
Deru suara mobil yang saling bersahutan di jalan raya yang terbilang ramai, seolah menjadi irama kebisingan yang membuat suasana hati seseorang semakin menyesakkan. Tak kunjung mendengar suara dari seorang wanita yang duduk di samping kemudi nya kini membuat Jo sesekali menoleh pada wanita itu dengan begitu gugup.
Ya, setelah perdebatan antara dirinya dengan Amel, yang ternyata Jo kalah telak dari omelan gadis cempreng yang merupakan sahabat dari istrinya itu. Dengan sedikit perjanjian akhirnya Jo bisa membawa kembali istrinya pulang.
Tapi lihatlah, walaupun perjalanan mereka dari kontrakan Amel sudah menempuh jarah ratusan meter Ara masih tetap membungkam mulutnya tak mau mengatakan apa-apa.
Jo berdecak beberapa kali, sebenarnya dia ingin mulai berbicara, tapi rasanya kata-katanya itu hanya tertahan di tenggorokannya saja. Jo masih saja mempertahankan rasa gengsinya. Ah, memang se angkuh itu suaminya Ara.
" Kita mau kemana? " Bibir Jo seketika mengulas senyum saat ia mendengar sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya, sejenak dia menoleh lalu kembali fokus pada kemudi nya. Ara sudah sangat paham dengan kegengsian suaminya itu, sampai kiamat semut pun rasanya ia tak akan memulai percakapan.
" Kita pulang ke rumah bibi Iren dulu, habis itu ke rumahku. " Jawab Jo terdengar lebih lembut. Terdengar aneh di telinga Ara sampai - sampai Ara harus melirik ke arah Jo, memastikan apakah benar yang di sampingnya itu adalah suaminya.
" Bibi Iren sangat khawatir sama kamu, waktu itu aku menyusulmu ke rumahnya ternyata kamu gak ada disana. " Imbuh Jo mengingat kejadian waktu itu. Tumben sekali dia mau bercerita.
" Memangnya kamu gak pulang ke rumahmu setelah waktu itu ninggalin aku? " Tanya Ara dengan ketus.
Jo sejenak terdiam tapi kemudian menghela nafas pelan. " Enggak. " Jawabnya jujur.
" Kenapa? Katanya gak mau lihat aku ?" Sindir Ara, yang lagi-lagi membuat Jo terdiam untuk memikirkan jawaban.
" Ehm.... Aku.... Aku cuma gak mau mommy khawatir aja, kita kan perginya bareng pulang juga harus bareng lah. " Sangkal Jo sedikit masuk akal.
Ara berdecak kesal, sampai kapan sih pria ini mau mengakui perasaannya. Oke, sepertinya Ara akan ikuti kemauannya, sampai dimana pria ini bisa menahan perasaannya itu.
" Terus tiga hari ini kamu gak pulang ke rumah? " Jo menggelengkan atas pertanyaan Ara ini. Selama tiga hari Jo mencari Ara, ia memang tak pulang ke rumah mommy Ayura. Dan saat mommy nya menghubungi mereka ada dimana, Jo terpaksa berbohong jika Ara masih betah tinggal di rumah bibinya. Dan Jo mengatakan hal itu pada Ara. Pandai sekali lelaki ini bersandiwara.
" Lalu kamu mau jelasin apa sama mommy, saat kita pulang dan ia melihat kondisiku seperti ini? " Pertanyaan Ara kali ini membuat Jo mulai kelabakan, Jo saja baru tahu jika Ara kecelakaan bagaimana bisa dia menyiapkan jawaban atas pertanyaan seperti itu.
" Aku akan bilang jika dirimu jatuh dari tangga. " Jawabnya tiba-tiba, mungkin hanya itu alasan yang ada di otaknya saat ini . Dan saat itu juga rasanya Ara ingin sekali loncat dari mobilnya saja. Memangnya sesulit apa sih jika Jo mengakui kesalahannya. Dan apa tadi dia bilang, jatuh dari tangga? Memangnya dia pikir rumah Bibi Iren sebesar rumah besarnya yang bertingkat. Apa tidak ada alasan yang terdengar lebih konyol lagi selain itu ? Ara hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
Saat bibir Ara hendak berucap kembali, dirinya di kagetkan oleh tindakan Jo yang tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan.
" Ada apa? " Tanya Ara sambil mengernyit heran. Menatap Jo dengan tatapan bingung.
Jo membuka sabuk pengaman yang membelit di tubuhnya, lalu memiringkan posisi duduknya agar bisa menghadap ke arah Ara. Tatapan mereka pun seketika terkunci ada rasa penyesalan tersirat dalam kedua bola mata Jo. Dan Ara bisa merasakan itu, apalagi saat kedua tangan Jo meraih tangan Ara dan menggenggamnya dengan erat.
" Maafkan aku! " Ucap Jo dengan penuh penyesalan.
Seketika itu Ara merasa hatinya seakan melambung ke udara, baru pertama kali ia mendengar Jo mengucap kata maaf dengan begitu tulusnya. Apakah benar suaminya itu menyesali perbuatannya? Dan apakah hatinya sudah mulai terbuka lagi untuk Ara?
" Aku udah maafin kok. " Jawab Ara santai. Lalu membenarkan kembali duduknya dan menghadap ke arah depan. " Ayo jalan! Kasian bi Iren pasti cemas nungguin aku. " Tambah Ara dengan raut wajah datar, ia berusaha setenang mungkin walau dalam hatinya dia merasakan ada hal yang lain. Mungkinkah suaminya itu benar-benar telah berubah. Ck, seharusnya Ara menyakinkan dirinya dulu.
Jo sedikit kecewa dengan Ara yang bersikap biasa saja, tidak bisa kah istrinya itu peka melihat ketulusannya saat ini. Sambil mendengus pelan, Jo kembali menghadap ke depan, memasang kembali sabuk pengaman lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah Bibi Iren.
****
Sesampainya di rumah bi Iren, Ara tidak bisa menolak saat Jo menggendongnya sampai masuk ke dalam rumah. Sweet banget kan?
Bi Iren yang melihat keadaan Ara seperti itu langsung saja panik dan melontarkan rentetan pertanyaan yang membuat telinga Jo seakan penuh dengan pertanyaan itu.
Tapi alih-alih menjawab pertanyaan bi Iren sepasang suami-istri itu malah asyik - asyikan saling beradu pandang.
" Hei.... Dengerin Bibi gak sih? " Bentakan yang tidak terlalu keras itu membuat pandangan mereka buyar seketika.
Jo mengerjap terkejut dan Ara langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya karena malu.
" Apa tadi bi? " Tanya Jo dengan gugup.
" Ara kenapa bisa jadi begini? Kamu apain dia ? " Pertanyaan itu mengingatkan Jo pada saat dirinya pertama kali melihat keadaan Ara di kontrakan Amel. Mungkin ini rasanya tiba-tiba menjadi seorang tertuduh atas sebuah kejahatan, walaupun bukan Jo pelaku tabrak larinya tapi tetap saja Jo adalah orang pertama yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Mungkin jika ada Amel disana ia akan berkata pada Jo.
Kerasa kan bagaimana sakit nya jadi aku?
Rasanya seperti mendapatkan tamparan keras di pipi, dan perihnya sampai menusuk ke hati. Jo seketika menelan ludahnya sendiri, tenggorokannya tercekat hingga sulit untuk memberikan penjelasan.
" Jojo, turunkan aku! " Pinta Ara yang membuat Jo terlonjak kaget.
" Ah.... Iya sebentar. " Jo berjalan menuju kamar yang dulu di tempati oleh Ara. Di ikuti oleh Bibi Iren di belakangnya. Lalu Jo merebahkan istrinya itu di tempat tidur.
" Jojo jawab pertanyaan Bibi, kenapa Ara jadi begini? " Lagi-lagi bi Iren mengulangi pertanyaannya. Wanita paruh baya itu terlihat sudah sangat kesal karena merasa di abaikan.
" Ara jatuh dari tangga bi. " Jawaban itu keluar bukan dari mulut Jo, melainkan dari Ara sendiri. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, bahkan alasan yang dia pikir begitu konyol dari pemikiran suaminya itu malah dia berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Bibi angkatnya sendiri. Ara juga tidak tega jika Jo harus di marahi oleh Bibi Iren, melihat begitu kacaunya penampilannya sekarang karena terlalu fokus mencari keberadaan istrinya.
***
Mulai deh, benih-benih itu muncul. Biar tumbuh subur gimana kalau di siram pake vote poinnya yang banyak, nanti authornya bakal tanam agak banyakan tuh benihπ€π€π€
Tinggalkan jejak like dan komentar kalian juga ya... Makasih πππ