maupun manis pun berlalu silih berganti. Entah kenangan mana akan selalu membekas dalam hati. Biarkan hati yang memilihnya sendiri.
Setelah mommy Ayura menikah dengan dokter Ichida. Kehidupan Ara dan Jojo dimulai di rumah masa kecil Ara. Bibi Iren dan juga Sarla juga ikut diajak ke sana. Setidaknya untuk menemani Ara saat di tinggal suaminya bekerja.
Kini usia kandungan Ara sudah mendekati hari perkiraan lahirannya. Jojo semakin khawatir melihat keadaan istrinya yang mulai kesulitan saat mengerjakan aktivitas sehari-harinya dengan perut yang semakin membesar.
"Sayang, aku tidak usah kerja saja ya? Aku khawatir sama kamu. Semalam kamu bilang anak kita gak bisa diam di dalam sana. Jadi kamu gak bisa tidur semalam. Mungkin saja hari ini dia mau keluar?" Jojo merebahkan kepalanya di pangkuan Ara.
Begitu terbangun dari tidurnya, lelaki itu memilih untuk bermanja-manja. Dengan wajahnya di hadapkan ke arah perut istrinya. Malas sekali rasanya dia untuk berangkat bekerja.
Ara yang sudah bangun dari tadi berniat untuk membangunkan sang suami. Tapi justru tertahan dan kini duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengusap lembut kepala suaminya. Dan membiarkan sang suami untuk mengecup perutnya berkali-kali.
"Kan ada Bibi Iren dan Sarla. Kalau ada apa-apa mereka pasti siaga." Ucap Ara sambil tersenyum geli dengan tingkah suaminya ini.
Jojo mendongakkan kepalanya, tatapannya tertuju pada wajah istrinya. "Tapi aku suamimu. Harusnya aku yang siaga selalu."
"Kamu harus siaga setiap waktu, tapi pergi bekerja juga perlu. Kalau ada apa-apa aku pasti menghubungi mu." Ara berucap sambil mengusap wajah suaminya dengan lembut.
Jojo mengenggam tangan Ara lalu mencium punggung tangannya. "Aku ingin menemanimu saat anak kita lahir. Kalau bisa rasa sakitnya juga di bagikan padaku seperti masa ngidam mu dulu." Ujarnya.
Jojo bangun dari pangkuan Ara lalu bersandar di samping istrinya. Menarik tubuh istrinya agar bersandar di pelukannya.
"Apa kau sanggup saat melihatku lahiran nanti? Kata orang itu sangat sakit. Dan aku takut tidak kuat menahannya. Jika seandainya...."
Jojo membekap mulut Ara pelan. Tidak membiarkan istrinya melanjutkan kata-katanya. Karena ia tahu kemana arah pembicaraan itu.
"Emmph.... Apaan sih Bee?" Ara menepis tangan suaminya yang menempel di mulutnya itu.
Jojo mendengus. "Makanya jangan bicara macam-macam! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Seru Jojo merasa kesal karena istrinya selalu saja asal bicara.
"Iya maaf." Sesal Ara lalu menegakkan tubuhnya dan duduk menghadap suaminya. "Mandi dulu sana! Nanti kamu telat." Tambahnya sambil menangkup kedua pipi suaminya dengan gemas.
Jojo tersenyum, ia merasa menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini. Memiliki istri secantik dan sesabar Ara. Dan sebentar lagi anaknya pun akan lahir ke dunia.
'Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan?' Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk kehidupan Jojo sekarang.
"Cium aku dulu!" Jojo mencondongkan sedikit wajahnya mendekati wajah Ara. Dengan bibir monyong berharap minta di cium.
Ara menarik sedikit kepalanya ke belakang. Memberi jarak antara wajah mereka. Melihat itu raut wajah Jojo berubah jadi datar. Ia tidak suka istrinya malah menghindar. "Ada apa?" Tanyanya heran.
"Kamu belum mandi." Jawab Ara sambil mencebikkan bibirnya pura-pura jijik.
"Ayolah, sekilas saja!" Jojo meminta dengan nada memelas.
"Benar ya!" Ara langsung menempelkan bibirnya sekilas di bibir suaminya. "Sudah." Seru Ara langsung menjauhkan wajahnya kembali.
Jojo berdecak, jujur saja ia belum siap. Bisa-bisanya Ara mencuri ciumannya. Walaupun Jojo yang memintanya hanya sekilas saja tapi setidaknya ia butuh persiapan juga.
"Tidak berasa." Protes Jojo dengan wajah manja.
Ara mencebikkan bibirnya lagi. Ia sudah tahu jika suaminya pasti punya motif tersembunyi.
"Katanya cuma sekilas, itu udah." Ara juga bisa untuk berkilah. Wanita itu sudah menuruti keinginan suaminya untuk memberinya sebuah ciuman. Dan tentunya sesuai permintaan bukan?
"Ya sudah, aku mandi dulu." Jojo merangkak turun dari atas ranjang. Dan sang istri hanya tersenyum sambil memperhatikan.
"Aku tunggu di meja makan ya!" Seru Ara sedikit berteriak karena Jojo sudah masuk ke dalam kamar mandi begitu cepat.
***
Sarapan sudah tersedia di meja makan keluarga. Jojo yang sudah bersiap dengan seragam kerjanya kini sedang duduk tenang sambil menikmati sarapannya. Saat ia sudah selesai Jojo beranjak berdiri dan langsung menghampiri sang istri.
"Aku usahakan pulang cepat. Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi aku! Ponsel kamu harus selalu aktif. Kalau sewaktu-waktu aku hubungi jadi gak susah." Rentetan pesan dan peringatan Jojo lontarkan untuk istrinya tercinta.
Ara sungguh bosan, hampir setiap hari suaminya berkata demikian. "Iya Bee..." Sahutnya pelan.
Cup....
Satu kecupan sayang mendarat di puncak kepala Ara. Sebelum kemudian suaminya benar-benar pergi meninggalkannya sendirian. Ya, pagi itu Iren dan Sarla sedang pergi berbelanja di warung depan. Dan seorang pelayan yang bernama Susan sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan.
Ara beranjak dari duduknya, berniat untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Beberapa hari ini tubuhnya memang cepat sekali lelah. Mungkin karena kandungannya yang semakin besar saja hingga berjalan pun sedikit susah.
Dengan susah payah Ara berjalan menuju kamar. Kini langkahnya menuju kamar mandi. Ingin menuntaskan hajat kecilnya yang tak bisa di tahan lagi.
Tapi, baru selangkah Ara memasuki kamar mandi. Tiba-tiba cairan bening berlendir keluar begitu saja di bagian bawah sana. Dan mengalir dengan deras melewati paha sampai ke betisnya.
"Eh, kok aku pipis di sini?" Gumam Ara pelan, ia memang ingin buang air kecil. Dan tidak menyangka sampai tidak bisa menahannya padahal ia masih berdiri.
Ara mengerutkan keningnya. Saat air yang keluar dari bagian sensitif nya tak kunjung reda, malah semakin banyak saja. Ara jadi curiga kalau itu bukanlah air kencing biasa.
Ara begitu panik, ia berteriak minta tolong kepada siapapun yang ada di rumahnya. Tapi sayangnya mereka semua tidak ada dan tidak mendengar teriakan Ara.
Lama kelamaan Ara merasa lelah, akhirnya ia duduk terkulai di lantai kamar mandi. Entah kenapa tubuhnya begitu lemas dan hampir saja kehilangan kesadarannya.
"Bibi.... Bibi Iren.... Sarla...." Walaupun suaranya sudah mulai melemah Ara tak henti memanggil keluarganya. Hingga akhirnya Ara benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Ara.... " Suara teriakan seseorang yang merasa terkejut dengan keadaan Ara hampir memecah gendang telinga.
Bibi Iren yang sudah kembali dari warung ingin melihat keadaan anak angkatnya di dalam kamar. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Ara sudah dalam keadaan tidak sadar.
Iren terlihat panik, ia berlari keluar dari kamar Ara memanggil Sarla dan seorang penjaga rumah. Karena wanita paruh baya itu tidak sanggup untuk mengangkat Ara dari dalam sana.
Raut wajah Iren begitu ketakutan. Ia langsung mengingat Jojo lalu menghubunginya. Tidak mau menunggu lama Ara langsung di bawa ke rumah sakit. Ketakutan Iren semakin menjadi karena Ara tak kunjung sadarkan diri.
"Bagaimana ini?" Seru Iren sambil memangku kepala Ara. Kini mereka berada di dalam mobil sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat. Iren begitu khawatir begitu pula dengan Sarla yang duduk di depan.
Sorot mata Iren terus tertuju pada bagian bawah baju Ara. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya saking paniknya. Bagaimana tidak? Iren melihat ada rembesan darah yang mengotori baju anak angkatnya. Oh... Tuhan selamatkan Ara! Itulah do'a nya.
***
Mau lahiran gengs.... Kok Amih jadi mules gini ngebayanginnya ya? 🤔🤔
Like, komentar sama votenya ya.