My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Malam Pertama



Ara terlihat mondar-mandir di dalam kamar, sedangkan Jojo sudah dari tadi terlelap dalam dunia mimpinya, Ara begitu bingung, dirinya harus tidur dimana tidak ada sofa di kamar itu, mau tidak mau Ara harus tidur bersama Jojo di tempat tidur satu-satu nya itu.


Bagi pasangan pengantin baru, malam pertama adalah moment yang paling di nantikan dan paling mengesankan, di iringi dengan perasaan takut sampai deg-degan, tapi hal itu tak di rasakan oleh Ara, di malam pertamanya menjadi seorang istri, dia malah kebingungan mencari tempat untuk merebahkan badan, dan sang suami malah tertidur duluan membiarkannya dalam kesunyian.


"Huuuft ...." Ara menghela nafas saat dirinya terpaksa merebahkan tubuhnya di samping Jojo, tak ada pilihan lain, Ara dan Jojo harus tidur satu ranjang. Ara memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Jojo, menatap wajah tampan sang suami yang juga menghadap ke arahnya.


Ara menarik kedua sudut bibirnya dan membuat sebuah senyum merekah di sana, Ara melihat ketenangan di wajah suaminya tersebut, tanpa dia sadari tangannya pun menyentuh wajah itu tanpa aba-aba, Ara mengelus pipi Jojo dengan sangat lembut.


"Jika nanti kamu sudah sembuh apa kamu akan melupakanku?" ucap Ara dengan nada pelan. Jojo merasakan sentuhan di pipinya dan membuat Ara begitu terkesiap saat Jojo membuka matanya dengan tiba-tiba. Jojo menatap wajah Ara yang berada tepat di hadapannya. Ara dengan cepat menarik tangannya dari wajah Jojo.


"Ma-maaf Jojo, aku membuatmu terbangun," ucap Ara merasa terciduk, dia jadi salah tingkah.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Jojo sambil mengerjap polos, dengan posisi mereka masih tetap sama berhadapan muka.


Ara terhenyak, kemudian langsung mendudukkan tubuhnya. "Aku ... aku mau tidur, memangnya kenapa?" Ara terlihat gugup. Jojo pun ikut mendudukkan tubuhnya, dia duduk bersila di hadapan Ara.


"Ah, iya aku lupa." Jojo menepuk keningnya dengan pelan, "aku 'kan sudah menikah denganmu, kata mommy kita bisa tidur satu ranjang," imbuh Jojo sambil tersenyum lebar.


Ara menghela napas, dia merasa lega karena tidak perlu menjelaskan lagi pada suaminya itu, Ara hanya melempar senyuman pelik sebagai tanggapan.


"Ayo tidur lagi!" ajak Ara setelah keduanya sejenak terdiam, tapi Jojo menggeleng dan menatap Ara dengan tatapan tajam.


Ara mengernyitkan dahi. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya kemudian.


"Kau sudah membangunkan aku, jadi aku tidak bisa tidur lagi, mataku sudah tidak mengantuk," jawab Jojo sambil melipatkan tangannya di depan dada.


"Lalu kamu mau apa?" tanya Ara bingung.


"Mau main."


"Main apa malam-malam begini? Lagian aku sudah mengantuk, lihat lah!" Ara menunjuk sebuah jam weker yang berada di atas meja, "sudah jam sepuluh malam sekarang, lebih baik kita tidur saja," imbuh Ara dengan sedikit kesal.


"Aku gak peduli, pokoknya aku mau main." Jojo mulai merajuk, dirinya seakan tak mau tahu. "Kau sudah membangunkan aku, jadi kau harus bertanggung jawab," gerutunya lagi.


"Tanggung jawab apa, memangnya aku menghamili dia apa?" gumam Ara dalam hati, Ara menggaruk kepalanya dengan bingung, dia harus bermain apa malam-malam begini. Ara menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, dia memang harus extra sabar.


"Baiklah, kamu mau main apa?" tanya Ara, akhirnya dia mengalah.


"Kita main kuda-kudaan."


Ara membulatkan matanya, "apa kamu bilang?"


"Main kuda-kudaan." Jojo mengulangi ucapannya dengan nada yang santai.


Ara menggelengkan kepalanya pelan, pikiran-pikiran kotor yang mungkin terkontaminasi dari dokter Ichida pun mulai bermunculan. Sering bertemu dengan dokter mesum itu, membuat Ara selalu tidak bisa berpikir jernih jika berhadapan dengan Jojo.


"Aku tidak bisa."


"Nanti aku ajarkan, kau tinggal naik di tubuhku saja," ucap Jojo dengan polosnya.


Mendengar itu Ara semakin bergidik ngeri, dia menelan salivanya yang terasa kering, wajah nya pun terlihat memerah. Jojo mengubah posisi duduknya menjadi membungkuk dengan meletakan kedua tangan dan lututnya di atas kasur seperti akan merangkak.


"Ayo naik!" perintah Jojo sambil menarik tangan Ara dengan sebelah tangannya.


Ara mengernyit. "Aku tidak mau, aku ngantuk sekali Jojo," rengek Ara dengan memelas.


Jojo menekuk wajahnya, dan kembali duduk dengan lemas.


"Baiklah, ayo tidur!" Jojo membaringkan tubuhnya membelakangi Ara dan langsung menutupinya dengan selimut sampai ujung kepalanya.


Hati Ara kembali melemah, dirinya sungguh tak berdaya jika melihat Jojo bersikap seolah-olah tersiksa. Ara jadi ingat kata-kata dokter Ichida, 'Kamu harus membuat masa kecil Jo menyenangkan buatnya, jadikan dia bahagia di masa kecilnya bersamamu, dan jangan buat dia merasa tertekan'.


"Huuft ...." Ara membuang nafas kasar kembali sambil memejamkan matanya sejenak, dia mengumpulkan kembali kesabaran dan ketenangan di hatinya. Kemudian dengan hati-hati dia menguncangkan tubuh Jojo yang dia yakini belum tertidur itu.


"Jojo ...," panggil Ara pelan.


"Apa? Katanya kau mau tidur?" Jojo berbalik ke arah Ara dan menyingkap selimutnya.


"Ayo main!" ajak Ara sambil mengulas senyum manisnya.


"Hemmm." Ara mengangguk mengiyakan.


Jojo pun tersenyum lebar lalu berteriak sambil mengacungkan kedua tangannya ke atas "Yeeeeeeee ...," teriaknya.


Ara sontak membekap mulut Jojo dengan telapak tangannya. "Jangan berteriak! Nanti kalau terdengar orang lain bagaimana?"


"Lepaskan tanganmu!" seru Jojo dengan suara tertahan oleh tangan Ara, dan Ara pun melepaskan bekapannya.


"Memangnya kenapa kalau orang lain dengar? Lagi pula kata mommy kamar ini kedap suara. Kencang sekali kamu membekapku, hampir saja aku mati," decak Jojo dengan kesal sambil mengelus bibirnya yang terasa perih.


Ara memasang wajah menyesal. "Maaf Jojo aku tidak sengaja," ucapnya sambil cengengesan.


"Sudahlah, katanya mau main. Ayo naik ke punggungku!" seru Jojo mengubah posisi nya menjadi membungkuk seperti kuda.


Ara dengan terpaksa menuruti keinginan Jojo, dia pun beranjak berdiri di atas kasur, dengan hati-hati dia mengangkat sebelah kakinya hendak menunggangi punggung Jojo. Jantung Ara tiba-tiba berirama tak beraturan, tubuhnya sedikit bergetar tapi dia mencoba untuk tetap bersabar.


"Tenang Ara! Anggap saja Jojo itu kuda betulan," batin Ara menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan.


Ara duduk di atas punggung Jojo, dan tanpa aba-aba Jojo langsung merangkak di atas kasur, membuat keseimbangan Ara menjadi menjadi tidak stabil, tubuhnya terjatuh ke punggung Jojo sehingga dadanya menempel di punggung kekar itu, dengan posisi kepalanya berada di samping wajah Jojo hingga pipi mereka sedikit bersentuhan.


Deg!


Deg!


Deg!


"Ara, berpegangan pada pundakku nanti kamu jatuh!" Perkataan Jojo membuyarkan pikiran Ara yang sudah melayang kemana-mana. Dengan cepat Ara kembali menegakkan tubuhnya pada posisi duduk di atas punggung Jojo.


"Ayo jalan kudaku yang tampan!" seru Ara kini dia berpegangan pada pundak Jojo, Ara mulai membayangkan jika Jojo adalah kuda betulan, Jojo mulai merangkak berputar-putar di sekitar tempat tidurnya, Ara tertawa terbahak-bahak saat Jojo meringkik menyerupai suara kuda.


Kini tubuh Ara tidak lagi kaku, wajahnya malah semakin bersemu, Ara tidak pernah segembira ini sebelumnya, Ara jadi merasa kembali ke masa kecilnya dulu, saat dirinya juga sering bermain kuda-kudaan seperti itu bersama mendiang ayahnya.


Ara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur saat dirinya merasa lelah bermain kuda, perutnya terasa keram karena selalu tertawa bersama Jojo. "Aku lelah sekali," ucap Ara di sela tawanya, dia mengatur nafasnya yang tampak tersengal-sengal.


Jojo duduk di samping Ara memperhatikan wajah Ara yang kelelahan. "Bukannya aku yang jadi kudanya? Kenapa jadi kamu yang kelelahan?" tanya Jojo dengan polosnya.


Ara menolehkan wajahnya ke arah Jojo, menatap lekat cucuran keringat di dahinya, serta rambutnya yang terlihat sedikit berantakan malah membuat Jojo terlihat sexi di mata Ara.


"Manusia ini, disaat penampilannya acak-acakkan pun dia masih terlihat tampan, lalu kenapa dia tidak terlihat kelelahan padahal dia sudah berputar berkali-kali di tempat tidur," gumam Ara dalam hati. Jojo terlihat masih segar walaupun badannya penuh dengan keringat, bahkan butiran air keringat itu begitu jelas terlihat di dahi Jojo, tapi anehnya, Jojo tak merasa kelelahan sedikitpun.


"Memangnya kamu tidak lelah?" tanya Ara


"Tidak." Jojo menggelengkan kepalanya.


Ara mengernyit heran, lalu duduk bersila berhadapan dengan Jojo. "Kamu pasti bohong, lihatlah! Dahi mu saja berkeringat, bagaimana kamu bisa bilang tidak lelah," ujar Ara sambil menyeka keringat di dahi suaminya dengan menggunakan lengan piyama panjangnya.


"Aku tidak lelah," tukas Jojo sambil menyaut tangan Ara.


"Lalu?"


"Aku mau main lagi."


"Kamu mau main apalagi?"


Jojo tersenyum menyeringai. "Tadi aku yang jadi kuda sekarang gantian, kamu yang jadi kudanya."


"Hah?" Ara tersentak, matanya pun membulat sempurna dan tubuhnya jadi lemas seketika. Tak disangka di malam pertamanya Ara merasa tersiksa.


***


Happy reading 😉😉


Terima kasih ya, author ucapkan buat para readers yang masih setia membaca karya receh author ini, rasanya seneng banget kalau kalian ninggalin jejak dan kasih komentar di tiap chapter nya, rasanya kayak udah ninggalin jejak di hati author gitu deh 😍😍


Tetep dukung author ya biar tambah semangat dan jadiin favorit selalu, VOTE nya juga di tunggu loh😉😉... 😙😙😙