
Ara duduk termenung di sisi ranjang, setelah dua jam yang lalu dia telah sah menjadi istri dari Jojo, Ara tidak mungkin menyesali keputusan nya tersebut, walaupun itu terjadi sekarang mungkin sudah terlambat, dirinya kini telah terikat.
Ketika Ara masih di sibukkan dengan lamunannya, tanpa dia sadari Jojo sudah memeluk Ara dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Ara, membuat nya sangat terkejut dan langsung menolehkan wajah ke belakang, hingga jarak wajah mereka menjadi sangat dekat.
Jantung Ara seakan berhenti berdetak, hembusan nafas mereka saling beradu, membuat aliran darah Ara berdesir tak menentu, sejenak Ara berpikir jika Jojo hanyalah pura - pura dungu, tapi saat tatapannya terlihat lugu, hati Ara kembali pilu.
"Ara, ayo main!" Ajak Jojo dengan polosnya, bahkan dia belum menganti bajunya yang dia pakai saat akad nikah.
Ara tersenyum, lalu melepas tangan Jojo dengan lembut. "Kamu belum mandi, mandi dulu ya, baju kamu juga masih yang tadi." Ara menunjuk ke arah baju Jojo, Jojo pun menundukkan kepalanya melihat ke arah baju yang dia kenakan.
Jojo tertawa cengengesan. "Aku lupa." ujarnya sambil mengaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
Ara beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya sebelah mengajak Jojo juga turun dari tempat tidur.
"Kita mandi bareng ya!" Seru Jojo sambil mengerjap polos.
"Apa?" Ara tersentak, matanya pun ikut terbelalak.
"Jojo kan sudah bisa mandi sendiri, lagi pula di sini ada bath up, Jojo tinggal berendam saja." Imbuh Ara, dia masih malu untuk melakukan hal itu, walaupun Jojo kini suaminya tapi kata dokter Ichida juga belum waktunya.
"Memangnya kenapa? Kata mommy setelah kita menikah, aku bisa melakukan apapun berdua denganmu." Seru Jojo tak mau tahu.
Ara mulai kelabakan, bisa-bisanya nyonya Ayura berkata demikian sedangkan Jojo masih dalam kondisi yang tak memungkinkan, Ara terdiam sambil menelan ludah nya dengan berat, dia memikirkan kata - kata yang sesuai untuk menolak permintaan Jojo.
"Kenapa diam? Ayo!" Tanpa aba-aba Jojo menarik tangan Ara, dan langsung masuk ke kamar mandi. Jojo langsung menutup pintu kamar mandi. Ara bingung harus berbuat apa, tiba-tiba terbesit sebuah ide cantik di pikiran nya.
"Jojo, bagaimana kalau kita main hujan, mandinya jangan di bath up!" Seru Ara sambil menjentikkan jarinya.
Jojo mengernyit, lalu mengadahkan kepalanya ke atas. "Air hujannya mana?" Tanya Jojo bingung.
"Itu...." Ara menunjuk sebuah shower yang menggantung di atas kepala Jojo. "Air hujannya dari shower itu, sama saja kan?" Imbuh Ara dengan perasaan tegang, takutnya Jojo menolak ide konyolnya itu.
Jojo berjingkrak kegirangan, membuat Ara bisa bernafas lega, suami nya sangat bergembira. Jojo hendak membuka bajunya, Ara pun tak membiarkan itu, dia langsung mencekal tangan Jojo dengan cepat.
"Jangan di buka!"
"Kenapa? Kalau mandi harus lepas baju." Seru Jojo sambil mengerjap bingung.
"Main hujan-hujanan itu lebih asyik pakai baju." Ucap Ara sekenanya, mungkin hanya itu ide yang ada di pikirannya sekarang.
Jojo berpikir sejenak. "Betul juga." ucap nya kemudian, dia pun langsung menyalakan shower, seketika air menyembur keluar membasahi tubuh Jojo yang kekar, tampak guratan-guratan sexy dari dada bidang Jojo yang terlapis kain basah itu.
Ara menelan ludah, sejenak memejamkan mata karena tak ingin jadi tergoda. Jojo menautkan kedua alisnya saat Ara hanya berdiri mematung di hadapannya, apalagi saat melihat matanya terpejam membuat Jojo mendengus kesal.
"Aaargh....!" Pekik Ara saat dirinya di tarik masuk ke dalam guyuran air shower, Jojo menarik bahu Ara hingga tubuhnya terbentur pada dada bidang Jojo dan tubuh mereka kini tak berjarak sama sekali, Ara mendongakkan kepala menatap Jojo yang tersenyum geli melihat wajah Ara yang basah kuyup.
Ara kembali menelan ludahnya, sungguh ini di luar kuasanya, guyuran air dingin dari shower malah membuat suhu tubuhnya menjadi panas, Ara mengambil langkah mundur, sedikit memberi jarak pada tubuh Jojo.
"Kenapa kamu diam saja? Ini sangat menyenangkan, aku tidak pernah main hujan - hujanan sebelumnya, mommy selalu melarangku melakukan itu." Seru Jojo sambil sesekali mencipratkan air ke wajah Ara sambil tertawa kegirangan.
Ara tersenyum geli dan mencoba menghindari cipratan air itu dengan memalingkan wajah nya ke arah lain. "Jojo hentikan!" Teriak Ara sambil mengangkat tangannya mencoba menghalangi matanya yang terasa perih saat air dari cipratan itu menusuk langsung ke bola mata Ara.
Jojo terdiam, menghentikan tingkahnya itu dia pikir Ara akan marah padanya, Ara menurunkan tangannya saat tak lagi mendengar tawa Jojo, melihat Jojo memasang wajah melas nya, hati Ara kembali tak berdaya, Ara sedikit berjingjit lalu mengacak rambut Jojo dengan gemasnya.
Jojo tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Ara, dia pun membalas mengacak rambut Ara juga, dalam sudut pandang yang berbeda mereka terlihat seperti sedang perpelukan, tapi Ara tak menyadari itu, dia mulai terbawa suasana dan mengikuti permainan Jojo. Mereka tertawa bersama, berjingkrak-jingkrak , berjoged ria di bawah guyuran air.
Setelah puas bermain, Ara menyuruh Jojo untuk menganti baju nya yang basah dengan handuk kering dulu, sementara dirinya langsung berlari keluar kamar mandi dengan alasan ingin mencarikan baju untuk Jojo. Ara pun segera berganti baju di dalam kamar sebelum Jojo keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai berganti baju, Ara mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, kakinya terasa lemas seperti habis di kejar - kejar oleh orang gila. Baru beberapa jam menjadi istri Jojo dirinya sudah selelah itu, padahal dulu waktu Jojo masih tinggal bersama nya di rumah Iren, dia juga sering bermain dengan Jojo, tapi tak segugup sekarang, mungkin karena statusnya yang sekarang menjadi berbeda hingga Ara menjadi belum terbiasa.
Ara menoleh, dan kembali membulatkan matanya saat melihat Jojo yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang di balut di bawah pinggang nya saja.
"Sial, bahkan aku harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini setiap hari." Umpat Ara dalam hati sambil sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tunggu sebentar! Aku lupa mengambilnya." Seru Ara beranjak berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah lemari hendak memilihkan baju untuk di pakai Jojo.
"Pakailah ini, tapi di kamar mandi ya!" Pinta Ara, sambil memberikan pakaian Jojo tanpa melihat ke arahnya. Jojo pun menurut tanpa banyak bertanya dia mengambil baju itu dan berbalik ke kamar mandi.
"Jojo, lain kali kamu tidak boleh cuma memakai handuk jika di depanku!" Ucap Ara setelah Jojo keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaiannya tadi. Kini Ara sedang merapikan baju Jojo yang sedikit berantakan.
"Kenapa?" Jojo mengernyit bingung.
"Gak apa-apa, takut ada setan lewat aja." Jawab Ara seadanya. Jojo tambah bingung, tapi kepalanya tampak mengangguk tanda setuju dengan ucapan Ara. Ara tersenyum senang, lalu menggiring tubuh Jojo untuk duduk di depan cermin.
"Duduk sini! Aku akan membantu mu mengeringkan rambut." Seru Ara, Jojo pun dengan patuh menurutinya. Dan Ara pun mulai mengosok-gosokkan handuk di kepala Jojo.
***
Di sisi lain, tampak Ayura dan dokter Ichida sedang berbincang di ruang keluarga, para tamu yang menghadiri acara pernikahan Jojo dan Ara sudah kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk juga Iren, dia belum siap untuk tinggal di rumah besar Jojo, dan meminta waktu sehari pada Ara untuk membereskan rumahnya terlebih dahulu dan mempersiapkan pakaian yang harus dia bawa.
"Ayura, besok saja aku akan membawa alat itu kesini ya, apa kamu sudah mempersiapkan kamarnya?" Tanya dokter Ichida setelah meneguk teh hangat yang di sajikan oleh mbo Darmi, pelayan senior di rumah Jojo.
"Sudah, aku sudah mempersiapkan kamar khusus untuk itu." Jawab Ayura dengan santainya.
Dokter Ichida menyimpan cangkir tehnya di atas meja. "Ngomong-ngomong sedang apa pengantin baru itu di dalam kamar? Kenapa lama sekali, aku jadi curiga. Jangan-jangan... awww !" Pekik dokter Ichida karena mendapat tabokan lengan dari Ayura saat hendak melanjutkan perkataannya.
"Kamu selalu berpikiran kotor!" Decak Ayura sambil mendengus kesal.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Seru dokter Ichida sambil mengelus lengannya terasa perih.
Ayura terdiam, dokter Ichida memang sangat pintar memojokkan orang, Ayura jadi merasa dirinya lah yang berpikiran kotor karena terlebih dahulu menyela perkataannya barusan. Ayura membulatkan bibirnya membuat kedua pipinya mengembung.
"Hahaha... wajahmu menggemaskan jika seperti itu, kau tidak akan menang melawan aku." Ucap dokter Ichida dengan angkuh, candaan receh seperti itu, memang selalu menghiasi setiap perbincangan dua sahabat yang sudah tak muda lagi itu. Ayura pun akhirnya tertawa kecil, sahabatnya itu tak pernah bisa membuatnya marah terlalu lama.
"Mommy...." Suara teriakan Jojo membuat kedua orang yang sedang tertawa itu menoleh bersamaan. Jojo langsung duduk di sofa di samping mommy nya sambil mengelayuti tangan Ayura dengan manja. Di ikuti oleh Ara yang kini duduk di sebelah dokter Ichida.
"Hai pengantin baru!" sapa dokter Ichida, sambil tersenyum menyeringai.
"Hai juga." Balas Ara dengan wajah datar, Ara seperti sudah terbiasa dengan gaya bicara dokter yang bermata sipit itu, kini dirinya tidak akan mudah terpengaruh.
Dokter Ichida mengernyit, tidak seru rasanya jika tidak melihat wajah Ara memerah seperti buah tomat. Dia mengalihkan pandangannya kepada Jojo.
"Jo , kalian ngapain saja di kamar? seperti nya seru, sampai lama sekali kalian di sana." Kini dokter Ichida mencoba memancing Jojo, tapi matanya sedikit melirik ke arah Ara, dokter Ichida melihat ketegangan di raut wajah wanita itu.
"Kita cuma mandi bersama." jawab Jojo dengan polosnya.
"Apa... mandi bersama?" Ayura dan dokter Ichida langsung menatap Ara dengan tatapan penuh selidik. Ara menggeleng, dia ingin menjelaskan bahwa semuanya tidak seperti yang mereka pikirkan. Tapi, dia mengurungkannya saat Jojo kembali bercerita saat mereka bermain di bawah air shower bersama.
"Wah,, ternyata kamu sudah tidak sabar Ara." Goda dokter Ichida lagi, Ara hanya menunduk pasrah, kini wajahnya benar - benar memerah, dokter Ichida sangat puas melihat nya.
***
Happy reading 😉😉
Jangan lupa like, leave comment , favorit, rate star 5, dan VOTE nya ya, Vote kalian membuat author berbunga - bunga.