
Jo keluar dari kamarnya dengan perasaan yang aneh, jantungnya berdebar cepat sekali, dan kakinya seakan berjalan tanpa menginjak lantai. Begitu ringan kaki itu melangkah, hingga tanpa sadar dirinya sudah sampai di meja makan. Di sana sudah ada Angelina dan juga mommy Ayura yang sudah lebih dulu menyantap sarapannya.
"Kakak?" Suara Angelina membuyarkan lamunan Jo. Dirinya menoleh ke arah Angelina yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Kok melamun? " tanya Angelina yang merasa heran dengan sikap kakaknya tersebut.
Tidak biasanya Jo hilang fokus seperti itu. Karena semenjak ingatannya kembali, Jo selalu terlihat serius dan tidak menyukai kelalaian sedikit pun.
Jo mengalihkan pandangannya ke arah meja makan, lalu menarik salah satu kursi kosong di sana dan langsung mendudukinya. "Aku tidak melamun," sanggahnya.
"Tapi aku lihat dari tadi kakak melamun, sejak berjalan menuju ke sini juga seperti tidak fokus." Angel yang duduk berhadapan dengan arah datangnya Jo, memang melihat jelas raut kebingungan yang tercetak di wajah kakaknya itu.
"Kakak lagi ada masalah, ya?" imbuh Angel bertanya lagi.
Tapi Jo tak mau menjawab, dia hanya terdiam sambil menatap Angelina dengan tatapan datar. Ayura yang mengetahui betul sifat anak sulungnya, yang tidak suka jika ada orang lain yang banyak bertanya tentang dirinya, merasa sedikit khawatir jika Angelina akan mendapatkan perlakuan kasar dari Jo lagi.
"Angel, cepat habiskan sarapanmu, Nak! Jangan ganggu kakakmu!" hardik Ayura sambil menoleh ke arah Angelina. Lalu mengedipkan matanya, seolah memberikan kode agar anak itu sebaiknya diam saja.
Angelina yang juga menoleh ke arah mommy-nya, kemudian menganggukkan kepalanya tanpa berbicara lagi. Lalu melanjutkan kembali menyantap sarapannya, yang sempat tertunda karena kedatangan kakaknya tadi.
Jo tetap bersikap dingin, walaupun dia sudah tidak membenci ibunya, tapi sifat dinginnya itu seperti sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Apa mungkin karena Jacob telah mengacaukan terapinya saat itu, atau memang sifat asli Jo tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bisa dikatakan jika terapi itu hanya berhasil merubah setengahnya saja dari kebiasaan buruk Jo di masa lalunya.
Jo mengambil sebuah roti, lalu mengoleskan selai coklat di atasnya. Mereka menyantap sarapannya tanpa ada perbincangan apapun lagi. Suasana jadi hening, hingga suara sepatu pentopel seseorang, yang berbenturan dengan lantai marmer terdengar nyaring mendekati meja makan. Membuat perhatian mereka jadi teralihkan. Apalagi saat orang itu yang tak lain adalah Ara, menarik salah satu kursi kosong, lalu duduk tepat di samping Jo.
"Pagi semua," sapa Ara dengan penuh semangat.
Jo melirik ke arah Ara, melihat senyuman yang melengkung sempurna di bibir perempuan itu. Dirinya menjadi ingat kembali, dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Hatinya seketika memanas dan jantungnya kembali bergenderang. Untuk pertama kalinya Jo merasa gugup berdekatan dengan Ara. Dia pun memilih untuk mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Kak Ara cantik banget, tumben make-up nya lebih cetar," kelakar Angelina memberikan komentarnya pada penampilan baru Ara.
Ara tersenyum simpul, menumpukan kedua tangannya di atas dagu. "Memangnya kemaren-kemaren tidak cantik, ya? Apa sekarang kakak terlihat aneh?" tanyanya sambil menatap sendu pada adik iparnya tersebut. Pura-pura sedih.
Angelina menggeleng pelan. "Gak gitu, Kak Ara itu selalu cantik, dan sekarang sangat-sangat cantik," seru Angel sambil mengangkat kedua jempolnya ke atas.
Bibir Ara melengkung seketika, senyuman manis kembali menghiasi wajahnya. "Benarkah? Terimakasih, Sayang," balasnya senang, lalu melirik ke arah suaminya yang terlihat sibuk menguyah makanannya. Kemudian beralih lagi pada Angelina.
"Hari ini adalah peresmian perusahaan tempat kerja Kak Ara yang baru. Dan sebentar lagi kakak akan pindah ke perusahaan itu, jadi kakak tidak perlu datang ke perusahaan kakakmu lagi," imbuh Ara sedikit menekankan kata-katanya. Dan Angelina hanya ber - oh tanpa suara, sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba Jo tersedak dengan makanannya sendiri. Mendengar perkataan Ara, rasanya makanan itu susah sekali dia telan dan malah nyangkut di tenggorokan.
"Pelan-pelan, dong!" seru Ara sambil menyodorkan segelas air bening kepada suaminya. Jo segera menyahut gelas itu, dan langsung menenggak airnya hingga habis tak tersisa. Lalu menyimpan kembali gelas kosong itu di atas meja.
"Aku sudah selesai," seru Jo sambil beranjak berdiri dari duduknya, lalu bergegas pergi dari sana. Namun, saat Jo hendak melangkah pergi, Ara memanggil namanya lagi, membuat langkah laki-laki itu seketika terhenti.
"Ada apa?" tanya Jo tanpa menoleh ke arah Ara, pandangannya tetap lurus ke arah depan.
"Boleh aku ikut denganmu?"
Deg!
Pertanyaan itu membuat jantung Jo kembali berdetak kencang, tidak biasanya perempuan itu minta berangkat bersamanya. Karena semenjak mendapat perkataan Jo yang menyakitkan tempo lalu. Ara tidak pernah mau jika diajak oleh Jo, baik pergi maupun pulang. Ara lebih memilih naik taxi atau pergi dengan Sam.
Ara merasa senang, bukan tanpa alasan dia ingin menumpang di mobilnya Jo, dia hanya ingin bertanya pada suaminya itu. Kenapa tadi lelaki itu tiba-tiba menciumnya?Bukankah dia sangat membenci wanita, ataukah Jo sudah ingat jika Ara adalah istri yang dicintainya?
Ara bergegas pergi ke kantor bersama Jo, tak lupa dia berpamitan dulu pada mommy mertua dan juga adik iparnya. Dengan mencium punggung tangan Ayura, dan mencium puncak kepala Angelina. Ara sangat menyayangi mereka. Walaupun pernikahan Ara hanya tinggal menunggu waktu saja, tetapi dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di keluarga itu.
Kini tinggallah berdua Ara dan Jojo di dalam mobil yang Jo kendarai. Ara duduk di samping Jo yang terlihat fokus mengemudi, tak ada obrolan hingga menimbulkan suasana menjadi sepi. Hanya terdengar suara deru mobil yang mendominasi.
"Jojo ...." Panggilan Ara memecah keheningan diantara mereka. Jo sekilas menoleh, menarik bibirnya segaris membentuk senyuman tipis. Dirinya begitu senang saat Ara memanggilnya dengan nama Jojo lagi.
"Apa?" tanya Jo tanpa mengalihkan pandangannya dari arah depan.
"Ehm ...." Ara sedikit ragu untuk berbicara. Bagaimanapun, dirinya adalah seorang wanita. Yang akan merasa malu jika harus bertanya tentang sesuatu yang bersifat tabu.
"Kamu mau bertanya soal tadi pagi, kenapa aku menciummu, 'kan?" tebak Jo tepat sasaran. Ara terhenyak, bagaimana Jo bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Kenapa kamu bisa tahu?"
Jo tersenyum kecut, melirik ke arah Ara walau hanya sebentar. "Wajahmu mengatakan itu," ucap Jo yang membuat Ara sontak menyentuh wajahnya sendiri. Lalu beralih melihat kaca spion yang berada di samping jendela mobilnya. Tidak ada yang aneh, hanya ada sedikit semburat merah memancar dari pipinya.
Ara kembali menatap ke arah depan, berusaha bersikap tenang, dan tidak menunjukkan jika dirinya benar-benar malu. "Jadi ... apa kamu bisa menjelaskan tentang hal itu?" tanyanya kemudian.
Jo malah tertawa membuat dahi Ara mengkerut tajam, seraya menoleh ke arahnya. Apanya yang lucu? Sungguh Ara tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran manusia ini.
"Aku hanya ingin menghapus lipstik yang menempel di bibirmu itu, warnanya norak sekali. Dan sekarang kau malah memakainya kembali. Apa kamu sengaja agar aku menghapusnya lagi?" Jawaban itu membuat Ara terperangah, mulutnya pun sampai terbuka secelah.
Alasan macam apa itu? Apa tidak ada alasan yang lebih logis dari itu. Ah, dimana sebenarnya otak manusia ini di simpan. Atau saat terapi itu otaknya jadi berpindah ke bagian rahang. Hingga ucapannya langsung keluar tanpa harus berpikir panjang.
Ingin sekali Ara menjambak rambut lelaki itu, lalu membelah kepalanya dan menyimpan kembali otaknya di tempat yang semestinya, tapi keinginan itu hanya bisa Ara luapkan, dengan meremas tas kerja yang sedang dipangku nya saja. Sambil membayangkan jika tas itu adalah kepala suaminya. Menyebalkan bukan?
Ara tak mau menanggapi perkataan suaminya tersebut, dia memilih untuk diam sepanjang perjalanan, menyesal sekali dirinya berinisiatif ikut menumpang di mobilnya Jo. Hingga tak terasa kini mobil Jo sudah dekat dengan perusahaan milik suaminya. Lalu Jo menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia sengaja menurunkan Ara sedikit jauh dari kantornya karena tak ingin rahasianya terbongkar begitu saja. Ara sengaja tak langsung ke perusahaan baru Sam, karena Sam memintanya untuk mengambilkan sesuatu, yang tertinggal di ruangan mereka dulu.
Saat Ara hendak turun dari mobil Jo, tiba-tiba tangan Jo menarik lengan Ara, hingga membuat perempuan itu menoleh ke arah suaminya.
"Ada apa?" tanya Ara penasaran.
"Sudah ku bilang warna lipstikmu itu norak, cepat hapus!" Ada jeda sebentar sebelum Jo menarik salah satu sudut bibirnya. "Apa mau aku hapus dengan caraku lagi disini?" ancam Jo dengan seringai tipis.
Ara tersentak, dia langsung menepis tangan Jo dengan kasar. Tapi tak bisa di pungkiri sebuah ancaman yang keluar dari mulut Jo itu, malah membuat wajahnya jadi tersipu. Dan Ara tak bisa menyembunyikan hal itu.
Sialan !
***
Hahahaha.... Sepertinya Jo ketagihan, sampai - sampai ancamannya juga tak jauh dari bibir Ara. Jojo.... Jojo, sudah ada kemajuan rupanya. Benarkan readers kuh???🤣🤣🤣
Jangan lupa like, komentar, rate dan votenya ya.... . Hatur tengkyuu.... 🥰🥰🥰