My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
APA AKU BERMIMPI??



Waktu berputar begitu cepat, sudah seminggu Ara bekerja di kantor Jo di bawah pimpinan Sam, dan hari ini adalah waktunya dia pindah ke perusahaan baru yang menjadikan Sam sebagai direkturnya . Karena perusahaan itu kini sudah siap untuk beroperasi. Sejak kejadian hari itu sikap Ara terhadap Jo berubah menjadi dingin. Ara selalu berusaha untuk menghindari laki-laki itu. Bahkan Ara hampir setiap hari berkunjung ke rumah Bibi Iren selepas pulang bekerja dan akan kembali ke rumah Jo sampai menjelang malam.


Ara sudah tak peduli lagi dengan janjinya untuk tidak meninggalkan Jo dalam keadaan apapun, untuk apa berjanji pada orang yang sudah mati. Begitulah pikir Ara sekarang. Ya, Ara sudah menganggap Jojo nya telah tiada. Bersama dengan hilangnya memori Jo saat bersamanya. Kini Ara hanya akan menerima takdirnya saja.


Pagi itu Ara sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Ara tampil dengan begitu cantik dengan polesan make-up natural, dan yang membuatnya terlihat berbeda yaitu Ara mengoleskan lipstik di dengan warna yang lebih terang di bibir tipisnya itu, sehingga wajahnya terlihat lebih fresh dan juga menawan.


"Mau kemana kamu?" Jo bertanya sambil mengernyitkan dahinya, melihat istrinya berdandan tak seperti biasanya.


Ara yang sedang berdiri di depan cermin seketika menoleh ke arah suaminya. "Mau kerja lah, kemana lagi?" Jawab Ara dengan ketus.


Jo mendengus kasar, perkataan istrinya sekarang bahkan lebih pedas dari pada dirinya. Mungkin ini rasanya jika mendapat perlakuan kasar dari orang lain. Dan Ara sudah kenyang dengan itu. Jo mungkin sekarang sedang merasakannya. Kesal kan Jojo? Rasakan....


"Kenapa mesti berdandan? Mau kerja apa mau menggoda laki - laki lain." Dan kata - kata itupun terucap kembali. Jo selalu lupa jika Ara paling tidak suka jika dirinya di samakan dengan wanita murahan. Ara tidak pernah marah jika Jo menuduhnya ingin menggoda dirinya tapi jika kepada laki-laki lain, entah kenapa Ara begitu tidak terima. Karena memang dia tidak pernah merasa melakukan itu.


Memutar bola matanya jengah Ara memilih untuk tak menanggapi perkataan suaminya, dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah cermin dan merapikan kembali rambutnya walau sudah terlihat rapi.


Jo yang merasa diacuhkan menjadi semakin kesal, dia menarik bahu istrinya hingga kini berhadapan dengannya. "Apa sebenarnya maumu hah?" Jo melotot tajam, menatap manik-manik mata Ara yang terbuka lebar karena begitu terkesiap dengan tindakan Jo tersebut.


"Lepasin!" Ara meronta meminta dilepaskan. Tapi Jo tak membiarkan itu, dia semakin mengeratkan cekalannya. Hingga membuat Ara meringis kesakitan.


"Sakit." Desis Ara pelan.


Jo merasa tak tega, dia akhirnya melonggarkan cekalannya. Tapi masih tak mau melepas tangan Ara. Jo mendudukkan tubuh Ara di kursi rias yang berada tepat di belakang Ara. Lalu menarik dagunya ke atas hingga wajahnya bisa terlihat jelas oleh lelaki itu.


"Dengarkan aku! Kau tak bisa seenaknya bersikap kasar di rumah ini!" Seru Jo penuh dengan penekanan.


Ara berdecih, sambil menepis tangan Jo yang memegang dagu runcingnya dengan pelan. "Bahkan kamu lebih kasar daripada aku." Balas Ara dengan tegas.


"Ini rumahku, aku berhak melakukan apapun di rumah ini."


Mendengar perkataan itu, Ara malah tertawa miris. Jo benar-benar laki-laki yang paling sombong yang pernah Ara temui.


"Baik Presdir Jo, sesuai keinginan mu." Balas Ara sambil tersenyum miring. Ara hendak berdiri namun tubuhnya di tahan oleh tangan Jo hingga ia terduduk kembali.


"Apa lagi?" Decak Ara kesal.


"Kamu panggil aku apa barusan?"


Ara terdiam, bukannya Ara memanggil namanya kenapa dia terlihat sangat kesal.


"Presdir Jo. Itu namamu kan?" Seru Ara tanpa rasa bersalah.


Melihat Jo diam saja dengan tatapan kosong, Ara mencoba untuk kabur. Pelan-pelan dia mendorong kursi tempat duduknya lalu berdiri dan hendak berlari.


"Aww...." Pekik Ara saat tangan Jo kembali menariknya hingga tubuhnya berbenturan dengan dada suaminya. Sejenak mata mereka beradu pandang sampai akhirnya Ara tersadar dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Jo lalu mencoba melepaskan tangannya yang di pegang oleh Jo dengan sebelah tangan yang satunya lagi.


"Mau kabur kemana kamu?" Tanya Jo dengan senyum licik di bibirnya.


"Lepasin Jojo! Hari ini adalah peresmian kantor barunya Sam, sebagai asisten pribadinya aku harus datang lebih awal untuk memastikan semua persiapannya telah lengkap. Apa kamu lupa?" Ara memukul-mukul punggung tangan Jo tapi tak membuat laki-laki itu melepaskan tangan Ara.


"Oh, jadi kamu berdandan seperti ini hanya untuk menghadiri acara tidak penting itu." Ujar Jo meremehkan.


"Maksudnya apa tidak penting ? Acara ini sangat penting bagi Sam begitupun bagi aku sebagai karyawannya. Kamu jangan ngomong seenaknya saja!" Ara mulai meradang sambil melototkan matanya tajam.


Jo malah tertawa, di kira istrinya itu sedang melawak di depannya. "Itu hanya perusahaan kecil, suamimu bahkan mempunyai tiga perusahaan seperti itu." Ucap Jo di sela tawanya. Sombong sekali dia.


Ara mencebikkan bibirnya. "Aku tidak peduli, bukannya sebenar lagi kau sudah bukan suamiku lagi?" Perkataan Ara sontak membuat Jo terdiam.


"Bukankah hari ini tepat dua minggu setelah kita berhubungan badan? Kau pasti sudah tidak sabar ingin mengetahui jika aku tidak hamil. Hingga kau bisa mengusirku dari rumah ini. Kamu tenang saja, ku pastikan jika aku benar-benar tidak hamil. Jadi sebentar lagi kamu akan terbebas dari aku." Ara terus saja berbicara panjang lebar tentang perceraian, dan hal itu membuat kepala Jo sedikit pusing mendengarnya. Jo memperhatikan gerak bibir Ara yang berucap tiada henti.


Dan tanpa berpikir panjang, Jo langsung membungkam bibir itu menggunakan bibirnya. Ara begitu terkesiap mendapatkan serangan yang begitu mendadak. Tapi anehnya tubuhnya tidak bisa menolak. Ara membiarkan Jo mengeksploitasi bibir mungilnya itu, bahkan Ara memberi sedikit celah agar lidah Jo bisa menjelajahi setiap sudut rahang perempuan itu dengan bebasnya. Seolah dia rindu akan sentuhan dari bibir suaminya yang dulu masih lugu.


Cukup lama bibir mereka saling bertautan, hingga akhirnya Ara yang mendorong tubuh Jo duluan, karena dia butuh oksigen untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan pasokan udara. Dengan nafas yang tersengal mereka sejenak beradu pandang. Jo tak habis pikir kenapa dirinya bisa seberani itu. Tubuh Ara bagaikan magnet yang bisa menarik Jo kapan saja. Jo tersadar ini bukan dirinya yang sebenarnya, dan menghindar adalah hal terbaik menurutnya.


Sambil menjauhkan sedikit tubuh Ara, Jo mengalihkan pandangannya ke arah lain dan melepaskan tangan Ara.


"Maaf." Sesalnya kemudian.


"Eh...." Mendengar kata maaf dari Jo, Ara seakan terbangun dari mimpinya. Tapi apakah ciuman tadi adalah ilusinya saja, jika memang benar kenapa Jo minta maaf dan kenapa bibir Ara masih terasa basah saat dia sentuh dengan tangannya.


Jo membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan Ara yang masih mematung sambil mengerjap bingung.


"Apa aku bermimpi?" Gumam Ara pelan. Sambil menatap punggung suaminya yang menjauh dari pandangan.


****


Yeh.... Si Jojo udah nyium gak tanggung jawab, main pergi - pergi aja ya 😏😏. Habis enak malah bilang maaf, hadeh belum nyobain rasanya di tabok sendal kayaknya. 😂😂😂


Happy Reading teman... Jangan lupa like, rate, comment dan vote poinnya ya... Maaciiw...,🥰🥰🥰