
Keesokan harinya, Ara meminta izin pada suaminya untuk berkunjung ke rumah Bibi Iren. Sebenarnya Jojo ingin ikut, tetapi Ara melarangnya dengan alasan dia akan lama di sana. Padahal Ara ingin mampir dulu ke restoran, karena ingin menemui Amel dan Daniel. Ya, walaupun Ara masih kesal dengan sikap Daniel waktu itu, tetapi tetap saja dia tak ingin hubungan kekeluargaannya rusak begitu saja. Ara sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka. Jika suatu saat Jojo melupakannya, Ara hanya punya mereka saja.
Ara terpaksa berbohong pada Jojo karena lelaki itu pasti tak akan mengizinkan Ara menemui laki-laki lain. Apalagi seorang Daniel, orang yang membuatnya kesal tempo lalu.
...*****...
Jojo sedang berada di ruang tengah keluarga, dia sedang mencoba mengingat semua masa lalunya dengan cara membuka album foto-fotonya sewaktu masih kecil sampai dewasa. Namun, sayang sekali tak banyak yang dapat dia ingat dari sana. Karena foto-foto kenangannya sewaktu kecil sangatlah sedikit. Apalagi saat dewasa Jojo bukan tipe orang yang gemar mengoleksi foto-foto pribadinya.
"Huh, bagaimana aku bisa mengingat semuanya? Tidak ada petunjuk sedikit pun di rumah ini," gerutu Jojo sambil mendesah frustrasi.
Di saat dirinya merasa kesal, terdengar suara bel pintu yang berbunyi memecah keheningan. Dengan langkah gontai, Bi Darmi segera membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang.
Ternyata yang datang adalah Dokter Ichida. Lelaki itu sengaja datang untuk menemui Jojo. Dia tahu Ayura sedang tidak ada di rumah. Kalau Ara, sih, gampang, lah! Bisa dikondisikan kalau dengan dia. Tentu saja dokter tersebut datang dengan maksud tertentu.
Mencurigakan sekali kedatangannya itu. Ada yang direncanakan oleh Dokter Ichida dengan Jojo. Jangan bilang kalau dia akan mengajarkan Jojo soal malam pertama. Oh ... tidak, kalau memang benar, beruntung sekali karena Ara juga sedang keluar. Dokter Ichida akan dengan bebas mencuci otak Jojo. Bersiaplah, Jo! Begitulah celetukan usil yang terlontar dari mulut Dokter Ichida.
Setelah dipersilakan masuk oleh Bi Darmi, dokter berkaca mata itu pun tak merasa sungkan lagi. Dia langsung nyelonong masuk saat Bi Darmi bilang Jojo ada di ruang tengah rumah itu. Apalagi saat dia tahu Ara tak ada di rumah, dirinya semakin bersemangat saja.
"Hai, Jo," sapa Dokter Ichida.
Jojo menoleh pada asal suara dan tersenyum saat melihat Dokter Ichida datang. Ia pun beranjak berdiri dan menyambut dokter syaraf pribadinya tersebut.
"Hai juga, Om. Tumben Anda ke mari. Apa aku mau diterapi lagi?" tanya Jojo dengan semangat.
Dokter Ichida mengernyit, menatap Jojo dengan seksama, terselip pertanyaan di balik tatapannya itu.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Ditatap aneh seperti itu, membuat Jojo bertanya lagi dengan heran.
"Apa kalian sudah melakukannya?" Dokter Ichida malah bertanya balik, dan pertanyaan itu membuat Jojo semakin bingung.
"Melakukan apa?" Kini kening Jojo mengernyit tajam. Ia semaksimal bingung.
"Ck, ternyata belum, yah," decak dokter Ichida sambil terduduk lesu di atas sofa. Dia datang ke sana semata-mata ingin tahu hal itu saja. Jika Jojo sudah melakukannya, itu artinya terapi selanjutnya akan segera ia dilakukan segera.
Semakin penasaran Jojo mendudukkan tubuhnya di samping dokter Ichida. "Om, jangan membuatku penasaran! Katakan dengan jelas, apa yang belum aku lakukan?" desak Jojo dengan nada kesal.
Sedikit menjauh dokter itu malah tertawa melihat Jojo yang kesal dengan ulahnya. Jojo memutar bola matanya malas, dengan tingkah usil dokter itu. Sambil melepas kaca matanya dia pun menyapu cairan bening yang keluar saking lucunya.
"Kamu ini tidak sabaran sekali, mudah emosi. Mirip mami kamu. Pantas saja Ara tak bisa berinisiatif duluan padamu," ujar dokter Ichida setelah berhenti tertawa.
"Maksudnya?" Perkataan Dokter Ichida semakin berputar dan membuat isi kepalanya terasa berjejal.
"Baiklah, akan kukatakan. Aku yakin jika Ara tidak pernah mengatakannya padamu tentang terapimu yang terakhir," cetus Dokter Ichida dengan nada serius.
Jojo terdiam, Ara selama ini memang tidak pernah mengatakan apa-apa masalah terapi itu, dia hanya bilang jika Jojo hanya membutuhkan satu kali terapi lagi.
"Katakan, Om!" seru Jojo tak sabar.
Jojo terperangah, bibirnya pun terbuka secelah. Ara tidak pernah mengatakan itu, dan sialnya kenapa dokter syarafnya itu baru mengatakannya sekarang. Kalau Jojo tahu dari awal, dia tidak akan menyiksa dirinya sendiri untuk menahan godaan Ara selama ini.
"Aku tidak tahu," jawab Jojo polos sambil menggelengkan kepalanya, "kenapa Om baru bilang sekarang? Tahu gitu aku tidak perlu menahan diri tiap malam," lanjut Jojo dengan nada sedikit kesal.
Dokter Ichida jadi terpaku melihat reaksi Jojo seperti itu, tak lama gelak tawa kembali terdengar dari mulut lelaki itu.
"Jadi kamu merasa tersiksa, Jo?" ledek Dokter Ichida kembali menertawakan Jojo, "ternyata benar kata mami kamu, ya. Kamu ini sebenarnya masih normal, cuma penakut doang," seloroh dokter itu dengan nada mengejek.
Jojo berdecak kesal. Dokter ini memang tidak pernah berbicara serius, selalu saja bercanda. Hidupnya benar-benar seperti tak ada beban saja.
"Aku serius, Om. Cepat katakan lagi apa yang aku tidak tahu! Supaya penyakit lupa ingatanku bisa cepat sembuh." Jojo sedikit memaksa.
Dokter itu pun berhenti tertawa lalu menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Jojo. "Oke, akan kulanjutkan. Pada fase penyembuhanmu yang terakhir nanti, jika terapinya berhasil, lamu akan ingat semua tentang masa lalumu, dan kembali pada usiamu yang sesungguhnya, 28 tahun," tutur Dokter Ichida tanpa garis senyuman di bibirnya.
Jojo tersenyum senang, tetapi ada sesuatu hal yang mengganjal dalam hatinya yang membuat wajahnya berubah muram. Bagaimana dengan Ara? Perempuan itu tidak ada dalam masa lalunya. Apakah Jojo akan melupakannya begitu saja saat terapinya berhasil? Menurut Jojo, itu tidak adil bagi istrinya tersebut.
"Bagaimana dengan Ara? Apa aku akan melupakannya?" tanya Jojo dengan wajah sendu.
Dokter Ichida tersenyum tipis, kali ini sepertinya dia tidak ingin bercanda. Sambil menepuk pundak Jojo lalu berkata.
"Kamu akan tetap mengingatnya, jika terapi berhasil dengan baik, tapi jika tidak ...." Dokter Ichida terdiam sejenak, lalu menarik napasnya dengan berat. "Kau akan melupakannya," imbuhnya dengan lirih.
Jojo terhenyak, dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. "Apa Om tidak bisa mengusahakan agar memoriku sekarang masih bertahan?" pinta Jojo dengan penuh harap.
"Aku minta maaf, Jo. Aku tidak bisa berjanji padamu, karena aku hanya bisa berusaha, tapi Tuhan-lah yang punya kuasa. Kamu berdoa saja, semoga terapimu berjalan dengan lancar, dan semuanya baik-baik saja."
Hening!
Jojo tak mampu berpikir sejauh itu, jika dirinya melupakan Ara, mungkin dia akan baik-baik saja melewati hari-harinya seperti dulu. Namun, bagaimana dengan Ara? Apa dia juga akan baik-baik saja? Bagaimana nasib masa depannya nanti? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiran Jojo saat ini.
"Kamu tenang saja, apa pun yang terjadi Ara tetap akan menjadi istrimu. Kalian menikah secara sah menurut agama dan negara. Ara tidak akan meninggalkanmu asalkan kau tidak mengusirnya saja." Seolah mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Jojo, Dokter Ichida berkata demikian dan memang tepat sasaran. Membuat Jo menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman tipis di sana. Jojo akan mencari cara agar Ara tetap berada di sampingnya selama hidupnya.
"Baiklah, aku akan segera meminta Ara untuk melakukan tugas terakhirnya," ujar Jojo dengan melengkungkan senyuman seringainya.
Dokter Ichida menatap Jojo dengan penuh tanda tanya. Ada sesuatu yang bisa dia tangkap dari percakapannya bersama Jojo kali ini. Lelaki itu seperti tidak mau kehilangan Ara, membuat Dokter Ichida bisa mengambil sebuah kesimpulan menurut pandangannya. Sambil mencondongkan sedikit tubuhnya pada Jojo, Dokter Ichida pun berbisik di telinga Jojo.
"Apa kau mencintainya?" Jojo sejenak tertegun mendengarnya.
...***...
tbc.
Udah diusahain update tiap hari, nih. Tambahin lagi dong, giftnya. Kasih komentar juga, biar othor tambah semangat lagi. Ngarep banget gak, sih ? gak apa-apa, ya, readerskuh 😙😙 ..Jangan lupa like, comment, share, dan vote yang banyaknya teman-teman. Makasih.