
"Jojo, aku mau mandi. Bisa lepaskan aku!" Pinta Ara dengan nada pelan. Semenjak beberapa menit yang lalu mereka dalam posisi yang sama, Jojo masih betah menenggelamkan kepalanya di tengkuk leher Ara yang masih duduk di pangkuannya.
Jojo masih bergerak, dia kembali mendongak lalu melepaskan pelukannya di perut Ara. "Pergilah!" titahnya kemudian.
Ara tersenyum senang, dia pun dengan segera beranjak berdiri. Rasanya canggung sekali, hatinya masih tidak bisa dibuat tenang, ada sebuah kebahagiaan terselip di lubuk hatinya itu. Dia sudah mendengar kejujuran suaminya yang ingin dirinya tetap berada di sisi Jojo. Apakah itu termasuk ungkapan kata cinta ? Ara tidak tahu, yang pasti dirinya sangat bahagia.
Sambil tersenyum malu-malu, Ara berdiri di hadapan Jojo dan bertanya, "Kamu sudah mandi?"
"Belum," jawab Jojo sambil menggelengkan kepala, kemudian dia menarik salah satu sudut bibirnya, dan membentuk senyuman seringai di sana. "Kamu mau ngajak mandi bareng lagi?" tanya Jojo dengan nada menggoda. Wajah Ara pun kembali merona, entah kenapa dia mudah sekali menampakkan wajah malunya itu pada Jojo. Padahal waktu dia yang mencoba menggoda Jojo, wajahnya biasa saja. Sekarang keadaan sudah terbalik, Jojo jadi lebih agresif.
"Nggak, aku cuma tanya aja," sanggah Ara dengan cepat, dia langsung berlari ke dalam kamar lalu mengambil baju ganti dan handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Jojo hanya bisa menggelengkan kepala, dia sangat gemas melihat sikap malu istrinya itu.
"Imut banget, sih!" gumam Jojo sambil mengusap wajahnya sendiri. Dia menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran kursi sambil memegang dadanya, matanya menerawang jauh ke atas langit yang mulai gelap. Dia pun berkata, "Apa ini yang dinamakan cinta?"
Jojo menarik napas panjang, lalu beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar. Sambil menunggu Ara mandi dia duduk di tepi tempat tidur. Seperti sedang memikirkan sesuatu, pandangan Jojo terlihat kosong. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Tiba-tiba saja binar keceriaan kembali terpancar di matanya. Sambil mengulas senyum, Jojo menjentikkan jarinya hingga menimbulkan bunyi 'klik' di sana.
"Ah, iya. Sepertinya aku harus melakukan itu. Jika nanti terapinya bisa membuat aku melupakan Ara, aku bisa menjadikannya untuk bisa mengingat Ara kembali," ujar Jojo mendapat ide yang cemerlang dalam lamunannya tadi.
Jojo pun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lemari khusus untuk menyimpan barang-barang pribadinya di kamar itu. Dia terlihat mencari sesuatu di sana.
"Kamu lagi cari apa ? " Pertanyaan itu membuat Jojo sedikit terlonjak, dia menoleh pada asal suara, dan melihat Ara yang sudah terlihat segar setelah membersihkan diri. Ara sudah memakai baju ganti di dalam kamar mandi, hal itu selalu Ara lakukan semenjak dia menikahi Jojo, kecuali dia lupa membawanya.
"Kamu sudah selesai?" Jojo malah balik bertanya, dan Ara hanya mengangguk sebagai balasan.
"Kamu lagi cari apa?" Ara bertanya kembali.
"Aku ... aku sedang mencari kamera perekam. Perasaan aku menyimpannya di sini, tapi nggak ada." Jojo kembali beralih pada lemari dan mengobrak-abrik barang-barang di sana. Ia merasa kesal karena barang yang dia cari ternyata tidak ada.
Ara melangkah mendekati lemari, lalu membuka sebuah laci yang berada di bawah pintu kaca lemari itu. "Kameramu ada di sini," seru Ara dengan tenang sambil mengambil kamera yang tergeletak di dalam laci tersebut. Ara ingat dulu dia pernah melihat Jojo menyimpan kamera perekamnya di sana. Waktu itu Jojo memakainya untuk merekam kupu-kupu, saat dirinya masih berpikiran lugu.
Jojo tersenyum senang, dia pun menyahut kamera itu di tangan Ara, lalu memeriksa apakah baterainya masih ada atau perlu dicharge dulu. "Masih bisa di pakai," ucapnya senang.
"Untuk apa kamera itu?" tanya Ara penasaran.
Jojo mendongakkan pandangannya dari kamera ke arah Ara. "Untuk merekam kegiatan kita," jawabnya.
Ara mengernyitkan kening, "Merekam kegiatan kita? Untuk apa?" tanya Ara tidak mengerti dengan maksud Jojo.
Bukannya menjawab Jojo malah menatap Ara dengan lekat kemudian melangkah mendekat. "Kamu takut aku melupakanmu, 'kan?" Ara mengangguk sebagai jawaban.
"Nah, makanya itu. Dengan merekam kegiatan kita sekarang, jika hal itu terjadi, aku akan melihat rekaman itu untuk mengingatmu kembali," seru Jojo antusias.
Ara terpaku, sebenarnya dia senang mendengarnya, tetapi mulutnya terasa kaku untuk mengucap sesuatu. Ara merasa terharu ketika Jojo benar-benar tidak ingin melupakan dirinya. Melihat usahanya seperti itu, haruskah Ara memeluk Jojo sekarang?
Ara terhenyak, lalu menepiskan sebuah senyuman manis di bibirnya. "Aku setuju," jawabnya sedikit malu.
"Begitu, dong. Ayo, mulai!" Jojo menekan tombol on pada kamera perekamnya lalu mengarahkannya pada Ara.
Ara jadi salah tingkah dibuatnya. "Aku harus bagaimana?" tanya Ara dengan wajah kaku.
Jojo berdecak, istrinya memang bukan artis yang terbiasa dengan kamera, tetapi setidaknya tidak harus menunjukkan wajah kaku seperti itu. Memangnya dia mau difoto untuk Kartu Tanda Penduduk. Ara terlihat gugup sekali.
"Bersikap biasa saja, jangan kaku seperti itu! Kita bukan mau membuat film, tapi hanya merekam keseharian kita saja," protes Jojo sedikit kesal.
Ara mendengus pelan, tidak senang dengan Jojo yang meledeknya seperti itu. "Iya, tapi aku tidak biasa dengan kamera. Idemu itu ada-ada saja. Aku belum siap sekarang, nanti saja merekamnya!" Ara jadi tidak peduli, dia pun berbalik dan meninggalkan Jojo yang masih memegang kameranya yang sudah di posisi on.
Melihat Ara merajuk, Jojo tersenyum lucu. Dia malah sengaja merekam istrinya yang masih menggerutu tidak jelas. Jojo melakukan itu dari arah samping istrinya berjalan.
"Apa yang kamu lakukan? Aku udah bilang, aku belum siap," berang Ara sambil menyimpan tangannya di atas pinggang.
Jojo malah semakin bersemangat, dia kemudian melangkah mendekati istrinya lalu membalikkan mode layarnya ke arah dirinya bersama Ara. "Lihatlah wajahmu yang sedang kesal ini! Nanti wajah ini yang akan selalu aku rindukan," ujar Jojo mulai merayu. Dan berhasil membuat wajah Ara langsung tersipu. Ara yang tadinya marah, berubah jadi ramah bibirnya yang mengerucut sebal terlihat tersenyum samar. Ara mencubit pinggang Jojo dengan malu-malu dan membuat Jojo mengaduh sambil memegang pinggangnya itu.
"Kamu ini bicara apa?" ucap Ara sambil mengalihkan pandangannya.
"Kamu malu?" goda Jojo lagi. Semakin gemas saja, dia melihat istrinya seperti itu. Jojo menatap lekat wajah Ara, ingin sekali dia merangkum wajah itu, tetapi sebelah tangannya sedang memegang kamera.
"Tunggu sebentar!" Jojo melangkah meninggalkan Ara sambil membawa kameranya. Dia berjalan mendekati meja yang tidak jauh dari posisi mereka berada. Lalu mengarahkan kamera itu pada Ara yang masih berdiri sambil memperhatikan apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Ara tidak banyak bertanya, dia hanya diam saja.
Setelah menekan tombol on untuk merekam, Jojo kembali berjalan mendekati Ara sambil tersenyum penuh makna. Ara bingung, mau apa sebenarnya suaminya itu. Namun, dia hanya bisa menunggu hingga kini suaminya sudah berada tepat di hadapannya dengan tatapan sendu.
Jojo tidak ingin buru-buru, dengan perlahan dia mengangkat tangannya hendak menyentuh wajah Ara, menyelipkan rambut panjang Ara di belakang telinganya. Perlahan tapi pasti, Jojo membelai wajah itu dengan kedua tangannya hingga turun ke tengkuk leher Ara.
"Boleh aku cium?" tanya Jojo meminta izin terlebih dulu. Ara seperti terhipnotis dengan belaian lembut dari suaminya. Kepalanya mengangguk tanpa ragu, matanya mengerjap tak percaya, tubuhnya seperti melayang di udara.
Jojo tidak mau menunggu lama, sebelum kesadaran istrinya kembali ke dunia nyata, dia langsung melancarkan serangannya. Jojo sedikit memiringkan wajahnya, agar lebih mudah menyatukan bibir mereka. Awalnya hanya kecupan lembut, tetapi semakin lama semakin dalam. Ara memejamkan matanya seolah tidak sadarkan diri. Cukup lama hal terjadi. Dan semuanya terekam indah dalam kamera perekam yang di simpan di atas meja sebagai saksi.
****
Haduh, aku nulis ini siang-siang, loh. Moga aja puasaku gak makruh, ya ! Gak sambil ngebayangin kok, nulisnya juga. 🤦♀️
Happy reading...😉😉
Jangan lupa LIKE, COMMENT ,SHARE DAN VOTE YANG BANYAK YA...! Makasih..