
Hari ini Ara melakukan aktifitasnya seperti rencana, dia menemani Sam untuk melakukan acara peresmian kantor baru miliknya. Sebagai presiden direktur J&J Group tentu saja Jo juga menghadiri acara tersebut.
Atas ancaman Jo tadi pagi, akhirnya Ara menghapus lipstik yang dia pakai dan menggantinya dengan warna yang lebih soft , untung saja dia membawa cadangan make-up yang selalu ada dalam tas kecil yang dia bawa.
Jo tersenyum kecil melihat penampilan Ara yang kembali seperti biasanya. Dia terus menatap wajah wanita itu dari kejauhan.
"Selamat ya nak Sam, semoga perusahaan barumu ini akan semakin sukses ke depannya," ucap seorang rekan bisnis papanya yang bernama tuan Arya.
"Terimakasih, Tuan Arya," balas Sam, dengan senyuman hangatnya.
Tuan Arya menanggapinya dengan anggukkan kepala. "Siapa nona cantik ini?" Tuan Arya mengalihkan pandangannya kepada Ara yang sedang berdiri di samping Sam.
Ara mengulas senyum lalu mengulurkan sebelah tangan kanannya ke arah tuan Arya. "Perkenalkan, saya Ara. Asistennya Tuan Sam," sahut Ara memperkenalkan diri.
Tuan Arya membalas uluran tangan Ara dan menjabat tangannya. "Senang berkenalan dengan mu, Nona. Pintar sekali Sam mencari seorang asisten secantik ini." puji tuan Arya yang membuat senyum Ara mengembang seketika.
"Terimakasih, Tuan," ucapnya sopan.
Ara tampak riang berbincang-bincang bersama Sam dan juga rekan bisnisnya. Dia tak tahu jika ada seseorang yang selalu memperhatikan dirinya dengan raut wajah masam. Seperti tak rela jika Ara lebih terlihat bahagia jika berbincang dengan orang lain apalagi dengan seorang laki-laki.
Ara pamit sebentar untuk pergi ke kamar mandi, tapi tanpa di sadarinya ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Saat dirinya sudah selesai dari menuntaskan hajatnya, Ara begitu terkesiap saat baru keluar dari pintu kamar mandi tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang ke sebuah lorong yang agak sepi.
"Jojo?" Ara tersentak, kedua matanya membulat karena kaget.
Jo mengurung tubuh Ara yang bersandar di dinding menggunakan kedua tangannya, menatap wajah Ara dengan tatapan kesal.
"Jangan gini Jojo! Kalau ada lihat bagaimana?" Seru Ara lagi sambil meronta ingin di lepaskan.
"Kenapa? Kamu lebih suka di goda oleh laki-laki lain, hah?" seru Jo dengan nada sedikit tinggi. Membuat Ara tertegun mendengarnya.
"Maksudnya apa? Jangan mulai deh, ini acara penting jangan buat masalah disini!" seru Ara mulai panas. Maunya apa, sih, lelaki ini?
Jo terdiam, lalu melepaskan tubuh Ara dari kungkungannya. "Ya sudah, pergi sana!" perintah Jo malah mengusir Ara.
Ck, Ara berdecak kesal semakin pusing dengan apa yang sebenarnya suaminya inginkan, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba laki-laki ini bersikap tak masuk akal. Tak mau membuat masalah di acara pentingnya itu, Ara memilih untuk langsung pergi tanpa berkomentar.
"Ara, tunggu!" Panggilan Jo membuat langkah kaki Ara sontak terhenti. Ara menoleh lalu mengangkat dagunya sedikit ke atas, menunggu perkataan Jo selanjutnya.
"Jangan lupa setelah acara ini selesai kita langsung ke dokter Lily!" seru Jo mengingatkan Ara.
Ara tersenyum pelik, tentu saja dia ingat bukannya tadi pagi dia yang mengingatkan Jo tentang hal itu. Kenapa sekarang seolah Jo yang terlihat bersemangat?
"Tenang saja, aku selalu ingat, kok," ucap Ara dengan nada menyindir. Lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.
Peresmian itu berjalan dengan lancar, dan berakhir setelah makan siang. Ara yang sudah berjanji dengan Jo untuk bertemu dengan dokter Lily segera pamit pada Sam untuk pulang lebih dulu, karena memang tugasnya sudah selesai. Pekerjaannya di kantor itu akan di mulai besok pagi.
Sam menawarkan untuk mengantarkan Ara pulang, tapi Ara menolaknya dengan alasan akan pulang dengan Jo tentu saja Ara juga mengatakan jika dirinya hari ini akan melakukan pemeriksaan kehamilan. Sam menyemangati Ara, apapun hasilnya Sam akan tetap selalu membantunya, dan saat dia mendengar Ara sangat yakin jika dirinya tidak hamil tentu saja Sam begitu senang. Mudah-mudahan saja seperti itu. Pikir Sam penuh harap. Dengan begitu dia bisa dengan bebas mendekati Ara.
****
Singkat cerita Ara dan Jo sudah berada di ruangan praktek dokter Lily, Ara sedang melakukan pemeriksaan USG dengan dokter Lily. Jo dengan begitu seksama memperhatikan layar kotak yang memperlihatkan hasil rekaman rahim Ara, yang terhubung langsung dengan probe yang di digulirkan di atas perut Ara. layar itu tampak gelap, Jo mengernyit bingung dia tak mengerti apa arti dari layar yang dia lihat itu.
"Kenapa layarnya gelap semua dokter?" celetuk Jo sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dokter Lily terlihat serius menyusuri tiap sisi rahim Ara agar dia menemukan setitik cahaya kebahagiaan bagi setiap pasangan yang datang padanya saat memeriksa kehamilan. Tapi sepertinya dokter Lily tidak menemukan apa-apa, kepalanya tampak menggeleng lemah sambil menggigit bibir bawahnya karena cemas, bagaimana dia harus mengatakan kenyataan pada laki-laki yang memiliki emosi tingkat tinggi itu.
Dokter Lily menghentikan aktifitasnya dan menyuruh Ara untuk bangun dan menggiringnya agar duduk di kursi kosong di depan meja kerjanya dan Jo hanya bisa mengikutinya dari belakang lalu duduk di kursi kosong di samping Ara.
"Maaf, Tuan Jo, sepertinya istri anda benar-benar tidak hamil." Dokter Lily berkata hati-hati sambil melipatkan kedua tangannya di atas meja kerjanya. Dan kalimat itu sontak membuat Jantung Jo seakan berhenti berdetak. Dia sedih mendengarnya, itu artinya Ara akan segera meninggalkannya.
Begitu pun dengan Ara, walaupun dirinya begitu sakit hati kepada Jo, tapi tak bisa di pungkiri hati kecilnya masih menginginkan lelaki itu untuk tetap menjadi suaminya. Tapi apa mau di kata sepertinya mereka memang tidak di takdirkan untuk bersama.
Setelah mendapatkan hasil dari pemeriksaannya, mereka pun pamit pada dokter Lily dan pulang menuju ke rumah Jo, di perjalanan pulang mereka keduanya tampak diam tak mau bersuara, seolah telah mendapatkan kabar buruk wajah mereka terlihat begitu muram.
"Setelah ini kau bisa memberikan surat cerai agar aku bisa pergi dari rumahmu dengan segera," ucap Ara memulai perbincangan mereka.
Mendengar hal itu Jo langsung menghentikan mobilnyanya seketika, untung saja tidak ada kendaraan lain yang berada di belakang mobil mereka hingga mereka tak menjadi korban tabrakan beruntun di jalan itu.
"Apa kamu sudah gila?" teriak Ara karena begitu terkesiap dengan ulah Jo yang mengerem mendadak.
Jo menoleh ke arah Ara, "kamu tidak bisa pergi kemana-mana!" seru Jo penuh dengan penekanan.
Kening Ara mengkerut tajam, ada yang salah dengan pendengarannya. "Apa maksudmu? Kau tidak dengar tadi dokter berkata apa? Aku tidak hamil." Ara lebih menekankan kata-kata terakhirnya itu.
Entah kenapa hal itu membuat Jo semakin tersulut emosi, dia menghentakkan tangannya pada kemudi stir yang dia pegang. Lalu mencondongkan sedikit tubuhnya mendekati tubuh Ara hingga wanita itu sontak memundurkan sedikit tubuhnya dan tertahan di sandaran jok mobil yang dia duduki.
"Kamu mau apa?" Ara ketakutan, tubuhnya sedikit gemetar.
"Dengar ya, Ara! Dulu kesepakatan kita berlangsung satu bulan ke depan, dan sekarang baru dua minggu setelah kesepakatan itu di buat. Kamu tidak bisa seenaknya saja merubah kesepakatan itu, paham?" Ara semakin bingung dengan keputusan yang Jo buat ini, bukannya dia sangat ingin agar Ara segera pergi dari rumahnya. Saat dia ingin kembali mengeluarkan kata-kata sanggahan, Jo dengan cepat membungkam mulut Ara dengan menggunakan bibirnya. Hanya sebentar saja, tetapi hal itu cukup membuat Ara begitu terperanjat.
"Aku paling tidak suka di bantah," seru Jo sambil menegakkan kembali duduknya di depan kemudi, lalu tanpa basa basi lagi dia langsung menghidupkan kembali mesin mobil itu dan melanjutkan perjalanan mereka kembali ke rumah Jo. Ara tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa terdiam membisu dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya kebingungan.
***
Jo maunya seperti apa ya readers? apakah dia berencana hidup bersama Ara selamanya, mampukah Ara bertahan menghadapi sikap Jo yang suka membingungkan tersebut? Ah, rasanya authornya butuh tidur dulu buat memikirkan selanjutnya bagaimana. Nanti kita sambung lagi ya....
Jangan lupa like, komentar, dan Vote poin atau koinnya ya.... nuhun pisan. 🥰🥰🥰