
Suasana pagi hari yang cerah dan indah, dimana bunga-bunga yang baru bermekaran di taman menyeruakan wewangian yang begitu harum dan menusuk indera penciuman siapa saja. Bunga yang di simpan di dalam kamar Ara pun melakukan hal yang sama, pengharum ruangan alami itu membuat penghuni kamarnya menjadi betah berlama-lama disana.
"Apa kau tidak mau bangun? Ini sudah pagi, sinar mentari juga sudah mulai meninggi." Seruan Ara tidak di anggap sama sekali oleh suaminya yang masih bergelung di balik selimutnya.
Jo bergumam kecil, tanpa mau membuka matanya yang masih ingin tidur.
Ara mendengus pelan, tumben sekali suaminya bermalas-malasan seperti ini. Dan sesuatu yang teringat membuat kedua alisnya terangkat. "Eh.... Pagi ini Jojo tidak muntah-muntah lagi. Apa masa ngidamnya sudah selesai?" Gumam Ara pelan.
Sebuah senyuman terbesit di bibir mungilnya. Tentu saja Ara senang jika suaminya tak lagi kesusahan.
Ara bersimpuh di dekat ranjang di hadapan suaminya. Menatap lekat wajah tampan yang masih terpejam. Bulu mata lentik dan alis yang tebal kini menjadi pusat perhatian. Sungguh indah ciptaan Tuhan.
"Sudah puas melihatnya?" Ara sedikit terlonjak saat kedua mata Jo tiba-tiba membelalak.
"Jadi kau hanya pura-pura tidur?" Seru Ara menggerutu.
Jo tersenyum lebar, lalu beranjak duduk di ikuti oleh istrinya yang tidak lagi bersimpuh di bawah. "Kamu sudah tidak mual lagi?" Tanya Ara setelah duduk di tepi ranjang sambil membelai pipi suaminya.
Mendengar kata mual, Jo sedikit berpikir. Sudah hampir dua bulan ia merasakan mual di pagi hari. Dan sekarang rasa mual itu tidak terasa lagi. Apa itu artinya ngidamnya sudah berakhir?
"Aku tidak mual, malah tubuhku terasa segar. Sayang, beri aku ciuman!"
Ara mengernyitkan kening, apa hubungannya mual dengan sebuah ciuman? Bahkan Jo belum mandi, apa lelaki itu ingin mentransfer rasa mualnya pada sang istri?
"Aku tidak mau, kamu belum mandi. Apalagi sikat gigi." Tolak Ara sambil menahan dada suaminya yang sedikit mendekat.
Jo berdecak, padahal Jo sangat bersemangat. Biasanya setiap pagi dirinya selalu bangun dalam kondisi tidak enak. Harus mengeluarkan isi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Dan berakhir dengan tubuh yang terasa lemas.
Tapi berbeda dengan hari ini. Jo ingin sekali memberikan ciuman selamat pagi yang selama ini sempat terlewati.
Tanpa persetujuan Ara, Jo tetap melakukannya. Ia menarik tengkuk leher istrinya dan membenamkan bibirnya di mulut Ara. Walaupun hanya sekilas tapi sukses membuat Ara sesak nafas.
"Selamat pagi sayang." Ucap Jo riang.
Ara mendengus, tapi akhirnya tersenyum juga. Akhir-akhir ini sikap suaminya memang teramat manja.
"Cepat mandi! Kamu bisa telat ke kantor. Nanti sore pulang cepat ya!" Seru Ara seraya melangkah mendekati lemari. Wanita itu hendak menyiapkan baju untuk di pakai suaminya nanti.
Jo beranjak berdiri lalu menghampiri sang istri. "Tumben nyuruh pulang cepat. Pasti mau ngajak bergulat?"
Ara yang sudah membuka lemari seketika terlonjak. Saat kedua tangan Jo melingkar di perutnya. "Pikiranmu pasti tidak jauh dari itu." Seru Ara sambil melepaskan tangan Jo lalu menghadap ke arah suaminya.
"Aku mau mengajakmu ke rumah lamaku. Rumah mendiang papa." Imbuh sambil memegang lengan suaminya.
"Kau mau mengambil kopermu yang kemarin di titipkan pada paman mu kan?"
"Tidak."
"Sayang, kita kan sudah membahasnya semalam. Kalau kita tidak akan pindah sebelum mami menikah. Apa kau lupa?"
"Aku tidak lupa. Koper itu milik paman, untuk apa aku mengambilnya? Waktu pertama datang ke rumah itu lagi. Aku membawa barang-barang pribadi ku yang tertinggal di sana. Dan paman meminjamkan koper itu untuk membawanya." Tutur Ara. Senyum menyeringai ia sematkan di bibirnya. Sepertinya ia berhasil mengerjai suaminya.
Raut wajah Jo jadi berubah datar. Kerut di keningnya yang tadi sempat menjalar perlahan memudar. "Jadi kau hanya mengerjai suamimu?" Omelnya, dan Ara malah tertawa.
"Salah siapa membuatku kesal. Makanya jangan suka bicara asal! Kau masih berpikir kalau aku wanita murahan?" Protes Ara sambil melipat tangannya di atas dada.
"Tapi kau sudah menampar ku. Apa itu belum cukup?"
Ara terdiam, mengingat hal itu ia jadi kasihan. Mungkin Jo memang salah tapi tamparan itu sepertinya menyakitkan.
Tangan Ara terangkat untuk mengelus pipi suaminya. "Apa masih sakit?" Tanyanya.
Tentu saja kesempatan itu Jo gunakan untuk berpura-pura manja. Untuk mendapatkan apa yang dia minta. "Masih perih, ayo obati!"
Jo menghadapkan pipinya ke depan wajah Ara, berharap sang istri memberikan kecupan disana. Ara pun mengerti ia memberikan satu kecupan di pipi kanan dan kiri. Hal itu membuat Jo tersenyum lagi.
Kemesraan pagi hari mereka berakhir sampai disana. Jo bergegas bersiap diri untuk bekerja dan Ara menyiapkan perlengkapan kerja suaminya.
***
"David, hari ini aku akan pulang cepat. Jadi jika ada pertemuan lebih dari jam tiga batalkan saja." Seru Jo pada asistennya saat dirinya sudah berada di kantornya.
"Baik tuan." Sebagai bawahan David hanya bisa mengiyakan. Dirinya yang sudah selesai membacakan jadwal bosnya hari ini hendak undur diri. Tapi kemudian Jo memanggilnya lagi membuat langkah lelaki itu jadi terhenti.
"Aku hampir saja lupa. Ini tiket liburan ke Bali untuk pasangan. Kau dan istrimu bisa pergi di akhir bulan. Katanya istrimu ingin kesana. Maaf sepertinya aku tidak bisa ikut serta, soalnya istriku sedang hamil muda." Jo menyodorkan dua lembar tiket liburan yang sempat ia pesan. Memang sengaja ia berikan untuk David karena selama ini kinerjanya cukup baik.
Sejenak David terdiam, merasa tak percaya dengan apa yang atasannya berikan. Sedikit rasa haru muncul dari relung kalbu. Tak menyangka jika atasannya akan sebaik itu.
"Tuan tidak bercanda kan?" Tanya David memastikan.
Jo menopang kan dagu pada tangan yang bertumpu pada meja. "Memangnya aku terlihat sedang bercanda. Lebih baik kau konsultasi dulu dengan dokter kandungan istrimu. Apakah aman jika dirinya harus naik pesawat? Jika di lihat dari usia kandungannya yang sudah melewati masa rentan kurasa aman. Itu yang kudengar dari dokter kandungan waktu itu. Karena itulah kami tidak bisa ikut. Usia kandungan Ara masih sangat rentan." Tutur Jo dengan nada menyesal.
"Kondisi kehamilan istriku terbilang baik tuan. Tapi kalau memang tuan juga ingin pergi. Kami bisa menunggu sampai usia kandungan nona Ara sudah mencukupi." Seru David merasa tak enak hati.
"Tidak perlu seperti itu, kalau harus menunggu kami. Anakmu keburu lahir. Kau pernah mengatakan jika istrimu menginginkan babymoon di masa kehamilannya. Jika kau melewatkannya apa dia tidak akan kecewa?" Jo memang bos yang pengertian. Walaupun terkadang sifatnya sangat menyebalkan tapi sebenarnya dia tipe atasan yang peduli kepada bawahan.
"Kalau begitu terimakasih tuan. Istri saya pasti akan senang." Ucap David sambil tersenyum lebar. Lalu mengambil tiket yang sodorkan oleh Jo diatas meja. Kemudian pamit undur diri dari ruangan atasannya.
Senyum Jo mengembang sempurna sambil menatap punggung asistennya yang menghilang di balik pintu ruangannya. Seperti ada rasa kepuasan dalam dadanya, telah memenuhi keinginan seorang wanita yang tengah hamil walaupun itu bukan istrinya.
Ara memang sosok yang luar biasa. Dalam masa kehamilannya ia jarang mengeluh apalagi banyak meminta. Malahan sang suami yang kerap kali banyak maunya.
***
Bersambung...
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya... Makasih.