My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Membeli Mainan



Ara kembali menahan tawanya, karena melihat wajah Jojo yang merengut tidak suka. Lantas menggiring Jojo masuk ke dalam kamar mandi lagi. "Kamu mandi pakai gayung ini, buka bajumu dan ambil airnya dari bak mandi ini terus guyur ke badan kamu, oke!" Ara mengajari Jojo dengan telaten.


Jojo nampak mengerti, dia menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Lantas hendak membuka bajunya saat itu juga. Tentu saja hal itu membuat Ara kaget sekaligus ketakutan. Ia menahan tangan Jojo, dan menghentikan aktifitas Jojo untuk melepaskan baju. Tidak lucu, 'kan, kalau kepolosan mata Ara harus tercemar oleh tubuh Jojo sebelum dirinya punya pasangan.


"Sebentar-sebentar, jangan buka bajunya dulu! Aku ambilkan sesuatu buat kamu. Tunggu, ya!" sergah Ara setelah sejenak menahan napasnya.


Ara pun keluar dari kamar mandi, tidak lama dia kembali dengan membawa sebuah sikat gigi baru. Ara selalu mengganti sikat giginya secara berkala, jadi dia selalu punya persediaan. "Ini buat sikat gigi kamu, odolnya yang itu, ya! Jangan lupa pakai sabun, terus kamu bilas sampai bersih!" tutur Ara menjelaskan dengan sabar.


"Iya, aku tahu. Kata mami juga gitu. Mandi itu harus bersih, pake sabun, sama sikat giginya juga," cicit Jojo berasa pintar, lalu tangannya memegang ujung baju bagian bawah, hendak melepas bajunya lagi.


Ara dengan cepat memegang tangan Jojo. "Buka bajunya nanti aja pas aku udah keluar, ini baju ganti kamu. Digantung di sini, ya!" Ara menggantung baju bersih dan handuk di gantungan baju. "Pake baju gantinya pas udah beres mandi, baju kotornya kamu masukin ke dalam ember itu aja! Kamu mengerti, 'kan?" imbuh Ara, tangannya menunjuk ke arah ember yang ada di pojok kamar mandi.


Mata Jojo mengikuti arah telunjuk Ara, kemudian mengangguk tanda mengerti.


"Aku ngerti, emangnya aku anak kecil perlu diajarin!" sahut Jojo.


"Iya, kamu memang bukan anak kecil, tapi otakmu ...." Ara mencebikkan bibir, kata-katanya tadi hanya mampu terlontar dalam hatinya saja. Ia tahu Jojo pasti tidak terima.


Walaupun begitu Ara tetap mengurai senyum, rasanya dia senang sekali mengajari Jojo, seperti dia mempunyai adik baru, "Aku nggak bisa nemenin kamu. Aku harus berangkat sekarang, setelah kamu rapih, nanti keluar dari kamar, ya! Temui bibi Iren untuk sarapan," tutur Ara lagi.


"Oke," seru Jojo dengan gaya khas anak kecil, kedua tangannya terangkat ke atas, dengan jari telunjuk dan ibu jari yang menempel membentuk huruf 'O'. Sebelah matanya menyipit genit. Sungguh ... Ara tidak tahan untuk tidak tertawa melihat tingkah gemas Jojo itu.


"Kamu ini aneh, tapi aku terhibur lihat kamu," ucap Ara di sela tawanya. "Aku pergi dulu, deh. Ketawa terus nanti aku bisa telat. Kamu jangan kemana-mana, nanti kesasar!" tambah Ara menasihati. Jojo hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


Ara kemudian keluar dari kamar mandi dan menutup pintu. Jojo pun memulai aktivitas mandinya. Ara menemui Iren yang tengah sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.


"Bi, aku sarapan di restoran, ya! Takut ketinggalan bus kalau sarapan di sini. Aku bekal saja," ujar Ara sedikit terburu-buru.


"Baiklah, bibi siapin sarapan kamu," ucap Iren sambil melangkah mengambil kotak makan di lemari.


"Makasih, Bi," balas Ara sambil memakai sepatu kets yang biasa ia pakai untuk bekerja.


"Bagaimana dengan Jojo?" tanya Iren sambil memasukan nasi goreng ke dalam kotak makan.


Ara mendongak, kemudian berdiri karena sepatunya sudah selesai di pasang. "Dia sedang mandi, aku menyuruhnya ke sini kalau dia sudah selesai," jawab Ara.


Iren pun memberikan kotak makan yang telah diisi nasi goreng pada Ara. Ara menerimanya, lantas berpamitan untuk pergi ke restoran tempatnya bekerja.


***


Di Restoran


Wajah Ara tampak berseri-seri, senyum manisnya selalu melekat sempurna di bibirnya yang imut. Walaupun dalam keadaan sibuk, senyuman itu terlukis begitu tulus. Hal itu membuat Amel—sahabatnya merasa aneh.


"Kamu baik-baik aja, Ra?" tanya Amel saat Ara sudah berada di dapur restoran, Amel memegang kening Ara.


Ara mengerutkan dahi. "Aku memangnya kenapa? Aku sehat-sehat saja," jawab Ara, lalu memperhatikan tubuhnya sendiri dari ujung kaki hingga batas penglihatannya.


"Kamu aneh banget hari ini, kayaknya ada sesuatu yang menyenangkan telah terjadi, wajah kamu terlihat berseri," cetus Amel lalu berpikir sejenak. "Ah, aku tahu. Kamu udah jadian, ya, sama si bos?" celetuk Amel lagi dengan suara cempreng miliknya.


Ara tersentak, suara Amel hampir memenuhi seisi ruangan. Ia langsung membekap mulut Amel dengan telapak tangannya. "Mulutmu udah kayak 'toak', ya! Keras banget, sih! Banyak karyawan lain di sini, kalau mereka dengar gimana?!" bisik Ara di telinga Amel, tetapi dengan nada penuh peringatan. lalu melepaskan bekapannya.


Amel mengusap bibirnya yang terasa perih karena Ana membekapnya dengan sangat kencang. "Sakit, Ra!" keluhnya, tetapi hal itu tidak penting jika dibandingkan dengan berita besar yang akan dia dengar, dengan cepat Amel pun merelakan, "Jadi itu benar, kamu udah jadian sama si bos?" tanyaAmel mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan nada lebih kecil.


"Tentu aja nggak!" jawab Ara dengan kencang, kini giliran suaranya yang menggelegar mengisi ruangan. Sehingga membuat beberapa karyawan menoleh ke arah mereka berdua.


Sebuah ketukan kecil berhasil mendarat di kening Ara. "Kamu pinter banget nasehatin orang, tapi sendirinya malah lebih parah," gerutu Amel dengan kesal.


"Ara, pesanan pelanggan sudah siap, tolong antarkan, ya!" Teriakan seorang chef memotong perbincangan mereka berdua.


"Siap, Chef." Ara berbalik, lalu melangkah membawa nampan yang berisi makanan pesanan pelanggan.


Amel terlihat geram, dia merasa tidak dipedulikan oleh Ara. "Kamu masih punya hutang penjelasan padaku, Ra," seru Amel pelan saat Ara melewati dirinya hendak keluar mengantar makanan.


Ara mengedipkan matanya sebelah. "Beres, nanti aku bayar," timpal Ara dengan gaya centil.


***


Hari ini tepat jam lima sore, restoran tutup lebih awal. Karena akan diadakan rapat para chef bersama pimpinan restoran. Mereka akan membahas tentang rencana perayaan hari jadi restoran yang akan di adakan bulan depan.


"Padahal acaranya masih lama, ya, kenapa rapatnya sudah dari sekarang aja?" celoteh Amel saat mereka bersiap untuk pulang di tempat loker karyawan.


"Ish ... kamu ini nggak bersyukur banget, si! bukannya enak bisa pulang cepat?" cetus Ara sambil sibuk mengikat rambutnya menghadap ke arah cermin besar.


"Iya juga, sih." Amel cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Eh ... kamu masih belum cerita gimana kencanmu waktu itu?" Amel teringat dengan hutang cerita Ara.


Are mendengus. "Kupikir udah lupa," ucap Ara sambil membalikkan tubuhnya menghadap Amel. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kecil yang ada di depan cermin itu. "Dia nembak aku lagi," ucap Ara dengan malas.


"Terus?" Amel nampak bersemangat.


"Terus kutolak lagi." Ara santai berkata santai, sambil memainkan kukunya.


Amel mendengus seraya melemaskan bahunya, "Kamu ini mau yang seperti apa lagi sih, Ara? Dia itu bos, banyak duit, orangnya juga baik, bodoh kali kau ini," omel Amel dengan gemas, ia sengaja memakai logat bahasa lain saking kesalnya.


"Entah, tapi kalau kamu mau, ambil aja!" balas Ara, membalikkan keadaan.


"Dia maunya sama kamu," sembur Amel seraya mendengus kesal, lantas menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, "Terus, kenapa kamu kelihatan senang banget hari ini?" tanya Amel kemudian.


Ara menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis di sana. "Aku punya teman baru sekarang. Dia lucu, sekarang tinggal di rumah bibi Iren," beber Ara. Tatapannya menerawang seraya membayangkan wajah Jojo.


"Perempuan?"


"Laki-laki," jawab Ara


"Sodara Bi Iren?"


"Bukan."


"Heh, kamu membawa laki-laki asing ke rumah Bibi Iren, dan tinggal bersama di sana? Nggak waras kamu, Ra!" berang Amel sambil melotot tajam.


Ara tertawa pelan lalu memegang pundak Amel, "Selow, Mel, selow! Dia cuma anak kecil, kok. Nanti aku kenalin."


Amel memicingkan kedua matanya mendengar pernyataan Ara, "Bener?" tanyanya meyakinkan.


"Iya, bener. Sekarang pulang, yuk! Aku mau mampir ke toko mainan dulu, mau beli mainan untuk dia," ajak Ara. Tanpa bisa menolak, Amel mengikuti langkah Ara, karena tangannya ditarik kuat oleh sahabatnya tersebut.


***


Semangat pagi ... para readers yang baik hati! Tetap tersenyum dan tetap semangat mengumpulkan poin.


Jangan lupa Vote , like sama comment-nya yang kenceng, ya ...


Maacih 🥰