My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
ARA AKAN BOSAN



" Buka mulutmu lagi ! " Perintah Jo pada Ara, sambil menyodorkan kembali sendok yang sudah berisi makanan pada mulut Ara, ini adalah suapan entah keberapa yang ia dapatkan langsung dari tangan Jo.


Pada saat tadi Ara kepergok sedang di gendong oleh Sam, laki-laki pencemburu itu langsung mengambil alih tubuh Ara ke dalam dekapannya. Karena memang Sam menolak untuk menurunkan istrinya tersebut.


Dengan langkah gontai ia bawa istrinya ke bawah, sesuai yang ia minta pada Sam tadi. Padahal Ara tidak pernah meminta Sam untuk menggendongnya. Entah di sengaja atau tidak Sam benar-benar membuat emosi Jo meningkat berkali-kali lipat. Sam terus saja mendekati Ara, membuat Jo berdecak berkali-kali dan terus saja menempel pada Ara dan membuat jarak antara Sam dan istrinya. Tapi anehnya sebegitu jelasnya Sam membuat Jo cemburu tapi tak membuat laki-laki itu mengusir sepupunya seperti waktu itu.


Ara mengernyitkan dahi, merasa heran dengan sikap kedua laki-laki yang kini sedang berebut perhatian dari Ara itu. Keduanya sama-sama memberikan perhatian yang lebih pada Ara. Dan tentu saja Jo yang menjadi pemenangnya karena memang ia adalah suami sahnya.


Walaupun tidak dapat Ara pungkiri, perhatian Sam jauh lebih lembut dan tulus di bandingkan dengan Jo, karena laki-laki itu terkesan sedikit memaksa dalam memberikan perhatiannya. Ck, perhatian macam apa itu. Jo memang bukan pecinta sejati, dirinya tak punya pengalaman dalam hal merayu wanita. Walaupun rasa bencinya pada perempuan sudah hilang bersamaan dengan datangnya ingatan masa lalunya yang kelam. Jo ingin merubah dirinya menjadi lebih terbuka pada wanita terutama pada Ara istrinya.


" Aku sudah kenyang. " Seru Ara lalu menunjuk segelas air yang berada di atas meja di samping Jo. Jo mengikuti arah telunjuk Ara dan seketika mengerti dengan maksud istrinya, ia ambil gelas itu dan di berikan pada Ara. Ara menyaut gelas itu dan segera menenggak airnya hingga kandas lalu memberikan kembali gelas kosongnya pada Jo.


Mereka kini sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sam juga masih di sana, memperhatikan kemesraan sepasang suami-istri di hadapannya, ia duduk di sofa tunggal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Jo menyuruh bi Darmi untuk membereskan peralatan bekas makan Ara. Setelah itu ia beranjak berdiri dan bersiap menggendong tubuh Ara lagi hendak membawanya kembali ke kamar. Tapi dengan cepat Ara menepis tangan Jo.


" Aku tidak mau ke kamar, biarkan aku disini dulu! " Pinta Ara dengan memelas. Ia benar-benar bosan jika harus selalu berada di dalam kamar. " Aku mau nonton TV. " Imbuhnya sambil meraih remote yang kebetulan berada di sofa.


" Di kamar saja, disana juga ada TV. " Seru Jo lagi - lagi memaksa Ara.


Ara menggeleng, " Aku tidak mau, disana pengap. Mending disini lebih leluasa. " Tolak Ara sambil mengarahkan remote nya pada sensor yang menempel di televisi itu hingga layar kotak itu pun menampakkan acara tontonan favoritnya. Tentu saja itu adalah film India.


Sam yang melihat kelakuan Jo sedikit mencibir, ia menegakkan tubuhnya dari posisinya yang tadi bersandar santai. " Ara bukan seekor burung yang bisa kak Jo kurung dalam sangkar. " Sindiran Sam membuat Jo menatap ke arah Sam dengan tatapan tak suka. Kenapa sih Sam masih saja betah di rumah Jo meski sikap Jo sudah terlihat jelas tak menyukai keberadaan lelaki itu. Dan anehnya Jo tak kunjung mengusir lelaki itu.


" Kita perlu bicara. " Mendengar Jo berbicara seperti itu, Ara seketika mendongakkan kepalanya ke arah suaminya dengan begitu takut, ia menyangka jika Jo berkata padanya dengan begitu serius. Tapi sesaat kemudian Ara kembali di buat terperangah karena yang Jo tarik adalah tangan Sam. Mereka terlihat berjalan beriringan ke arah taman belakang.


" Aneh banget sih mereka. " Ara menyipitkan matanya, menatap kepergian dua orang itu dengan tatapan penuh kecurigaan. Ingin sekali Ara mengikuti mereka tapi Ara rasanya percuma saja, jika saja Ara berhasil menyusul mereka dengan langkahnya yang tertatih pelan. Sampai disana pun pembicaraan mereka sudah selesai.


Ara mengedikkan bahunya, bersikap masa bodoh dan kembali menatap layar datar yang menampilkan acara kesayangannya.


***


Di taman belakang.


" Sudah cukup ya, kamu ini benar-benar di kasih hati minta jantung. " Seru Jo sambil berdiri menghadap Sam di taman belakang itu. Matanya melotot menatap wajah Sam dengan tajam.


Tapi bukannya takut, hal tersebut malah membuat adik sepupunya itu tergelak tawa, lalu melangkahkan kakinya melewati tubuh Jo menuju kursi panjang yang ada di belakang Jo dan duduk di atasnya.


" Aku sangat suka melihatmu seperti ini kak, sangat berbeda dengan dirimu dulu yang begitu kaku. Jangankan cemburu, melihat perempuan saja kau tidak mau. " Kelakar Sam sambil terkekeh.


Jo mengernyit heran, lalu membalikkan badannya menghadap ke arah sepupunya. Jo tidak mengerti dengan maksud perkataan Sam. Apa pria itu sedang membuat emosi Jo semakin tersulut dengan cara meledaknya seperti itu.


" Berani kamu meledek ku Sam? " Jo berjalan menghampiri kursi lalu langsung mengalungkan lengannya di leher Sam, membuat kepala Sam terhimpit di ketiak pria kekar itu.


" Ampun kak, ampun.... " Teriak Sam sambil terus meronta berusaha melepaskan cekalan tangan Jo di lehernya.


Jo melepas tangannya dari leher Sam dan sedikit mendorong tubuh lelaki itu dengan sedikit kasar. Lalu duduk di samping Sam di bangku panjang.


" Ck, kasar banget sih. Bisa bisanya Ara jatuh cinta pada laki-laki macam ini. " Gumam Sam dengan pelan, tangannya masih sibuk memegangi lehernya yang terasa perih.


" Aku bisa dengar Sam. Kau mau lehermu putus sekarang juga? " Ancam Jo yang ternyata mendengar gumaman Sam barusan. Matanya melirik tajam, tanpa di barengi gerak tubuhnya yang tetap menghadap ke depan.


" Mau apa kau kemari? " Tanya Jo kemudian, kini suaranya terdengar lebih tenang.


" Aku mau protes, kenapa kau paksa Ara mengundurkan diri dari perusahaan ku? " Tanya Sam merasa tak terima. Walaupun ia tahu Ara sakit tapi bukan berarti Ara tak bisa kembali bekerja saat wanita itu sudah sembuh nanti.


" Aku sudah mengembalikan ingatan cintamu itu ya, dan aku juga sudah tahu jika Ara sangat mencintaimu terlihat dari video itu. Jadi, kau tidak perlu takut jika ia akan berpaling hanya karena mempunyai kegiatan di luar. Kau lihat tadi, hanya beberapa hari saja ia di kurung di dalam rumah, Ara sudah merasa bosan. Jangan..... "


" Cukup. " Ucapan Sam terhenti seketika, saat Jo menoleh dengan tatapan tak suka dan menghentikan omelan lelaki itu pada Jo.


" Aku tahu Ara akan bosan, tapi aku menyuruhnya mengundurkan diri bukan hanya karena aku takut ia berpaling dariku, apalagi pada laki-laki cerewet macam kamu. " Jo berhenti sejenak sambil menepiskan senyum meledek pada Sam. Membuat Sam mencebikkan bibirnya dengan kesal.


" Ada alasan lain. Dan kau tidak perlu tahu. " Imbuh Jo yang membuat Sam mengerutkan dahi, ia terlihat penasaran. Tapi Sam tak bisa membahasnya lagi, ia hargai keputusan kakak sepupunya itu. Bagaimanapun Jo adalah suaminya, dan ia berhak mengatur istrinya. Lagipula Sam datang kesana hanya untuk melihat kondisi Ara. Ia hanya berpura-pura saja, ingin melihat reaksi Jo jika sedang cemburu buta. Sam sudah memutuskan untuk melepas cintanya pada Ara, dan berharap ada gadis lain yang seperti Ara yang telah berhasil mengetuk pintu hatinya.


***


Flashback saat Jo mencari Ara ke kantornya Sam.


" Hai kak Jo, kebetulan kamu datang, Ara hari ini tidak masuk kemana dia? " Tanya Sam pada Jo yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa permisi.


Mendengar pertanyaan Sam, dahi Jo jadi mengkerut dalam. Justru kedatangannya ke perusahaan itu hanya untuk mencari Ara, tapi mendengar pertanyaan Sam barusan sepertinya Jo sudah mendapatkan jawabannya.


" Ara hilang. " Kalimat itu cukup membuat wajah Sam menegang seketika. Bagaimana bisa? Satu pernyataan langsung terbesit dipikiran lelaki itu.


Jo menceritakan semuanya pada Sam, raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Seketika saja Sam ingat sesuatu, dan langsung membuka laci meja kerjanya mengambil satu barang dari sana.


" Apa ini milikmu kak? " Tanya Sam sambil menyimpan sebuah kamera perekam di tas meja kerjanya.


Jo mengerutkan dahi, menatap kamera itu dengan lekat, dan saat ia melihat ada ukiran huruf J di bagian atas kamera tersebut dia sangat yakin jika itu adalah kameranya yang hilang. Lalu, bagaimana bisa kamera itu ada di tangan Sam?


" Ini milikku, bagaimana ada padamu ? " Tanya Jo sambil menyaut kamera itu dan memperhatikannya dengan heran.


" Aku tidak sengaja menemukannya di ruang kerja papa, saat beliau menyuruhku untuk mengambil berkas disana. Awalnya aku pikir itu milik papa, tapi saat aku tak sengaja melihat isi rekamannya. Aku sangat yakin kaulah pemiliknya. Karena papa tidak mungkin mau menjadi seorang penguntit yang harus setiap hari merekam kemesraanmu bersama Ara. " Sam terkekeh pelan, walaupun sebenarnya hatinya hancur berantakan.


" Rekaman apa?" Jo tidak mengerti dengan ucapan Sam, karena ia sama sekali tak mengingat apapun perihal adanya rekaman tersebut.


Dengan begitu penasaran, akhirnya Jo melihat sendiri rekaman tersebut. Jo merasakan tubuhnya tiba-tiba bergetar saat melihat rekaman itu, jantungnya seakan tak bisa di kendalikan dan nafasnya terasa sesak dan tersengal. Ada banyak video di dalamnya tapi baru saja satu video yang ia putar, sudah membuat tubuhnya sedikit limbung dan berpegangan di meja kerja Sam.


" Kak Jo, Kau kenapa? " Sam seketika beranjak dan berlari menangkap tubuh Jo yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Jo pingsan dan hal itulah yang mengembalikan semua ingatannya saat ini.


Flashback off.


***


Yeay..... Selamat yah buat yang kemarin tebakannya benar, ternyata ingatan Jojo kembali karena ia melihat kembali rekaman videonya dulu, dan Sam lah yang menjadi pahlawannya... ☺☺


Tetap dukung author ya, klik like, rate 5 star, share dan vote pake poin nya.... Komentar kalian juga paling berkesan di hati Amy ini. Makasihhh 🥰🥰🥰


Maaf ini upnya telat, tadi sempet ketiduran. Tapi pas bangun di usahain buat lanjutin. Jadi kasih semangatnya buat author ini ya... Dengan vote seikhlasnya. 🙏🙏☺